
tAku tengah duduk di dalam ruang kerjaku. Ara pergi keluar kota dengan alasan, ia akan melakukan pemotretan disana. Aku percaya padanya, aku juga tau bahwa dia adalah model. Jadi wajar saja kan jika dia sibuk, sama sepertiku, aku juga sibuk.
Dan ketika Ara pergi, aku akan bermain-main dengannya. Kucing peliharaanku yang sudah aku terlantarkan selama dua bulan ini.
Ara tau bahwa aku membawa Xavier untuk tinggal dirumah ini, dan entah mengapa ia setuju. Bahkan mungkin, dia tidak peduli.
Ceklek
Aku membuka pintu gudang. Aku dapat melihat Xavier yang tengah meringkuk, tubuhnya terlihat gemetar.
Aku menghela kasar nafasku. Kenapa ia sangat lemah?
Lalu, aku mendekatinya. Xavier menoleh kearahku, matanya sembab dan tatapan matanya sayu. Apa aku terlalu jahat padanya?
Aku menggendong tubuh Xavier, ringan. Dia terasa sangat ringan. Ya, wajar saja, dia saja tak pernah memakan makanan yang aku berikan.
Aku membawanya masuk ke dalam kamarku. Seperti biasa, ia pasrah. Sepertinya dia tau apa yang akan aku lakukan padanya.
Aku membaringkan tubuhnya diatas kasur. Aku mulai melepaskan satu per satu pakaian yang ia kenakan. Setelah selesai, aku mulai mencium lembut bibirnya. Ia hanya diam, tak berkutik.
...***...
^^^Xavier's POV^^^
Selalu begini, ia terus melakukan ini padaku saat istrinya pergi. Aku... seperti pelampiasan nafsunya. Aku lelah, aku ingin pulang.
Bulir-bulir bening keluar dari mataku. Dengan cepat, aku mengusapnya. Hatiku sakit, sangat-sangat sakit. Jika aku tau kalau pindah ke Korea akan jadi begini, aku lebih memilih untuk meneruskan perusahaan Papah.
"Hiks... mnhh... hiks..." air mata terus-menerus keluar dan tidak mau berhenti. Aku mengusapnya dengan kasar.
Cup
Hwan menciumku dengan lembut. Ia membelai kepalaku. Andai dia seperti ini setiap hari.
Aku terbuai dengan perlakuan lembutnya. Lalu, ciuman Hwan turun dari bibirku menuju leherku.
"Emmhh..." aku mendesah pelan. Hwan sedikit menggigit leherku.
Tangan satunya memainkan p*tìng dadaku dan jari tangan sebelahnya masuk ke dalam holeku. Ciumannya pada leherku telah selesai, ia lanjut mencium dan menjilat-jilat p*tìng dadaku.
Aku menangis, membayangkan jika dia melakukan ini saat statusnya menjadi suamiku. Tapi dia melakukan ini sekarang, hanya untuk memuaskan nafsunya. Aku mengigit bibir bawahku, meringis ketika dia memasukkan juniornya.
Hwan mulai menggerak-gerakkan tubuhnya, gerakannya sangat cepat. Aku menggenggam sprei kasur dengan erat untuk melampiaskan rasa sakitku.
"Hiks... aaahhh... emmmhhhh..." aku tak dapat menahan suara itu lagi. Suara aneh itu terus keluar dari mulutku sehingga memenuhi seisi ruangan.
"Aaahhh... aaahhh... Hwan... aaahhh... pelan... uhh... pelan-pelan..." ringisku.
Hwan terlihat menyeringai, kemudian ia mempercepat temponya. Pinggangku terasa sakit, bagian bawah dan belakangku terasa perih.
"Ngh-- ahhhh.... aaaahhhh... k... ku mohon... lepas! Aku... ngh... haaaa...."
Fwop Fwop Fwop
Gerakan Hwan semakin kencang, aku sudah tak sanggup lagi.
"Hiks... lepas..." lirihku.
Aku ingin pulang, sudah cukup aku tersiksa dengannya seperti ini. Aku ingin sekali kabur dari sini, tapi jika aku kabur, itu artinya Ga Eul akan ada dalam masalah.
"Aku mau pulang..." batinku.
Thrust!
"AHHHH...!" Aku sudah mencapai batasanku, begitu juga dengan Hwan.
Hwan mengeluarkan cairan putih itu pada holeku. Kemudian ia mengeluarkan juniornya dengan kasar. Hwan beranjak berdiri, kemudian pergi ke kamar mandi dan meninggalkanku sendirian di kamar ini.
Air mata kembali keluar dari mataku, aku menangis tersedu-sedu. Andai aku sekuat Ga Eul yang melawan ketika ditindas, andai aku seperti Ga Eul yang pemberani dan tak takut pada siapapun. Tapi... aku bukan Ga Eul, itu artinya aku tak setangguh dirinya.
Aku... aku ingin keluar dari sini. Aku keluar dari neraka ini.
...***...
T.B.C