
Tengah malam acara resepsi baru saja selesai digelar, dan kini Shiena sudah di dalam mobil milik suaminya menuju mansion barunya. Entah seperti apa mansion milik suaminya itu, mengingat dirinya adalah orang kaya juga terpandang. Juga, sekarang saja, mereka dikawal oleh dua mobil hitam berisi bodyguard di depan juga di belakang mobilnya.
Di dalam mobil hanya terjadi keheningan. Shiena yang terus menatap keluar jendela seolah pemandangan di luar lebih menarik daripada suami tampannya di sampingnya. Shiena terpikir oleh Ayahnya. Bahkan tadi saat dirinya berpamitan kepada pria paruh baya itupun, pria itu hanya menjawab seadanya. Bahkan saat Shiena memeluknya, tak ada sedikitpun elusan sayang yang dulu pernah diberikan untuknya. Apakah Ayahnya tidak sedih berpisah dengannya?
Ah, bodohnya Shiena. Tentu saja Ayahnya tak akan sedih berpisah dengannya.
Sedang kan Keenan yang berada di sampingnya sedari tadi asyik dengan tablet ditangannya mengecek semua email yang sudah di kirim Mean sekretaris pribadinya.
Shiena dibuat takjub dengan pemandangan di luar yang dapat dilihatnya dari jendela mobilnya. Di sepanjang pinggir jalannya ditumbuhi pohon pinang yang menjulang tinggi. Lampu-lampu yang berdiri kokoh dan sangat indah saat lampunya dinyalakan di malam hari. mansion-mansion yang megah juga berbaris di sepanjang jalan yang Shiena lewati. Dirinya yakin, ini adalah komplek pemansionan mewah yang dihuni oleh kalangan orang kaya.
Mobil hitam milik sang suami berhenti di depan sebuah gerbang berpagar hitam yang menjulang tinggi di hadapannya. Sang supir yang tak lain adalah Mean sang sekretaris pribadi Keenan memencet remot yang ada di dashboard mobil dan memencet tombolnya. Pagar tinggi itu terbuka, Mean langsung menjalankan kembali mobilnya menyusuri halaman mansion yang cukup jauh dari gerbang tadi. Sesampainya Shiena semakin dibuat menganga kala melihat mansion yang berada di hadapannya. mansion sang suami yang bak istana. Megah, mewah dan menjulang tinggi dengan arsitek eropa yang sangat indah.
Lampu-lampu yang menghiasi di sepanjang jalan di depannya. Dilengkapi dengan sinar bulan yang malam ini sangat terang semakin membuat mansion sang penguasa bisnis di Asia itu semakin memukau.
Mansion sang Ayah juga besar, tapi tidak semegah mansion suaminya.
"Masuk." Interupsi suara dingin membuyarkan kekaguman Shiena atas mansionnya.
Shiena menurut, mengikuti suami tampannya memasuki mansion yang langsung disambut beberapa maid juga seorang laki-laki setengah baya yang menyambutnya dengan membungkukkan sedikit badannya.
"Selamat datang Tuan Keenan, dan selamat datang Nona Shiena." Shiena balas memberi hormat dengan membungkukkan badannya. "Perkenalkan saya Rayyan kepala pelayan di sini. Jika anda perlu sesuatu bisa panggil saya ataupun maid yang lainnya." Sambung laki-laki bernama Rayyan itu.
"Ah ya. Salam kenal Paman Rayyan. Maaf jika nanti aku akan merepotkan paman." Sahut Shiena ramah, jangan lupakan senyuman manis dirinya umbar yang mampu membuat semua pelayan juga bodyguard yang ada di mansion itu terpana dengan kecantikan Nona mereka.
"Oh iya Paman, panggil Shiena saja." Imbuhnya
"Saya tidak pantas memanggil hanya dengan nama saja Nona."
"Tak apa. Ini permintaanku."
"Maafkan saya Nona."
"Hahhh... Baiklah baiklah, terserah Paman saja."
Setelahnya Shiena masuk mengikuti suaminya lagi.
Lagi.
Mulut mungil itu terpana melihat ruang tamu yang begitu megah di hadapannya.
