Shiena Story

Shiena Story
05. Hm.



Pagi ini kayak pagi sebelumnya buat Shiena. Bangun pagi buta, nyiapin perlengkapan suaminya buat ke kantor. Tapi pagi ini dia gak masak. Kasian ama Ping si koki kalau sampai kehilangan pekerjaannya cuma karena dia masak. Jadi... Sekarang Shiena lagi duduk manis di sofa kamarnya sambil nunggu suami datarnya selesai mandi plus berpakaian.


"Bosen banget elah." Sudah keberapa kali aja itu Shiena ngeluh bosen.


"Kenapa?"


Shiena berjengit kaget pas denger suara bass yang sudah dirinya kenal banget.


"Kalau ditanya, jawab."


Aduh bener kan, itu suami datarnya.


"Duh.. dengar gak ya tadi aku ngomong."


"I-itu..."


"Jawab yang benar."


"Bosen." Cicit Shiena agak takut.


"Ayo ikut."


Keenan sudah jalan keluar, gak tau kemana. Tapi Shiena ikut saja. Kan tadi sudah di suruh ikut.


Ketika sampai di pintu ketiga sebelah kiri dari kamarnya, Keenan berhenti lalu membuka pintu ruangan itu. Seketika Shiena melongo melihatnya. Tepatnya gak percaya sih dengan apa yang dirinya lihat sekarang.


Satu ruangan yang full dengan buku di dalamnya. Ada ratusan, oh tidak. Mungkin ada ribuan buku tertata rapi di sana. Oh, ini sungguh surganya buku.


Tanpa sadar, mulut Shiena menganga lebar dengan mata berbinar saat melihat ruangan ini. Ah... Sepertinya, Shiena menemukan satu kesenangan baru di rumah ini. Yaitu membaca buku-buku yang ada di sini.


"Kau boleh membaca jika kau senggang."


Shiena menoleh ke belakang saat mendengar suara suaminya.


Ah... Iya. Dirinya lupa, jika tadi kesini bersama suami datarnya.


"Boleh?"


Oh, pertanyaan bodoh apa itu Shiena. Jika tak boleh mana mungkin suami datarmu itu memperlihatkan perpustakaan pribadinya.


"Hm."


Yah... Apa yang akan Shiena harapkan dengan jawaban suaminya itu selain 'hm'. Shiena rasanya sangat benci dengan kata 'hm' sekarang.


"Ayo turun."


Dengan berat hati meninggalkan area yang akan menjadi favoritnya. Shiena mengikuti suaminya yang sudah berjalan ke lantai satu.


Seperti biasa pula, sarapan kali ini juga hening. Tak ada percakapan sama sekali. Selain suaminya itu irit bicara, juga memang Keenan tak menyukai jika di meja makan berbicara.


"Mm Ken.."


"Hm."


"Nanti sepulang bekerja, apa aku boleh mampir ke rumah Papa?" Shiena agak takut sih sebenernya pas mau minta ijin. Takut suaminya tak mengizinkan.


"Selama kau pulangnya tak melebihi jam yang sudah aku tetapkan, silahkan."


Seketika senyum Shiena langsung mengembang. Ah... Sepertinya, suami datarnya ini tidak terlalu kejam.


"Terimakasih Ken." Entah reflek entah tak sengaja, Shiena memegang tangan Keenan yang ada di atas meja.


Bukan hanya Shiena yang terkejut dengan yang dilakukannya, tapi Keenan juga. Hanya saja, raut terkejutnya tidak terlihat karena ekspresinya yang selalu terlihat datar.


"Ah, maaf." Shiena merasa kikuk. Ini interaksi keduanya yang melibatkan sentuhan. 


Hei selama mereka menikah memang belum ada interaksi sentuhan yang intim. Kecuali saat pemberkatan juga resepsi ya. Itu tidak bisa dihitung.


"Hm. Mean, ayo kita berangkat." Keenan langsung berdiri bersama Mean keluar rumah. Tentunya Shiena ikut mengantarkan suaminya untuk berangkat bekerja. Toh dirinya juga akan segera berangkat bekerja juga.


"Hati-hati di jalan Ken." Shiena melepaskan suaminya untuk pergi bekerja.


"Hm."


Dan mobil Keenan sudah keluar dari rumah besarnya, yang lebih tepat disebut istana. Dan Shiena hanya menatap mobil suaminya miris.


"Ah... Mari kita mulai hari ini dengan tersenyum. Jangan ingat manusia tembok itu. Fighting!" Shiena mencoba untuk semangat. Lupakanlah suami temboknya itu. Hari ini dirinya akan bekerja untuk pertama kalinya.


