Stuck With You {BL}

Stuck With You {BL}
Chap 13 : Lee Arin



"Nghh– kumohon... enghh.... hentikan!"


Desahan terdengar, memenuhi isi ruangan. Aku meremas dan mencakar-cakar kasur. Aku membenci diriku sendiri yang tak dapat melawan.


Setiap kali Hwan menyentuhku, aku merasa kotor, aku merasa seperti j*l*ng. Tapi apalah dayaku, aku tak dapat melawannya.


"Hiks... ngh– ahhhh... aaahhh… sa... kit..." ringisku. Tapi, Hwan tampaknya tidak peduli dan terus-menerus menggerakkan tubuhnya dengan kasar.


"Hiks… kumohon... hiks... lepaskan… ku... hiks... haaah... kumohon..." lirihku. Mataku terus mengeluarkan air mata, air mata itu seakan tak mau berhenti untuk keluar dari mataku.


"Ahhh... aaahhh... pe... pelan-pelan... ku... mohon..." ringisku. Bukannya melambatkan temponya, ia justru mempercepatnya.


"Mmh..." aku meremas kuat sprei kasur.


"Haaah... haaah… haaaa..." aku mengatur nafasku. Akhirnya, dia klim*ks juga. Cairan putih itu rasanya mengalir keseluruh tubuhku.


Aku tepar di atas kasur sedangkan Hwan pergi ke kamar mandi. Aku menggigit bibir bawahku.


"Hiks... ngh... jahat..." lirihku.


.


.


.


Dua minggu telah berlalu, aku tak diperbolehkan untuk keluar dari rumah. Bahkan untuk kuliah pun tak boleh. Dia... sudah benar-benar menghancurkan hidupku.


Saat ini, aku sudah seperti asisten rumah tangga. Aku diperbudak oleh Ara, istrinya Hwan. Dia terus-menerus mengejekku, tapi aku hanya bisa diam.


"Sapu sampai bersih ya j*l*ng kecil. Hihihi..." ledeknya.


Aku mengepalkan kedua tanganku. Ingin sekali rasanya aku melempar sapu ini kearahnya.


"Oh iya, jangan lupa nanti kamu yang masak. Nanti, aku tinggal numpang nama doang." Ujarnya.


"Hufft... sabar, sama binatang harus baik, gak boleh jahat. Okeh, sabar..." gumamku dalam hati.


"Ngomong-ngomong, apa kau tau kalau aku ini tidak mencintai Hwan? Ya, ya, ya, mungkin kau sudah tau." Ujarnya.


Aku kembali mengepalkan tanganku.


"Bisakah kau diam?!" Tanyaku, marah.


"Ohh~ apakah kau marah?" Tanyanya balik, nadanya suaranya benar-benar membuatku kesal.


Kali ini aku sudah benar-benar kesal padanya, kulempar sapu ditanganku kearahnya. Ara tersentak, dahinya mengerut pertanda dia kesal.


"Apa yang kau–" aku memotong ucapannya.


"Kenapa? Apa kau marah?" Tanyaku, aku menatap sinis wajahnya.


"Aku tidak peduli." Ucapku.


Aku mengambil kembali sapu itu. Ara mendengus sebal, ia pergi meninggalkanku.


"AWAS AJA NANTI KAMU!" Teriaknya tapi tak ku hiraukan.


"Suruh siapa nyebelin." Batinku.


Aku kembali menyapu.


...***...


^^^Hwan's POV^^^


Dor!


Suara tembakan terdengar. Aku menembak salah satu dari sebelas orang yang mengkhianati ku.


"Jika kalian tak ingin bernasib sial sepertinya, beritahukan kepadaku, siapa yang menyuruh kalian?!" Ucapku, sedikit berteriak.


Aku mengarahkan pistolku kearah sepuluh orang. Mereka terlihat ketakutan, tetapi tetap tidak mau membuka suara.


"JAWAB! DALAM HITUNGAN KETIGA, JIKA KALIAN TETAP TAK MAU MENJAWAB, PELURU INILAH YANG AKAN MEMBUNUH KALIAN!" Teriakku penuh penekanan.


"Yang menyuruh kami adalah Lee A–" ketika satu diantara mereka akan menjawab, seseorang menusuk perutnya.


Dor!


Aku menembaknya lagi. Sekarang tinggal sisa sembilan orang lagi yang tersisa.


"LEE APA?!" Tanyaku.


"Lee Arin!" Jawab salah satu diantara mereka.


"Lee Arin? Bukankah dia itu kakaknya Ara?" Batinku.


Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!


Aku menembak mati mereka semua.


"Lee Arin... tidak mungkinkan gadis sepolosnya menyuruh orang-orang ini untuk membunuhku?" Tanyaku pada diriku sendiri.


"Atau jangan-jangan, Ara yang ingin membunuhku. Tapi... itu kan tidak mungkin..."


...***...


T.B.C