Shiena Story

Shiena Story
10. Perpustakaan



Previously.


Jinni dan Nana sudah tau perihal hubungan Shiena juga ayah serta adiknya. Bukan Shiena yang bercerita. Tapi mereka mencari tahu melewati Mean yang pasti tahu segalanya. 


Saat keduanya mengetahui, baik Jinni dan Nana langsung berhambur memeluk Shiena yang kala itu baru pulang kerja. Shiena bingung dengan yang dilakukan ibu mertuanya serta adiknya. Dan kebingungannya terjawab saat akhirnya Jinni berbicara panjang lebar mengenai dirinya dan terus menangis.


Saat itu Shiena hanya diam, tak membenarkan ataupun menyangkal semua yang diucapkan Jinni. Dan sialnya, itu memang benar adanya. Shiena hanya mampu tersenyum miris. Jika takdir bisa diubah. Sungguh, Shiena tak ingin ibunya meninggal dan dirinya berakhir bernasib seperti itu. Dibenci oleh dua orang yang berarti dalam hidupnya.


Tidak.


Shiena tidak pernah balas membenci Giovano ataupun Gina. Shiena sangat menyayangi keduanya.


...oOo...


"Kakak sungguh tak ingin mengajak istrimu pergi?" Rupanya Jinni masih tak menyerah.


Jinni teru menatap dalam pada manik putranya yang tak pernah bisa dirinya baca. Sekeras apapun Jinni mencoba mengerti bagaimana isi hati putranya, Jinni tak pernah bisa mengetahuinya. Keenan terlalu pandai dalam menyembunyikan segala perasaan ataupun pemikirannya. Putranya ini sulit sekali ditebak.


"Apa Mami lupa?"


Datar.


Keenan tak pernah mempunyai ekspresi sedikitpun sedari dulu.


"Mami tidak lupa. Hanya saja, Mami tidak ingin kakak seperti sebelumnya lagi. Sekarang kan kakak sudah mempunyai istri, jadi lebih baik kakak coba habiskan waktu bersama istrimu. Jangan hanya sendirian. Berbagilah dengannya jika kakak memang tak ingin berbagi dengan Mami ataupun Nana. Jangan simpan semua beban sendirian Kak."


"Dia sudah terlalu banyak beban. Jangan ditambah lagi."


"Tapi Mami rasa kakak membagi beban kakak sedikit pada Shiena, tak akan apa-apa untuk Shiena."


"Biarkan seperti ini saja Mi."


"Kak."


"Jangan paksa aku." Tandas Keenan tajam dan memilih pergi dari hadapan ibu serta adiknya yang menatapnya khawatir.


Jinni menghela nafasnya lelah. "Keras kepala sekali anak itu." Mungkin ini sudah kesekian kalinya Jinni mengeluh.


"Sudahlah Mi. Mungkin Kakak memang tidak mau menambah beban Kakak ipar."


Jinni hanya mampu mengangguk pasrah.


"Tapi Mi. Melihat Kakak seperti ini yang tak ingin membebani Kakak ipar, Nana rasa Kakak sangat menyayangi Kakak ipar."


"Maksudmu?"


"Kakak tidak ingin melihat Kakak ipar mempunyai beban lebih berat. Bukankah selama ini juga Kakak selalu mencoba membuat Kakak ipar nyaman saat tinggal di sini dan di sisi kakak."


"Ah, Iya. Mami rasa kamu benar Na." Jinni sudah tersenyum sumringah saat mampu mencerna semua ucapan Nana.


Mungkin memang cara Keenan saja yang berbeda menunjukkan kasih sayangnya pada orang yang menurutnya penting.


Jinni juga merasa satu bulan Keenan bersama Shiena, kini putranya itu sudah tak sering melamun seperti dulu.


"Kalau begitu, Mami menemani Shiena baca deh. Atau kalau nanti dia mau, Mami akan ajak Shiena untuk belanja buat besok." Jinni sudah menaiki tangga menuju perpustakaan rumahnya.


"Ishhh berisik kamu."


"Mami~" Nana sudah menyusul ibunya dan semakin merengek.


"Apa sih Nana."


Bibir putri bungsu Tanapon itu sudah mengerucut kesal. "Nana bakalan ngambek nih sama Mami kalau gak di ajak juga."


"Bodo amat."


Dan dasarnya Jinni yang memang suka sekali menggoda putrinya itu hanya menanggapi dengan enteng.


"Beneran loh ini Nana ngambeknya. Gak boongan." Nana sudah teriak di depan pintu perpustakaan saat Jinni sudah membukanya dan melenggang masuk.


"Mami gak perduli tuh."


"Ihhh... Mami kok ngeselin sih."


"Emang."


"Mami!" Nana sudah teriak jengkel dengan kelakuan ibunya yang wow ajaibnya itu.


"Gak usah teriak-teriak Nana. Ganggu Shiena baca kamu tuh!" Jinni sudah teriak ngomel-ngomel saat sudah berada di teras, di mana Shiena duduk.


"Salah siapa Mami nyebelin!" Nana yang memang marahnya hanya sebuah drama pun menyusul ibu serta kakak iparnya.


"Baru tau kamu kalau Mami nyebelin?"


"Ya Tuhan! Dosa apa Nana punya Mami kayak gini." Dasarnya Nana. Dia sudah mendrama ketika ibunya terus saja menggodanya. Sedangkan Shiena yang hanya menjadi penonton terkekeh geli dengan kelakuan sepasang ibu dan anak itu.


"Dosa kamu banyak Na. Apalagi sama Mami yang baik banget ini." Jinni sudah duduk nyaman di samping Shiena. Melihat-lihat buku yang sedang dibaca oleh menantunya itu.


"Idih... Baik dari mananya coba! Kayak gitu baik. Keliatan boong banget."


"Eh, kamu mah gak ngerti aja kalau Mami ini ibu terbaik yang pernah ada. Coba kamu tanyain sama kakak iparmu itu. Ya kan Shiena, Mami mah baik ya kan."


Shiena hanya mengulum senyum dan mengangguk mengiyakan.


"Kakak ipar jujur aja sama Nana. Gak usah takut kalau sama Mami, kak. Nanti kita di kubu yang sama buat nyerang Mami." Nana sudah mendekati Shiena. Menggamit lengan kakak iparnya.


"Bener kok Na. Mami itu baik banget." Bener kok Shiena tuh gak bohong cuma karena Jinni ada di sini. Tapi memang itu yang Shiena rasakan.


"Tuh kan! Apa Mami bilang. Mami itu baik Na. Kamunya aja yang emang gak bersyukur punya Mami baik kayak Mami." Jinni berseru bangga, menatap putrinya mencibir.


"Mami dipuji dikit aja udah gede kepalanya. Awas Mi, ntar nyusruk karena kegedean kepala." Nana sudah manyun-manyun sewot aja. Uhhh... Sedikit kesal sih kakak iparnya tidak mau ikut menjahili ibunya. Tapi tak apalah, Nana tetap sayang kakak iparnya yang imut.


Interaksi ketiga makhluk berbeda usia juga berbeda gender itu tak luput dari pandangan sepasang mata hitam sekelam malam. Sorot matanya yang tajam dan setenang air itu, kini menatap pemandangan di depannya memancarkan kehangatan di dalamnya. Sebuah gambaran kebahagiaan yang tak pernah dirinya perlihatkan pada siapapun. Termasuk ibunya.


^^^salam sayang,^^^


^^^lia_halmusd^^^