
Aku keluar dari kamar mandiku. Kemudian aku memakai bajuku.
Aku masih kesal. Mengapa Ga Eul yang menjemputku? Harusnya kan aku yang menjemputnya! Sial, ini sangatlah memalukan.
Setelah selesai memakai pakaianku, aku keluar dari apartemenku. Tak lupa, aku menguncinya. Aku keluar dari gedung apartemen. Aku melihat Ga Eul yang sedang tiduran di atas motornya.
"Ga Eul!" Panggilku. Aku berlari kecil kepadanya. Ga Eul menoleh, ia melihat kearahku.
"Lama, kamu dandan ya? Lama banget, kayak perempuan." Kata Ga Eul, ia terkekeh pelan.
"Haish... kau ini..."
Ga Eul, sepertinya dia identik dengan Hoodie dan warna pakaian gelap. Saat ini Ga Eul tengah memakai Hoodie berwarna hitam, akan tetapi motifnya berbeda dengan yang ia pakai tadi pagi.
Motif Hoodienya saat ini bertuliskan kata "Misekakunoi" dalam huruf latin, jadi aku bisa langsung membacanya. Sebenarnya misekakunoi itu apasih?
Berbeda dengan Ga Eul, aku saat ini memakai Hoodie berwarna putih dengan celana jeans. Entahlah, aku hanya ingin memakainya saja.
"Hey, jangan bengong aja. Yok naik." Kata Ga Eul, ia menyadarkanku dari lamunanku.
"Ah iya, maaf." Balasku. Tanpa pikir panjang lebar aku langsung naik ke atas motornya.
"Yosh, kita berangkat!" Seru Ga Eul.
...***...
Kita akhirnya sampai di bar yang Ga Eul katakan siang tadi. Aku turun dari atas motornya dan melihat Ga Eul yang tengah membuka helmnya. Ia menyisir rambutnya ke belakang sebelum turun dari motornya.
"Ayo." Ajak Ga Eul. Ia menarik tanganku, kami pun masuk ke dalam bar itu.
Bar itu ramai sekali, dipenuhi oleh lon- (lanjut sendiri :v). Aku melihat banyak sekali perempuan dengan pakaian mini di sini.
"Apa kau sering kesini?" Tanyaku.
"Iya, kadang-kadang. Ngomong-ngomong kau harus berhati-hati, karena banyak laki-laki horny disini." Kata Ga Eul. Aku menganggukkan kepalaku.
Ga Eul menarik tanganku, mengajakku duduk.
"Sungyoon!" Panggilnya. Kemudian seseorang tiba-tiba muncul di sana. Perempuan itu mengenakan dress pendek selutut, pakaiannya ketat sekali.
"Haish... oh? Ga Eul?" Perempuan yang bernama Sungyoon itu melihat Ga Eul yang tengah duduk manis.
"Biasa?" Tanyanya. Ga Eul mengangguk. Sungyoon melirikku.
"Ya ampun, siapa dia? Manis sekali!" Tanya Sungyoon.
"Aku Xavier." Kali ini aku yanh bicara.
"Wahh, wajahmu itu Ukeable sekali yah." Kata Sungyoon.
"Uke? Apa itu Uke?" Aku bertanya, tidak mengerti.
Ga Eul menepuk jidatnya dan Sungyoon tetap tersenyum lalu menyediakan minuman untik Ga Eul.
"Dia itu polos Yoon, jangan ngomong yang enggak-enggak deh." Kata Ga Eul, ia menerima minuman dari Sungyoon dan menghabiskannya dalam satu tegukkan.
"Lagi." Kata Ga Eul. Sungyoon menghela nafasnya.
"Kamu kalau mabuk itu nyusahin orang tau! Kalau ada yang deketin kami langsung kamu tonjok." Kata Sungyoon, ia menggelengkan kepalanya.
"Self defense, Yoon." Balas Ga Eul.
"Kamu gak minum?" Tanya Sungyoon. Aku menggeleng.
"Awww, anak baik-baik ini gak kayak Ga Eul." Kata Sungyoon lalu menyentil pelan dahi Ga Eul.
Aku terkekeh melihat tingkah mereka, sudah seperti adik kakak.
Ga Eul telah menghabiska beberapa gelas, ia sepertinya sudah mabuk. Mendadak, aku ingin pergi ke toilet.
"Sungyoon, aku titip Ga Eul dulu yah. Mau pergi ke toilet bentar." Ucapku.
"Okeh." Balas Sungyoon.
