Shiena Story

Shiena Story
11. Baju hitam.



Seperti pagi sebelum-sebelumnya yang pasti sudah hafal dengan rutinitas nyonya Aydin. Shiena sudah rapi dengan baju kerjanya. Kemeja baby blue juga celana bahan warna hitam terlihat sangat cantik di kenakan oleh istri dari Keenan Athaya Aydin itu. Saat dirinya sudah siap turun ke bawah, ibu mertuanya datang menyambangi dirinya.


"Ada apa Mi?"


"Ini. Kenakan ini hari ini ya." Jinni menyodorkan setelan berwarna hitam.


Shiena merasa heran. Tapi dirinya tetap menerima setelan yang diberikan Jinni padanya.


"Itu untuk acara hari ini." Ada senyum tipis di bibir tipis ibu mertuanya. 


Biasanya Jinni akan terlihat penuh tawa, tapi kenapa hari ini Jinni terlihat murung. Shiena bingung, tapi takut untuk sekedar bertanya.


"Mami tunggu di bawah. Suamimu juga sudah ada di bawah." Setelahnya Jinni berjalan keluar kamar putranya.


"Memang untuk acara apa? Kok aku tidak tahu."


Dirinya masih saja heran. Pasalnya kemarin tidak ada pembahasan apapun untuk hari ini.


Setelan baju serba hitam itu kini sudah melekat indah di tubuh ramping millik Shiena. Kulitnya yang seputih susu semakin terlihat kontras dengan bajunya yang berwarna hitam.


Shiena segera bergegas turun ke bawah, karena katanya suaminya pun sudah menunggunya di bawah. 


Saat lima tangga terakhir sampai di lantai satu. Shiena melihat suaminya, ibu mertuanya juga Nana mengenakan baju serba hitam. Paman Rayyan juga Mean pun sama. Semua penghuni juga pekerja disini mengenakan pakaian warna hitam. Tak terkecuali.


'Ada apa ini?'


Tubuh ramping semampai itu kini berjalan kearah ibu mertuanya yang tengah duduk di kursi ruang tengah biasanya mereka berkumpul. Saat bokongnya mendarat di kursi samping Jinni duduk, tak sengaja Shiena melihat ibu mertuanya itu tengah mengusap sudut matanya. Shiena juga heran, pasalnya Nana terus lengket dengan sang kakak. Yah, waluapun biasanya Nana suka jahil dengan Keenan, tapi tak sampai terus memeluk Keenan dan terlihat murung.


"Mami kenapa?"


"Mami gak kenapa-napa nak."


"Tapi kok Mami kayak nangis gitu."


"Benaran, Mami gak kenapa-napa. Cuma kelilipan aja tadi."


Shiena tau kok kalau mertuanya itu bohong. Mana ada kelilipan di dalam rumah yang notabennya rumah ini selalu bersih karena setiap hari di bersihkan dua kali oleh pelayan.


Tapi Shiena tak bertanya lagi. Biarlah kalau memang ibu mertuanya tak ingin bercerita.


Shiena tetap diam di tempatnya duduk. Menatap ke seisi rumah yang memang beda dari biasanya. Terlihat lengang dan tak seperti biasanya akan ada banyak pelayan yang hilir mudik bersih-bersih. Tapi kali ini tidak. Mereka ada, tetapi hanya berjejer berdiri di sekitar ruang keluarga.


"Kau bingung ya sayang?" Jinni mengelus kepala Shiena lembut. Ada senyuman tipis di bibir tipisnya.


Shiena mengangguk.


"Hari ini peringatan dua belas tahun meninggalkannya Papi." Kembali ada senyum getir di bibir tipis Jinni.


Jelas Shiena terkejut mengetahui fakta ini. Sungguh dirinya tak mengetahui jika hari ini peringatan ayah mertuanya meninggal.


'Menantu macam apa aku ini. Peringatan meninggalnya Papi saja aku tak tahu. Pantas Nana terlihat murung.'


"Maaf Mi. Shiena gak tau." Sesalnya.


Shiena balas menggengam tangan Jinni yang sedari tadi menggenggam tangan kanannya. Mengelusnya lembut, seolah memberikan kekuatan pada Jinni melalui sentuhannya.


"Semua sudah siap Tuan Keenan."


"Hm." Keenan sudah beranjak diikuti ketiganya juga Mean.


Ada beberapa mobil beriringan menuju pemakaman keluarga Aydin. Jinni dengan Nana dan Keenan dengan Shiena.


Seperti biasanya, hanya akan ada kesunyian saat Shiena satu mobil dengan Keenan. Tak ada percakapan berarti. Apalagi saat ini Keenan terlihat lebih pendiam dari biasanya.


Ingin rasanya Shiena berbicara banyak hal pada suaminya. Apalagi sekarang dirinya pun mengerti bagaimana perasaan suaminya di saat tiba peringatan perginya seseorang yang berarti dalam hidup kita.


Tapi Shiena terlalu takut bicara. Terlalu takut untuk memulainya terlebih dahulu. Jadi, yang dia lakukan hanya diam di samping Keenan.


Hampir dua jam akhirnya mereka sampai di sebuah bukit. Sekelilingnya sangat indah. Di penuhi oleh pohon cemara yang terlihat rindang juga ada beberapa bunga yang tumbuh dengan subur.


Keenan sudah turun, yang di sambut oleh beberapa pengawal juga pegawai makam. Di depan sana, Shiena melihat ada beberapa orang yang tengah berbincang. Saat menyadari jika Keenan juga keluarganya sudah sampai mereka semua menoleh. Tersenyum dan segera menghampiri Keenan juga keluarga.


"Salam Bibi." Ada sekitar empat orang memberikan salam kepada Jinni.


"Salam. Sudah lama kalian datangnya?"


"Baru saja Bibi." Salah satu pria berperawakan tinggi dengan lesung pipi juga wajahnya yang tampan menggamit lengan Jinni. "Bibi apa kabar?"


"Kabar Bibi baik. Kalian sudah lama sekali tidak pernah main ke rumah Bibi."


"Kami sangat sibuk Bibi. Maaf." Gantian salah satu pria dengan perawakan tinggi juga dengan rahang tegasnya menyahut.


"Ya, Bibi sangat mengerti kesibukan kalian. Tapi luangkanlah waktu kalian untuk berkunjung ke rumah Bibi."


"Tentu. Kami pasti akan meluangkan waktu kami. Bagaimana kalau bulan depan Bibi dan keluarga berlibur ke pulau milik Ayah."


"Hm. Ide bagus itu. Deal ya. Kita liburan bulan depan."


"Yes. Deal."


Jinni tersenyum senang dengan keempat pria yang terlihat begitu ramah. Keenan hanya diam di samping Shiena yang sedari tadi menatap satu pria yang tengah terlibat berbincang dengan ibu mertuanya. Matanya memicing penuh tanda tanya.


"Hai kakak ipar!"


Shiena semakin terkejut kala orang yang di perhatikan sedari tadi menyapanya. Dan apa.


katanya tadi?


kakak ipar.


Apa maksudnya.


^^^salam sayang,^^^


^^^lia_halmusd^^^