
''Jangan main-main denganku. Jujur saja kalian berasal dari mana?" tanya Nayaka dengan tegas.
''Apakah engkau masih tidak percaya, Tuan?" Kailash memperlihatkan sekantong debu biru.
Karena debu biru adalah debu khusus yang terbuat dari batu amreta. Dan batu itu hanya bisa didapatkan oleh para pelajar sihir yang lulus ujian akhir kelas menengah. Orang-orang saja banyak yang gagal di kelas awal, hanya yang ulet dan gigih bisa lolos. Dan Kailash adalah lulusan kelas menengah, berarti dia juga bukan orang yang sembarangan juga.
''Baiklah. Sekarang aku percaya pada kalian,'' menganggukkan kepala dan kembali fokus ke jalan.
''Kenapa cuaca di sini begitu dingin dan berkabut, Tuan? Tak seperti yang pernah aku datangi sebelumnya," -Kailash.
''Memangnya seperti apa negeri ini waktu kamu datang kesini?" -Nayaka.
''Memang berkabut, tapi tak setebal ini dan cuacanya cukup hangat,'' -Kailash
''Mungkin pada saat kau datang, di negeri ini sedang terjadi yang namanya hari lonceng suci. Dimana seluruh pelosok negeri ini cukup terang karena semua penduduk memperingati hari suci untuk meminta kemahsyuran dan kejayaan negeri ini kepada dewa penguasa langit. Pada saat itu semua ahli sihir berkumpul untuk mengumpulkan semua kabut di sebuah tempat dan menggetarkan lonceng besar sampai berdentang. Kemudian semua penduduk berkumpul dan melakukan ritual suci kepada dewa," jelas Nayaka.
''Aku lupa. Tapi yang sedikit aku ingat, pada saat itu aku di bawa oleh Tuan Apsara Amartya untuk memperingati hari suci yang engkau sebutkan itu, Tuan,'' -Kailash.
''Iya. Karena pada saat itu pemimpin kami berinisiatif untuk mengundang beberapa penduduk dari negeri seberang. Dan setelah hari suci itu, seluruh negeri ini kembali ditutupi kabut tebal agar tetap aman dari gangguan luar. Karena itu juga temperatur di sini juga dingin dan setiap hari akan turun gerimis,'' -Nayaka.
''Begitu ya. Terima kasih penjelasannya, Tuan,'' -Kailash.
''Sekarang izinkan aku yang bertanya. Gadis kecil ini adalah seorang manusia. Bagaimana kau bisa masuk ke dunia ini, Gadis?," tanya Nayaka.
''Engkau harus segera kembali pada saat upacara raya api negeri, dimana para pemimpin dari semua negeri berkumpul dan merayakan perdamaian, dan itu terjadi tidak lama lagi,'' -Nayaka.
''Baik, Tuan,'' jawab Tika.
''Oh astaga, bagaimana dengan Nenek? Dia pasti sedang mencariku,'' Tika panik dan ingin meloncat dari tunggangan Nayaka. Untung saja masih bisa di tahan oleh Kailash.
''Tenang saja, Tika. Aku lupa menjelaskan kepadamu tentang konversi waktu di dunia ini,'' jawab Kailash sangat tenang.
''Konversi waktu? Apa maksudnya?," Tika malah semakin panik.
''Waktu di sini lebih cepat dari pada diduniamu. Anggap saja kamu telah di sini selama beberapa minggu atau beberapa bulan, namun di duniamu belum tentu selama itu. Inilah keajaiban negeri ini. Menurut buku legenda yang aku baca memang seperti itu katanya,'' Kailash sangat percaya diri.
''Benar. Bahkan belum tentu akan menghabiskan sedetik pun waktu di duniamu. Jadi tenang saja,'' sambung Nayaka.
''Kita sudah sampai di tempat para penduduk. Kalian mau mencari siapa di sini?'' tanya Nayaka.
''Kami ingin bertemu dengan ahli sihir yang sangat hebat di negerimu, Tuan. Tolong bawa kami ke sana,'' -Kailash.
''Baiklah, berpeganganlah yang erat,'' Nayaka membelokkan jalannya ke arah kiri
...----------------...