Shiena dibuat terkagum-kagum dengan interior ruang tamu itu. Sangat elegan dan klasik. Shiena jadi bertanya-tanya seberapa kayanya kah suaminya ini.
"Apa kau masih ingin berdiri di situ?"
Lagi.
Suara sang suami membuyarkan keterkaguman Shiena.
Shiena mengikuti suaminya menaiki tangga ganda yang berakhir terhubung dengan lantai dua yang berada di tengah ruangan.
Keenan berjalan menyusuri lorong lantai dua yang di sisi kanan dan kirinya ada beberapa pintu. Shiena mengira itu adalah kamar.
Saat sampai di pintu ganda paling ujung Keenan berhenti dan membukanya. Seketika mata indah Shiena kembali di manjakan dengan interior yang kini terlihat modern tapi sangat elegan. Sangat cocok dengan kepribadian sang pemilik kamar yang irit bicara dan dingin.
"Kau mandilah terlebih dahulu, semua pakaianmu ada di walk-in closet. Aku akan ke ruang kerjaku dulu." Setelah mengatakannya Keenan keluar kamar lagi dan menutup kembali kamar mereka, menyisakan Shiena yang melihat-lihat isi kamar sang suami. Selera suaminya memang tidak receh, ini sangat elegan dan simple.
Setelah beberapa saat Shiena memutuskan untuk mandi, rasanya badannya sungguh lengket karena seharian menyambut para tamu. Dibukanya pintu yang diri yakini adalah kamar mandi.
Sangat luas dan juga jangan lupakan kesan elegan serta kemewahan yang melekat di dalam ruang pribadi itu.
Dengan segera Shiena melepaskan setelan jas yang melekat pada tubuhnya dan segera berendam ke dalam bathtub yang tadi sudah diisi dengan air hangat juga aroma bunga lavender.
"Ah.... Nyaman sekali."
Shiena menikmati waktunya berendam, memanjakan tubuhnya dengan air hangat. Rasanya semua otot-otot yang sedari tegang kini sudah mulai mengendur. Nikmat sekali. Rasa capeknya seakan menguap bersamaan dengan uap air hangat yang menguap.
Setelah dirasa cukup, Shiena bangkit dan membilas tubuhnya di bawah shower. Membersihkan dirinya lalu mengambil handuk dan melilitkannya di pinggang. Membuka salah satu pintu yang mungkin terhubung ke walk-in closet.
Dan benar saja, di balik pintu putih itu sudah berjejer rapi jas juga baju dan dress milik dirinya juga sang suami. Ada tas kantor, tas wanita bermerk, sepatu, topi, dasi juga jangan lupakan jam tangan mahal dengan berbagai merk memenuhi meja kaca di tengah ruangannya.
Shiena mengambil baju tidur berwarna navy, berbahan satin dan memakainya. Setelah keluar Shiena melihat suaminya sudah berada dalam kamar mereka.
"Apa kau mau mandi? Biar ku siapkan." Shiena membuka percakapan terlebih dahulu karena sedari tadi suaminya itu hanya diam.
"Ya."
Satu jawaban singkat jelas padat yang membuat Shiena langsung kembali ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk suaminya. Tak lupa baju tidur yang dirinya siapkan di sofa walk-in closet.
"Semuanya sudah siap."
Setelah mendengar suara Shiena, Keenan segera memasuki kamar mandi guna membersihkan badannya dari keringat seharian ini. Ah... Dirinya juga sangat lelah.
"Tidurlah lebih dulu." Kata suara datar sebelum tubuh tegap itu hilang di balik pintu kamar mandi.
"Baiklah, aku juga sangat lelah." Shiena merebahkan dirinya di kasur empuk di kamar itu. Mengistirahatkan tubuh lelahnya untuk segera memasuki alam mimpi. "Selamat malam." Lirih Shiena menatap pintu kamar mandi yang tertutup sebelum bola mata indah itu tertutupi oleh kelopak mata seputih susu.
Dan malam pengantin yang seharusnya dihabiskan dengan adegan panas, kini keduanya terlelap dengan mimpi masing-masing. Istirahat sejenak untuk siap menyambut hari esok yang akan datang.
^^^^^^salam sayang,^^^^^^
^^^lia_halmussd.^^^