Shiena Story

Shiena Story
08. Sepasang Ibu dan anak.



"Pagi Tuan Keenan, Nona Shiena." Sapa paman Rayyan yang sudah menyambut mereka berdua di anak tangga bawah.


"Hm."


"Pagi juga Paman."


Ya, tentu kalian tahu, siapa yang akan menjawab seperti itu.


Seperti pagi-pagi sebelumnya. Rutinitas sarapan akan selalu hening begitu juga dengan makan malam ataupun makan siang.


Tetapi ngomong-ngomong. Selama mereka menikah, Shiena juga Keenan belum pernah makan siang bersama. Setiap harinya hanya sarapan juga makan malam saja. Setiap siang, mereka akan makan siang sendiri-sendiri.


"Selamat pagi!"


Sepasang suami istri itu menoleh kala mendengar suara yang begitu ceria menggema di rumah besarnya. Terlihat seorang gadis yang sangat cantik berlari dari pintu depan.


"Aku sangat merindukanmu." Gadis itu langsung berlari dan menerjang tubuh Keenan. Memeluknya erat dan mendaratkan beberapa ciuman di pipi.


"Lepas Nana."


"Gak mau... Aku kan rindu dengan kakak." Gadis cantik yang dipanggil Nana itu malah semakin memeluk Keenan dengan erat.


"Lepas Nana."


"Gak mau~"


Keenan hanya menghela nafasnya jengah dengan kelakuan Nana yang memang selalu seenaknya sendiri. Akhirnya Keenan membiarkan Nana terus memeluknya dengan dia yang melanjutkan makan.


Sedangkan Shiena, sudah memberengut kesal melihat pemandangan di hadapannya. Entahlah, rasanya Shiena tidak menyukai ada orang yang memeluk suaminya.


"Nana... Lepaskan Kakak. Dia kan sedang makan." Terdengar lagi suara lembut dari arah depan.


Mata kecoklatan itu semakin penasaran saat melihat wanita paruh baya yang terlihat cantik kini sudah berdiri di samping Keenan.


"Lepas Nana."


"Gak mau~ Aku kan kangen Kakak."


"Apa kau tak lihat Kakak sedang makan."


"Biarin."


"Lepas Nana."


"Aduh aduh aduh! Iya iya Mi. Ini aku lepas."


Akhirnya Nana melepaskan pelukannya pada Keenan setelah mendapat jeweran dari wanita paruh baya itu.


"Sakit Mi." Rengeknya.


"Makanya, kalau di bilangin itu nurut. Jangan ngeyel."


Nana yang mendapat omelan hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Sedangkan Shiena semakin bingung. Lain lagi dengan Keenan yang terlihat tenang-tenang saja sedari tadi.


"Eh, kau siapa?"


Wanita paruh baya itu heran saat mendapati Shiena yang masih menatap ketiganya.


"Saya Shiena Bi."


"Shiena?" Lalu wanita itu menoleh ke arah Keenan. "Istrimu?"


"Tidak usah sok tidak tahu."


Tatapan wanita itu kembali menatap Shiena, setelah mendelik kesal ke arah Keenan. Menatap Shiena seolah mengulitinya hidup-hidup. Meneliti seksama seolah siap menelannya.


"Ini adalah nyonya Jinni, ibunda dari Tuan Keenan." Jelas Paman Rayuan yang sontak membuat Shiena kaget.


"Dan ini adalah Nona Nana, adik Tuan Keenan." Semakin kaget saja Shiena mendengar penjelasan Paman Rayyan selanjutnya.


'Bukankah Keenan tidak memiliki adik?'


"Banyak yang tidak tahu jika Tuan Keenan memiliki seorang adik perempuan. Karena Tuan Keenan sendiri merahasiakannya." Paman Rayyan kembali menjelaskan, seolah mengetahui apa isi pikiran Shiena.


Shiena semakin heran saja. Apa semua orang yang berada di lingkungan sekitar Keenan memiliki kekuatan untuk membaca pikiran orang lain. Tanpa dirinya bertanya, mereka sudah bisa menjawabnya.


Hei Shiena. Sebenarnya, mereka tidak memiliki kekuatan membaca pikiran, tapi pertanyaannya terlihat jelas di wajahmu.


"Ha-hai Bibi."


Uh~ Bulu kuduk Shiena berdiri semua melihat tatapan Jinni.


"Bibi?" Suara Jinni mengejek saat menirukan panggilan Shiena padanya.


Menantu yang baru saja bertemu ibu mertuanya itu semakin terlihat gugup. Beberapa kali Shiena menelan ludahnya susah payah.


