
" Vina, tolong nanti umumin ke kelas 9 bahwa akan diadakan perpindahan kelas dalam rangka persiapan ujian kelulusan, suruh mereka untuk baris dilapangan dalam waktu 10 menit", ucap seorang guru.
"Emangnya Bapak kenapa?", tanya Vina.
" Bapak lagi nggak enak badan jadi tolong kamu yang umumin yah, ini kertas nama nama muridnya tinggal kamu baca aja kok", pinta bapak guru tersebut.
Vina pun mulai naik ke atas podium.
"KEPADA SELURUH MURID KELAS 9 DIHARAPKAN UNTUK BARIS DILAPANGAN DALAM WAKTU 10 MENIT DENGAN MEMBAWA TAS SERTA SEMUA PERLATANNYA LENGKAP, TERIMA KASIH", ucap Vina dengan suara lantang didepan Microphone podium tersebut. Vina pun juga bergegas mengambil semua peralatannya termasuk tas sekolah.
10 MENIT KEMUDIAN.....
Semua anak murid kelas 9 sudah berbaris di lapangan dengan rapi. Dan Vina mulai membacakan nama murid sesuai kelas yang akan mereka tempati. Ada murid yang tetap dikelas yang sama dan ada yang berada dikelas berbeda dari sebelumnya.
Vina begitu kecewa karena tidak bisa sekelas dengan sahabatnya Dea. Namun dia tetap percaya bahwa hubungan mereka tidak akan pernah berubah.
Namun hari itu mereka berdua sama sekali tidak berbicara.
KEESOKAN HARINYA.....
Vina masuk ke kelas yang pernah ditempati Fira, dan siapa sangka Fira masih dikelas yang sama. Ada juga beberapa teman sekelas Vina yang berada dikelas ini, dan Vina juga tidak menyangka bahwa Luna juga berada di kelas itu.
Vina memilih duduk semeja dengan Luna dan Fira duduk di depan meja Vina.
SAAT ISTIRAHAT.....
"Eh Dea temanin gua ke kantin yuk! Gue laper nih", ajak Vina pada Dea dikelasnya namun dia tidak menggubris ajakan Vina dan bermain dengan teman barunya.
"Sejak Dea pindah kelas dia udah nggak peduli lagi sama gua, kenapa ya?", ucap Vina dalam hati sambil berlalu meninggalkan kelas Dea.
Vina sudah berulang kali ke kelas Dea hari ini namun Dea hanya bersikap cuek padanya.
Vina kembali ke dalam kelasnya dan merenungi Apa yang sebenarnya salah dalam dirinya yang membuat Dea tiba-tiba berubah padanya.
Dea merupakan sahabat terbaiknya semenjak SMP dan Vina masih tidak rela kehilangan sahabatnya apalagi dengan cara dia berubah seperti ini.
"Eh Vin, lo kok lesu gitu? galau kenapa?", tanya Fira.
"Sahabat gua si Dea. Kami udah sahabatan dari SMP tapi masa dia sekarang berubah gitu?", Vina menundukkan kepalanya.
"Berubah gimana? sini curhat", ucap Fira sambil duduk di kursinya.
"Yah berubah gitu, dia gak mau temenan sama gua lagi... gua tadi kekelas dia tapi dia jadi cuek banget sama gua... padahal gua gak ada salah apa apa", ucap Vina menjelaskan.
"Ouh... itu berarti dia udah bosan temenan sama lo", ucap Fira sambil menunjuk Vina.
"Bosan?", tanya Vina.
"Iya bosan, apalagi kalian udah temenan dari SMP. Dan mungkin sebenarnya dia udah bosan temenan sama lo sejak lama tapi dia bingung mau menjauh dari lo dengan cara apa. Tapi lo gak bisa salahin dia juga sih, karena bosan itu wajar bagi manusia", ucap Fira.
"Hmmm... menurut lo... sahabat itu apa sih?", tanya Vina sambil menatap langit yang berselimut awan tebal.
"Sahabat? menurut gua...sahabat itu adalah orang yang selalu ada sama lo ketika lo dalam keadaan suka dan duka maupun saat lo lagi berjuang", Fira juga ikut menatap langit kala itu.
"Lo punya sahabat gak?", tanya Vina.
"Gak", ucap Fira.
"Kenapa gak punya? bukannya si Oliv sering sama lo?", tanya Vina.