"Ayo Mike kita berangkat." Tanpa menunggu Mike menyahut pun Shiena sudah masuk ke mobilnya.


Sepanjang perjalanan diisi dengan perbincangan antara majikan juga sopirnya itu. Yah, walaupun tidak terlalu penting membahas apa. Tapi Shiena yang memang suka bicara ya semua dirinya bicarakan.


Ah... Jadi terkesan awkward gak sih. Shiena yang banyak bicara, menikah dengan Keenan yang notabennya malas bicara. Jadi seperti, siang dan malam yang tak akan pernah bisa nyambung.


...oOo...


"Pagi semua!"


"Pagi Bu!"


"Perkenalkan, ini Shiena Aurel Azhary. Karyawan baru yang akan membantu kita mendesain. Silahkan Shiena, perkenalkan dirimu." Ucap seorang perempuan kepala perancang yang usianya sekitar tiga puluhan tahun. Masih terlihat cantik, elegan, juga terkesan tegas.


"Halo semua... Perkenalkan, aku Shiena Aurel Azhary. Panggil saja Shiena. Mohon kerjasamanya semuanya." Setelah memperkenalkan dirinya Shiena membungkukkan badannya sedikit.


"Ya. Selamat datang Shiena."


"Mejamu di sana, di samping meja Sammy. Semoga kau betah ya disini, selamat bekerja."


"Baik bu. Terima kasih."


Setelah sesi perkenalan singkat, Shiena sudah menempati meja kerjanya. Menata beberapa barang yang sudah dirinya bawa. Tak lupa ada foto mendiang ibunya yang Shiena letakkan di meja kantornya.


Menjadi arsitek juga salah satu impian Sarah semasa hidup, tapi semua kandas kala Sarah menikah dengan Giovano. Dan kini Shiena lah yang ingin mewujudkan keinginan sang ibu untuk menjadi arsitek.


"Hai... Aku Sammy. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya. Jika ada kesulitan kau bisa tanya padaku." Perempuan yang bernama Sammy itu terlihat cantik dengan badannya yang sedikit berisi. Dia juga terlihat ramah.


"Ya. Terimakasih Sammy."


Shiena mencoba menyesuaikan dengan pekerjaan barunya. Mengerjakan apa yang dirinya bisa dan bertanya kepada temannya ketika merasa ada kesulitan. Hari pertamanya bekerja ternyata sangat menyenangkan. Juga, teman-temannya sangat baik dan welcome dengan dirinya. Jadi Shiena merasa betah dan nyaman bekerja disini.


"Kau sudah memiliki pasangan belum Shiena?" Sammy bertanya di sela-sela mereka makan siang di kantin kantor.


"Sudah." Shiena menjawab seadanya. Ingat bukan, jika Shiena tak akan menutupi jika dirinya sudah menikah. Karena memang itu faktanya. Hanya saja, Shiena ingin merahasiakan siapa suaminya itu.


"Wah... Sayang sekali. Padahal kau sangat tampan. Ah... Malang nasibku yang belum memiliki kekasih."


"Drama terooossss!"


"Isshh apa sih. Berisik."


"Shiena, jangan dekat-dekat dengan Sammy jika kau tak ingin ketularan gilanya." Claire . Salah satu teman kerjanya yang lain ikut berbicara. Mereka sedang makan bersama dengan mereka.


"Wah... Ini manusia satu ngeselin ya. Minta di hajar nih."


"Hayuk lah, mau di mana? Hotel apa rumahku?"


Plakkk.


"Hotel mbahmu kui."


Shiena sih sudah ketawa saat melihat dua temannya yang saling mengejek. Mereka lucu, tapi terlihat serasi.


"Udah udah, gak usah berantem. Jodoh loh entar." Shiena bicara pas sudah tidak tertawa lagi.


"Ogah!" Kompak Claire  juga Sammy barengan.


"Wah... Fix lah. Kalian benar-benar jodoh."


"Najiss jodoh ama dia."


"Apa lagi aku. Najiss banget jodoh sama kamu."


Shiena tertawa lagi melihat kedua temannya. Walaupun baru mengenal mereka hari ini, Shiena merasa sudah sangatlah akrab dengan mereka semua. Shiena bersyukur sih, teman kerjanya semuanya baik juga banyak bicara. Ah... Tidak seperti suaminya, yang hanya berwajah datar juga irit bicara.


^^^salam sayang,^^^


^^^lia_halmusd.^^^