
2 Bulan Kemudian... (Sekarang)
^^^Xavier's POV^^^
Aku memeluk kedua lututku saat ini. Disini dingin, gelap, aku takut. Aku ingin pulang. Tapi jika aku keluar dari rumah ini, aku yakin Hwan akan melakukan sesuatu kepada Ga Eul.
Selama ini, aku tak pernah lagi bicara dengan Ga Eul. Aku selalu disuruh pulang cepat oleh Hwan, dan aku tak bisa membantah perkataannya. Setiap kali aku meminta izin untuk keluar, Hwan pasti mengomeliku dan memberikanku hukuman.
Aku selalu di kekang, aku sudah seperti hewan peliharaannya. Dan sudah dua bulan ini juga aku merasa pusing dan mual, aku yakin seratus persen bahwa aku ini tengah hamil. Tapi aku juga yakin bahwa Hwan tak akan mempercayaiku.
Dan yang lebih parahnya, aku jatuh cinta padanya, padahal aku tau bahwa dia sudah menikah dengan seseorang. Dan bisa dibilang, kalau sekarang aku ini simpanannya.
Tapi Lee Ara, perempuan itu tak tulus pada Hwan. Aku tau itu, aku sering memergokinya menelpon orang lain dengan nada mesra. Tapi percuma saja, jika aku memberikan hal ini kepada Hwan, Hwan tak akan percaya padaku.
"Apa yang harus aku lakukan? Hwan selalu mengurungku di dalam gudang bodoh ini. Dia jahat!" Gumamku, kesal. Tapi anehnya, aku tetap mencintainya meskipun ia terus-menerus menyakitiku.
Aku memegang perutku yang kian membesar. Mungkin saat hamil yang kelima bulan nanti, aku harus memberitahunya.
Besok adalah Sabtu, hari yang paling aku benci karena aku tau, aku tak diperbolehkan untuk keluar. Hwan akan mengunjungiku besok, ke gudang.
Malam semakin larut, akan tetapi aku belum juga tertidur. Aku menghela lembut nafasku, kemudian mencoba untuk tidur. Aku menutup kedua mataku, tapi sia-sia. Aku tetap tak bisa tidur.
Ya, sudah dua bulan ini aku kekurangan tidur. Siapa juga yang bisa tidur di tempat yang dingin dan gelap seperti ini? Ini benar-benar menyiksaku, sepertinya Hwan benar-benar ingi. membunuhku.
...***...
Aku membuka kedua mataku secara perlahan, kemudian menguap. Rasanya baru sebentar sekali aku tertidur.
Pintu gudang terbuka pelan, itu Hwan. Ah benar, sekarang kan hari Sabtu, itu artinya dia mengunjungiku hari ini.
"Kau tidur nyenyak semalam?" Tanya Hwan, ia memegang daguku secara kasar. Sebenarnya, apa salahku padanya sehingga dia memperlakukanku seburuk ini?
"Tidak terlalu nyenyak." Jawabku ketus. Kemudian Hwan melepaskan cengkeramannya pada daguku, lalu ia menjenggut kasar rambutku.
"Dengar kalimat ini baik-baik, aku sudah bersikap cukup baik padamu. Dan itu artinya, kau harus menjawab jawaban yang ingin aku dengar!" Serunya, sedikit membentak.
"Sebenarnya apa salahku padamu hah?! Kau waktu itu tiba-tiba datang dan memperkosaku, lalu sekarang kau memperlakukanku seperti sampah!" Bentakku, aku sudah kesal dengan perlakuannya selama ini.
Hwan melemparkan tubuhku ke atas lantai.
"Entahlah, aku juga tak tau kenapa aku memungut sampah sepertimu." Balasnya, kemudian ia keluar dari gudang ini dan menguncinya.
Aku menggigit bibirku, kemudian mengacak-acak rambutku. Ini bukanlah kisah cinta yang selama ini aku inginkan. Aku selalu berpikir bahwa jika aku mencintai orang lain, orang itu akan cinta juga padaku. Tapi ternyata, aku salah. Salah besar.
Aku kembali menangis. Menangis sendirian. Aku menangis di tempat yang gelap dan dingin. Lagi dan lagi, aku berharap seseorang akan membantuku keluar dari sini.
Atau mungkin, aku berharap bahwa semua kebusukan Ara terbongkar, dan Hwan akan memilihku sebagai pendamping hidupnya. Tapi aku terlalu berharap, aku yakin itu takkan pernah terjadi.
...***...
T.B.C
A/N: Siapin tisu 😇🙏✨