"Gua sama Oliv gak deket amat kok, kita cuma sering disuruh sama guru aja makanya sering bareng dan gua gak punya sahabat karena dikelas gak ada yang cocok sahabatan sama gua", jelas Fira.
"Gua pikir lo tuh punya banyak sahabat loh", ucap Vina yang kini tidak terlalu murung seperti tadi.
"Cuma teman, dan mereka cuma temenan sama gua gara gara gua ketua osis, gak pantas dijadiin sahabat", tutur Vina.
"Lo harus lepasin hubungan persahabatan lo sama Dea biar lo gak kepikiran terus", ucap Fira memberikan solusi.
"Iya deh bakalan gua coba", Vina mengeluarkan senyum yang dipaksa.
DI RUMAH VINA.....
"Nak? ada masalah apa? dari tadi bengong mulu.", tanya ibu Vina.
"Enggak kok bu, gak ada masalah apa apa", ucap Vina sedikit tersenyum.
"Yakin gak ada masalah?", tanya ibu Vina sekali lagi.
"Gak ada kok bu... udah ya, Vina mau tidur", ucap Vina sambil berjalan pergi menuju ke kamarnya.
"Anak itu selalu aja bohong", Ibu Vina menggeleng gelengkan kepalanya.
DI KAMAR VINA.....
"Apa yang harus kulakukan? aku gak bisa dengan mudahnya melupakan hubungan persahabatan kami dari dulu. Aku gak mau hubungan kami jadi sia sia dan berakhir seperti ini, atau mungkin aku kurang baik?", fikir Vina dalam larut malam kala itu sambil terisak tangis.
"Mungkin Fira benar, gua harus lupain hubungan kami terpaksa maupun enggak setidaknya... gua mau buat hadiah ulang tahun untuk Dea sebagai penutup dari hubungan kami", Vina menghapus air matanya dan kini membenamkan wajahnya diatas bantal.
KEESOKAN HARINYA.....
Vina telah menyiapkan hadiah kecilnya untuk Dea, meskipun tidak mahal tapi itu adalah sesuatu yang pantas untuk dikenang.
Vina mendatangi kelas Dea lagi, disana ada beberapa siswa yang juga merayakan ulang tahun Dea. Vina berjalan perlahan ke arah kerumunan kecil itu.
"Dea, Happy Birthday!", ucap Vina dihadapan Dea sambil menyerahkan kotak kecil yang dibawanya.
"Oh... Iya", Dea mengambil kotak kecil tersebut dan langsung memasukkannya kedalam tasnya.
Vina sangat kecewa hari ini. Ditinggal sahabat dengan alasan terlalu bosan, mungkin itu memang takdir untuk Vina karena itu kali berikutnya Vina tidak akan terlalu berharap bahwa semua orang akan selalu baik kepadanya. Vina juga tak lupa menaruh sepucuk kertas untuk Dea, Vina berharap setidaknya Dea mau membacanya. Kata kata yang mungkin sudah tidak penting lagi baginya.
Vina mengelap tetesan kecil dari matanya sambil berlalu pergi dari kelas itu karena baginya perpisahan adalah sesuatu yang berat. Tak masalah jika menangis, Tak masalah jika dikenang, pelajaran ini tak boleh dilupakan. Setidaknya aku pernah tertawa bersamanya.
ISI SURAT ITU:
"Happy birthday gua ucap sekali lagi untuk lo, gua harap lo bakalan selalu ingat kenangan kita, udah bertahun tahun kita berhubungan dan mungkin ini udah akhirnya. Thanks:)".
MALAM HARI, RUMAH DEA.....
Dea membuka kotak kecil itu, sebuah kalung yang terbuat dari pernak pernik mainan berwarna putih dan ditengahnya terdapat kayu kecil berukirkan nama Dea yang dibaliknya terdapat tulisan "Best friend" .
"Maaf.....", hanya satu kata yang bisa keluar dari mulutnya itu.
----------------------------------
Mungkin Novel ini bisa mewakili perasaan kalian yang mengalami apa yang dialami Vina dan karakter karakter lainnya.
Dan novel ini tidak bertujuan untuk memamerkan kekerasan maupun perilaku yang tidak baik:).
Dan bagi kalian yang membaca novel ini jadilah seperti Vina yang selalu kuat mengahadapi segala cobaan yang menimpanya.
Silahkan Like dan Vote seikhlasnya ga ada paksaan kok:)
Vote 10 poin atau 10 koin juga gak papa kok:)
TETAP SEMANGAT UNTUK TERUS HIDUP!!