
Aku membuka kedua mataku perlahan. Kepalaku rasanya sangat pusing, aku mual. Aku mengubah posisiku dari berbaring menjadi duduk.
Aku melihat sekitarku, aku masih berada di tempat yang sama, gudang. Sekitarku terlihat gelap, namun tak terlalu gelap. Masing ada sedikit cahaya remang yang membuat sekitarku terlihat walaupun kabur.
Perasaanku tidak enak, aku yakin dia akan memukuli ku lagi. Jadi, aku harus bersiap-siap. Aku memegangi perut ku yang terasa sedikit sakit. Jika aku dapat mengembalikan waktu, aku tidak ingin ke sini, aku tetap ingin berada di rumah.
"Haaah..." aku menghela panjang nafasku. Aku memeluk lutut ku, lalu membenamkan wajahku pada tanganku.
"Apa dia kan percaya padaku? Sepertinya tidak, dia sudah memiliki orang yang dia cintai. aku yakin Hwan akan lebih mempercayainya." Gumamku.
Terkadang, aku ingin dia mendapatkan karma atas apa yang ia lakukan padaku. Aku ingin dia tahu bahwa istrinya tidak mencintainya, dan aku ingin dia tau jika aku mengandung anaknya. Tapi... itu takkan pernah bisa terjadi.
Ceklek
Aku dapat mendengar seseorang membuka pintu. Aku menahan nafasku seketika. Hwan berjalan mendekatiku, aku memundurkan tubuhku.
"Ngh–" aku meringis ketika dia menarik kasar rambutku.
"Apa kau sudah siap untuk menerima hukumanmu?" Tanyanya, dari nada bicaranya aku yakin dia benar-benar kesal padaku.
...***...
^^^Author's POV^^^
Indonesia, Rumah Keno dan Raka
"Raka..." panggil Keno, manja.
"Hmmm?" Balas Raka berdehem, dia sedang sibuk dengan laptopnya.
"Xavier kemana ya? Dia udah dua bulan gak aktif nomornya. Gimana kalau dia kenapa-kenapa? Gimana kalau misalnya dia perkosa sama orang asing, terus–" ucapan Keno terpotong oleh Raka.
"Dia gak akan diperkosa, lagian kan dia laki-laki."
PLAK!
"Bukan itu masalahnya! Aku tau kalau dia itu laki-laki, tapi kan dia itu cantik! Mana beneran mirip perempuan lagi." Kata Keno, dia mengembungkan pipinya.
"Kalau dia hilang, kita tinggal bikin anak lagi." Kata Raka.
PLAK!
"JANGAN SEMBARANGAN KALAU NGOMONG!" Teriak Keno, kemudian pergi meninggalkan Raka.
"Apa salahku?"
.
.
.
Xavier terus mengelap dari yang keluar dari hidungnya. Kepalanya terasa sangat sakit. Ia terus memegang perutnya. Dalam seumur hidupnya, ia tak pernah diperlakukan seperti ini oleh siapapun.
"Hng... sakit..." ringisnya.
"Jika memang aku salah, mengapa ia tak mengatakan letak kesalahanku? Aku melakukan kesalahan satu kali. Memangnya, dia pikir aku ini malaikat? Aku juga manusia... memiliki kekurangan." Keluhnya dalam hati.
"Hidup ini memang tidak adil ya. Jika suatu hari aku keluar dari neraka ini, aku ingin kembali kerumah. Aku tak akan pernah kembali kesini."
Xavier mengusap darahnya sekali kali, kemudian mengusap air mata yang keluar dari matanya.
"Mungkin, aku memang ditakdirkan untuk menderita. Aku memang ditakdirkan untuk mati dengan cara yang sadis." Gumamnya.
Sekali lagi, Xavier mengusap air matanya yang terus mengalir dengan deras. Jika saja dia memiliki kesempatan, dia sangat ingin keluar.
Tapi percuma saja, jika dia keluar, yang menjadi korban adalah temannya. Dan percuma saja, Xavier juga pasti akan ditemukan kembali oleh Hwan.
.
.
.
"Iya, aku tau. Jika kau sibuk tidak apa-apa, aku mengerti." Ucap Hwan kepada Ara.
"Maaf ya, aku benar-benar minta maaf." Ujar Ara dari seberang sana.
"Baiklah, bye-bye sayang." Kata Hwan.
Tuuut...
Telpon terputus. Hwan kembali memasukkan handphonenya kedalam saku celananya.
"Sepertinya aku keterlaluan padanya..." gumam Hwan.
"Tapi, itu kan memang hukumannya..." (coba lu yang digituin mau kagak?)
...***...
T.B.C