
Ga Eul kembali ke rumahnya dan sekarang aku sendirian. Aku mengunci pintu kemudian berjalan ke arah kamarku. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur.
"Mungkin 'ra' yang mamah maksud itu rahim. Tapi, jika itu memang benar... apa aku akan benar-benar hamil?" Pikirku.
Aku tenggelam pada pikiranku selama beberapa saat. Tanpa aku sadari, aku sudah terlelap dalam tidurku.
...***...
Aku membuka kedua mataku perlahan, kemudian mengerjapkan mataku. Aku mengucek mataku lalu beranjak duduk untuk mengumpulkan nyawaku.
"Hoaamm..." aku menutup mulutku yang menguap. Aku masih merasa ngantuk, tapi karena harus pergi ke kampus, aku terpaksa harus bangun pagi.
Dengan berat hati aku turun dari kasurku, kemudian berjalan masuk kedalam kamar mandi.
.
.
.
Aku selesai memakai pakaianku, tak ada waktu untuk sarapan. Aku harus bergegas pergi sekarang.
Aku keluar dari apartemenku kemudian menguncinya. Kemudian berjalan keluar dari gedung apartemenku.
Aku melihat Ga Eul. Ah iya, aku lupa bahwa dia akan menjemputku hari ini. Seperti biasa, Ga Eul mengenakan pakaian serba hitam.
"Pagi." Ujarku.
"Pagi juga, cebol." Balasnya, disertai dengan tawa kecil.
"Cebol?" Tanyaku sembari memakai helm yang diberikan oleh Ga Eul.
"Loh? Kamu kan pendek!" Ledeknya.
Ah sudahlah, daripada meladeninya lebih baik aku mendiaminya saja.
Aku naik ke atas motornya. Kemudian menatap punggungnya. Mungkin Ga Eul benar, aku memang pendek dan dia lebih tinggi dariku.
Ga Eul menyalakan mesin motornya. Entah mengapa ia terlihat lebih cocok menjadi laki-laki daripada perempuan. Aku bahkan insecure padanya.
Roda motor mulai berputar dan kami sudah melaju ke jalanan. Angin kencang membuat rambutnya berterbangan, rambutnya menjadi berantakan.
"Xavier..." panggilnya.
"Apa?" Jawabku.
"Tipe perempuan apa yang kau sukai?" Tanyanya.
"H... hah? Kenapa tiba-tiba?" Tanyaku balik.
"Y... yaa aku hanya penasaran saja." Jawabnya. Aku tersenyum lalu tertawa pelan.
"Apa kau mulai jatuh cinta padaku?" Tanyaku sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.
"M... mana ada! A... aku cuma penasaran aja." Jawabnya, aku tidak menjawab pertanyaannya.
Tipe perempuan idaman? Apa aku menyukai perempuan? Entahlah, aku saja belum yakin soal orientasiku, apalagi tentang tipe idaman.
"Harusnya tadi kamu yang pakai helmnya." Ujarku lalu menyerahkan helm itu.
Ga Eul tersenyum. "Gak apa-apa." Balasnya kemudian mengambil helmnya dan menaruhnya di spion motornya.
Ga Eul menarik tanganku dan kami berjalan menuju kelas kami. Ini adalah hari pertamaku belajar dan hari kedua Ga Eul.
"Oh iya, ngomong-ngomong apa yang harus aku ucapkan? Kemarin hari pertama belajar, dan aku malah absen." Kataku.
"Aku yang bilang nanti. Alasannya kamu sakit, dan aku yang jagain kamu. Masuk akal kan?" Kata Ga Eul.
"Aww, makasih!" Kataku kemudian memeluk tubuh Ga Eul.
...***...
^^^Author's POV^^^
Hwan saat ini tengah tengah skidipapap sawadikhap biskuit ahoy dengan perempuan lain. Dia memang bukan laki-laki yang bertanggung jawab. Setelah menyetubuhi perempuan yang dia mau, ia akan langsung meninggalkannya.
Saat ini juga, ia tengah bertunangan dengan seorang gadis cantik. Tapi perempuan itu bukanlah perempuan baik-baik.
Namanya Lee Ara, nama perempuan yang berada di hati Hwan. Ara artinya baik hati, akan tetapi tidak dengan pemilik namanya.
Ara perempuan yang licik, ia tau bahwa Hwan tertarik padanya, makanya ia sok jual mahal agar Hwan mencintainya. Benar saja, Hwan justru semakin tertarik dengannya. Dan sampai saat ini, Aralah yang dicintai oleh Hwan.
"Ini uang untukmu. Enyahlah dari hadapanku dan jangan pernah temui aku lagi." Ujar Hwan sembari memakai pakaiannya.
"T... tapi, aku--" perempuan itu hendak meneteskan air mata, air mata buaya.
"Apa kurang?!" Bentak Hwan lalu melemparkan black card. (Holkay 😇🙏)
"Itu ambilah, asalkan kau tidak muncul lagi di hadapanku." Ujarnya.
Perempuan itu tersenyum licik, kemudian memakai bajunya dan keluar dari kamar Hwan.
"Haaah... dasar sampah." Gumamnya.
...***...
Jam istirahat
"Hoy, Ga Eul." Panggil Xavier.
"Hah?" Jawab Ga Eul yang tengah sibuk dengan game yang ia mainkan.
"Makan itu kimchinya, atau mau aku yang makan?" Tanya Xavier.
"Makan aja, atau... kamu mau suapin aku?" Kata Ga Eul.
"Dih, gak mau! Sini aku aja yang makan!" Kata Xavier lalu mengambil piring yang berisikan kimchi tersebut.
"Gak peka banget ya dia." Batin Ga Eul, lalu kembali fokus pada gamenya.
...***...
T.B.C