
"Eh ada yang tau gak di mana restorannya", tanya Luna.
"Lah gak tau", ucap Fira.
"lah trus gimana dong?", tanya Luna.
"Gua punya nomor pak Rudi nih, telpon aja kali yak", Vina mengambil handphone nya dan memanggil nomor pak Rudi.
"Halo? ada apa Vina?", tanya pak Rudi.
"Halo juga pak, mau nanya, restorannya itu ada dimana ya pak?", tanya Vina.
"Restorannya itu ada di mall, di lantai pertama tepat di sebelah kanan toko baju", jelas pak Rudi.
"Oh iya makasih ya Pak", ucap Vina yang langsung dimatikan teleponnya oleh pak Rudi.
"Yaudah kuy ke sebelah toko baju", ajak Vina.
Sesampainya di Restoran.....
"Gua gak mau masuk ah", Luna menghentikan langkahnya didepan restoran ala barat tersebut.
"Lah kenapa emang?", tanya Vina.
"Gua gak punya duit buat makan disitu, huwaa", rengek Luna.
"Yaelah gitu aja dipermasalahin, yaudah deh nanti gua traktir lo makan", ajak Fira.
"Beneran?", tanya Luna yang langsung merubah wajahnya 180 derajat.
"Iya gua traktir, tapi lo punya duit kan Vin...?", tanya Fira.
"Punya lah, tapi ga tau cukup untuk beli apa aja", tutur Vina.
Mereka bertiga pun masuk ke restoran tersebut. Namun karena rombongan Vina bisa dibilang cukup banyak, kursi dan meja yang disediakan pun cukup terbatas.
"Eh gimana nih? masa gak ada meja yang buat 3 orang sih?", tanya Fira.
Vina pun bertanya pada salah satu pelayan yang sedang berjalan disitu. Pelayan tersebut berkata bahwa masih ada 2 meja, namun kursinya juga cuma 2, akan ada beberapa kursi lagi yang datang namun kursinya akan sampai beberapa saat lagi. Vina pun segera memberi tahu hal itu pada Fira dan Luna, mereka pun sepakat bahwa Luna dan Fira yang akan makan duluan setelah itu disusul oleh Vina.
Mereka bertiga pun memesan menu yang diinginkan. Vina hanya memesan secangkir kopi dan 1 porsi spagetti. Disebelah meja Fira dan Luna, terdapat sebuah meja lagi yang tidak ada kursinya. Vina pun berfikir jika kursinya sudah datang nanti dia akan makan disana. Namun tiba tiba ada seseorang yang datang dan membuat Vina cukup terkejut.
"Nona, Mohon Maafkan pelayanan kami yang tidak memuaskan! silahkan duduk disini! sebagai permohonan maaf atas ketidak nyamanan kali ini kami akan memberikan bonus makanan nanti", Ucap seorang kepala pelayan yang langsung menyusun 2 kursi di meja tersebut agar Vina bisa duduk.
Vina pun langsung duduk di kursi tersebut dengan wajah yang keheranan. Tiba tiba datanglah seseorang lagi yang membuat Vina lebih terkejut hingga memundurkan kursinya.
"Lo ngapain disini? gua panggil satpam kalo lo berani ganggu gua yah",ucap Vina pada pria tersebut.
"Tenang dulu sayang, aku cuma mau nemenin kamu makan kok", Vina pun langsung membekap mulut pria tersebut dan berbisik padanya.
"Kalo lo mau nemenin gua makan, gak usah buat hal hal yang aneh deh", ancam Vina. Pria tersebut pun mengacungkan jempolnya pada Vina.
"Vin, itu siapa?", tanya Fira.
"Eh... dia Ini tetangganya sepupu aku, kita sering main bareng", bohong Vina.
" Oh siapa namanya?", tanya Luna yang seketika membuat Vina bingung harus berkata apa.
"Kenalin nama saya Reyvan biasanya dipanggil Rey", ucap Reyvan sambil tersenyum pada Fira dan Luna.
"Lun, Reyfan ganteng banget yah?", bisik Fira pada Luna.
"Iya... kayak orang jepang gitu loh", bisik Luna juga.
pelayan yang menyajikan makanan pun sudah sampai, Namun di luar dugaan Vina. Vina tiba-tiba dibawakan paket lengkap oleh pelayan tersebut beserta makanan penutupnya.
"Rey, ini pesanan lo kan?", tanya Vina.
"Gak ah, gua gak pesan apa apa", jawab Reyvan.
"Pak kayaknya salah meja deh, saya gak pesan ini semua", ucap Vina pada pelayan tersebut.
"Udah bener kok, ini semua Udah dipesan oleh nona", ucap pelayan tersebut.
"Eum... itu...", Reyvan langsung memotong percakapan Vina dan mengatakan.
" Ya udah nanti aku aja yang bayar", Reyvan tersenyum pada Vina.
"Lo nggak usah ngomong dulu deh, ini semua Mahal tahu nggak? ntar lu kagak ada duit lagi, terus masa gua harus ngutang sih sama lo?", tutur Vina.
"Tapi gue mana bisa habis makan banyak banget gini", Vina menepuk kecil tangan Reyvan.
