
''Terima kasih dewa-dewi hutan. Semoga keagunganmu abadi,'' puja Kailash dengan berlutut.
"Ayo ikut berlutut!," seru Kailash.
"Ba..Baik...," Tika mengikuti perintah Kailash.
Gerbang tadi berangsur mengecil dan cahaya silau tadi mulai redup. Saat gerbangnya telah tertutup, ikan-ikan tadi berputar berlawanan arah dan samar-samar mulai memudar dan hilang.
''Itu adalah ikan legenda dari dewa-dewi hutan ini, jika kita diberi petunjuk seperti tadi berarti kita telah dipercayai oleh hutan ini, dan sebagai terima kasihnya kita harus berlutut agar tidak bermaksud memerintah ikan-ikan legenda itu," -Kailash.
''Apakah kau seorang ahli hutan atau semacamnya Kailash? Setelah aku lihat, kamu ahli dalam mengetahui semua tempat di sini," Tika penasaran.
''Bukan, aku hanya seorang pengelana yang mencari beberapa barang-barang langka untuk dipelajari,'' -Kailash
''Pantas saja kamu tahu semua tentang tempat-tempat ini," celetuk Tika.
Saat mereka melangkahkan kaki ke tempat itu, hawa dingin mulai menjalar dari kaki mereka. Tetes demi tetes air mulai jatuh dan mengenai wajah Tika, walaupun tidak sepenuhnya membasahi. Tanah yang mereka injak pun di penuhi lumut seperti di Nusa Kliyang tadi namun kali sangat lembab. Udara dingin, gerimis berjatuhan dari langit yang merona jingga kegelapan dan tanaman yang tumbuh pun semuanya kali ini menjalar serta ditutupi embun. Sangat aneh bukan?
"Dingin sekali. Tempat apa ini, Kailash?" dengan perlahan menggosok bahunya agar tetap hangat.
"Aku lupa mengingatkan ini adalah tempat yang sangat dingin. Siapapun yang datang ke sini sebaiknya memakai pakaian yang hangat dan tebal. Karena semakin menyusuri hutan ini, semakin dingin suhu di sini," celetuk Kailash.
"Lalu bagaimana? Udara disini semakin dingin saja," sembari terus menggosok bahunya.
''Tunggu dulu..," jawab Kailash merogoh kantong berisi beberapa barang yang ia gantung di pinggangnya.
''Makanlah buah ini. Ini adalah buah yang aku petik dari Nusa Kliyang tadi. Buah ini cukup serba guna, sepertinya bisa menghangatkan tubuhmu juga. Walaupun aku belum pernah mencobanya, hehe," memberikan buah berwarna rose gold itu.
''Baiklah, akan ku coba.."-Tika
''Srupppp...hmmm kenapa rasanya agak pahit?" kali ini mata Tika tak bisa bohong.
"Hmm iya juga ya..'' -Tika
Perlahan Tika merasakan suhu tubuhnya semakin hangat dan merasa tidak terpaku lagi karena dingin.
''Bagaimana? Apakah manjur?,'' tanya Kailash.
''Wah, cukup hangat juga. Bagaimana cara kerjanya?''-Tika
''Mungkin karena sebelum makan buahnya niatmu adalah agar tidak dingin lagi,'' ucap Kailash.
''Kalau begitu kita lanjutkan perjalanan kita,'' sambungnya.
Mereka melanjutkan perjalanan berjalan kaki menelusuri jalan setapak. Semakin lama berjalan semakin lebat tanaman menjalar yang ditemui. Serta kabut yang semakin tebal membuat mereka kesusahan menentukan arah.
''Setahuku ini adalah jalan menuju alamat yang kita maksud. Walaupun sudah lama tidak datang kemari tapi aku masih mengingatnya sedikit-sedikit," Kailash bergumam sendiri.
''Kita udah sampai, Kailash?" Tika menyeruakkan dedaunan yang ada di depannya.
''Sebentar, kasih aku waktu untuk berfikir,'' -Kailash.
Tiba-tiba kabut mulai pekat, angin berhembus tak karuan. Samar-samar terlihat sesosok bayangan di balik kabut. Itu cukup tinggi dan berbadan cukup besar.Tika sangat kaget dan memegang tangannya dengan erat sekali.
''Apa itu?...'' bisik Tika pada Kailash.
''Aku..aku juga tidak tahu. Kita harus berjaga-jaga dan perlahan mundur,'' jawab Kailash dengan pelan.
...---------------------...