Shiena Story

Shiena Story
Perusahaan.



Seperti biasa. Jalanan kota akan selalu ramai dengan kendaraan yang lalu lalang memenuhi jalanan setiap harinya. Tak ada kata lengang ataupun sepi pada setiap jamnya. Semuanya sibuk ke sana ke mari mengerjakan berbagai pekerjaan juga profesi yang dijalani mereka masing-masing.


Shiena yang tadi sudah siap untuk berangkat ke kantor sang suami kini menggerutu kesal karena jalan menuju ke kantor suaminya malah macet.


"Haishh, gak ada jalan lain gitu Mike?"


"Tidak ada Nona."


"Masih jauh gak sih?"


"Tinggal satu belokan lagi kita akan sampai."


"Hah, macetnya parah banget kalo jam makan siang gini." Mulut yang suka bicara itu semakin mengoceh saat mobil yang di tumpanginya berjalan pelan-pelan.


Drrttt drrttt.


"Halo!" Suara Shiena terdengar kesal saat mengangkat panggilannya.


"Apa Nona Shiena sudah jalan ke sini?" Tanya Mean yang ternyata menelponnya.


"Sudah, tapi ini aku masih terjebak macet. Apa Keenan sudah menunggu makanannya?"


"Iya Nona."


"Ah, tolong katakan padanya untuk menungguku sebentar lagi ya. Aku akan segera sampai."


"Baik Nona."


Tut.


"Lama sekali jalannya." Duduknya sudah tak nyaman. Takut jika nanti suaminya akan menunggunya terlalu lama.


"Kita akan segera sampai Nona." Ucap Mike.


Dan benar, tak lebih dari sepuluh menit mereka mengendari dengan merayap di jalanan yang padat kini sudah sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Dari luar gedung terlihat megah dengan gaya modern.


"Mari Nona." Ajak Mike yang membuyarkan lamunan Shiena.


Di bukakannya pintu penumpang untuk Shiena yang di sambut dengan senyuman manis. Tangannya menjinjing paper bag yang berisi makanan untuk suaminya juga dirinya. Memang Shiena berniat ingin makan siang bersamaan dengan sang suami.


"Apa tak apa jika kita langsung masuk?" Tanya Shiena yang merasa sungkan saat Mike langsung membimbingnya masuk, melewati lobi.


"Tak apa Nona. Tadi Tuan Mean sudah memberitahu saya untuk segera membawa anda ke ruangan Tuan Keenan." Jelas Mike berjalan di samping Shiena.


"Ah baiklah."


Shiena hanya menurut dan menatap sekeliling ruangan dalam gedung. Designnya sangat modern juga terlihat nyaman. Rasanya tak akan bosan jika menunggu di lobi saat akan bertemu seseorang. Musik yang di putar juga terdengar musik terbaru. Shiena kira, kantor suaminya akan terasa membosankan jika mengingat sang suami adalah pria dingin yang minim ekspresi.


"Sebelah sini Nona." Tegur Mike saat Shiena ingin melangkah ke lift yang terbuka di tengah.


"Itu khusus karyawan, Nona Dan ini lift khusus  Tuan Keenan yang langsung akan membawa anda ke ruangannya. Jika anda menggunakan itu anda harus berhenti di lantai tiga puluh empat dan pindah lagi untuk sampai ke lantai tiga puluh lima dimana ruangan Tuan Keenan berada." Jelas Mike panjang lebar saat keduanya sudah berada dalam lift.


"Memang di lantai tiga puluh lima tidak banyak ruangannya Mike?" Tanya Shiena heran karena penjelasan Mike seolah mengatakan jika lantai tiga puluh lima hanya ada satu ruangan.


"Ya Nona. Di lantai tiga puluh lima hanya ada ruangan Tuan Keenan dan Tuan Mean saja."


Shiena terkejut dengan penjelasan yang di berikan Mike. Seperti tidak masuk akal jika satu lantai hanya ada dua ruangan saja. Itu pasti sangatlah luas.


"Memang tidak ada sekertaris lain selain sekertaris Mean?"


"Ada Nona. Sekitar ada sepuluh sekretaris. Tapi mereka ditempatkan di lantai tiga puluh empat, tepat di bawah lantai Tuan Keenan berada."


"Kenapa tidak satu lantai saja? Kan itu malah lebih memudahkan mereka bekerja." Protes Shiena yang memang tidak mengetahui bagaimana cara kerja sang suami.


Mike hanya menanggapi dengan senyuman. Tak ada niatan untuk menjelaskan pada atasannya itu.


Ting.


Pintu lift terbuka dan menampilkan lorong yang membelah ruangan hingga ke ujung.


"Mari Nona."


"Ah ya." Shiena melangkah keluar. Menatap lorong yang di dominasi warna abu-abu, yang di sisi kanan kiri dindingnya di hiasian lukisan abstrak yang sangat indah.


Di tengah ada dua pintu ganda. Yang satu bercat hitam dan satunya lagi bercat coklat gelap. Ada ukiran harimau dan naga di pintu ganda bercat hitam sebelah kiri. Sedangkan pintu ganda bercat cokelat gelap ada ukiran seperti tumbuhan. Terlihat antik.


"Ruangan Tuan Keenan sebelah sini Nona." Tunjuk Mike pada pintu ganda bercat hitam.


Tok tok tok.


Ceklek.


"Silahkan Nona Shiena, Tuan Keenan sudah menunggu anda." Mean yang membukakan pintu mempersilahkan Shiena untuk masuk. Sedangkan Mike setelah mengetuk pintunya segera berjalan menjauh ke lorong. Sepertinya di pojok ada pintu lagi. Entahpintu apa lagi itu. Shiena penasaran. Biarlah nanti dia bertanya pada Mike untuk menghilangkan rasa penasarannya.


Kaki jenjang itu melangkah masuk ke ruangan sang suami. Selama mereka menikah hampir dua bulan baru kali ini Shiena datang ke tempat kerja suaminya. 


Ruangannya di dominasi warna cream kombinasi dengan warna hitam. Terlihat elegant tapi terkesan nyaman dan hangat.


Shiena menolah saat mendengar perbincangan di ruangan. Ada rasa tak suka saat melihat pemandangan di depannya.


"Kok kesel ya. Boleh gak sih ngambek."


^^^salam sayang,^^^


^^^lia_halmusd^^^