"Kakak." Jinni menoleh kearah putranya, yang hanya tentu saja di tanggapi~


"Hm."


~oleh Keenan.


"Masa dia memanggilku Bibi."


Gadis berstatus istri Keenan itu kembali terkejut saat mendengar rengekan dari Jinni, juga gelak tawa yang terdengar dari Nana.


"Hahaha... Kau memang pantas di panggil Bibi oleh menantumu sendiri Mi. Hahaha..." Nana semakin puas menertawakan ibunya yang kini sudah semakin cemberut.


Sedangkan Shiena menggaruk belakang kepalanya karena bingung dengan situasi yang tak biasa di rumah ini. Biasanya kan rumah ini hanya diisi oleh orang-orang yang minim ekspresi.


"Diam kau. Dasar anak durhaka." Jinni sudah melotot kesal ke arah Putrinya yang masih senang menertawakannya.


"Shiena... Aku ini ibu mertuamu, bukannya Bibimu." Jinni cemberut di akhir katanya. "Jadi, kau harus memanggilku Mami. Sama seperti Keenan juga Nana." Dan terlihat senyuman teduh di bibir Jinni yang ditujukan untuk Shiena.


Shiena hanya mengangguk, matanya masih menatap Jinni lekat-lekat.


"Kenapa kau hanya diam di situ. Apa kau tak ingin memeluk Mami?" Jinni merentangkan kedua tangannya, siap menyambut tubuh menantunya dalam pelukannya.


"Bo-bolehkah?"


"Tentu saja boleh sayang. Kemarilah, peluk Mami."


Hug.


Dalam sekejap setelah mendengar ucapan Jinni, Shiena langsung berdiri dan merangsek masuk dalam pelukan hangat Jinni yang khas dekapan seorang ibu. Ada rasa hangat yang kembali mengalir dalam relung hati Shiena.


"Maaf yah, Mami tidak datang saat acara pernikahan kalian." Jinni mengelus rambut Shiena lembut.


"Iya Mi. Gapapa." Shiena melepaskan pelukan dari Jinni. Menatap wanita paruh baya yang memiliki pelukan yang begitu hangat.


"Anak kurang ajar ini tidak memberitahu Mami kalau dia akan menikah." Jinni sudah menatap Keenan galak. "Jika bukan karena Paman Rayyan Memberitahu Mami, Mami tidak akan tahu kalau sekarang Mami memiliki menantu yang sangat cantik."


Pipi Shiena kembali bersemu merah saat mendengar penuturan Jinni.


Shiena malu.


"Sekarangkan Mami sudah tau." Keenan hanya menjawab enteng. Seolah itu adalah hal biasa saja.


"Oh Tuhan! Mami heran sama Kakak. Jadi orang kok irit banget bicara. Ngeselin lagi." Geram Jinni dengan putranya sendiri yang hanya dibalas acuh oleh Keenan.


"Mami kayak gak tau Kakak aja." Nana yang semula di samping Keenan kini sudah pindah ke samping Shiena. "Kakak ipar,  harus ekstra sabar ya ngadepin manusia tembok satu ini. Dia emang kayak gitu orangnya. Kakak ipar harus banyak-banyak sabar yah."


"Iya Nana."


"Selamat datang di keluarga Aydin sayang." Kembali Jinni membawa Shiena dalam pelukan hangatnya.


"Selamat datang di keluarga Aydin Kakak ipar." Nana tak mau kalah. Tubuh kecilnya ikut memeluk Shiena dari samping.


Ada rasa begitu hangat yang Shiena rasakan. Kebahagiaan yang begitu besar untuknya. Dia kira, ibu dari suaminya itu tak seramah ini. Dalam bayangannya, ibu dari Keenan itu dingin juga kejam seperti suaminya. Tapi ternyata semua persepsinya salah. Jinni begitu hangat padanya. Bahkan menerimanya dengan tangan terbuka.


Begitu juga dengan Nana, adik iparnya yang juga begitu baik padanya. Andai saja ayahnya juga Gina tak pernah membencinya, pasti kebahagiaannya akan begitu terasa sempurna.


Tapi tak apa, yang terpenting ibu mertua juga adik iparnya sangat baik. Begitu juga dengan Keenan.


"Terimakasih Mami, Nana."


"Sama-sama sayang/sama-sama Kakak ipar."


Kembali bibir plum itu tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman manis. Ada setitik air mata haru yang juga ikut terjatuh di pipi putihnya.


'Mama. Shiena sangat bahagia. Terimakasih Tuhan, kau mengirimkan orang-orang yang begitu baik padaku.'


^^^salam sayang,^^^


^^^lia_halmusd^^^