
Hari ini sepertinya dewi fortuna sedang berpihak padanya. Pekerjaan di kantornya juga lancar tanpa ada kendala yang berarti. Bahkan kini saat jam sudah menunjukkan hampir jam sebelas siang, senyum Shiena masih berkembang indah.
"Halo Kakak ipar!" Sapa suara riang yang mendatangi meja Shiena.
Si empu yang dipanggil sudah melotot horor saat mendapati seorang pria dengan senyuman lebarnya sudah berdiri di depan meja kerjanya.
"Rajin sekali bekerjanya. Aku sangat beruntung karena Kakak ipar tidak bekerja dengan si kulkas itu."
Shiena menoleh ke sekitar, untung saja teman satu divisinya tidak ada di ruangan. Juga syukurnya Sammy yang terkenal kepo nya sedang ke toilet. Jadi tidak ada yang mendengar perbincangan keduanya.
"Tuan Krist. Bisakah jangan memanggilku Kakak ipar? Nanti ada yang mendengarnya. Ku mohon." Shiena sudah mengeluarkan jurus andalannya. Memohon dengan sangat imutnya. Oh ayolah, siapa yang akan tahan melihat ekspresi Shiena yang seperti kucing minta dipungut.
"Jangan memasang wajah seperti itu. Nanti aku bisa khilaf dan membawamu kabur dari si Tuan kulkas itu." Krist sudah sangat gemas dengan wajah memohonnya Shiena. Jika Shiena bukan istri sahabatnya, sudah bisa dipastikan Shiena akan langsung diseret oleh Krist ke gereja untuk segera dia nikahi.
"E e e... Baiklah aku tidak akan memanggilmu Kakak ipar. Kalau Shiena saja bagaimana?"
"Ya. Seperti itu lebih baik. Terimakasih." Dan kembali Krist di berikan cobaan yang sangat besar. Senyuman tulus Shiena yang sangat cantik.
Tanpa permisi Krist sudah menarik tangan Shiena. "Kau sungguh benar-benar membuatku khilaf Shiena. Biarlah jika nanti aku di amuk oleh si kulkas menyebalkan itu."
"Hei aku mau dibawa kemana?" Shiena sudah bingung saat Krist menyeretnya keluar ruangannya dan juga kini mereka berdua sudah menjadi tontonan beberapa karyawan.
"Menikahimu."
"APA!" Shiena tentu saja berteriak kaget. Yang benar saja atasan yang juga sahabat suaminya ini ingin menikahinya.
"Maaf Tuan Krist. Bisa anda lepaskan Nona Shiena?" Mike yang tadi sudah di telepon oleh Mean segera keatas dan mencari Shiena untuk segera pulang. Tapi sesampainya di lantai lima di mana istri bosnya itu bekerja malah dirinya mendapati pemandangan seperti ini.
"Sial! Kenapa gadis imut sepertimu harus menikah dengan si kulkas itu. Betapa beruntungnya dia bertemu denganmu duluan. Coba saja aku duluan yang bertemu denganmu." Krist menatap Shiena penuh dengan wajah kecewanya.
"Khem, Tuan Krist." Mike menyela, sedangkan Shiena masih saja bengong saat mendengar perkataan atasannya itu.
"Ya ya ya... Aku tau. Ini kau bawa sana. Sebelum aku benar-benar khilaf dan membawa kabur majikanmu itu." Krist menyerahkan Shiena yang masih saja terkejut.
"Saya permisi Tuan Krist. Mari Nona." Mike membungkuk hormat dan mempersilahkan Shiena untuk berjalan terlebih dahulu.
"Ah ya. Tuan Krist~"
"Panggil saja Krist. Jangan ada embel-embel Tuan." Potong Krist saat mendengar panggilan Shiena untuknya.
"Itu tidak sopan."
"Ya sudah terserah kau mau memanggilku apa. Tapi tidak dengan Tuan."
"Baiklah. Kak kalau begitu. Aku ingin meminta izin~"
"Tidak usah minta izin lagi padaku. Tadi si kulkas sudah bilang padaku. Dan kau bisa pulang dan menemui dia." Lagi-lagi Krist memotong ucapan Shiena.
"Ah, baiklah. Terimakasih ." Shiena membungkuk dan melempar senyumannya kembali.
"Ya, jangan sungkan jika kau butuh pertolongan ya. Sudah sana, aku tidak mau nanti dia malah mengirim Mean yang datang kemari. Sudah sana." Perintahnya dengan senyuman tulusnya pula.
"Sekali lagi terimakasih."
Setelahnya Shiena dan Mike segera pergi dari hadapan Krist yang masih berdiri di depan lift. Menatap hingga istri dari sahabatnya di telan pintu lift.
"Ah, aku jadi menginginkan satu yang seperti Shiena." Gumamnya.
"Hah... Kau sangat beruntung bisa mendapatkan gadis semanis dan selembut itu Keenan. Tapi kau juga memang pantas mendapatkannya. Semoga kalian bahagia selalu." Doanya masih menatap lift yang kini sudah kembali terbuka dan menampilkan beberapa karyawannya. Senyum Krist yang tadi dirinya umbar kini menghilang, digantikan dengan raut wajah tegas dan berwibawa nya.
