Stuck With You {BL}

Stuck With You {BL}
Chap 14 : Lee Ara



Aku melajukan mobilku menuju rumahku. Aku ingin memberitahukan hal ini kepada Ara. Apakah benar jika Arin lah yang ingin membunuhku, atau justru Ara lah yang ingin membunuhku.


Tak lama kemudian, aku telah sampai di depan rumahku. Ku parkirkan mobilku di dalam garasi, kemudian masuk kedalam rumahku.


Saat masuk, aku melihat Xavier yang sedang menampar pipi Ara. Aku membulatkan mataku kemudian mengepalkan tanganku.


"Xavier." Panggilku dengan nada penuh penekanan.


Xavier terlihat melirikku, ia sepertinya tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku berjalan ke arah Xavier dan menarik kasar tangannya.


...***...


^^^Xavier's POV^^^


Aku di tarik paksa oleh Hwan, dia sepertinya melihatku menampar Ara barusan. Aku yakin jika aku melawan, aku akan lebih di siksa.


Hwan membawaku ke gudang dan melemparku kedalam. Hwan menampar keras wajahku hingga mengeluarkan darah.


"Kenapa kau menamparku tiba-tiba?" Tanyaku dengan suara yang gemetar.


"Kau sendiri, kenapa kau menampar Ara?!" Tanyanya balik.


"Percuma saja aku menjelaskannya padamu, kau juga tak akan percaya padaku kan?" Ujarku.


Hwan menarik rambutku kemudian melemparkan tubuhku dengan kasar. Aku meringis, memegangi perutku. Lalu, dia keluar meninggalkan ku di dalam gudang ini.


Krieett... Jreb!


Suara derit pintu terdengar, disertai dengan suara kuncian pintu. Aku berusaha untuk bangkit, tapi percuma. Perutku rasanya sakit, terlihat darah bercucuran di kakiku. Aku berseru panik, berharap bayi di kandunganku tetap hidup.


...***...


^^^Author's POV^^^


Setelah mengunci pintu gudang, Hwan menghampiri Ara yang tengah memegangi pipinya.


"Apa pipimu terasa sakit?" Tanya Hwan, lembut.


Ara menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak sakit kok." Jawabnya.


"Ara, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucap Hwan.


"Apa itu?" Tanya Ara.


"Kita... bicara di kamar saja." Kata Hwan.


Hwan menarik tangan Ara, mereka berdua pergi ke dalam kamarnya.


.


.


.


"A... apa?" Tanya Ara.


"Sialan, kenapa sih, Hwan gak mati aja?! Untung mereka bohong, kalau tidak aku bisa di ceraikan... atau mungkin lebih parah lagi, aku bisa mati." Batin Ara, kesal.


"Ara? Ara..." panggil Hwan.


"Aku harus mencari cara lain untuk membunuhnya..." batin Ara.


"Ara... ARA!" Hwan berteriak, karena yang di panggil tak kunjung menjawab.


"Ahh... i– iya?" Jawab Ara.


"Kenapa ekspresi mu seperti itu? Apa kau baik-baik saja? Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Hwan, cemas.


Ara menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja."


"Kau yakin?" Hwan bertanya sekali lagi, memastikan jika Ara benar-benar baik-baik saja.


"Hmmm..." jawab Ara.


"Ara, ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan padamu." Ujar Hwan.


"Apa lagi?" Tanya Ara dengan nada malas.


"Bisakah aku meminta nomor kakakmu?" Tanya Hwan.


.


.


.


Keesokan harinya...


Xavier terbangun dengan matanya yang sembab karena terus menangis sepanjang malam. Tubuh Xavier semakin hari semakin kurus.


"Jam berapa ini? Uhh... kepalaku pusing..." gumamnya.


"Enghh... sakit..." Xavier meringis kesakitan sembari memegangi perutnya.


Xavier meremas pakaian yang ia kenakan untuk melampiaskan rasa sakitnya.


"Jika saja keadaannya lebih baik, Hwan pasti akan mencemaskan ku jika aku kesakitan seperti ini." Batinnya.


Disisi lain, Hwan sedang sibuk mengambil pakaiannya dan Ara yang berserakan di lantai. Semalam, ia melakukan 'itu' dengan Ara hingga beberapa ronde.


"Aneh... kenapa Ara tak kunjung hamil? Padahal kita sudah menikah hampir beberapa bulan, mungkin sudah hampir tiga bulan. Tapi, kenapa dia tak hamil? Ini aneh..." batin Hwan.


Ya, memang sudah hampir tiga bulan mereka menikah. Tapi di waktu tiga bulan itu juga Ara tak hamil. Satu hal yang tak Hwan ketahui, Ara tak hamil karena mengkonsumsi pil KB.


...***...


T.B.C