SMILE??

SMILE??
SAUDARA



Seperti yang telah dikatakan di episode sebelumnya, hari ini Vina dan seluruh angkatannya akan jalan-jalan berlibur untuk merayakan kelulusan mereka. Pagi ini Vina telah pamit pada ibunya dengan membawa persiapan yang cukup untuk nanti.


Vina pun pergi ke sekolah untuk berkumpul dengan teman-temannya dan tentunya juga membawa handphone yang telah dia dapatkan semalam.


"Lo bawa apa aja Vin? gua mah kebanyakan snack", Luna menunjukkan sekantung plastik yang penuh.


"Banyak amat snack lu nanti di sana kan kita juga pada makan-makan?", tanya Vina.


"Makanan di sana pada mahal-mahal Vin paling gak kalau kalian makan-makan di sana gue bisa makan snack gua", ucap Luna yang sudah memonyongkan bibirnya.


"Baju lo cantik amat Fir, kayak mau ke kondangan aja", Vina melihat tubuh Fira yang dipenuhi barang barang brand terkenal.


"Nggak kok biasa aja, di rumah gua masih banyak lagi Kok baju yang lebih cantik dari ini", kata Fira yang masih sibuk membuat make up pada wajahnya.


"Nanti kita duduk bertiga ya, gue gak suka duduk sama yang lain", ajak Luna.


Pak Rudi pun memanggil semua anak muridnya untuk berbaris di depan bus agar masuk satu persatu.


"Nanti lagi make up nya Fir, Ayo masuk dulu!", ajak Vina.


Di dalam bus Mereka pun mengatur posisi mereka, Vina berada di dekat jendela, Fira berada di tengah, dan Luna berada di ujung kursi tersebut.


Vina pun menatap dari jendela ke arah pemandangan yang indah, mulai dari hamparan sawah yang luas hingga langit biru yang menjulang.


Rombongan Vina Tadi berangkat pada pukul pukul 6 dini hari dan mereka melakukan perjalanan ke tempat wisata pertama selama 2 jam.


2 jam kemudian yaitu pada pukul 8 lebih sedikit Mereka pun sampai ke tempat wisata pertama yaitu itu sebuah pemandian atau bisa disebut Waterpark yang baru buka baru-baru ini. rombongan kelas Vina berhenti di gerbang dulu untuk mengambil tiket masuk.


Vina, Fira, dan Luna langsung menuju ke pondok yang telah dipesan oleh sekolah Vina. Vina mengajak Fira dan Luna untuk menempati pondok yang berada di bawah pohon agar lebih Teduh.


Sebelum mandi di mereka pergi ganti baju dulu Setelah itu mereka akan sarapan. Tak lupa juga sekolah Vina menyediakan beberapa makanan bagi siswa yang tidak membawa sarapan dari rumah.


"Lo sarapan apa Vin?", tanya Fira.


"Nih", Vina menunjukkan bekalnya yang berisi udang, telur dan sedikit sayur bayam.


"komplit amat bekal lo dan penampilannya khas rumahan banget, lo masak sendiri ya?", tanya Fira.


"Iya gua masak sendiri emang kenapa?", tanya Vina balik.


"Lo enak banget... bekal gua malah dibuatin sama koki", Fira membuka bekalnya juga.


"Lo masak sendiri Vin? lah sama kayak gua tapi bekal gua isinya cuma telur sama mie instan", Luna juga memperlihatkan bekalnya.


" Ya udah deh yuk makan, baca doa dulu", ucap Vina dan mereka bertiga pun makan dengan lahap.


Selesai makan Fira dan Luna langsung mandi menuju kolam tersebut Namun Vina memilih untuk berjalan-jalan di sekeliling arena waterpark tersebut agar mengetahui tempat mana saja yang cocok dijadikan pemandian baginya. Tempat ini cukup luas dan memiliki beberapa kolam yang besar dan juga kedalaman yang bervariasi, banyak juga arena arena bermain yang disediakan untuk anak-anak.


Ketika Vina melihat sekelilingnya tiba-tiba ia ditabrak oleh seorang anak kecil yang sedang bersama adiknya.


