
"Sudah Ga Eul, antar saja aku sampai sini." Ucapku.
"Kau yakin? Tak mau kuantar sampai kedalam?" Tanya Ga Eul.
"Gak, gak usah." Jawabku.
"Ehhmm... baiklah." Balasnya.
Ga Eul melambaikan tangannya dan melajukan motornya. Dia semakin menjauh dan menghilang dari pandanganku.
Aku berjalan masuk ke dalam kawasan perumahan elite. Disinilah Hwan tinggal, dan sepertinya rumahnya lah yang paling besar dari yang lain.
Aku berjalan melawati gerbang pos penjaga, kemudian berlari ke arah rumah Hwan. Semoga saja masih sempat.
...***...
"Ahhh... hiks... maaf aku... aku..." ucapku terbata. Hwan menarik kasar rambutku.
"Kau kemana saja hah?!" Bentaknya.
"A... aku... aku..." aku masih bingung harus menjawab apa, karena aku yakin dia tak akan percaya padaku.
"Aku apa HAH?! Apa kau ingin, temanmu itu ada dalam masalah?!" Bentaknya.
Tangisku semakin pecah, aku tak sanggup menahan air mata itu lagi.
"KAU BAHKAN BELUM MENDENGAR PERKATAAN KU!" Aku berteriak.
"Ohh, kau mulai berani berteriak padaku ya?!" Hwan semakin kasar menjenggut rambutku, kemudian ia menyeret tubuhku.
"Sepertinya aku sudah terlalu baik padamu." Ucap Hwan padaku. (Baek Mbah mu 😇🔪)
Hwan menyeret ku sampai kedalam gudang. Ia melemparkan tubuhku.
"AHHHHH! Ahh... ahhh sakit... hiks... hiks..." perutku kembali kram. Rasanya sangat sakit, tapi tak seberapa dengan rasa sakit dihatiku.
"Jangan berakting kesakitan seperti itu. Percuma saja, aku tak akan mengasihanimu. Anggap saja ini hukuman untukmu." Ujarnya.
"Hiks... huaaa! Jahat! Hiks... apa salahku padamu hah?!" Ucapku sembari merintih kesakitan.
"Apa salahmu? Hmph, entahlah. Hanya saja, ini menyenangkan untuk menyiksamu seperti ini. Dengar ini baik-baik, kau hanyalah seorang j*l*ng yang tidak berguna, jika kau berani melanggar peraturan ku lagi, aku jamin hidupmu akan sengsara." Kata Hwan, itu kalimat yang sangat menyakiti hatiku.
Hwan keluar dari gudang, menutup dan mengunci rapat-rapat pintunya.
"Andai kau tau bahwa aku sedang mengandung anakmu, apa kau akan peduli padaku? Jujur, aku cuma ingin kau menyayangiku, walau hanya sebentar saja." Lirihku dalam hati.
.
.
.
Udara disekitarku terasa sangat dingin. Aku meringkuk, memeluk tubuhku. Rasanya aku ingin mati, tapi aku memiliki anak dalam perutku ini. Aku harus bertahan hidup. Aku mengelus lembut perutku.
"Maafin mamah ya." Gumamku pelan. Aku kembali menangis. Menangis dalam diam.
...***...
^^^Hwan's POV^^^
Dia menyebalkan, aku seringkali memperingatinya agar pulang cepat, tapi dia tetap saja pulang terlambat. Dan wajah memelasnya itu terlihat sangat menyebalkan. Lihat saja besok, aku akan menyiksanya.
Aku kembali ke kamarku sendiri. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, kemudian menatap langit-langit kamarku.
Aku menutup kedua mataku, sekelebat ingatan muncul dalam otakku.
.
.
.
Saat itu adalah hari pertunangan ku dan juga Ara, perempuan yang aku cintai. Saat kami tengah memilih gaun untuk acara pernikahan nanti, seseorang menelpon Ara.
"Sebentar ya, ada telpon. Takutnya penting." Ujarnya padaku. Aku mengangguk, membiarkan Ara mengangkut telpon itu.
Samar-samar tapi pasti, aku mendengar Ara memanggil orang dari seberang sana "sayang" dengan nada mesra. Aku sempat ragu jika Ara benar-benar memanggilnya "sayang", maka dari itu, aku mengikutinya.
Aku mendengar percakapan Ara dengan orang yang sedang ia telpon dengan nada mesra, mereka membicarakan tentang makan malam. Aku mengepalkan tanganku, ingin sekali aku menampar Ara, tapi aku tidak tega padanya.
Ketika Ara sudah selesai bertelepon dengan orang yang tidak aku ketahui, ia membalik. Ekspresinya terlihat kaget ketika melihatku. Aku melototi Ara selama beberapa saat.
"Siapa yang kau telpon?" Tanyaku, menginterogasi.
"B... bibiku, a... aku akan makan malam dengannya malam ini." Jawabnya, gugup.
"Benarkah?" Tanyaku lagi, belum puas dengan jawabannya.
"Iya! Apa kau tidak percaya padaku?" Tanyanya, ia memanyunkan bibirnya.
Aku tersenyum. "Aku percaya." Jawabku.
Tapi, aku tak yakin jika dia jujur padaku. Entahlah, mungkin itu hanya perasaanku saja.
.
.
.
Aku menghela kasar nafasku, kemudian kembali mencoba untuk tidur. Bagaimana kabar Xavier di dalam gudang? Apakah dia baik-baik saja? Cih, untuk apa juga aku mempedulikannya?
Besok aku pasti akan memberikan hukumannya padanya karena tidak mematuhi ucapan ku.
...***...
T.B.C
A/N: Jangan lupa like and komen ya guys. Komentar kalian secara langsung bikin mood author naik 🥰♥️💖