Shiena Story

Shiena Story
06. Rumah dan Papa



"Sebelum pulang, kita ke rumahku dulu ya Mike." Shiena berucap setelah memasuki mobil yang Mike kendarai.


"Apa sudah ijin Tuan Keenan dulu Nona?" Mike hanya ingin memastikan saja sih. Dia kan sangat tahu tabiat bosnya.


"Sudah. Kau tenang saja."


"Baik Nona."


Selama beberapa menit akhirnya Shiena sampai di rumah sang Ayah. Sudah sekitar empat harian Shiena tidak memasuki rumah besar


Ayahnya.


"Selamat datang Nona Shiena."


"Dimana Bibi Sherly?"


"Ada di dapur sedang memasak untuk makan malam Nona."


"Ah, baiklah. Terimakasih."


Setelah mengetahui di mana pengasuhnya, Shiena menuju dapur.


"Selamat malam Bibi." Shiena langsung memeluk wanita paruh baya yang sangat dirinya sayangi itu dari belakang. Oh sungguh, Shiena sangat merindukan pengasuhnya itu.


"Shiena!" Jelas sekali jika Sherly itu terkejut saat mendapati anak asuhnya berada di sini. "Kapan datang?"


"Baru saja Bibi. Aku sangat merindukan Bibi." Shiena memeluk erat Sherly. 


"Bibi juga sangat merindukan Shiena." Bibi Sherly balas memeluk Shiena tak kalah eratnya. "Apa kabarmu nak? Kau sehat kan?"


"Um.. aku sangat sehat Bi."


"Kau darimana? Kok pakaianmu seperti ini?"


"Aku baru pulang bekerja Bi." Bibir Shiena tersenyum lebar. Perasaan bahagia bisa bekerja di bidang yang dia inginkan tak bisa Shiena sembunyikan.


"Bekerja?"


"Iya. Aku sekarang bekerja di perusahaan impianku Bi. Dan aku akan menjadi seorang arsitek nantinya." Shiena bercerita dengan badannya yang masih nyaman memeluk pengasuhnya.


"Ohh... Benarkah. Bibi ikut senang mendengarnya nak."


"Apa Tuan Keenan memperlakukanmu dengan baik nak?" Bibi Sherly membelai pipi chubby anak asuhnya sayang.


"Iya. Bibi tenang saja. Keenan memperlakukanku dengan baik Bi."


"Syukurlah. Bibi takut jika kau tidak bahagia di sana."


"Hei!" Shiena melepaskan pelukannya dan menatap Bibi Sherly. "Aku bahagia di sana Bi. Bahkan Keenan memanjakan aku. Tapi, ya begitulah. Aku sampai tidak boleh memasak." Keluhnya. Padahal memasak salah satu hobinya. Karena di saat Ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaan juga adiknya, Shiena akan selalu bermanja ria dengan pengasuhnya memasak di dapur.


"Oh benarkah? Dan apakah Nona yang sangat keras kepala ini menurutinya?"


Shiena mengerucutkan bibirnya kala mendengar Sherly menggodanya. "Tentu saja aku menurut."


"Ah... Bibi tak percaya."


"Ishhh... Bibi...." Shiena sudah semakin merengek mendengar Sherly menggodanya.


Sherly terkekeh dan membawa Shiena kembali dalam dekapan hangatnya. "Iya, Bibi percaya. Putri Bibi ini akan menjadi seorang yang penurut. Semoga kau selalu bahagia nak." Tangan hangat yang selalu membelainya itu mengelus punggung Shiena sayang. Dirinya berharap, semoga Shiena mendapatkan kebahagiaan dengan suaminya.


"Sudah cukup kau selalu menangis di rumah ini nak. Semoga kau bisa bahagia hidup dengan Tuan Keenan."


"Bibi..." Shiena melepaskan pelukannya. "Dimana Papa?"


"Tuan Giovano ada di ruang kerjanya. Apa kau belum menemuinya?"


Shiena menggeleng. "Belum."


"Ya sudah sana temui papamu dulu. Bibi akan selesaikan memasak."


"Siap!"


Sherly hanya terkekeh melihat kelakuan anak asuhnya yang masih akan menjadi kekanakan bila bersamanya. Di matanya, Shiena tidak pernah berubah. Masih seorang pria yang manis juga penurut.


"Papa... Aku datang." Shiena yang memang ingin menemui ayahnya langsung masuk ke ruang kerja sang ayah.


"Oh, kau. Apa kau kesini bersama Tuan Keenan?"


"Tidak Pa. Aku sendiri."


"Oh."


Shiena merasakan hatinya berdenyut nyeri kala mendengar tanggapan Ayahnya. Bahkan tak ada pelukan atau sapaan sayang yang diberikan Ayahnya seperti yang diberikan pengasuhnya tadi.


Shiena tahu, jika Ayahnya memanglah membenci dirinya. Tapi, apakah setelah melihat anaknya menikah dan beberapa hari tidak bertemu tidak membuatnya rindu?


"Ah Shiena. Betapa bodohnya dirimu mengharapkan jika Papa akan sama merindukanmu juga." Monolog Shiena dalam hati.


Tangan seputih susu itu sudah menghapus bulir bening yang dengan lancangnya menetes di kedua pipinya.


"Tuan Giovano makan malam sudah siap." Bibi Sherly datang menginterupsi sepasang ayah dan anak yang hanya diam dengan aktivitasnya masing-masing.


"Oh, baiklah."


"Biar saya panggilkan Nona Gina dulu."


"Tidak usah, biar aku saja yang panggil."


"Baik Tuan. Saya permisi."