"Eh maaf ya Kak", ucap anak tersebut dan dibalas senyuman oleh Vina.


Vina pun menelusuri arena bagian dalam tempat ini dan tentu saja Vina melihat sebuah seluncuran yang besar dan untuk menaikinya setidaknya perlu 2 orang atau lebih yang memakai pelampung dikarenakan ujung dari seluncuran itu merupakan kolam yang cukup dalam bagi Vina dan tidak mungkin dimasuki oleh orang yang lebih pendek darinya.


Vina pun kembali ke tempat dimana Fira dan Luna berenang dan mengajak mereka menuju seluncuran besar yang ia lihat.


"Fira!! Luna! gua nemuin tempat yang bagus nih", ucap Vina setengah berteriak. Mereka berdua pun beranjak dari kolam dan mengikuti Vina.


"Tempat seru yang gimana Vin?", tanya Luna.


"Gua tadi lihat ada seluncuran besar banget... kalau mau naiknya juga harus pakai pelampung gara-gara kolamnya itu lumayan dalam sih kira-kira sampai leher kita", jelas Vina.


"Waduh gua nggak pandai berenang lagi", tutur Fira.


"Tenang aja kita kan naik bertiga Luna lo pandai berenang kan?", tanya Vina.


"Iya gua bisa kok! nanti Fira lihat aja ke arah Vina atau gua biar kita bisa bawa lo ke atas kolam", Luna mengacungkan Jempolnya.


Sesampainya di seluncuran tersebut, ada seorang pengawas yang memberitahu bahwa ban pelampung nya hanya bisa dinaiki dua orang, yang untuk 3 orang masih dalam proses dipompa.


" Ya udah deh kalian aja duluan yang naik", ucap Vina


" Ya udah deh yuk Fir", ajak Luna.


Tiba-tiba datanglah dua anak kecil yaitu adalah kakak beradik yang menabrak Vina tadi, mereka berkata ingin naik seluncuran itu namun Vina melarangnya karena tinggi mereka belum cukup sesuai.


Namun sang kakak yang menabrak Vina tadi tetap memaksa agar mereka menaiki seluncuran itu dengan cara dia mengatakan bahwa dia punya baju pelampung yang sudah di bawa dari rumah. Vina pun akhirnya menyetujui mereka untuk menaiki seluncuran tersebut.


Mereka pun menaiki seluncuran tersebut dengan menggunakan baju pelampung dan ban pelampung yang ada. Namun tiba-tiba Vina langsung turun ke bawah dan masuk ke dalam kolam.


Dan tentu saja benar apa yang sebenarnya ada dibenak Vina, sang adik tidak memakai baju pelampung dia hanya turun tanpa pengaman apapun. Dan untungnya Vina cepat sampai ke bawah kalau tidak nyawa sang Adik mungkin sudah melayang.


Fira dan Luna kebingungan ketika melihat Vina yang langsung berlari menuju ke arah kolam.


Sang kakak masih tetap memakai pelampungnya dan dia berpura-pura tidak melihat apa yang terjadi. Vina pun menarik mereka berdua keluar dari kolam tersebut. Dan Vina menyuruh adik tersebut untuk mengikuti Luna dan Fira agar mengantarkannya ke orang tuanya sementara sang kakak masih bersama dengan Vina.


"Kenapa kamu melakukan hal tersebut?", tanya Vina pada sang kakak.


"Hal apa?", sang kakak berpura pura tidak tahu apapun.


"Saat masuk kedalam seluncuran, adikmu masih memakai baju pelampung namun kenapa ketika keluar dia tidak memakainya?", tanya Vina.


"Mungkin dia melepasnya", alibi anak tersebut.


"Jika kamu terus berbohong kepada diriku, maka aku akan bilang kepada orang tuamu bahwa kamu berniat membunuh adikmu", ancam Vina.


"Kau tidak punya bukti apapun", anak tersebut memandang rendah pada Vina.


"Semua orang tua Pasti melarang anaknya untuk masuk ke dalam kolam yang dalam, namun kamu tadi memaksaku agar menaiki seluncuran ini, mungkin hal ini bisa menjadi bukti yang cukup kuat", jelas Vina.


