
Perlahan-lahan kelopak mata yang sedari semalam menangis kini terbuka kala merasakan sinar mentari di pagi hari yang terasa menyilaukannya. Rasanya masih sedikit perih karena cukup lama dirinya menangis.
Mata kecoklatan yang terlihat indah itu kini terbuka lebar, dan hal pertama yang dirinya lihat adalah dada bidang berbalut piyama hitam yang tadi malam telah memberikannya sandaran juga pelukan hangat. Rasanya sangat nyaman.
Kepalanya mendongak, melihat pemilik dada bidang yang sudah berbaik hati memberikan tempatnya untuk dirinya menangis dan bersandar. Di sana, terlihat wajah yang terlihat tegas tapi juga teduh milik sang suami. Ada seulas senyuman terkulas dari bibir plum itu. Hatinya menghangat saat netra kecoklatannya menatap ciptaan Tuhan yang ternyata ditakdirkan untuk menjadi miliknya, menjaganya, melindunginya, dan mungkin suatu saat akan menyayanginya.
Tentang menyayangi. Apakah ciptaan Tuhan yang begitu terpahat sempurna ini menyayanginya?
Tetapi, sebelum bertanya kepada pria yang telah menjadi suaminya itu menyayanginya atau tidak, sebaiknya dirinya tanyakan dulu pada hatinya. Apakah kini dirinya sudah menyayangi pria dingin ini?
Entahlah.
Gadis yang memiliki nama Shiena Aure Azhary - ah tidak. Gadis yang kini memiliki nama Shiena Aurel Aydin itu juga belum tahu, apakah dirinya sudah menaruh rasa pada suami dinginnya ini.
Tak dipungkiri, jika dia merasakan kenyamanan saat dekat dengan pria penguasa Asia itu. Hatinya juga menghangat saat tadi malam pria yang selalu tanpa ada ekspresi ini memberikan sebuah pelukan hangat juga menenangkannya. Lalu, jika seperti itu, apakah itu sudah bisa dikatakan jika dia menyayangi pria yang kini masih mendekap erat tubuhnya ini?
Entahlah.
Ya, hanya entahlah yang bisa dia katakan untuk saat ini. Karena jujur, dalam lubuk hatinya gadis itu masih ragu akan perasaannya sendiri. Apakah ini cinta atau hanya sebuah rasa nyaman belaka karena suaminya itu memperhatikannya yang memang selama ini dia tak mendapat perhatian dari orang terdekatnya. Yah, walaupun suaminya itu memberikan perhatian dengan cara yang datar padanya.
'Hm. Jika dipikir-pikir. Aku belum pernah melihatnya tersenyum.' Monolog Shiena dalam hati
Tangan lembut itu menempel di dada kokoh yang telah memberikan tempatnya bersandar tadi malam. Dia dapat merasakan detak jantung si pemilik tubuh berdetak dengan teratur di dalam sana. Namun netranya tak pernah lepas dari wajah yang selalu datar jika kelopak mata itu terbuka.
'Aku penasaran, seperti apa jika bibir yang selalu irit bicara itu tersenyum.'
Bibir plum itu tersenyum simpul. Membayangkan jika bibir tipis suaminya tersenyum pasti akan terlihat sangat tampan. Bolehkah Shiena berharap jika bibir tipis itu akan melengkung indah untuknya?
"Selamat pagi."
Shiena terlonjak kaget kala mendengar suara bass yang dirinya hafal.
"Pa-pagi." Shiena terbata kala mendengar suara bass itu menyapa dirinya.
'Oh Tuhan! Apakah Keenan sudah bangun dari tadi?'
"Aku sudah bangun semenjak kau menatapku terus menerus."
Mata Shiena membola kala mendengar ucapan dari suaminya. Pipinya sudah merona hingga ke telinganya.
'Ah... Malunya aku!'
"A... Anu... I... Itu..."
"Aku akan mandi terlebih dulu."
Dan ya... Keenan langsung turun dari ranjang menuju ke kamar mandi meninggalkan Shiena yang sudah sangat malu karena kepergok menatap suaminya itu.
"Ahhhhh! Apa Keenan menyadari kalau aku tadi menatapnya? Ya Tuhan! Aku malu!" Shiena membenamkan wajahnya di selimut. Sungguh dia sangat malu saat ini. Bahkan rasanya Shiena sudah ingin membenamkan wajahnya ke lubang semut.
"Mana bajuku?"
Shiena terlonjak kaget ketika mendengar suara Keenan di belakangnya. Ah iya, sedari tadi dirinya terus saja berguling-guling di ranjang karena malu, sampai lupa menyiapkan baju untuk suaminya. Saat Shiena beranjak, wajahnya semakin memerah karena pemandangan yang tersaji di hadapannya.
'Ya Tuhan! Pemandangan yang sangat indah.'
Gluk.
