Shiena Story

Shiena Story
03. Pagi yang berbeda



Pagi hari yang cerah dengan sang mentari yang menyambut hangat penghuni mansion keluarga Aydin. Shiena yang sudah sedari pagi bangun sudah ikut berkutat dengan berbagai peralatan dapur yang sudah dirinya hafal. Koki di rumah itu sudah melarangnya untuk tidak memasak, bahkan paman Rayyan juga sudah melarangnya. Tetapi dasarnya Shiena yang bebal tidak mau dengar, jadi tetap ingin memasak. Katanya_


"Biarkan aku memasak untuk suamiku."


Lalu bisa apa mereka selain mengijinkan nyonya dari mansion itu berperang dengan alat dapur.


"Sudah waktunya Tuan Keenan bangun Nona." Paman Rayyan menginterupsi Shiena yang tadi memang meminta untuk memberitahu dia jika sudah waktunya suaminya bangun.


"Baiklah, terima kasih Paman. Oh, dan tolong letakkan ini di meja makan."


"Baik Nona."


Shiena segera bergegas menuju kamarnya, memastikan apakah suaminya itu sudah siap atau belum. Tadi sebelum ke bawah Shiena sudah menyiapkan pakaian untuk suaminya. Jadi sekarang hanya memastikan saja, apakah suami datarnya itu sudah bangun apa belum. Yah, walaupun dirinya menikah karena dijodohkan dan karena ter-pak-sa, tapi gadis itu tetap ingin menjalankan tugasnya dengan baik. Paling tidak dirinya ingin menjadi istri berbakti. Begitu katanya.


Saat Shiena sampai di kamar, dia melihat suaminya ternyata sudah sangat rapi dengan setelan jas yang tadi dia siapkan begitu apik melekat di tubuhnya.


"Kau sudah bangun." Hanya kata basa-basi yang sebenarnya Shiena pun sudah tau jawabannya.


"Um."


Lagi.


Hanya sebuah gumaman yang Shiena dengar.


"Bicaranya irit banget. Apa akan merusak tenggorokannya kalau banyak bicara. Dasar tembok." Gerutunya dalam hati kesal, tapi bibir plum itu melengkung indah menutupi rasa kesal pada suaminya.


"Ayo turun, aku sudah masak untumu."


"Kenapa kau yang masak? Apa koki di rumah ini tak bisa masak." Nada datar juga raut wajah tanpa ekspresi itu berkata dengan dingin.


"Bisa... Tapi aku ingin saja menyiapkan sarapan untukmu."


"Kau mau kemana sudah rapi?" Keenan ya tetap Keenan. Walaupun benaknya ingin tahu, tetapi tetap saja nada dingin yang keluar dari bibir tipis itu.


Tubuh tinggi dan tegapnya melangkah keluar dari kamar diikuti sang istri menuju lantai satu di mana ruang makan berada.


"Aku ingin melamar pekerjaan."


"Kenapa kau mau bekerja? Apa kau membutuhkan uang?" Keenan mendudukkan dirinya di kursi ujung. "Ini."


"Apa ini?"


"Kartu kredit untukmu."


"Iya aku tau ini kartu kredit. Tapi untuk apa?" Shiena bertanya heran. Pasalnya kartu yang di sodorkan oleh suaminya ini black card.


*//Lia nangis di pojokan.*


"Untuk memenuhi semua kebutuhanmu. Jadi kau tak usah bekerja." 


"Aku tidak butuh ini. Aku bekerja karena aku ingin mengembangkan karirku." Shiena menyodorkan kembali black card milik suaminya lagi. "Aku masih punya uang hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhanku."


Keenan menatap istrinya tajam, tanda jika dirinya tidak ingin di bantah. Dan itu sukses membuat Shiena mengerti.


"Baiklah akan aku terima. Terimakasih."


Keenan hanya diam tak berminat menanggapi ucapan terimakasih dari istrinya.


"Tapi... Bolehkan aku bekerja ?"


"Asal kau berangkat setelah aku berangkat bekerja dan juga kau bisa pulang sebelum aku pulang bekerja."


