
Vina memutuskan untuk melupakan masalah tentang persahabatannya, ia memilih untuk Fokus pada ujian yang katanya akan diselenggarakan minggu depan.
Ujian ini akan menentukan kelulusan Vina dari masa sekolahnya, ia ingin membuat ibunya bahagia dan mencapai prestasi. Vina juga ingin kuliah ke kampus yang ternama di kotanya, ini juga merupakan kan salah satu impian Vina sejak dulu.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.....
Beberapa hari telah berlalu, di pagi kali ini Vina sudah bersiap ingin melaksanakan ujian di sekolahnya dengan harapan ia akan mendapatkan nilai yang bagus kali ini.
Vina telah belajar semua materi yang kurang dipahami oleh Vina.
"Baik anak anak, ujian beberapa hari ini akan menentukan kelulusan kalian. Jadi Ibu harap kalian dapat mengerjakan ujiannya dengan serius dan jujur!", ucap salah seorang guru pengawas sambil membagikan kertas soal dan kertas jawaban.
Ujian pun dimulai, Vina masuk ke dalam mode fokus dan mengerjakan satu persatu soal dengan teliti selama satu jam.
"Oke anak anak, sekarang kumpulkan jawaban kalian dan soalnya dibawa pulang untuk dibaca baca kembali!", perintah guru pengawas yang lain.
Saat semua murid mengambil tas mereka yang berada di depan kelas, salah seorang murid memanggil guru tadi.
"Ada apa nak?", tanya guru tersebut.
"Aku dapat pulpen yang isinya contekan bu", ucap siswi tersebut.
"Punya siapa nak?", tanya guru itu lagi.
"Ga tau bu, ini pulpennya", siswi tersebut menyerahkan sebuah pulpen berwarna biru.
"Ayo ngaku kalian!! siapa pemilik pulpen ini! sebelum ketemu pelakunya kalian gak diizinkan pulang!", ucap guru pengawas itu setengah berteriak.
"Eh itu bukannya pulpen Vina yah?", tanya salah seorang murid.
"Iya tuh, pulpennya Vina! tadi aku lihat kok cuma dia yang pake pulpen warna biru", ucap murid yang lainnya.
"Kalian ini apa apaan sih! tuduh orang sembarangan aja!", protes Fira.
"Iya tuh, emang kalian ada bukti apa kalau Vina itu nyontek?", ucap Luna yang ikut membela Vina.
"Tuh buktinya pulpen Vina ada contekannya", ucap murid tadi.
"Gimana kalo gini aja, kalo itu memang bukan pulpen Vina, pasti pulpen yang Vina pakai tadi ada sama dia", ucap seseorang dari mereka memberi saran.
kini semua mata tertuju pada Vina. Fira dan Luna berharap bahwa Vina tidak akan melakukan hal itu. Tatapan mereka semua seakan menyuruh Vina untuk membuka tasnya dan membuktikan semua kesalahpahaman yang terjadi padanya.
Vina membuka tasnya dan mengambil kotak pensilnya yang bermotif bunga untuk melihat apakah benar pulpennyanya berada di tempatnya atau tidak. Vina mengobrak-abrik kotak pensilnya untuk mencari pulpennya namun tidak ditemukan.
" tuh benar kan dia nyontek", riuh salah satu murid.
" Oh jadi ternyata begini siswa yang paling pintar di sekolah mengerjakan ujiannya dengan cara mencontek?", tanya guru pengawas itu.
" Enggak kok Bu saya nggak mencontek", ucap Vina membela dirinya.
"bukti udah di depan mata Vin lo udah gak bisa mengelak lagi", ucap salah seorang dari mereka.
"sekarang kamu ikut saya ke ruang kepala sekolah untuk menyelesaikan masalah ini agar kedepannya Kamu akan sadar dengan kelakuan kamu", Guru pengawas tersebut mengajak Vina untuk ikut keruang kepala sekolah.
Vina kini ketakutan. Dia kini takut akan segala hal, dia takut akan mengecewakan ibunya, dia takut tidak akan lulus, dia takut tidak akan bisa mencapai mimpi-mimpinya hanya karena satu masalah ini, dia takut teman-temannya tidak akan mempercayainya lagi dan dia akan kembali sendirian.
Vina mencoba untuk tetap kuat namun sebenarnya Vina ingin menangis untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah tapi karena mencoba menahan tangis ini Vina hanya bisa mengepalkan Tangannya yang yang bergetar.
DI RUANG KEPALA SEKOLAH.....
"Pak, saya membawa murid yang mencontek kali ini", ucap guru pengawas tersebut kepada kepala sekolah sambil menyerahkan pulpen tadi.
