
Hawa dingin menjalar menusuk pori-pori kulit yang masih bergelumun dibentangan selimut berbenang tebal itu. Bintang gemintang mulai memudarkan kerlipnya. Langit yang semula hitam sepekat tumpahan kopi kini mulai membiru bak samudera melayang di jumantara.
Mata yang masih erat perlahan terpejam dibangunkan semilir hawa itu. Tika mencengkeram badannya erat bersama selimut. Sayup menggoda telinga, buncah percikan dari sumur menggema di sela-sela pintu kamar yang tidak tertutup rapat, siapa lagi itu kalau bukan Nenek.
Letupan kecil bara api menggelintir dari tungku yang diatasnya berdiang seperiuk penuh berisi air hasil timbaan dari sumur tua. Nenek sudah memulai rutinitasnya dari jam setengah enam ini.
Perlahan periuk mendesis menumpahkan uap air panas yang akan dituangkan Nenek ke cerek aluminium berwarna emas itu.
Dan Tika pun dibuat terbangun oleh gerusuh suara dari dapur. Dia hanya tidur dari jam dua belas sampai setengah lima pagi, bisa di bilang hanya lima setengah jam ia bisa memanjakan mata yang mulai sembab. Terpampang wajah lesu dan langkah lunglai menuju sumur.
Dengan setengah mata terpejam, Tika melewati sebuah pintu yang selama ini tak disadarinya ada. Pintu itu berada di sebelah pintu kamar mandi. Benar, pintu gudang.
"Ha? Ada ruangan? Ini gudang? ," bisik Tika pelan perlahan masuk kamar mandi.
Tapi suara gedebuk tadi malam sepertinya bersumber dari ruangan itu. Hal ini membuat Tika semakin dihantui rasa penasarannya.
Tika mencoba menggoyangkan gagang pintu berdebu itu, sayangnya terkunci rapat. Hingga beberapa kali percobaan tetap saja daun pintunya tak bisa di buka.
Saat membalik badan, gedebuh suara itu kembali muncul kali ini lebih keras dan terdengar benda itu seperti disambut deraian gemerinting kaca. Sepintas bulu kuduknya tegak menghujam. Ia lari kalang kabut melewati Nenek berdiang di tungku bak sekejab bayangan sambil terteriak.
"Hwaaaa!! Lariiiii!!! ," Tika menarik celananya sampai lutut dan berlari.
"Hei, kamu kenapa Tika? Pagi- pagi udah lari-lari aja," Nenek ikutan berdiri karena ulah Tika yang tak karuan.
"Itu.. itu, Nek. Disana ada hantu," Tika menunjuk ke arah pintu datangnya suara tadi.
"Iih Nenek mah ga percaya. Tadi malam ada Tika denger suara kek gitu juga lho, Nek," Tika terlihat sangat yakin.
"Mana? coba sini Nenek liat," Nenek berdiri dan berjalan ke arah pintu dan mencoba membuka dengan menarik gagangnya.
"Lah? kok ga bisa dibuka? perasaan ga pernah dikunci," gumam Nenek.
"Dikunci ya, Nek? mana kuncinya, Nek?" Tika mendekati wajahnya ke arah pintu dengan melototkan kedua matanya melihat lubang kunci.
"Nenek juga lupa. Perasaan Nenek ga pernah ngunci gudang ini," Nenek menoleh ke atas mengira ada sesuatu yang menghambat dari atas.
"Oo jadi bener ini gudang ya," gumam Tika.
"Iya, makanya Nenek bilang itu cuma tikus. Karena Nenek juga jarang bersihin gudang akhir-akhir ini," Nenek melangkah ke dapur kembali.
"Hmm yaudah deh, tapi aku ga yakin si masa suara sekuat itu ulah tikus. Pasti ada apa-apa, harus ditelusuri. Waktunya Detektif Tika beraksi, hehehe".
Seolah-olah menjadi seorang detektif ia mengelus kedua dagunya dengan jari jempol dan telunjuk tangan kanan dengan menopangnya diatas lipatan tangan kiri.
"...yaa tunggu siang dulu si, hahaha...," sambungnya sambil cekikikan. Gadis satu ini sedikit penakut tapi kadang nekat juga kalau lagi penasaran.
...----------------...