Aku beranjak berdiri, kemudian berlari ke kecil. Aku mencari toilet tapi tak kunjung ketemu. Sampai akhirnya, beberapa saat kemudian aku menemukannya.
...***...
Aku tersentak. Orang asing itu memciumku semakin dalam, ia bahkan memasukkan lidahnya ke dalam mulutku.
"Euhhmm..." aku memukul-mukul pundaknya, memberontak. Aku juga berusaha kerasa untuk mendorong tubuhnya, tapi itu percuma saja, tenaganya lebih besar dari diriku.
"Huaahhh... haaahh... haahhh..." ia melepaskan ciumannya. Aku mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
Lalu, orang itu menggendong tubuhku. Aku membulatkan mataku. Aku berusaha untuk lepas darinya. Tapi sekali lagi, aku gagal.
Aku dibawa ke tempat parkir mobil oleh orang itu. Ia memasukkanku secara kasar kedalam mobilnya. Supirnya hanya diam saja, seperti ini adalah pemandangan yang sudah biasa untuknya.
Orang itu duduk di sebelahku dan memeluk tubuhku dengan erat. Aku memberontak, berusaha untuk lepas darinya.
"Sepertinya Tuan Muda menemukan mainan baru lagi." Gumam supir itu lalu menginjak pedalnya.
Aku menelan salivaku. Apa? Mainan baru? Apakah orang ini hobi mengkoleksi manusia dan menjadikannya sebagai mainan?
...***...
^^^Author's POV^^^
Orang itu melempar tubuh Xavier ke atas kasur. Kemudian ia melonggarkan dasinya dan melemparkannya entah kemana. Tubuh Xavier gemetar, ia ketakutan.
"A... apa yang kau inginkan?" Tanya Xavier. Orang asing itu tak menjawab sepatah katapun.
Orang itu mulai melepaskan semua pakaian yang dikenakan oleh Xavier. Kemudian, orang itu menjilat jarinya dan memasukkannya ke dalam hole Xavier.
"Hiks... sakit... lepas! Kumohon lepaskan aku!" Xavier mulai terisak, ia menangis.
"Uhhmmm..." Xavier menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Kakinya gemetar hebat.
"Hiks... ehhhmmm..." Xavier menutup kedua matanya. Ia meremas kasur untuk melampiaskan rasa sakit yang ia rasakan.
"Ehhmmm... ahhh..." Xavier membuka sedikit matanya. Orang itu berhenti menggunakan jarinya. Sebaliknya, ia malah membuka seluruh pakaiannya. (Panik gak? Panik gak? Panik gak? Paniklah masa enggak.)
"A... apa yang ingin kau lakukan?! Hiks... kumohon ja-- AAAHHH...!" Xavier mendesah kencang. Orang itu berusaha untuk memasukkan juniornya kedalam hole sempit milik Xavier.
"Sempit... masih perawan." Gumamnya.
Xavier menutup kedua mulutnya. Ia mulai menangis.
"Hiks... keluarkan... aku mohon... aaahhh..." junior milik orang itu masuk perlahan-lahan.
"Mmmhhh... hiks... keluarkan... perih..." Xavier mengeluh kesakitan.
Orang asing itu membelai wajah Xavier kemudian berkata, "Namaku Park Hwan Yoon. Mulai hari ini dan seterusnya, kau adalah milikku. Mainanku."
"Hiks..." Xavier masih menangis, ia menggeleng, tidak paham apa maksud dari ucapannya itu.
"A... ahhh... aku... bukan mainan... siapapun... AAAHHH!" Junior milik Hwan Yoon telah masuk semua kedalam hole Xavier.
Ia bermain kasar. Ia langsung menggerak-gerakkan miliknya tanpa mempedulikan Xavier yang mulai menangis kencang.
"Hiks... haaa... aahhh... sakit.... aaahhhh.... ummhhh... hiks... ahhh..." Xavier tak dapat menyembunyikan desahannya lagi.
Kaki Xavier gemetar hebat dan ia mulai kehilangan kesadarannya.
...***...
Esoknya...
Hwan Yoon tersenyum. Ia terus memandangi wajah Xavier yang masih tertidur lelap.
"Sekarang kau adalah mainanku. Kau milikku." Batinnya. Kemudia Hwan Yook mengelus-elus kepala Xavier.
"Kau adalah mainan ke-223 ku."
Xavier tak pernah tau bahwa pindahnya ia ke Korea bukanlah awal dari kebahagiaannya, melainkan awal dari penderitaannya.
...***...
T.B.C