
"Kamu pas di rumah suka masak ya Shiena ?"
"Iya Mi. Sering ngerusuh pas Bibi Sherly masak. Akhirnya diajarin masak sama Bibi."
"Pantesan kamu pinter banget masak."
Shiena yang sedari tadi tengah memasak untuk sarapan di bantu oleh Jinni hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Jinni barusan. Yah, fakta sih jika dirinya memang pintar memasak.
Lalu bagaimana ceritanya Shiena bisa memasak lagi karena waktu pertama datang ke rumah besar suaminya Shiena sudah di larang memasak oleh suami datarnya.
Ya jawabannya cuma satu.
Saat itu induk macan bilang~
"Biarin sekali-kali Shiena masak. Kan mami juga mau ngerasain masakan mantu mami."
Ketika induk macan bilang seperti itu, anak macannya sudah ingin berbicara lagi. Tapi sudah didahului induk macan membuka suaranya kembali.
"Kamu tenang aja. Mami jamin Shiena gak akan lecet sedikitpun deh."
Jika induk macan sudah bilang seperti itu, anak macan bisa apa selain mengijinkan. Dan, siapa disini yang paling bahagia. Ya tentu Shiena yang langsung memeluk ibu mertuanya erat juga bilang~
"Makasih banyak mami. Cup cup cup."
Plus tiga kecupan gratis dari menantu imutnya untuk Jinni.
Tidak setiap waktu juga Shiena akan memasak. Dia akan memasak jika sarapan saja. Itu juga atas titah sang anak macan. Entahlah alasannya apa sampai anak macan tidak mengijinkan Shiena memasak di dapur.
Padahal, masakan Shiena itu enak. Terbukti dengan Jinni yang ketagihan akan masakan Shiena.
Waktu itu, saat malam-malam karena Shiena lapar, dia mengendap-ngendap ke dapur untuk cari makanan. Tapi sayang, hasilnya nihil. Alias tidak ada satupun makanan yang ada di dapur ataupun lemari pendingin rumah besar itu. Maka dari itu dengan diam-diam juga gerakan yang hati-hati Shiena memasak untuk dirinya makan waktu tengah malam.
Dan sialnya, saat Shiena makan malahan terpergok ibu mertuanya yang tak lain Jinni. Dan dengan tidak tahu malunya, Jinni malah ikut memakan masakan Shiena dan semakin berdecak kagum dengan rasa makanan yang menggoyang lidahnya nikmat.
"Ini enak banget Shiena. Siapa yang masak ? Kayaknya ini bukan masakan Jordan deh."
"I-itu..." Saat itu Shiena takut saat ingin mengaku jika itu masakannya. Takut, jika nanti ibu mertuanya itu akan mengadukannya pada suami datarnya karena dirinya memasak.
Tapi mungkin dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Dengan enteng dan gampangnya ibu mertuanya malah mengantongi izin untuk Shiena bisa sesekali memasak.
Sudah tiga minggu ini Shiena rutin memasak sarapan. Dan barang tentu saja selalu ditemani oleh Jinni yang memang menjadi jaminan jika Shiena tidak akan terluka.
Hubungan Jinni juga Shiena sudah seperti ibu dan anak kandung. Bukanlah seperti ibu mertua juga menantunya. Shiena semakin nyaman tinggal di kediaman Aydin yang besar itu saat Nana - adik iparnya - juga sama-sama baiknya dengan Jinni. Tak ada kata menantu ataupun kakak ipar untuk mereka.
Hubungan Shiena juga Keenan masih seperti semula. Tolong, disini jangan terlalu menaruh harapan banyak pada suami datar Shiena itu. Tapi sedatar dan sedinginnya Keenan, tak pernah ada yang namanya bentakan ataupun perbuatan kasar pada Shiena.
"Kau ingin pergi kemana nanti Shiena?" Jinni bertanya saat keempatnya selesai sarapan di hari minggu ini.
"Aku tidak akan kemana-mana Mi."
"Apa kau tidak ingin pergi kemana...gitu?"
"Nggak Mi. Aku ingin membaca buku saja seperti biasanya. Ada buku yang belum selesai aku baca."
"Ayolah Kakak ipar... Masa tiap weekend kau hanya akan membaca buku di perpustakaan saja... Itu kan membosankan."
"Itu sangat menyenangkan Na."
"Tidak untukku. Itu sangat membosankan Kakak ipar. Aku akan mati bosan jika setiap weekend yang bisa untukku pergi jalan-jalan aku habiskan dengan membaca." Nana sudah mendramatisir, namun hanya di tanggapi kekehan oleh Shiena juga Jinni. Lalu Keenan?
Ya, seperti yang kalian tau. Dia hanya akan memasang wajah datarnya saja. Membosankan bukan.
"Tapi tidak untukku Nana."
"Ayolah Kakak ipar. Kita jalan-jalan na~" Nana sudah mulai jurus andalannya. Merengek.
"Atau paling tidak Kakak ipar pergi kencan gitu dengan Kakak."
"Ide bagus itu. Kalian pergilah berkencan. Selama kalian menikah, Mami belum pernah liat kalian berkencan." Jinni ikut berpendapat.
