
"Maaf aku tidak bisa, aku mencintainya." Ucapku. Ga Eul terlihat tersentak, tetapi ia hanya terdiam.
Ga Eul melepaskan genggaman tangannya. "Pfftt, aku tau kau mencintainya. Tapi percuma saja kan? Dia sudah memiliki istri dan dia hanya menggunakan mu sebagai mainannya saja." Perkataan Ga Eul terdengar kejam.
"Ga Eul, aku tak tau kalau kau bisa berkata seperti itu." Kataku. Aku pergi meninggalkannya sendirian.
"Maafkan aku Ga Eul, tapi... aku tidak ingin kau terlibat." Batinku.
...***...
^^^Author's POV^^^
Xavier menunggu bis di halte. Sesekali ia menatap langit yang mulai terlihat gelap. Awan awan berkumpul menjadi satu, mendung. Satu persatu air mulai turun dari langit.
Xavier mengigit bibirnya. Telah, Xavier sudah telat pulang karena bis yang ia tunggu tak kunjung datang.
"Sial... aku bisa kena hukuman kalau telat pulang..." Xavier mengeluh dalam hatinya.
Gerimis di langit, mulai berubah menjadi hujan deras. Air yang turun dari langit semakin cepat dan semakin banyak. Xavier memainkan jarinya sembari menggigit bibirnya.
"Apa aku harus nerobos hujan?" Batin Xavier. Ia semakin terdesak.
"Aku tak punya pilihan lain." Gumamnya.
Xavier menutup kepalanya dengan tasnya. Ia berlari menerobos hujan, dan berharap Hwan belum pulang ke rumah.
.
.
.
BRUG!
Xavier terjatuh, ia terpeleset oleh jalanan yang basah dan bergenang air. Ia meringis kesakitan sembari memegangi perutnya.
Xavier kembali berdiri. Tubuhnya sempoyongan, ia tak ingin berhenti sekarang. Pandangan Xavier mulai menggelap, kesadarannya perlahan hilang.
Grep!
Seseorang menangkap tubuhnya yang sudah lemah. Kemudian membopong tubuhnya.
"Kasihan..." gumam orang itu.
Orang itu membawa Xavier ke rumahnya. Ia membaringkan tubuh Xavier di atas kasurnya. Kasurnya yang semula kering, berubah menjadi basah.
"Ehhh... apa yang harus aku lakukan? Apa... aku harus mengganti pakaiannya? Ah... tidak-tidak, aku bukan orang yang seperti itu." Gumamnya.
"Ga Eul... ayolah, jangan buka bajunya itu tidak sopan!" Gumam Ga Eul. Ia menyisir rambutnya ke belakang.
"Tapi, kalau bajunya gak diganti, bisa-bisa Xavier demam." Gumam Ga Eul dalam hatinya.
"Hufft... okeh, aku ganti atasannya saja. Bawahannya jangan!" Ucap Ga Eul.
Ga Eul membuka kaos yang sedang dikenakan oleh Xavier dan menggantinya dengan sweater yang ia miliki. Kemudian, Ga Eul memegang kepala Xavier untuk mengecek suhunya.
"Hangat..."
Beberapa menit kemudian...
...***...
Aku membuka kedua mataku perlahan. Kemudian melihat langit-langit ruangan. Ini bukan di gudang ataupun di kamar Hwan.
Aku mengubah posisiku menjadi duduk, kemudian melihat Ga Eul yang sedang bermain game di handphonenya.
"G... Ga Eul?" Ujarku.
"Ouh... kau sudah sadar toh?" Tanyanya. Ga Eul berjalan mendekatiku dan menempelkan telapak tangannya di keningku.
"Hufft... gak hangat lagi." Gumamnya.
"G... Ga Eul, ini dimana? Aku bisa kena masalah kalau pulang telat." Tanyaku.
"Ini di rumahku. Dan juga, masalah apa yang kau maksud? Apakah dia akan menghukum mu?" Tanya Ga Eul padaku, aku mengangguk sebagai jawaban.
"I... iya, aku bisa kena masalah. B... bisa kau antar aku pulang? Aku– ahhhk..." ucapanku terhenti karena perutku yang tiba-tiba terasa sakit.
"H... hey? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ga Eul , aku menggeleng.
"Ga Eul... sakit..." lirihku.
Ga Eul terlihat panik. "Apa yang harus aku lakukan?!" Tanyanya padaku.
"A... aku... hiks... sakit!" Seruku.
Ga Eul kemudian menidurkan ku kembali diatas kasur. Dia menyelimuti tubuhku dan mengelus-elus kepalaku. Andai Hwan seperti ini, selembut ini kepadaku.
"Ok google, apa perut sakit saat hamil dua bulan itu wajar?" Kata Ga Eul. Ia tampaknya bertanya pada Mbah Google.
"Pfftt..." aku menahan tawaku. Ga Eul melirikku, terlihat heran.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Ga Eul... jangan ngelawak deh." Kataku.
"Lho? Siapa yang ngelawak?" Tanyanya.
"Ahh sudahlah. Ngomong-ngomong apa perutmu sudah mendingan?" Tanyanya lagi.
"Hmm sudah lebih baik. Mungkin ini wajar." Jawabku kemudian mengelus-elus perutku.
"Ga Eul, bisa antar aku pulang?" Tanyaku.
"Aku bisa saja sih... tapi, apakah kau akan baik-baik saja?" Tanyanya.
"A... aku, mungkin saja aku akan baik-baik saja." Jawabku.
Ga Eul mengangguk kemudian mengantarkan ku keluar dari rumahnya. Ia juga akan mengantarku pulang ke rumah Hwan.
Tapi, kali ini perasaanku tak enak. Sepertinya akan ada masalah yang menungguku.
...***...
T.B.C
A/N: Siapin tisu sama guling, next chapter akan membuat kalian kesal 😇🙏