
Nayaka mempercepat larinya menembus gerimis yang mulai rapat. Ia berbelok ke arah kanan di persimpangan dua jalan. Jalan yang mereka lalui perlahan kembali dipenuhi tanaman rambat yang menjalar sampai ke ranting-ranting pohon yang sudah meranggas dan jalanan yang becek bergenangan air.
Semakin lama semakin gelap. Hanya bayangan dari beberapa pohon saja yang muncul. Genangan air yang sedang dilewati itu pun semakin dalam hingga menghantarkan mereka ke sebuah danau kecil.
''Tuan, apakah jalan yang kita lalui benar?" tanya Kailash sambil memperhatikan genangan yang sudah keruh saat dilalui.
''Tentu saja. Bukankah kalian memintaku untuk menghantarkan kalian menemui ahli sihir paling hebat di negeri ini?'' Nayaka bertanya balik.
''Tapi kenapa kita melalui genangan air ini?'' tanya Tika.
''Karena dia (ahli sihir) tinggal di sini," Nayaka berhenti dan menunjuk sebuah cahaya yang cukup terang di balik kabut.
''Dia tinggal di tengah danau kecil ini. Kalian lihat cahaya di balik kabut itu? Itu adalah cahaya rumahnya. Aku membantu kalian cukup sampai di sini karena masih ada hutan yang belum selesai aku jaga. Nanti aku akan menunggu kalian di sini,'' sambung Nayaka sambil menurunkan badannya agar Kailash dan Tika bisa turun.
''Baiklah. Terima kasih atas bantuannya, Tuan.'' Kailash membungkukkan badannya
''Terima kasih,'' Tika juga mengikuti Kailash.
Brusshh...
Nayaka menyusuri genangan air yang telah keruh itu kembali ke perbatasan hutan.
''Kailash, bagaimana kita bisa menyusuri danau ini hingga bisa ke tengah sana?'' Tika mengangkat bahunya.
''Tunggu, beri aku berfikir,'' jawab kailash.
''Kenapa kita tidak minta tolong saja ke Tuan Nayaka tadi?'' Tika mengerutkan dahinya.
''Dia sudah pergi begitu saja. Dan dia telah membantu kita sejauh ini. Aku tidak mau merepotkannya lagi,'' cela Kailash.
''Lalu apa yang bisa kita perbuat sekarang? Ahaaa, gunakan saja debu birumu itu, Kailash,'' telunjuk Tika mengarah ke kantong di pinggang Kailash
''Hmm..Aku agak ragu. Tapi kita coba saja dulu,'' jawab Kailash sedikit ragu-ragu.
''Wah..bisa..,'' Tika kegirangan.
''Jangan terlalu banyak bergerak, kita tidak tahu bagaimana cara kerjanya di sini,'' ucap Kailash pelan.
Ketika sudah terangkat sekian meter. Bruukkk...
Mereka jatuh dalam genangan air yang membasahi setengah badan mereka.
''Aduh.. kenapa debunya tak berfungsi?'' Tika mengecek semua debu yang ditaburi di badannya.
''Sudahku duga. Aku yakin ini memang tak bekerja semestinya karena mungkin saja sihir kita ditangguhkan. Karena kita berada di sekitar rumah ahli sihir, bisa saja ia menaruh peredam di sekitar danau ini,'' jawab Kailash.
''Lalu bagaimana cara kita bisa menyeberang ke sana, jika semua sihir kita di redam?'' -Tika.
''Mungkin aku akan mencoba salah satu mantra yang aku pelajari. Semoga saja bisa berfungsi,'' -Kailash.
Ia menaruh telunjuk mungilnya di dalam genangan air dan seperti mengukir sesuatu dengan ujung jarinya.
''Apa yang kamu lakukan?'' Tika kebingungan.
Kailash hanya diam dan terlihat memusatkan pikirannya pada genangan itu. Lalu ia menuliskan sebuah mantra yang terlihat seperti aksara. Perlahan ia mengukirnya.
''꧋*ꦣꦺꦮꦣꦺꦮꦶꦤꦤ꧀ꦄꦒꦸꦁ꧈ꦍꦂꦄꦏꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦝꦸꦏ꧀ꦥꦣꦱꦼꦱꦸꦮꦠꦸꦪꦁꦩꦼꦔꦥꦸꦁꦣꦶꦄꦠꦱ꧀ꦚ''
''Dewa-dewi nan agung, air akan tunduk pada sesuatu yang mengapung diatasnya''
Kemudian ia menghapus kembali mantra yang ia ukir tadi.
...----------------...