Di sebuah mobil yang kini sudah keluar dari perusahaan yang cukup besar di mana menjadi tempat sang penumpang mobil itu bekerja. Shiena yang sudah duduk nyaman di belakang terus mengutak atik ponsel pintarnya. Mencoba mencari referensi menu makanan untuk makan siang suaminya.
Jemari lentiknya terus men scroll dengan mata kecoklatan itu terus memperhatikan setiap menu yang ditampilkan di layar ponsel, hingga tak menyadari jika kini dirinya sudah sampai di kediaman megah sang suami.
"Sudah sampai Nona." Interupsi Mike.
"Sama-sama Nona."
Saat memasuki rumahnya, Shiena langsung menuju dapur dan berbicara pada Jordan yang menjadi kepala koki untuk meminta bahan yang dirinya butuhkan.
"Apa ini semua sudah cukup Nona?"
"Ya, sepertinya sudah. Nanti jika ada yang kurang bisakah aku minta tolong padamu untuk mengambilkannya?"
"Ya, tentu saja Nona. Itu sudah tugas saya."
"Baiklah. Terimakasih."
"Sama-sama Nona."
Shiena bersiap dengan apron yang sudah melilit di tubuh rampingnya.
Jemari lentik itu sudah mulai menyentuh bahan makanan yang sudah tersedia diatas meja dapur. Dengan telaten mengupas juga memotong menjadi sesuai yang dirinya inginkan. Shiena cukup cekatan dalam hal memasak, mengingat dia sudah sering belajar dari Bibi Sherly pengasuhnya yang sering mengajarkan memasak. Tanpa ada kesulitan sama sekali, Shiena terus melanjutkan memasaknya hingga semua hidangan sudah siap dalam waktu satu jam.
"Apa masih ada waktu ya, jika aku mandi dulu." Gumamnya melihat jam di tangannya.
"Mm, Paman Rayyan. Apa Paman tau jam berapa biasanya Keenan makan siang?" Tanya Shiena saat mendapati Rayyan di dapur.
"Biasanya antara jam dua belas hingga jam satu siang Nona."
"Ah, apa akan keburu ya jika aku mandi sebentar. Rasanya badanku sedikit lengket." Keluhnya meringis merasa risih.
"Mandi sebentar tidak akan membuat Keenan menunggu terlalu lama sayang. Tak apa. Sana, nanti Mami yang akan memberitahu Keenan jika kau sedikit terlambat." Jinni datang dari arah luar saat mendengar menantunya berbicara pada Rayyan.
"Terimakasih Mami." Shiena mengecup pipi Jinni singkat dan langsung melesat ke kamarnya di lantai dua.
"Dasar anak itu." Jinni terkekeh melihat tingkah laku Shiena yang terkadang memang masih seperti anak kecil.
"Keenan terlihat sudah banyak berubah setelah menikah dengan Shiena." Ucap Rayyan menatap punggung Shiena yang perlahan menghilang di lantai dua.
"Ya. Kau benar. Aku bersyukur Keenan menikahi Shiena, ."
"Semoga mereka selalu bahagia."
"Ya." Sahut Jinni masih menatap ke atas.
Ya seperti inilah hubungan Jinni juga Rayyan yang memang lebih sering memanggil nama. Walaupun status mereka berbeda tapi Jinni juga Rayyan sudah berteman sejak lama sebelum Jinni menjadi istri dari Athaya Aydin. Hubungan mereka juga semakin erat kala Rayyan akhirnya meminang kakak Jinni.
"Ah, Kakak ipar. Aku lapar." Ringis Jinni menatap Rayyan.
"Masak saja sana sendiri." Rayyan melenggang pergi yang langsung diikuti oleh Jinni yang protes.
"Ayolah kakak ipar. Masakkan untukku. Aku sudah lama tidak memakan masakan kakak iparku ini." Rengek Jinni yang memang tak malu sekalipun ada pelayan yang melihatnya.
Sungguh istri dari mendiang Athaya Aydin ini memang tidak pernah kenal malu jika dengan orang terdekatnya.
"Kau kan bisa masak. Sana masak sendiri." Rayuan tidak menggubris rengekan Jinni yang terus mengekorinya.
"Akan aku adukan pada kak Sonia jika kakak ipar tidak mau memasak untukku." Jinni sudah cemberut dan tak lupa ancaman andalannya yang pasti akan membuat seorang Rayyan menurut padanya.
"Ishhh... Kau ini. Bisanya mengancam saja. Ya sudah ayo. Kau ingin makan apa?" Akhirnya Rayyan menyerah dengan adik iparnya yang sering suka merengek padanya tanpa ingat dengan umurnya yang sudah tua.
"Kau memang yang terbaik."
Rayyan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jinni yang selalu seperti anak kecil jika sudah bersama dirinya juga Sonia. Tak masalah untuk Rayyan juga Sonia jika Jinni bermanja pada mereka. Keduanya tahu, jika setelah Athaya meninggal Jinni sangatlah kesepian. Cinta pertama Jinni yang akhirnya meninggalkannya terlebih dahulu.
^^^salam sayang,^^^
^^^lia_halmusd^^^