Stuck With You {BL}

Stuck With You {BL}
Chap 4 : Rahim



"Kamu mau aku jemput lagi gak besok?" Tanya Ga Eul sembari memasang wajah sok gantengnya.


"Boleh." Xavier menjawab.


Ga Eul memandangi wajah Xavier sambil sesekali tersenyum senang.


"Cantik banget Uke satu ini, mumpung belum ada pawang mendingan aku yang pawangin." Gumam Ga Eul.


"Apa?" Tanya Xavier.


"Eh...? Bu... bukan apa-apa kok!"


Xavier yang merasa diperhatikan pun melirik kearah Ga Eul. "Kau suka padaku ya?" Tanyanya. Ga Eul terperanjat.


"Umhh... bukan apa-apa, aku hanya..." ucap Ga Eul, dia menjadi salah tingkah.


"Hehe... kau malu ya?" Tanya Xavier disertai tawa kecilnya.


"Ng... nggak kok!" Jawab Ga Eul, ia memalingkan wajahnya.


...***...


Di Tempat Lain...


Saat ini, Hwan tengah sibuk di meja kebesarannya. Ia terlihat fokus dengan kertas yang berada dihadapannya.


**Nama: Xavier Anggarasta


Umur: 18 Tahun


Tanggal Lahir: 2 April, 2003


Hobby: Menggambar dan Menulis Cerita


Orientasi Seksual: ???


Status: Jomblo


Anak pertama dari keluarga Anggarasta. Mendapat beasiswa full ke Korea. Sifatnya ceria dan periang.**


"Hmm... sepertinya dia masih perawan." Gumamnya.


Hwan melemparkan kertas itu kemudian tertawa kecil.


"Biarlah aku sudah bertunangan. Toh, dia ini kan laki-laki. Jika aku tusuk berkali-kali pun ia tak akan hamil kan?"


...***...


^^^Xavier's POV^^^


"Halo mah? Iya aku gak apa-apa kok. Heemm... iya-iya aku tau! Nggak kok mah!" Ujarku kepada mama.


Mama selalu saja begini, rempong. Kalau aku jauh dikit pasti langsung nyariin. Lah ini masalahnya kan aku ada di Korea!


"Kamu makannya teratur gak? Kamu kan biasanya suka kelupaan makan. Nanti kalau sakit gimana? Kan gak ada yang jagain!" Celotehnya dari sana.


"Kalau aku sakit kan ada temen mah!" Ucapku.


"TEMEN? Siapa? Laki-laki atau perempuan? Dia baik atau jahat? Namanya siapa?" Tanya mamah.


"Aduh mamah kayak pewawancara, nanya banyak banget!" Ucapku ketus.


"Haduhh... masalahnya kamu ini punya ra--" ucapan mama terhenti.


"Ra? Ra apa mah?" Tanyaku penasaran.


"Ra... euhm... ra... ra apa ya? Anu... itu... Rabu?" Jawaban mamah semakin membuatku penasaran.


"Ra... euhmm... iya Rabu!"


"Ah udahlah, mama mah gitu." Ujarku. Aku mengeluarkan jurus mematikan ku, jurus ngambek.


"Belum waktunya Vi. Nanti juga kamu tau." Kata mamah dari seberang sana. Suaranya melembut.


"Kapan? Kapan aku tau?" Tanyaku.


"Nanti." Jawabnya.


"Haaah... ya udah deh mah." Kataku.


Ketika aku akan mengakhiri panggilan, aku mendengar suara aneh dari handphone ku.


"Haahhh... y... ya udah ya... ngh- kamu hati-hati di sana. Bye~" (Apa kau mengerti Dora?)


Tuut Tuut


Panggilannya telah berakhir. Ga Eul menghampiriku, menanyakan siapa yang menelponku.


"Siapa?" Tanyanya.


"Mamah." Jawabku.


"Hmm? Tapi suaranya laki-laki." Ujarnya.


"Iya aku tau, mamaku laki-laki." Kataku.


"WTF? BENERAN? JADI KAMU ANAK PU--" sebelum dia melanjutkan ucapannya, aku membekam mulutnya.


"Uhh, biar aku jelaskan." Ucapku sembari tersenyum canggung.


...***...


Aku menjelaskan tentang mengapa aku ada di dunia ini. Ga Eul menganggukkan kepalanya, matanya berbinar-binar.


"Jadi begitu, mamah ku itu punya rahim. Jadi jangan tanya kenapa aku ada. Dan, aku juga memiliki dua adik. Aku tau kedengarannya memang aneh, tapi itulah kenyataannya." Kataku.


"Oh my God, omegaverse in real life! Kyaaaa!" Ga Eul berteriak kegirangan.


Aku menatapnya pasrah. Sudahlah, terserah dia mau jungkir balik, kayang ataupun salto, asalkan dia senang.


"Oh iya, ngomong-ngomong soal hamil, apakah kau juga punya rahim?" Tanyanya.


"A... aku?" Tanyaku balik.


"Iya, siapa tau kau-- tunggu sebentar... kemarin kan kau bilang kalau kau di--" ucapan Ga Eul patah-patah.


"Kau... tunggu, benar kemarin kan aku... di..." kali ini ucapanku yang terbata-bata.


Benar, apakah aku punya rahim juga? Jika aku punya, apakah aku sedang hamil anak orang aneh itu?!


"TIDAK-TIDAK! TIDAK MUNGKIN! AKU TIDAK IKHLAS!" Teriak Ga Eul.


"Ka... kalau kamu beneran hamil anak dia gimana?! Dia itu cassanova! Sial, aku tau dia pasti sudah meniduri banyak wanita dan tak mau bertanggung jawab!" Ujarnya.


Tubuhku gemetar seketika. Ga Eul memegang kedua pundakku dan menatap lekat mataku.


"Dengar, aku tau mungkin sekali berhubungan saja bisa membuatmu hamil. Tapi, positif thinking saja, kau tidak akan hamil karena kau tidak memiliki rahim." Ujarnya.


Ya setidaknya perkataannya sedikit menenangkan diriku. Tapi tetap saja, bagaimana jika aku benar-benar memiliki rahim? Apa aku akan terjebak dengan mafia itu?


T.B.C