
"Ngh-- ahhhh.... aaaahhhh... k... ku mohon... lepas! Aku... ngh... haaaa...." Xavier terus mendesah kesakitan. Ia sedari tadi menahan tangisannya.
Fwop Fwop Fwop
"Hiks... lepas..." air mata mulai keluar dri mata Xavier, ia tak sanggup lagi untuk menahannya.
Orang tersebut tak menghiraukan Xavier yang mulai menangis. Ia terus menggerak-gerakkan tubuhnya. Temponya semakin cepat, membuat Xavier semakin kesakitan.
Cup!
Orang itu mencium kasar bibir Xavier. Xavier hanya bisa pasrah pada nasibnya. Saat ini ia terlalu lemas untuk melawan.
Selalu begitu, tubuhnya terus dimainkan seperti itu oleh orang yang sama sekali tidak ia kenali. Hidupnya bagaikan di neraka saat ini.
"Aku mau pulang..." batin Xavier.
...***...
2 Bulan Yang Lalu, Bandara
"Hati-hati ya sayang." Kata Keno, Keno mencium puncuk kepala Xavier. Xavier tersenyum kemudian memeluk mamanya.
Raka tersenyum kemudian mengelus-elus kepala Xavier. Dan kedua adik Xavier, Rika dan Vino ikut memeluk kakaknya yang hanya berselisih 5 dan 6 tahun dari mereka bedua.
"Hati-hati ya Kak!" Ujar kedua adik Xavier. Xavier tersenyum manis lalu berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka.
"Kakak bakalan hati-hati kok. Kalian jaga diri baik-baik yah?" Kata Xavier.
"Ya udah Kakak berangkat dulu ya Rik, Vin." Kata Xavier. Xavier berdiri dan menggeret kopernya. Kemudian Xavier melambai-lambaikan tangannya kepada keluarganya.
"Baiklah, aku akan kuliah di Korea! Aku harus senang! Siapa tau aku akan menemukan jodohku di sana." Batin Xavier.
Di dalam Pesawat
Xavier tengah melihat pemandangan dari atas langit. Xavier tersenyum karena akhirnya ia dapat kuliah di universitas impiannya di Seoul, Universitas Hanyang. Xavier merasa begitu bahagia sampai-sampai ia lupa bahwa dunia luar itu begitu kejam.
Beberapa jam kemudian, Xavier akhirnya sampai di Ibu kota Korea Selatan, Seoul. Xavier menghirup udara di bandara itu.
"Hehe.... akhirnya sampai juga." Gumam Xavier. Xavier berangkat dari jam dua siang, dan sekarang jam sebelas malam di Korsel. (Kalau di indonesia harusnya jam 9 malam tapi karena perbedaan waktunya 2 jam jadi jam 11 karena 14 + 7 + 2 \= 23 dan angka 7 di peroleh dari lama perjalanannya)
.
.
.
(Nanti anggap aja ye pake bahasa korea :v)
.
.
.
"Terimakasih. Ini kuncinya cadangannya."
"Hmm..." balas Xavier tersenyum ramah.
Xavier menekan-nekan tombol angka yang berada tepat di samping pintunya. Setelah memasukkan sandinya dengan benar, dia masuk dan mengunci pintunya.
Mata Xavier seketika berbinar-binar melihat ruangan apartemennya. Apartemen ini sangat luas. Satu kamar mandi, satu kamar tidur, dan dapur yang cukup luas.
"Ehehe... akhirnya aku bisa tinggal sendirian!" Xavier meloncat kegirangan. Tapi ada satu hal yang ia khawatirkan. Bangun pagi.
"Oke masalahku hanya satu, aku sulit untuk bangun pada pagi hari. Karena biasanya juga mamah kan yang bangunin aku!" Gumam Xavier. Yah mau bagaimana lagi? Itu adalah konsekuensinya tinggal sendirian.
Xavier menggeret kopernya dan segera merapikan pakaian dan perlengkapan yang ia bawa.
"Besok pasti seru. Aku bisa punya temen baru!" Batin Xavier. Dia begitu polos dan tidak begitu mengerti tentang dunia luar.
Xavier pikir, esok adalah hari terberuntung baginya. Tapi ia salah, justru besok adalah hari yang menjadi malapetaka untuknya.
T.B.C
A/N : Siapkan emosi kalian, karena ini akan membuat kalian kesal 😻💚