Yah, itu memang benar adanya. Sudah satu bulan ini mereka menikah, tapi belum pernah sekalipun mereka pergi berdua untuk sekedar berkencan. Kalau Shiena tidak pergi dengan Jinni ya Shiena akan pergi dengan Nana. Dan Keenan hanya akan bekerja, bekerja, bekerja dan bekerja.
"Ah, tidak usah Mami. Aku sedang tidak ingin pergi kemana-mana." Shiena langsung menyahut saat mendengar usulan mertuanya.
'Lebih baik aku mati bosan di rumah daripada keluar dengan si kulkas.'
"Hm."
"Ajak sekali-kali istrimu ini keluar rumah. Kalian juga butuh menghabiskan waktu berdua. Jangan hanya kerja terus. Jika kau tidak bekerja sehari pun, kau tidak akan jatuh miskin."
Keenan menatap ibunya. Memandang nanar pada sosok yang sudah melahirkannya.
"Aku akan mengajaknya keluar. Tapi tidak sekarang Mi."
"Lalu sekarang kakak mau apa? Bekerja?"
"Tidak."
"Lalu jika kakak tidak bekerja, kenapa tidak sekarang saja. Honeymoon saja kalian tidak pergi. Masa hanya sekedar kencan kalian tidak melakukannya juga." Jinni sudah mengeluarkan protesannya.
Shiena hanya diam di tempat duduknya. Tidak mau ikut masuk dalam percakapan ibu dan anak itu.
"Dan Nana lihat, kalian ngobrolnya juga cuma dikit doang. Masa gak ada kemajuannya sih."
Oh... Si bungsu sudah mulai ikut bicara.
'Ayolah, aku tidak ingin jika benar-benar pergi keluar dengan si kulkas. Tuhan! Tolong aku!'
Shiena sudah menjerit dalam hati. Masih tak ingin keluar berdua dengan suaminya. Shiena bisa membayangkan jika mereka benar-benar berkencan. Pasti hanya akan ada kesunyian.
Seperti kuburan.
"Aku akan keluar dengan Shiena, tapi tidak sekarang Mami." Setelah mengatakan itu Keenan pergi.
"Dia itu keras kepala sekali sih." Jinni sudah kesal dengan putranya. "Jadi manusia kok datar banget."
"Itu kan putra Mami."
"Kakakmu juga Nana."
"Ya.. Sayangnya iya."
Kedua wanita dalam rumah itu menghela nafasnya bersamaan. Menatap kesal ke arah Keenan yang masih terlihat ada di ruang tamu tengah berbicara sebentar dengan Paman Rayyan.
"Kau mau kemana?" Jinni bertanya saat melihat menantunya beranjak.
"Ke perpustakaan Mi."
"Kau ini..." Jinni sudah menggeram gemas dengan keduanya. Baik anak maupun menantunya sama saja. "Ya sudah sana."
"Maaf Mami." Shiena menatap sendu Jinni. Tidak ingin membuat ibu mertuanya itu marah.
"Iya, tak apa. Memang si datar saja yang susah diajak pergi. Maafkan dia ya sayang."
Shiena tersenyum lembut mendengar Jinni meminta maaf untuk putranya. "Tak apa Mi. Aku lebih senang berada di rumah."
"Ah... Kau memang sangat pengertian." Jinni sudah beranjak memeluk menantunya. "Terimakasih sayang."
"Jangan berterimakasih padaku Mi. Seharusnya aku yang berterimakasih pada Mami." Shiena membalas pelukan Jinni tak kalah eratnya. Dalam pelukan Jinni, Shiena dapat merasakan dekapan hangat seorang ibu.
"Sudah, jangan diingat-ingat lagi. Nanti Mami nangis lagi ini." Jinni mengelap sudut matanya seolah-olah menangis.
"Hahaha... Iya Mami. Aku tidak akan ingat-ingat lagi. Aku ke perpustakaan dulu." Shiena sudah beranjak pergi ke perpustakaan. Menyisakan Jinni juga Nana yang memandang sendu kearahnya.
Kedua ibu dan anak itu sudah tau perihal hubungan Shiena juga ayah serta adiknya. Bukan Shiena yang bercerita. Tapi mereka mencari tahu melewati Mean yang pasti tahu segalanya.
Saat keduanya mengetahui, baik Jinni dan Nana langsung berhambur memeluk Shiena yang kala itu baru pulang kerja. Shiena bingung dengan yang dilakukan ibu mertuanya serta adiknya. Dan kebingungannya terjawab saat akhirnya Jinni berbicara panjang lebar mengenai dirinya dan terus menangis.
Saat itu Shiena hanya diam, tak membenarkan ataupun menyangkal semua yang diucapkan Jinni. Dan sialnya, itu memang benar adanya. Shiena hanya mampu tersenyum miris. Jika takdir bisa diubah. Sungguh, Shiena tak ingin ibunya meninggal dan dirinya berakhir bernasib seperti itu. Dibenci oleh dua orang yang berarti dalam hidupnya.
Tidak.
Shiena tidak pernah balas membenci Giovano ataupun Gina. Shiena sangat menyayangi keduanya.
^^^^^^salam sayang,^^^^^^
^^^lia_halmusd^^^