"Tidak Pa. Keenan sudah menungguku di rumah. Aku akan makan malam di rumah saja."


"Ya baiklah." Setelahnya Giovano benar-benar pergi meninggalkan Shiena yang tersenyum miris di ruang kerjanya.


Dengan hati yang sesak dan sakit, Shiena melangkahkan kakinya pergi dari rumah Ayahnya. Seharusnya, Shiena sudah terbiasa dengan perlakuan sang Ayah. Tetapi kenapa ini masih sangat menyakitkan. Dirinya juga ingin di sayang dan di peluk erat oleh Ayahnya seperti dulu lagi. Juga bisa bermain bersama dan bercanda dengan adiknya lagi.


"Shiena."


Shiena berhenti di teras rumahnya kala mendengar suara lembut yang memanggilnya.


"Ya Bibi." Shiena mencoba tetap tersenyum meski malah terlihat meyedihkan.


Sherly hanya merentangkan kedua tangannya. Dan Shiena yang mengerti langsung menghambur dalam pelukan pengasuhnya.


"Menangislah sayang, menangislah."


Shiena benar-benar menangis dalam dekapan Sherly. Dari dulu hingga sekarang hanya pelukan Sherly yang selalu memenangkannya. Sejak kematian ibunya, tak ada lagi dekapan hangat Ayahnya maupun adiknya. Kenapa Shiena yang disalahkan atas meninggalnya sang Ibu. Jika ditanya pun, Shiena tak ingin Ibunya meninggal.


"Terimakasih Bibi." Shiena melepaskan pelukan hangat Sherly setelah merasa lebih baik. "Aku akan pulang. Keenan pasti sudah menungguku."


"Baiklah. Hati-hati di jalan nak."


"Iya Bibi."


Setelah menghapus sisa air mata di kedua pipinya, Shiena langsung memasuki mobil yang sudah terparkir di depan rumah sedari tadi.


Selama perjalanan kembali ke rumah suaminya, Shiena hanya diam. Matanya terus menatap keluar jendela mobil. Menatap jalanan kota yang terlihat ramai di malam hari.


"Bodoh. Seharusnya kau sudah menduga hal ini Shiena. Lalu kenapa kau masih saja menangis."


Air mata Shiena kembali menetes di kedua pipi putihnya.


"Kita sudah sampai Tuan." Suara Mike membuyarkan lamunan Shiena.


"Oh ya. Terimakasih Mike." Setelah mengatakan itu, Shiena bergegas masuk dan langsung menuju kamarnya. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum suaminya pulang.


...oOo...


Selama makan malam, Keenan dibuat heran saat melihat istrinya terus murung. Bahkan makanannya hanya diaduk sedari tadi. Walaupun Keenan terlihat cuek, tapi dia juga bisa merasakan perubahan istrinya malam ini. Bahkan setelah makan malam selesai, Shiena langsung menuju kamarnya.


"Mean, suruh Mike ke ruang kerjaku."


"Baik Tuan."


...oOo...


Tok tok tok.


"Masuk."


Setelah terdengar sahutan dari dalam, Mike memasuki ruang kerja atasannya.


"Apa anda memanggil saya Tuan?"


"Ya. Ceritakan apa yang terjadi dengan Shiena hari ini."


Tanpa menunggu perintah dua kali, Mike menceritakan kejadian dari kantor hingga rumah Giovano. Semua diceritakan oleh Mike tanpa tertinggal sedikitpun.


"Jadi, Shiena menangis karena Ayahnya?"


"Iya Tuan."


"Baiklah. Kau boleh keluar."


Mike keluar setelah dipersilahkan oleh Keenan. Dan tak lama setelah Mike keluar, Keenan juga keluar menuju kamarnya yang ada di samping ruang kerjanya itu.


Saat memasuki kamar, tak ada cahaya sama sekali. Hanya ada sedikit cahaya dari lampu tidur. Keenan berjalan mendekati ranjang dan menaikinya perlahan.


"Kemari."


Shiena berjengit kaget saat mendengar suara bass suaminya.


"Kemari." Keenan kembali berbicara. Dirinya tahu jika Shiena sedari tadi masih belum tidur.


Dengan rasa sedikit takut Shiena menoleh ke arah suaminya. Dirinya mendapati Keenan menatapnya dalam. Dengan raut wajah dinginnya tentunya.


"Kemari." Itu ucapan datar Keenan yang ketiga kalinya. Tapi kali ini dengan tangan yang mengisyaratkan untuk mendekat.


Dengan hati-hati Shiena mendekat ke suaminya. Shiena sedikit takut jika suaminya akan berbuat macam-macam pada dirinya. Tapi-


"Menangislah jika masih terasa sakit." 


-sebuah dekapan hangat yang Shiena terima. Bahkan tangan besar suaminya juga mengelus punggung dirinya dengan lembut.


Shiena yang diperlakukan dengan hangat dan halus kembali menangis. Sejujurnya sedari tadi hatinya masih terasa sakit karena perlakuan sang Ayah. Ingin Shiena tidak menangis dan menjadi kuat. Tapi, semuanya terasa menyakitkan untuknya. 


Biarlah Shiena menjadi lemah kali ini. 


Biarlah Shiena menangis sepuasnya dalam pelukan hangat suaminya malam ini.


Biarlah Shiena meluapkan semua rasa sakitnya malam ini, berharap besok dirinya akan kembali membaik seperti sebelumnya.


"Terimakasih sudah ada untukku, bahkan memberikan sandaran padaku Ken." Ucap Shiena dalam hati.


^^^salam sayang,^^^


^^^lia_halmusd^^^