SMILE??

SMILE??
KAMPUS



Vina dan rombongannya pun pulang ke rumah masing-masing. Vina sedikit terkejut melihat pemandangan yang tidak asing lagi di rumahnya.


"Nak Vina? kamu udah pulang?", tanya ibu Vina.


"Udah kok buk, seru banget loh disana", ucap Vina.


"Yaudah kalo begitu kamu istirahat aja dulu yah dikamar", ibu Vina mendorong Vina untuk naik ke atas menuju kamarnya.


Seperti yang Vina pikirkan, Ibunya dan ayahnya sedang bertengkar. Walaupun kamar Vina berada di lantai atas, sebenarnya Vina masih bisa mendengar pertengkaran ibu dan ayahnya di bawah. Makian dan pukulan pun terdengar ditelinga Vina, sebenarnya Vina ingin menolong ibunya hanya saja dia takut ayahnya akan melakukan hal-hal di luar dugaan pada ibunya.


Vina mencoba mengalihkan perhatiannya dengan mendengarkan musik, ia lihat kalung yang tiba-tiba berada di lehernya itu dengan seksama dan tanpa sadar ia sudah terlelap tidur.


Pukul 1 pagi pun tiba, Vina terbangun dari tidurnya karena lapar, ia membuka makanan yang dibawanya dari restoran dan ingin memanaskannya di dapur. Namun Vina melihat ibunya terisak tangis di meja makan, Vina pun mendatanginya.


"Buk? ibuk kenapa? kok nangis?", tanya Vina sambil menuruni tangga dan membawa sekotak makanan.


"Ibuk ga papa kok nak", Ibu Vina langsung mengusap air matanya.


"Ibu jangan bohong, Vina lihat kok Ibu nangis, Pasti karena ayah ya?", tanya Vina lagi.


"Enggak kok, Kamu ngapain turun? apa itu yang kamu bawa?", tanya ibu Vina agar mengalihkan pembicaraan.


" Oh ini, tadi kami ke restoran buk, tapi pelayannya salah antar pesanan Vina, jadi kebanyakan deh. Trus ada temen Vina yang katanya mau traktir-in Vina, tapi Vina nggak abis, Yaudah deh Vina bawa pulang", jelas Vina.


"Eh nggak bagus lo minta di traktirin temen", tutur ibu Vina.


" Vina nggak minta di traktirin, dia sendiri kok Yang mau traktir Vina. daripada makanan yang kebuang mending bawa pulang. mau Vina panasin dulu biar bisa kita makan", ucap Vina sambil memanaskan makanan yang ada di kotak tersebut.


Suasana pun Hening saat Vina dan ibunya makan. Bekas air mata masih menempel di mata ibunya, merupakan salah satu impian Vina juga agar membuat ibunya merasa bahagia sampai ia tua. Vina ingin bekerja keras sehingga ibunya tidak perlu banting tulang lagi.


"Besok kalian ngerayain hari kelulusan ya nak?", ibu Vina memulai percakapan.


"Bukan besok Bu tapi lusa, besok Vina mau berkunjung ke kampus pilihan Vina Bu", jawab Vina.


" Kamu memangnya mau ke kampus mana?", tanya ibu Vina.


" ke kampus Teknologi Informatika buk", jawab Vina.


" kamu tertarik sama komputer nak?", tanya ibu Vina lagi.


" Iya Bu Vina suka banget. Biar kedepannya Vina juga punya komputer, tapi tenang aja kok Bu! Vina bakalan beli sendiri komputernya! nggak usah pakai duit ibu lagi, Vina kan udah mandiri.", Vina menunjukkan senyumannya. Ibu Vina terlihat lesu ketika Vina berkata demikian.


"Iya, pokoknya kamu harus belajar giat yah? biar bisa dapat pekerjaan yang bagus", nasehat ibu Vina.


"Siap buk", Vina menghormat ala komandan ke ibunya. Mereka berdua pun melanjutkan makan ditengah keheningan malam itu.


KEESOKAN HARINYA.....


"Buk, Vina berangkat dulu ya", ucap Vina pamit dari rumahnya.


" iya! hati-hati ya nak!", teriak ibu Vina dari dapur.


Vina segera berlari menuju halte bus, kampus Vina Sebenarnya cukup jauh dari rumahnya kurang lebih sekitar 10 kilometer. Sesampainya di halte bus Vina langsung menaiki bus yang hampir saja pergi.