Gluk.
'Cobaan apa ini Tuhan! Mama! Tolong aku!'
Manik mata kecoklatan itu tak lepas dari pemandangan indah di hadapannya yang sangat menggiurkan. Tubuh kekar dengan kulit warna tan yang berotot. Perut sixpack yang sudah membentuk sangat sempurna. Jangan lupakan, dada bidang yang terlihat begitu kokoh.
'Ah... Aku ingin bersandar di dada itu lagi.'
"Shiena."
"Ah, y-ya ."
"Mana bajuku?"
"Ah, ya sebentar. Aku ambilkan dulu."
'Bodoh Shiena. Kau bodoh. Bagaimana bisa kau malah bengong dan berpikiran yang tidak-tidak tadi.'
Shiena terus saja merutuki dirinya yang malah bengong melihat keindahan ciptaan Tuhan yang sempurna.
'Ah... Tapi, itu sangat sayang jika dilewatkan... Oh Tuhan! Apakah aku sekarang mempunyai ketertarikan dengan pria?'
Batinnya terus saja berkecamuk. Memikirkan semuanya. Ya, selama ini Shiena belumlah mempunyai seseorang yang dicintainya. Putra dari Giovano Azhary itu memanglah belum pernah jatuh cinta.
"Ini bajunya."
"Hm."
Keenan menerimanya, mengganti pakaian di hadapan Shiena tanpa tahu malu. Lalu bagaimana dengan Shiena?
Tentu saja wajahnya sudah semerah udang rebus saking malunya.
Hei tapi itu sangat sayang jika dilewatkan, makanya. Manik mata kecoklatan itu curi-curi pandang saat suaminya mengganti pakaian.
'Pesona suamiku benar-benar membahayakan. Lihatlah. Dalam balutan setelan jas berwarna hitam ini saja, tubuhnya begitu indah. Dia juga semakin tampan saja.'
Tanpa sadar, Shiena mengerucutkan bibirnya dengan pikiran masih berkeliaran kemana-mana.
'Pasti banyak gadis-gadis yang mengagumi suamiku.'
"Kau kenapa?"
"Ah... Tak apa-apa." Shiena tentu saja kaget sekaligus malu.
Hei, Ini sudah kedua kalinya dia terpergok mencuri pandang pada suaminya.
"Ini."
Beberapa detik Shiena mencerna apa yang diinginkan suaminya saat menyodorkan dasi kearahnya. Dan setelah otaknya menangkap apa maksud Keenan, Shiena menerima dasi berwarna hitam yang senada dengan jas nya untuk dikenakan di leher Keenan.
Nafas Shiena tercekat kala tubuhnya begitu dekat dengan tubuh Keenan, apalagi dengan aroma yang begitu maskulin di Indra penciumannya. Sepertinya, pria manis ini tadi malam tak sadar saat berada dalam pelukan suaminya. Sehingga sekarang dengan jarak yang sedikit jauh saja, tubuhnya menegang.
'Bisa lemas aku jika lama-lama seperti ini.'
"Sudah ."
"Hm."
"A-aku akan mandi."
Dan, sudah di pastikan. Shiena mengambil seribu langkah untuk segera ke kamar mandi sebelum dirinya benar-benar pingsan jika terus menerus di dekat suaminya yang datar.
Ini sudah beberapa hari Shiena resmi menyandang status nyonya Aydin, istri dari Keenan Athaya Aydin. Tapi, kenapa baru sekarang Shiena dibuat kalang kabut seperti ini dengan pesona suaminya yang begitu membahayakan.
'Oh... Bahkan aku tergoda dengan aroma maskulinnya.' Batin Shiena semakin menjerit saat hal yang belum pernah dialaminya kini terjadi.
Shiena bukanlah gadis bodoh saat mendapati hal seperti ini. Walaupun dirinya terhitung gadis polos karena tidak pernah dekat dengan siapapun. Tapi dia juga tidak terlalu bodoh untuk tidak mengerti apa yang terjadi dengan tubuhnya itu.
Setelah menyelesaikan mandi juga hal yang cukup mendesak tadi, kini Shiena sudah siap dengan baju kerjanya.
"Kenapa kau masih ada di sini?"
Shiena heran, saat mendapati suaminya ternyata masih ada di kamar. Padahal kan sudah sedari tadi suaminya itu siap.
"Menunggumu "
Shiena cukup terkejut saat mendapati jawaban seperti itu dari pria di hadapannya.
Tanpa kata seperti biasanya, pria yang menyandang suami dari Shiena itu melangkah pergi keluar kamar menuju lantai satu. Dengan cepat Shiena tersadar dari keterkejutannya dan segera menyusul Keenan.
'Kok ngeselin ya. Main pergi-pergi aja. Mana gak ngomong apa-apa lagi.'
^^^salam sayang,^^^
^^^lia_halmusd^^^