Shiena Story

Shiena Story
14. Tentang Papi.



"Saat itu aku ingin sekali meringankan beban Papi, tapi Papi bilang bahwa aku harus menjadi orang yang pandai dahulu sebelum membantu Papi."


"Dari saat itu aku giat belajar agar bisa segera lulus dan membantu Papi. Bisa meringankan beban Papi."


"Ketika usiaku enam belas tahun aku meminta ijin pada Papi untuk sekolah menengah di Jerman. Ingin meniti pendidikan di sana. Dan apa kau tahu?" Keenan menoleh ke arah Shiena. Tersenyum tipis. Sangat tipis.


'Oh Tuhan aku tidak mimpi? Aku bisa melihat senyumnya lagi.'


Shiena hanya menggeleng dengan raut masih mengagumi ketampanan suaminya kala tersenyum tipis.


Pandangan Keenan kembali ke depan.


"Papi mengijinkannya tanpa persyaratan apapun seperti biasanya jika kami menginginkan sesuatu. Aku sangat senang saat itu."


Mata sehitam malam itu seolah menerawang jauh ke masa lalunya lagi. Senyum tipisnya juga tak pernah hilang saat pemilik wajah datar itu terus mengenang sang Ayah. Meskipun tanpa dipungkiri, mata itu terlihat sendu dan redup.


"Aku belajar giat di sana. Siang dan malam aku tidak berhenti belajar agar bisa segera selesai di sekolah menengah."


Terdengar Keenan menghela nafasnya. Seperti nafas kelegaan.


"Aku bisa lulus hanya dengan dua tahun bersekolah."


"Apa kau loncat kelas?"


"Um... Saat aku duduk di kelas satu, aku langsung naik ke kelas tiga saat aku melewati ujian kenaikan kelas yang seharusnya untuk kelas dua, ternyata aku mengerjakan untuk kelas tiga."


"Papi, Mami, juga Nana sering datang ke Jerman untuk mengunjungiku karena aku memang jarang pulang. Hanya ketika peringatan meninggalnya nenek ataupun kakek aku baru pulang."


"S1 juga S2 ku juga aku tempuh di Jerman. Masih sama seperti sebelumnya. Keluarga kulah yang mengunjungiku di sana."


Hening.


Keenan mengambil buku favorit sang Ayah yang berada di genggaman Shiena. Di elusnya buku itu lembut.


"Saat aku sudah lulus S2, hari itu aku menunggu kedatangan keluargaku yang ingin menghadiri upacara wisuda. Tapi aku mendapat telepon dari Paman Max untuk segera pulang."


Tes.


Shiena kaget saat melihat satu tetes membasahi sampul buku itu.


'Dia menangis.'


"Dia. Idolaku. Panutanku. Ayahku. Terbaring kritis di kasur pesakitan rumah sakit."


Tes.


"Papi terkena gagal jantung. Fungsi kerja jantungnya menurun karena Papi terlalu bekerja keras hingga lupa dengan kesehatan dirinya sendiri."


Gadis imut itu sangat terkejut mendengar penuturan suaminya.


"Saat itu Papi harus menjalani cangkok jantung dengan keberhasilan yang kecil. Kami tetap melakukan operasinya. Berharap Papi bisa bertahan lebih lama lagi bersama kami."


Memberanikan dirinya. Shiena mengelus punggung Keenan lembut. Memberikan penenang pada sang suami melalui usapan lembutnya.


"Operasi itu berhasil dan Papi kembali berkumpul bersama kami lagi. Mulai saat itu aku memaksa Papi untuk tetap berada di rumah dan aku yang akan mengurus semua bisnisnya."


"Aku belajar dari nol dan Papi selalu mendukungku untuk bisa mengelola perusahaan dengan baik. Dia yang selalu mensuportku dan tanpa lelah mengajariku bersama paman Max juga."


"Satu bulan akhirnya aku bisa menangani semuanya tanpa bantuan Papi dan hanya bekerja dengan Paman Max. Papi lah orang pertama yang memberikanku pelukan karena aku sudah bisa menggantikan semua tanggung jawab Papi."


"Saat itu Papi bilang padaku. Yakinlah dengan keputusan yang kau ambil. Jangan pernah ragu, maka kau pasti akan berhasil."


"Ucapannya benar-benar tertanam di otakku. Aku pun melakukan semuanya seperti yang Papi bilang. Mantap dan tak pernah ragu dalam mengambil keputusan."


"Dua bulan~"


Liquid bening kembali turun di pipi tan milik Keenan.


"~dua bulan kemudian Papi kembali anfal. Tapi mungkin Tuhan berkehendak lain. Mungkin juga Tuhan lebih menyayangi Papi."


Shiena menarik Keenan ke dalam pelukannya. Sudah tahu dengan apa yang selanjutnya akan disampaikan suaminya. Menepuk halus bahu sang suami yang mulai bergetar.


Suaminya juga manusia yang punya hati, jadi Shiena mengerti jika kini Keenan nya membutuhkan sandaran. Dan Shiena sudah siap untuk itu.


"Tak apa. Menangislah jika kau ingin menangis."