Setelah menaiki bus selama 20 menit, akhirnya Vina sampai di kampusnya. kampus tersebut cukup besar dan luas, banyak mahasiswa yang berlalu lalang untuk pendaftaran maupun membagikan proposal. Vina pun segera menuju tempat pendaftaran dan mengisi biodata dirinya.


"Namanya Vainariska dan ingin masuk ke jurusan teknologi komputer yah?", ucap seorang wanita muda dengan name tag Susan setelah memeriksa biodata Vina.


"Oke, dari sini kamu pergi ke bagian aula, trus belok ke kanan, di sana kamu bakalan menemukan kantor administrasi", ucap bu Susan sambil menyerahkan beberapa dokumen pendaftaran pada Vina dan tak lupa memberikan map kampus juga.


Vina pun pergi dari tempat pendaftaran tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada bu Susan.


"Anak itu sopan banget yah? jarang banget loh anak muda sekarang punya perilaku sopan gitu", ucap dosen yang duduk disebelah bu susan yang dibalas anggukan olehnya.


Vina berhenti ditaman kampus tersebut sambil memperhatikan dengan jelas map kampus yang diberikan oleh bu Susan tadi.


"Ouh... yang itu yah", Vina mengikuti arah jalan map tersebut.


Di tempat administrasi, Vina harus mengantri untuk membayar biaya kuliahnya. Vina telah lama menabung biaya kuliah tanpa harus memakai uang ibunya, dan untuk biaya per semesternya Vina ingin bekerja paruh waktu.


Setelah mengantri sekitar 15 menit, Vina berada didepan loket administrasi dan membayar semua biayanya.


Kali ini Vina pun berencana ingin mengelilingi kampus besar ini agar hapal dimana ruangan ataupun tempat tempat khusus yang mungkin akan sering didatangi Vina saat mulai kuliah nanti seperti perpustakaan, toilet, ruang guru, dan tempat lainnya.


Ketika Vina ingin belok menuju koridor aula, ada seseorang yang menabrak dirinya.


"LO PUNYA MATA GAK SIH? BAJU GUA KAN JADI KOTOR KARENA BAKTERI DARI LO!!", bentak wanita tersebut.


"Loh kok elo nyalahin gua? kan elo yang jalan sambil main Hp, elo kali yang buta", balas Vina.


"Ih dasar orang miskin! udah nabrak orang masih ga mau ngaku, elo pasti ga mau gua mintai pertanggung jawaban kan?", wanita tersebut merendahkan Vina.


"Ya iya lah gua ga mau dimintai pertanggung jawaban, gua kan emang ga salah! semua orang yang ada disini juga liat kalo elo yang jalan sambil main Hp", ucap Vina tak terima direndahkan seperti itu.


"Maksud lo apa nuduh gua yang salah? lo ga tau siapa gua huh?", ucapnya sambil mendongkakkan kepalanya.


" Lah emang lo siapa kita sama-sama manusia kok, sama-sama punya dosa", tutur Vina


"Yah kita beda banget lah, keluarga gua tuh adalah golongan orang orang yang kaya, punya jabatan tinggi. Beda ama lo yang cuma orang miskin, bedain dong baju kita... baju gua tuh baju branded sedangkan baju lo itu yang biasa di pake pembantu gua nyuci", sekali lagi wanita itu merendahkan Vina.


"Emang ada orang nyuci pake celana jeans?", tanya Vina sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Ya mana gua tau, gua kan ga pernah nyuci", jawab wanita itu.


"Berarti baju lo yang branded gitu ga pernah di cuci? pasti bauk banget, pfft", Vina menahan tertawanya.


"Ih baju gua dicuci sama pembantu lah, gua mah tinggal beli ama pake aja", ucap wanita itu yang masih dengan nada sombong.


"Vina? lo kuliah disini juga?", tanya salah seorang gadis yang baru datang.


----------------------------------


Mungkin Novel ini bisa mewakili perasaan kalian yang mengalami apa yang dialami Vina dan karakter karakter lainnya.


Dan novel ini tidak bertujuan untuk memamerkan kekerasan maupun perilaku yang tidak baik:).


Dan bagi kalian yang membaca novel ini jadilah seperti Vina yang selalu kuat mengahadapi segala cobaan yang menimpanya.


Silahkan Like dan Vote seikhlasnya ga ada paksaan kok:)


Vote 10 poin atau 10 koin juga gak papa kok:)


TETAP SEMANGAT UNTUK TERUS HIDUP!!