" Ya udah, minta dibungkus aja trus bawa pulang", ucap Reyvan yang merasa bahagia karena Vina menyentuhnya walaupun hanya tepisan kecil saja.
"Yaudah lo yang bayar ya, Pak tolong bungkusin semuanya selain kopi sama spaghetti", perintah Vina pada pelayan tersebut. Namun sebenarnya diam diam Reyvan mengacungkan jempolnya pada pelayan tersebut yang mengartikan bahwa rencananya sudah berhasil.
Makanan makanan itu pun dibawa ke dapur untuk dibungkus, dan Vina langsung menghabiskan spaghetti dan kopinya agar bisa pergi dari tempat itu untuk menjauhi Reyvan.
"Pelan-pelan dong makannya, nggak ada yang minta kok", Reyvan membersihkan cipratan spaghetti yang menempel di pinggir bibir Vina.
"Paan sih! enak aja nyentuh-nyentuh muka orang, kalau nanti aku jerawatan gimana? tanggung jawab loh", Vina melanjutkan makannya sambil menatap sinis ke arah Reyvan.
" Eh iya, aku terlalu kotor untuk kamu yang terlalu suci", Reyvan menyandarkan kepalanya ke dinding dan matanya menatap tulus ke arah Vina.
Tatapan heran pun muncul dari mata Vina, Ia pun segera memakan suapan terakhir spaghettinya dan segera menghabiskan kopinya.
Reyvan mengambil Hp Vina yang terletak diatas meja dan memasukkan nomornya ke dalam Hp tersebut.
" Eh elo ngapain ngambil ngambil HP gua? Sembarangan aja, mau maling ya?", tanya Vina.
"Gak kok, gua cuma masukin nomor gua aja", Reyvan menyerahkan kembali Hp Vina.
"Ih gak mau gak mau, gue nggak mau punya nomor orang aneh kayak lo, cepetan hapus nomor gua dikontak lo", Vina memarahi Reyvan dengan serius.
"Vina kalau marah makin cantik aja, jadi makin sayang deh", Reyvan mencubit pipi Vina.
" lepasin gua, gua mau cepetan pergi dari sini, gua nggak mau ketemu lo lagi", Vina langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju kasir untuk mengambil pesanan yang tadi.
Vina menuju keluar dan ingin masuk ke dalam bus namun dicegat oleh Pak Rudi.
"Yang lainnya pada ke mana Vin? kok cuma kamu doang?", tanya pak Rudi.
"Yang lain Masih pada makan Pak", jelas Vina yang ingin masuk ke dalam bus namun terhantuk oleh pintu bus tersebut.
"Pak kok pintunya gak dibuk?", tanya Vina.
"Kuncinya ada sama supirnya, supirnya masih makan juga, kamu jemput yang udah selesai makan aja, biar kita langsung baris trus cepat berangkat deh", tutur pak Rudi.
"Iya pak", entah kenapa Vina langsung refleks menjawabnya. Ia merutuki dirinya karena sekarang dia harus kembali ke dalam restoran itu dan harus bertemu kembali dengan Reyvan.
Vina pun datang ke restoran itu dan mengintip dari luar untuk memastikan bahwa Reyvan tidak ada.
"Woy, ngapain?", Reyvan menarik Vina ke dalam pelukannya.
"Apa apaan sih?", Vina langsung mendorong Reyvan, namun ia tidak cukup kuat karena tenaga Reyvan lebih besar darinya.
"Lepasin! banyak orang yang lagi liat ke arah kita tau gak?", ucap Vina yang masih berusaha untuk lepas dari pelukan Reyvan.
"Setelah ini kita bakalan pisah, aku bakalan rindu berat sama kamu. Tapi aku janji, suatu hari nanti kita pasti bertemu lagi", Reyvan melepaskan pelukannya dan mengangkat jari kelingkingnya.
Vina ragu untuk membalas jari kelingking itu, namun ia tidak ingin mengecewakan harapan yang menurut Vina mustahil. Vina pun membalas jari kelingking tersebut.
"Oke, bye bye sayang",Reyvan pun pergi menghilang diantara kerumunan orang orang yang berlalu lalang di mall tersebut.
Vina menatap kepergian Reyvan dengan sedikit rasa kecewa di hatinya. Namun Vina mengusir jauh jauh perasaan itu dan pergi menjemput teman temannya di restoran itu.
Vina dan seluruh rombongannya menaiki bus dan berangkat pulang.
"Vin, itu kalung dari mana?", tanya Luna.
"Kalung?", Vina pun melihat ke bawah.
"lah kok ada kalung?", pikir Vina sambil keheranan.
----------------------------------
Mungkin Novel ini bisa mewakili perasaan kalian yang mengalami apa yang dialami Vina dan karakter karakter lainnya.
Dan novel ini tidak bertujuan untuk memamerkan kekerasan maupun perilaku yang tidak baik:).
Dan bagi kalian yang membaca novel ini jadilah seperti Vina yang selalu kuat mengahadapi segala cobaan yang menimpanya.
Silahkan Like dan Vote seikhlasnya ga ada paksaan kok:)
Vote 10 poin atau 10 koin juga gak papa kok:)
TETAP SEMANGAT UNTUK TERUS HIDUP!!