"Ahhh baiklah. Terimakasih." Shiena merasa senang saat suaminya mengijinkannya untuk bekerja.


"Semua sudah siap Tuan." Mean datang dari arah luar. Memberi hormat untuk kedua majikannya.


"Hm. Bagaimana dengan hal yang aku minta kemarin."


"Sudah siap Tuan. Dia sudah menunggu di luar."


"Jika sudah selesai sarapanmu, keluar." Keenan beranjak dari kursinya. Melangkah keluar dengan kakinya yang panjang.


"Hah... Gimana tadi maksudnya?" Shiena heran, tak mengerti dengan ucapan suaminya.


"Jika anda sudah selesai sarapannya, Tuan Keenan menunggu anda di luar Nona." Mean menjelaskan saat melihat raut bingung dari istri Tuannya.


"Ada apa memangnya?"


"Saya tidak berhak menjelaskannya. Biarkan Tuan Keenan yang menjelaskannya."


"Heii Mean. Kalau bicara padaku tidak usah formal bisa tidak sih? Sangat mengganggu."


"Maaf Nona, tapi anda adalah istri Tuan saya."


"Kalau begitu turuti perintahku."


"Maaf Nona, tapi saya hanya akan menurut dengan perintah Tuan Keenan saja."


"Kau menyebalkan sekali." Shiena sudah mempoutkan bibirnya kesal mendengar jawaban yang Mean berikan.


"Saya undur diri dulu Nona." Mean pergi meninggalkan Shiena yang masih menghabiskan makannya dengan mulut yang terus menggerutu kesal.


"Dasar Tuan dan anak buahnya sama saja. Tidak bisa apa bicara yang biasa saja padaku. Ahhh... Aku seperti berada di tengah-tengah perkumpulan robot." Shiena menyandarkan punggungnya di kursi. Rasanya sangat kesal pagi ini.


"Nona Shiena, anda sudah ditunggu Tuan Keenan di luar." Paman Rayyan menginterupsi Shiena yang masih saja manyun-manyun tidak jelas.


Setelah menegak habis minumannya, Shiena menyambar ransel yang tergeletak di sampingnya. Mengendongnya dan siap pergi ke perusahaan yang akan mewawancarai dirinya.


"Ada apa?" Shiena bertanya setelah sampai di hadapan Keenan yang berdiri di samping mobilnya.


"Mean." Bukannya menjawab, Keenan malah memanggil asisten dinginnya yang sebelas dua belas dengan dirinya.


"Kemanapun anda pergi, anda akan diantar jemput oleh Mike, Nona." Mean menjelaskan maksudnya.


"Tadi saja tidak mau memberitahuku. Sekarang kau juga kan yang ngasih tau. Dasar." Gerutungmya dalam hati.


"Hallo Nona Shiena. Saya Mike yang akan mengantar anda kemanapun anda pergi." Seorang pemuda berperawakan sedang dengan senyuman manis di bibirnya.


"Hai Mike. Aku Shiena." Setelah berkenalan secukupnya, Shiena mengalihkan pandangannya pada suami datarnya. 


"Jika kau menolak, maka tak ada kata bekerja. Kau bisa di rumah saja dan menungguku pulang." Seru Keenan yang mengerti jika Shiena akan protes padanya.


"Baiklah baiklah. Aku tak akan menolak." Pasrah Shiena cemberut.


Setelah memastikan Shiena mau menerima semua peraturan yang di berikannya, Keenan memasuki mobilnya yang di susul oleh Mean.


"Hahh..." Shiena menghela nafasnya kala mobil suaminya keluar pekarangan rumahnya diikuti dua mobil hitam yang selalu mengawal sang Tuan.


"Kita akan kemana Nona?"


Shiena menoleh ke arah Mike, supir barunya.


"Ke perusahaan Dominic Architects yah."


"Baik Nona."


Sudah lama kau bekerja dengan Keenan?" Shiena membuka suaranya di tengah perjalanan mereka.