"Humph baiklah aku akan memberi tahu mu, tapi kau harus berjanji tidak akan marah ataupun memukulku", anak tersebut menjulurkan jari kelingkingnya.


"iya aku janji", Vina membalas uluran jari kelingking tersebut.


"Sebenarnya aku tadi ingin menyelamatkan adikku saat dia Hampir tenggelam dan menyalahkanmu atas ketidak selamatan kami dan orang tuaku akan menghargaiku karena aku telah menyelamatkan adikku", jelas anak tersebut sambil cemberut.


"Memangnya orang tuamu tidak pernah menghargaimu?", tanya Vina.


"Mereka hanya memandang adikku dikarenakan dia adalah anak cewek yang mereka impikan dari dulu, sedangkan aku bahkan memenangkan banyak Olimpiade namun orang tuaku bahkanctidak pernah memberiku ucapan. ketika Adikku mau apapun pasti bakalan dibelikan, sedangkan ketika aku hanya ingin meminta satu hal, mereka bahkan tidak mendengarkan permintaanku", jelas anak itu yang kini meneteskan air matanya.


Vina pun langsung menarik lengan anak tersebut dan pergi ke tempat Fira dan Luna berada, lebih tepatnya Vina ingin pergi ke tempat orang tua anak ini. Sesampainya disana Vina mengatakan kejadian yang sangat berbeda dari kejadian aslinya.


"Om, Tante, mohon maaf saya ingin mengatakan sesuatu tentang anak kalian. Jadi tadi Kakak beradik ini mau naik seluncuran namun saya larang karena tinggi mereka belum cukup, namun sang kakak tetap memaksa untuk naik sehingga dia langsung masuk ke dalam seluncuran bersama si adik. Saya pun bergegas turun dan menyelamatkan si adik duluan lalu menarik naik si kakak, setelah saya dengarkan penjelasannya, ternyata si kakak ingin bunuh diri di kolam tersebut", jelas Vina.


Seketika raut wajah orang tua kakak beradik ini berubah, sang ibu pun menitikkan air matanya dan langsung memeluk si kakak. Si kakak hanya terdiam tak melakukan apa apa, namun sang ibu terus memeluknya sambil menanyakannya berbagai pertanyaan.


Setelah selesai adegan menangis tersebut, orang tua kakak beradik tersebut berterima kasih pada Vina. Namun sebelum Vina pergi dia menanyakan nama anak tersebut.


"Namamu siapa dek?", tanya Vina.


"Namaku Wilsen adikku namanya Latif dan jangan panggil aku adek! aku tuh udah gede, udah kelas 2 SMP tau", ucap anak tersebut sambil berkacak pinggang.


"Yaudah deh, kakak pergi yah", Vina melambaikan tangan pada Wilsen yang dibalas lambaian tangan juga.


"Yaudah deh, yuk berenang lagi", ajak Luna. Mereka pun bersenang senang disana hingga jam 3 sore.


Saat jam 3 sore Pak Rudi memanggil semua murid muridnya agar bersiap untuk pergi. Vina pun mulai mengganti bajunya dan mengemasi barang barangnya.


Semua rombongan pun sudah bersiap dan baris didepan bus masing masing lalu satu persatu dari mereka diabsen agar tidak ada orang yang ketinggalan.


Vina, Fira, dan Luna pun sudah masuk ke dalam bus dan masih berada dalam posisi yang tadi, mereka tidak sabar untuk mengunjungi pemberhentian selanjutnya yaitu.....


----------------------------------


Mungkin Novel ini bisa mewakili perasaan kalian yang mengalami apa yang dialami Vina dan karakter karakter lainnya.


Dan novel ini tidak bertujuan untuk memamerkan kekerasan maupun perilaku yang tidak baik:).


Dan bagi kalian yang membaca novel ini jadilah seperti Vina yang selalu kuat mengahadapi segala cobaan yang menimpanya.


Silahkan Like dan Vote seikhlasnya ga ada paksaan kok:)


Vote 10 poin atau 10 koin juga gak papa kok:)


TETAP SEMANGAT UNTUK TERUS HIDUP!!