Kepala sekolah dengan name tag Rudi itu pun menoleh ke arah Vina dengan raut wajah yang terlihat kebingungan.
"Ibu yakin murid ini yang mencontek?", tanya pak Rudi.
"Iya pak, memangnya kenapa?", tanya guru pengawas tersebut yang terlihat kebingungan juga melihat wajah pak Rudi.
"Eum... gak papa kok. Oke, silahkan keluar", ucap pak Rudi mempersilahkan guru pengawas tersebut keluar.
Kini hanya Vina dan pak Rudi yang ada di dalam ruangan itu. Vina masih gemetar dan takut namun dia tetap berdiri tegap dan terlihat tenang.
"Tadi saya mengerjakan ujian seperti biasa pak, saya tidak mencontek. Dan pulpen saya tadinya tidak ada kertas contekan itu pak, tapi entah bagaimana tiba tiba ada ditangan orang lain dan sudah dililit oleh kertas itu pak", Vina menjelaskan.
"Jadi maksud kamu, kamu itu dijebak orang lain ya?", tanya pak Rudi.
"Iya pak",
"Baiklah kalau begitu kami akan melakukan penyelidikan pada pulpen ini, tenang saja kami akan memberikan keadilan padamu jika ini memang jebakan", ucap pak Rudi.
"Terima kasih pak, karena telah percaya pada saya", Vina menundukkan kepalanya.
"Iya sama sama, lagian kamu itu adalah anak yang baik, bapak yakin kamu tidak akan melakukan hal ini", ucap pak Rudi sambil tersenyum.
"Kalau begitu saya pulang dulu yah pak? ibuk udah nunggu dirumah", ucap Vina pamit pada pak Rudi.
"Oh iya silahkan", pak Rudi membukakan pintu untuk Vina.
Vina pun pulang dengan raut wajah lesu Ia takut ibunya akan kecewa padanya.
"Lebih baik diam aja deh", ucap Vina dalam hati.
KEESOKAN HARINYA.....
Vina berangkat sekolah seperti biasanya, namun saat sampai di sekolah tidak seperti biasanya.
"Eh itu Vina kan? yang nilainya bagus karena nyontek?", bisik salah satu siswa namun masih kedengaran oleh Vina.
Semua siswa di sekolah membicarakan perihal Vina saat ujian kemarin. seperti halnya Berita Vina adalah orang baik di masa dulu, berita kejahatan Vina pun cepat menyebar juga. Vina tidak tersinggung dengan Apa kata mereka tetapi Vina takut Fira dan Luna juga akan menjauhi dirinya.
Sepanjang perjalanan dari gerbang sekolah menuju kelas Vina, Vina terus-terusan diejek oleh siswa lain.
Dan ketika ingin memasuki kelas Vina, Vina di siram oleh temam sekelasnya.
"Gua pikir apaan Dah kok bisa pinter gitu? ternyata nyontek", ucap salah seorang dari mereka.
"pasti dia jadi ketua OSIS juga pakai jalan pintas", ucap yang lainnya.
Fira dan Luna langsung mendatangi Vina dan mengantarnya ke toilet.
" lo nggak apa-apa kan Vin?", tanya Luna.
"mereka udah keterlaluan buat lo kayak gini!", ucap Fira.
"kalian gak benci samaku?", tanya Vina sambil menunduk menutupi matanya yang ingin sekali menangis.
"lah ngapain Kita benci lo? lo kan nggak salah, lagian kalau emang lo beneran Salah Kita juga bakalan tetap sahabatan kok sama lo", ucap Luna.
"Dari mana kalian tahu kalau aku nggak salah?", tanya Vina.
"hehe sebenarnya kita nguping di depan ruang kantor kepala sekolah", Fira tertawa kecil.
"Makasih yah kalian udah percaya sama gue dan gak ninggalin gua disaat gua terpuruk", Vina menghamburkan dirinya dan memeluk erat Fira dan Luna.
"Iya kita bakalan selalu ada sama lo kok", ucap Luna sambil tersenyum.
----------------------------------
Mungkin Novel ini bisa mewakili perasaan kalian yang mengalami apa yang dialami Vina dan karakter karakter lainnya.
Dan novel ini tidak bertujuan untuk memamerkan kekerasan maupun perilaku yang tidak baik:).
Dan bagi kalian yang membaca novel ini jadilah seperti Vina yang selalu kuat mengahadapi segala cobaan yang menimpanya.
Silahkan Like dan Vote seikhlasnya ga ada paksaan kok:)
Vote 10 poin atau 10 koin juga gak papa kok:)
TETAP SEMANGAT UNTUK TERUS HIDUP!!