SMILE??

SMILE??
HARI PERTAMA KULIAH (Part 2)



"Rendi! Berhenti!!", teriak Alvin.


"WHAT?!! lo kenapa?", tanya Rendi heran.


Alvin mendatangi Rendi lalu menamparnya dengan keras.


PLAKK


"Kok lo nampar gua sih,", tanya Rendi kesal.


Alvin terdiam menatap Rendi dengan seksama.


"Lo jangan kasar dong ama cewek", tutur Alvin.


"Lah? biasanya lo juga ga peduli gua kasar ama cewek? kenapa sekarang lo marahin gua?", tanya Rendi.


"P... Pokoknya ga boleh", jawab Alvin.


"Yaudah deh gua ga main kasar, tapi sebagai tanggung jawab kalian! gua menantang lo tes ilmu aja", ucap Alvin pada Vina.


"Tes ilmu? ilmu apa?", tanya Vina.


"Kita adu skill merakit komputer! kalo gua menang, kalian bertiga harus berlutut minta maaf ke gua dan jadi pelayan gua selama setahun. Gimana?", Tawar Rendi.


"Boleh, Tapi kalo gua menang, lo yang harus minta maaf dan jadi pelayan kita bertiga selama setahun juga", Ucap Vina menerima tantangan Rendi.


"Tuh cewe gila yah? masih angkatan baru loh", ucap salah satu mahasiswa.


"Lagian Rendi itu selalu latihan rakit komputer setiap hari, dia selalu yang paling cepat kalo soal rakit komputer", ucap mahasiswa lainnya.


Dua meja pun disiapkan dihadapan Vina dan Alvin. Diatas meja tersebut terdapat bagian bagian komputer yang harus disatukan. Siapa yang paling cepat merakit komputer dan menyala dialah yang akan menang. Dosen yang ada diruangan tersebut pun menjadi juri diantara mereka.


"Vin, lo bisa rakit komputerkan?", tanya Fira khawatir.


"Mungkin bisa", Vina mengacungkan jempolnya.


"Kok mungkin sih? Pokoknya lo harus menang! kalo elo kalah, mau ditaruh mana muka gua? masa profesi gua nanti jadi pelayan sih?", rengek Fira.


"Udah sana lo berdoa aja", Ucap Vina menenangkan Fira.


Dosen pun menyiapkan stopwatch di tangannya dan berdiri diantara meja Vina dan Rendi. Ia pun menekan tombol stopwatch tersebut dan waktu pun dimulai.


Rendi dan Vina fokus pada apa yang ada di atas meja mereka masing masing. Satu persatu bagian komputer pun mulai terbentuk, ruangan tersebut begitu hening, hanya bunyi jarum stopwatch dan dentuman suara besi komputer yang berbunyi, semua orang kini terfokus pada Vina dan Rendi.


Beberapa menit pun berlalu, keduanya hampir menyelesaikan komputer mereka masing masing yang membuat para mahasiswa menonton ikut merasakan ketegangan yang terjadi diantara mereka.


Aku menang!!


Semua mata kini tertuju padanya karena membuat orang orang terkejut dengan hasilnya. Ya, Vina menang. Dengan kesal Rendi membanting monitor yang ada dihadapannya dan hendak pergi.


"Mau kemana?", tanya Vina.


"Bukan urusanmu!!", bentak Rendi.


"Urusanku lah! sebagai pembantuku, lo harus patuh akan semua perintah gua",Ucap Vina sambil tersenyum sinis pada Rendi.


"Apa lo pikir gua bakalan nepatin kata kata gua?", Rendi menatap Vina kembali dengan pandangan yang sama.


"Kenapa lo kabur? Takut? Apa udah kehilangan harga diri?", Vina menghampiri Rendi.


"Lo cuma cewek! ga pantas perintahin gua!", Rendi ingin memukul Vina namun Vina sudah menggenggam erat tangannya.


"Kenapa lo ngerendahin cewek Huh?", Vina langsung memutar tangan Rendi ke belakang yang spontan membuat Rendi berteriak.


"Lo terlalu meremehkan gua, apa pantas? harga dirimu tak ada gunanya lagi kan?", Vina berbisik kecil pada Rendi yang membuatnya semakin marah.


Luna dan Fira menyadari sesuatu yang aneh terjadi pada Vina, mereka pun menghampiri keduanya dan mencoba melerainya. Tak lupa Alvin pun ikut membantu.


"Vin... Udah, ga masalah lagi kok", ucap Fira menenangkan Vina.


"Tapi aku masih bermasalah dengannya", ucap Vina dengan pandangan datar.


"Ren!! tepatin janji lo! lo udah kalah! ga usah melawan lagi!", jelas Alvin pada Rendi.


"Gak mau! Dia udah hilangin harga diri gua! sampai kapan pun gua ga mau kalah dari dia!", teriak Rendi.


"Lo ga usah kekanak kanakan Ren, kalo lo udah buat janji yaudah tepatin", tutur Alvin.


"Gua mau jadi laki laki sejati! harga diri gua ga boleh kalah dari cewek", tegas Rendi.


"Rendi! dengerin gua, laki laki sejati itu selalu nepatin janjinya! lo cuma kalah soal ilmu! jangan sampai lo kalah dengan ke egoisan lo juga", jelas Alvin.


Akhirnya Rendi pun berhenti memberontak.


"Vin! lepasin dia!", Fira mencoba untuk menarik Vina.


"Lo kenapa Vin? kok emosi lo gitu sih?!", tanya Fira.


"G... Gua ga papa kok", ucap Vina memegangi kepalanya dan hendak pergi.


"Vin..?!"


