
Dari kejauhan terlihat sebuah benda mengapung di atas danau yang dikelilingi kabut pekat itu. Semakin lama benda itu semakin dekat tapi ukurannya tidak terlalu besar. Sebuah perahu kayu kecil yang penuh ukiran muncul dan mendongkakkan mulut kapal itu menembus kabut dan berhenti di tepian danau.
"Untung saja bisa,'' gumam Kailash.
''Wah hebat kamu, Kailash. Katamu tadi semua mantra ditangguhkan, tapi kenapa yang kamu lakukan barusan bisa?" tanya Tika.
''Aku juga bingung. Ini juga hasil coba-coba. Mungkin semua mantra memang ditangguhkan disini, tapi ada satu jenis mantra yang mungkin tidak bisa ditangguhkan. Mantra itu adalah mantra bumi, atau lebih tepatnya mantra elemen tanah," Kailash melihat sekeliling perahu mengecek kondisinya.
Tika masih penasaran namun penjelasan yang disampaikan Kailash tadi kurang dipahamimya, yang jelas kali ini dia dan Kailash sudah punya cara agar sampai ke pulau di tengah danau.
''Ayo naik. Kita tak punya banyak waktu lagi, Tika'' seru Kailash.
''Baiklah, tunggu aku,''
Mereka berdua sudah berada perahu kecil dalam posisi saling berhadap-hadapan. Ada untungnya juga Nayaka membantu mereka hanya sampai di sini. Karena untuk mereka berdua saja susah sedikit berdesak-desakan.
''Tunggu apa lagi? Ayo kita jalan,'' ajak Tika sambil mencelupkan jarinya ke air dari kapal itu.
''Baik, berpeganganlah yang erat,'' ucap Kailash penuh semangat.
''Tunggu dulu, bagai mana caranya kita menyeberang ke tengah danau tanpa dayung?'' Tika kebingungan.
''Hei.. ingat, kalau perahu ini datang atas mantra yang kita gunakan. Berarti perahu ini juga bisa jalan dengan mantra juga,'' -Kailash.
''Bagaimana caranya?'' -Tika.
Sambil tersenyum bangga Kailash menjentikkan jarinya dua kali ke perahu. Perlahan perahu itu mulai bergerak meninggalkan tepian danau dan menelusuri kabut-kabut ditengah danau.
''Aku juga tidak tahu pastinya. Mungkin dengan kecepatan perahu seperti ini dan melihat tepian danau yang tidak begitu dangkal seharusnya kita akan sampai dalam waktu dekat. Lagi pula Tuan Nayaka juga berkata kalau danau ini kecil,'' jawab Kailash sembari mengawasi sekelilingnya.
Dalam perjalanan menyeberangi danau, Kailash dan Tika saling diam tak bersuara. Kailash sibuk mengawasi kondisi sekitar dengan serius, sementara Tika hanya melamun murung. Tika mengingat lagi hal-hal yang telah terjadi selama ia berada di sini.
''Kenapa aku ada di sini bersama dwarft yang bahkan tidak aku ketahui makhluk jenis apa dia? Bagaimana aku bisa masuk ke dunia ini?'' ucapnya dalam hati.
Semakin ke tengah hawa semakin dingin, apalagi disaat mereka menyusup di tengah-tengah kabut. Di tambah mereka berdua tak bersuara sama sekali membuat suasana cukup mencekam. Yang terdengar hanyalah suara perahu melintasi air dan ikan yang muncul dengan mengibaskan ekornya ke permukaan air, namun entah darimana suaranya.
''Sepertinya sebentar lagi akan sampai..'' kata Kailash sambil terus mengawasi sekelilingnya.
''Kita akan sampai..'' Kailash menoleh dan melihat Tika yang sedang murung.
''Tika? Kamu kenapa?''
''Eh, apa kamu sedang biacara denganku, Kailash?'' Kailash membuyarkan lamunannya.
''Ada apa? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?'' tanya Kailash pelan.
''Ti...tidak ada kok, hehe. Cuma kelelahan aja'' kali ini Tika berbohong.
''Hmm baiklah, sebentar lagi kita akan sampai dan mencari tempat untuk istirahat di sana '' -Kailash
...----------------...