
"Sayang~" panggil Ara dengan nada menggoda.
"Hmmm?" Balasku, berdehem.
"Minta uang boleh gak? Aku mau beli tas yang baru itu, tapi mahal. Aku gak ada uang." Ujarnya.
Aku tersenyum kemudian menyodorkannya uang.
"500 ribu? Apa gak kebanyakan?" Tanyanya. (Kalau author cari di Google, 500 ribu won \= 6 juta rupiah)
"Gak kok." Jawabku, aku tersenyum manis lalu mengusap-usap kepalanya.
"Ya udah ya aku pergi dulu, muachh..." ujarnya lalu memberikan kiss bye untukku.
Aku tersenyum melihat tingkah lakunya. Aku sangat mencintainya, amat sangat mencintainya.
Setelah kepergiannya, aku kembali fokus pada laptopku, tapi aku tak dapat fokus. Aku penasaran dengan bocah itu. Wajahnya terlihat cantik, seperti perempuan.
"Lihat saja, aku pasti akan mendapatkanmu."
...***...
^^^Xavier's POV^^^
"Bla... bla... bla… bla… bla… bla… bla bla… blaaaa..."
Dosen sedang menjelaskan di depan sana, aku berusaha untuk menyimaknya dengan seksama, tapi lagi-lagi pemikiran tentang rahim itu muncul kembali dan menganggu kefokusanku.
"Bagaimana jika aku benar-benar hamil? Pasti ini akan menyusahkan, aku pasti nanti ngidam, jadi sensian terus nanti mual-mual." Batinku.
"Baiklah, segitu dulu saja untuk hari ini. Kelas di bubarkan." Kata dosenku di depan.
Aku segera memasukkan buku-buku dan perlengkapan kuliahku. Ga Eul sudah berdiri di hadapanku.
"Cepat Vi, aku mau pipis nih." Kata Ga Eul. Aku meliriknya.
"Kamu duluan aja atuh." Balasku, Ga Eul mengangguk dan segera buru-buru meninggalkanku.
Setelah selesai membereskan peralatanku, aku beranjak berdiri. Kemudian menenteng tas di pundakku.
.
.
.
.
Aku menunggu Ga Eul di tempat parkiran. Mengapa ia lama sekali? Hari sudah mulai gelap. Bintang-bintang di langit mulai terlihat, menunjukkan gemerlap cahayanya.
"Dia kemana sih?" Gumamku. Aku memainkan jari tanganku, aku mulai cemas.
Aku mengeluarkan handphone dari saku celanaku. Mencari nama Ga Eul di sana. Setelah menemukannya, aku segera menelponnya.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat menjawab, cobalah beberapa saat lagi."
Ah sudahlah, lebih baik aku pulang duluan. Aku sudah lelah dan tak sabar untuk tiduran di atas kasur.
Aku berjalan menuju halte bis. Aku mendudukkan tubuhku di atas kursi dan menunggu bis datang.
"Uhhhhh..." aku meregangkan tubuhku yang terasa pegal. Aku tak pernah berpikir bahwa kuliah akan selelah ini.
Aku menguap, lalu mengucek-ucek mataku untuk mengusir rasa kantuk. Aku sudah tak tahan, aku memejamkan mataku, dan kesadaranku mulai menghilang.
...***...
Uhhm... apa ini? Mengapa rasanya panas?
"Ahhh..." aku mengeluarkan suara aneh itu.
Perlahan aku membuka kedua mataku. Samar-samar, aku dapat melihat wajahnya. Tunggu-tunggu, mengapa wajahnya terasa tidak asing?
"Uhmmph--" dia mencium bibirku dengan kasar. Aku reflek akan mendorongnya, tapi dia menahan kedua tanganku.
"Hmmm... aaahhh... haaaahhh..." dia melepaskan lum*tannya. Aku mengatur nafasku, kemudian kembali menatap wajahnya.
"Tunggu... dia ini kan..." aku membantin.
Hwan, dia Park Hwan Yoon. Dan dia adalah orang yang memperk•saku waktu itu! Sial, aku menyesal tertidur tadi!
"Haaa... t... tunggu... AHHHH!" Dia menusukku, rasanya sangat sakit dan perih.
...***...
^^^Author's POV^^^
Hwan memasukkan juniornya dengan kasar. Ia mulai mengeluar-masukkan juniornya dengan amat kasar, tanpa memperdulikan Xavier yang tengah meringis kesakitan.
"Ngh- aaahhhh... aaahhh... hiks... sakit... aahhh..." ringisnya. Xavier meremas bahu Hwan, bahkan kukunya sampai tertancap.
"Haaaahhh... aaahhhh... ke... keluarkan... kumohon..." ringisnya lagi. Hwan tak berhenti, ia justru semakin mempercepat tempo gerakannya.
Ranjang tempat tidurnya berbunyi akibat gerakan cepatnya. Xavier semakin kencang meremas bahu Hwan, bahu Hwan lecet, bahkan mengeluarkan sedikit darah.
"Emmmhh... hiks... ummhhph..." Hwan mencium bibir Xavier dan mel*m*tnya.
Bibir Hwan tengah sibuk mencium bibir Xavier, tangan kanannya sibuk memainkan ****** Xavier, tangan kirinya sibuk mengocok p*n*s Xavier, dan tubuhnya sibuk mempercepat tempo. (Giliran adegan anu-anu, lancar nih otak ☺️💔)
"Emmmhh... aaah... aaah... aaah… aahhh..." suara desahan Xavier memenuhi ruangan.
"Haaaa..." Hwan telah sampai pada batasannya, ia klimaks dan menumpahkan cairan putih itu pada hole Xavier.
"Haaah... haaah... fiuhhh..." Xavier menghela nafas lega, lega karena aktivitas panas itu telah berakhir.
"AAAAAHHHHH!" Xavier berteriak kencang. Hwan ternyata belum puas hanya dengan satu ronde saja, kegiatan panas itu berlanjut sampai 10 ronde.
...***...
T.B.C