"Ga usah ikutin gua, gua butuh sendiri! kalian urusin aja tuh orang", Tolak Vina yang sudah keluar dari pintu ruangan tersebut.


"Emm... Vina gimana yah? gua khawatir banget", tutur Luna.


"Gimana kalo kita beresin dulu yang ada disini?", ucap Alvin memberi ide.


Mereka berempat pun merapikan ruangan tersebut dan izin pamit pada dosen disana. Fira, Luna, Alvin, dan Rendi pun keluar dari ruangan tersebut.


"Vina dimana yah?", tanya Fira yang fikirannya dari tadi tak lepas dari Vina.


"Mungkin udah pulang", ketus Rendi.


"Tapi dia tadi kayak pusing gitu... dia kenapa? gua khawatir banget!", rengek Luna.


"Coba ditelpon dulu", usul Alvin.


"Eh iya, bentar", Fira mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan segera menghubungi Vina.


"Kok ga dijawab... gua makin cemas nih", Fira menghubungi Vina berulang ulang kali.


"Yaudah kita cari yuk", ajak Alvin.


"Gua ga ikut ah! mau pulang", tolak Rendi.


"Lo sebagai pembantu harus nyari majikannya", Alvin menarik Rendi menyusuri koridor kampus itu.


Waktu sudah mulai semakin gelap, namun dari tadi tidak ada muncul tanda tanda keberadaan Vina. Mereka berempat berkumpul di taman kampus tersebut untuk beristirahat.


"Kalian udah nyari di mana aja?", tanya Luna.


"Kita udah cari di semua lapangan kampus ini dan ga ada tanda tanda keberadaan dia", jelas Alvin.


"Kita juga udah nyari di semua ruangan yang ada di dalam kampus, tapi... ga ada apa apa", tutur Fira sambil tertunduk lesu.


"Yaudah yuk! coba cari disekeliling kampus ini bareng bareng", ajak Luna.


Mereka pun mulai mencari Vina lagi hingga larut malam, mulai dari kantin, Gudang, ruang guru dan bermacam lokasi di kampus itu pun telah dicari.


"Kenapa sih kalian ga mikir kalo seandainya dia tuh udah pulang!?", tanya Rendi ketus.


"Kalo udah pulang, kenapa dia ga jawab telpon gua?", tanya Fira.


"Mungkin habis baterai", jawab Rendi.


"Tapi Vina itu orangnya teliti banget, kalo hpnya lowbat pasti langsung di charge", tutur Luna.


"Coba lo telpon lagi deh Fir", ucap Luna.


Fira pun mencoba menelpon Vina lagi namun tidak ada balasan juga.


"Eh liat deh! kok ada cahaya kecil dari sana?!", Alvin menunjuk ke sudut dinding kampus yang gelap tersebut.


Mereka berempat pun langsung menghampiri caha tersebut, dan benar saja. Mereka langsung terkejut melihat tubuh Vina yang sudah tergeletak tak berdaya disana.


Alvin pun langsung menggendong Vina dan mereka berlari menuju rumah sakit yang kebetulan dekat dari kampus tersebut.


Pihak rumah sakit pun memasukkan Vina ke dalam ruang perawatan sementara untuk diperiksa. Terlihat Fira dan Luna begitu cemas pada Vina.


Setelah menunggu selama 15 menit, seorang dokter pun keluar dari ruangan tersebut. Fira dan Luna pun langsung menghampirinya dan menanyakan bagaimana keadaan Vina.


"Pasien hanya pingsan sementara... besok dia sudah bisa pulang kok", ucap dokter tersebut.


"Kenapa dia pingsan dok?", tanya Alvin.


"Dari pengamatan saya, sepertinya dia mengalami trauma dan membuatnya menderita kondisi psikologis yang terkadang akan kambuh jika tidak ditangani segera", jelas dokter tersebut.


"Trauma? psikologis? tapi kan... Vina selalu ceria ceria aja, gak keliatan kayak orang yang punya penyakit mental gitu", tutur Luna.


"Mungkin penyakitnya hanya akan kambuh di saat saat tertentu", ucap Dokter tersebut.


"Kita boleh masuk liat Vina ga pak?", tanya Vina.


"Oh boleh, tapi jangan ramai ramai nanti pasien akan terganggu. Kalau begitu saya permisi dulu", Dokter tersebut pun meninggalkan mereka berempat disana.


"Gua sama Luna aja deh yang masuk, kalian pulang aja duluan", tutur Fira.


"Yuk Al gua udah lapar banget nih", Rendi menarik tangan Alvin dan menjauh dari sana.


Sementara itu Luna dan Fira masuk ke dalam ruang perawatan Vina. Mereka hanya sebentar berada disana dikarenakan Luna dan Fira juga harus pulang ke rumah mereka masing masing.


***


"Eh Al, liat deh tuh orang mencurigakan banget", Rendi menunjuk ke arah seseorang yang memakai pakaian serba hitam masuk ke dalam rumah sakit tersebut sambil melirik lirik sekitarnya.


"Paling cuma mau jenguk seseorang... ga usah sok jadi detektif deh lo", ucap Alvin sambil menepuk kepala Rendi.


Dikamar Vina...


Seseorang membuka pintu ruangan Vina. Orang tersebut pun masuk dan duduk di sebelah Vina sambil mengelus elus kepalanya.


----------------------------------


Novel ini tidak bertujuan untuk memamerkan kekerasan maupun perilaku yang tidak baik:).


Dan bagi kalian yang membaca novel ini jadilah seperti Vina yang selalu kuat mengahadapi segala cobaan yang menimpanya.


Silahkan Like, Rate dan Vote seikhlasnya ga ada paksaan kok:)