"Sudah sekitar tiga tahun Nona. Tapi baru hari ini bekerja di rumah utama."


"Memangnya sebelumnya kau bekerja dimana?"


"Di perusahaan Tuan Keenan, Nona."


"Ohhh... Kau juga menjadi supir di sana ?"


"Tidak. Saya menjadi manager di sana."


"Hah! Kau menjadi manager di perusahaan Keenan?" Shiena memajukan tubuhnya mendekati Mike. Memastikan apa yang di dengarnya ini benar adanya.


"Iya Nona."


"Kau menjadi manager di perusahaan besar, dan malah kau sekarang hanya menjadi supir pribadiku saja?"


Mike terkekeh melihat raut wajah Shiena yang kentara sangat terkejut. "Ya Nona."


"Kau waras Mike?"


"Saya sangat waras Nona."


"Jika kau waras, kau tak akan memilih menjadi supirku." Seru Shiena gemas.


"Menjadi supir pribadi anda dan mengawal anda kemanapun merupakan kehormatan bagi saya Nona. Bekerja di rumah utama juga impian setiap petinggi di perusahaan."


Penjelasan Mike membuat Shiena semakin menganga tak percaya juga merasa heran. 


"Masa bekerja di rumah utama si tembok lebih terhormat dan menguntungkan dari pada jabatan di perusahaan. Mereka waras?" Shiena menggerutu dalam hatinya.


"Kenapa bisa begitu?" Dan, hanya kata itulah yang keluar dari bibir plum istri penguasa Asia itu terucap.


"Selain bekerja di rumah utama memiliki gaji tiga kali lipat daripada di perusahaan, juga bekerja di rumah utama dan melindungi setiap penghuninya adalah suatu kehormatan dan kebanggaan bagi kami Nona. Tuan Keenan adalah pahlawan bagi kami orang-orang yang memang membutuhkannya."


Shiena mendengarkan semua penuturan Mike dengan khusuk. Tak ingin melewatkan secuil apapun informasi tentang suaminya.


"Salah satunya saya. Saya dan keluarga sudah turun temurun mengabdi pada keluarga  Aydin. Dulu ketika kakek saya kesulitan hanya untuk bertahan hidup, mendiang kakek dari Tuan Keenan menolong kakek dan seluruh keluarga dengan memberikan kehidupan baru bagi kami. Bahkan, beliau juga membantu orang-orang yang memang membutuhkannya."


"Berarti mendiang kakeknya Keenan orang baik dong. Tapi kenapa Keenan dingin dan lempeng kayak tembok ya." Shiena terus menggumam dalam hatinya.


"Banyak yang telah di bantu oleh keluarga Aydin hingga kami memiliki kehidupan yang lebih baik. Maka dari itu, bekerja langsung di rumah utama adalah suatu kehormatan bagi kami."


"Sekalipun hanya sopir?"


"Ya Nona. Saya sangat terhormat bisa menjadi supir pribadi istri Tuan Keenan. Dan itu adalah anda Nona Shiena."


Shiena hanya diam, mencerna tentang yang dibicarakan Mike. Sungguh, Shiena belum mengerti dengan sifat juga silsilah keluarga suaminya itu. Bahkan katanya suaminya itu masih memiliki seorang ibu. Tapi, di hari pernikahannya tadi malam, dirinya tak melihat sosok yang di panggil ibu oleh Keenan. Bahkan saat sampai di rumahnya, Shiena tak mengetahui dimana keberadaan ibu mertuanya itu.


"Kita sudah sampai Nona." Ucapan Mike membuyarkan lamunan Shiena tentang keluarga suaminya.


"Aku mungkin hanya sebentar wawancaranya. Oh iya... Kau jangan memanggilku Nona. Shiena saja."


"Maaf Nona. Saya tidak berani."


"Hah... Baiklah, aku masuk dulu " Shiena memilih segera keluar dan melakukan wawancara. Rasanya percuma berdebat karena hasilnya akan sama. Mereka akan menolaknya.


^^^Salam sayang,^^^


^^^lia_halmusd^^^