"Dia meninggalkan aku di saat aku ingin mewujudkan semua impiannya. Dia mengingkari janjinya padaku Shiena. Papi bohong saat dia bilang akan selalu menemaniku hingga aku menikah dan punya anak. Papi membohongiku Shiena. Papi bohong."


"Tidak. Papi tidak berbohong padamu Ken. Papi selalu menemanimu dimanapun kau berada. Karena Papi ada di hatimu." Dengan kata lembutnya, Shiena mencoba menenangkan suaminya yang masih menangis tanpa suara.


Oh, itu sangat menyakitkan.


"Aku merindukannya."


"Aku tahu."


Shiena semakin merengkuh tubuh besar suaminya dalam pelukan. Menyalurkan rasa tenang untuk sang suami.


'Aku tak pernah tau, kau begitu sangat rapuh Ken. Pasti kau sangat menyayangi Papi. Kau pria yang beruntung karena hingga akhir hayatnya, Papi sangat menyayangimu. Sedangkan aku.'


Ada senyuman miris di bibir plum nyonya muda Aydin.


Beberapa saat mereka berdua hanya terdiam dengan Keenan masih berada di dalam pelukan istrinya.


Biarkanlah pria tangguh itu sesekali terlihat rapuh di hadapan sang istri. 


Biarkanlah istrinya mengetahui sisi yang lain dari seorang Keenan Athaya Aydin.


Biarkanlah pria datar itu menjadikan istrinya sebagai sandarannya disaat dirinya butuh.


Karena di saat sang penguasa Asia itu menunjukkan sikapnya, dia akan menjadi pria yang tangguh dan tak terkalahkan ataupun terbantahkan. Dia akan menjadi pria hebat dengan sejuta pesona diluar sana yang mampu membuat rekan bisnis maupun musuhnya bertekuk lutut padanya.


Kita boleh selalu terlihat kuat saat di pandang orang lain.


Kita boleh selalu baik-baik saja saat berhadapan dengan orang lain.


Kita boleh selalu terlihat tegar saat menghadapi apapun.


Tapi, di saat kita merasa lelah dan tak lagi sanggup untuk menanggung dan menjalaninya, kita bisa menumpahkan segalanya pada orang terkasih kita yang akan mau memberikan sandaran juga pelukan di saat kita membutuhkannya.


Jangan pernah malu dengan usia. Karena tidak bisa dipungkiri, kita pasti akan melewati dimana fase rapuh juga lemah akan menghampiri.


Seperti halnya Keenan yang kini sudah menemukan rumahnya untuk bersandar juga mengadu. Sudah ada rumah yang akan dengan senang hati menerimanya kala dirinya lelah.


Seperti halnya Keenan yang merasakan kenyamanan saat bersama sang istri. Gadis manis yang menyandang status istri Keenan Athaya Aydin itu juga merasakan nyaman kala berada didekat juga pelukan sang suami. Dirinya merasakan terlindungi juga diinginkan oleh suami juga keluarga Aydin.


Keenan melepaskan pelukan dari sang istri. Menatap lembut Shiena. Tangannya terulur mengelus pipi seutih susu yang terlihat chubby.


"Terimakasih." Lirihnya tulus. Tak lupa dengan senyuman tipis yang terbit manis di bibir tipis itu.


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu yang sudah mau menerimaku menjadi istrimu."


Tak ada jawaban. Hanya anggukan kepala juga senyuman meneduhkan yang diberikan sang suami pada istrinya.


'Tuhan Kali ini biarkanlah aku serakah. Aku tetap ingin berada di sisi pria di sampingku ini dan menikmati senyuman itu hanya untukku? Tolong, ijinkan aku bahagia untuk kali ini.'


Dengan sedikit malu, tubuh kecil itu merangsek masuk kedalam pelukan tubuh besar suaminya. Memeluk tubuh yang berstatus suaminya itu erat. Menyembunyikan wajahnya pada dada bidang yang berbau maskulin. Menghirup aromanya yang sangat dirinya sukai dalam-dalam.


Hatinya semakin menghangat kala pelukannya di balas oleh tangan kekar juga besar milik sang suami.


Di sore ini, Shiena sangat berterimakasih pada Tuhan telah memberikan kebahagiaan yang tiada tara untuknya. Memberikan suami yang ternyata begitu hangat di balik sikap dinginnya. Mendengarkan sang suami berbicara panjang lebar juga mau membagi cerita pada dirinya.


Biarkanlah momen manis ini disaksikan senja yang mulai menghilang juga sang sekertaris yang sedari tadi berada di samping pintu perpustakaan.


Sang sekretaris yang selalu setia berada di sisi sang atasan tanpa kenal lelah. Hubungan yang terlihat hanya sekedar atasan dan bawahan, tapi yang sebenarnya lebih dari kata saudara. Dia Mean Danendra Antares~


~sudah seperti bayangan untuk seorang Keenan Athaya Aydin. Bayangan yang akan mengerti apa kebutuhan dan apa yang diinginkan oleh tubuhnya yang nyata.


^^^...salam sayang,...^^^


^^^lia_halmusd^^^