Shiena Story

Shiena Story
13. Buku favorit.



Sepulang dari makam Athaya Aydin, rumah masih dalam keadaan sepi. Belum ada aktivitas yang seperti biasanya. Memang seperti itulah yang diterapkan Keenan semenjak sang Ayah meninggal. Satu hari penuh para pekerja tidak akan mengerjakan apapun namun harus tetap berada di rumahnya dan meminta mendoakan untuk sang Ayah. Tentunya bagi yang tulus melakukannya.


Sedari pulang Nana masih tertidur di kamarnya. Mengistirahatkan tubuhnya karena terus menangis di mobil. Tidur setelah menangis itu adalah hal yang sangat nyaman. Entahlah, tapi itu sangat nyaman.


Istri dari Athaya Aydin, Jinni Aydin juga terlihat murung. Mungkin mengingat tentang suaminya. Sedari tadi, Jinni pun hanya berada dalam kamarnya. Entah apa yang dilakukan ibu dari Keenan itu di dalam kamar.


Sedangkan nyonya muda rumah ini yang tak lain adalah Shiena juga libur bekerja. Sudah diurus sekretaris pribadi suaminya soal perijinan dia libur katanya. Jadi Shiena dengan kebosanan yang mulai melandanya berada di kamar.


Baru teringat sesuatu saat dirinya sedari tadi terus melamun kesana-kemari. Beranjak dari duduknya di sofa kamar, Shiena keluar kamar dan langsung menuju ruangan sebelah yang tak lain adalah perpustakaan. Dirinya masih ingat, ada satu buku yang masih belum diselesaikan membaca.


Duduk dengan nyaman di spot favoritnya di perpustakaan itu, Shiena mulai membaca lembar demi lembar buku setebal sepuluh senti itu. Sesekali dahinya mengernyit. Kadang mulut kecilnya juga berdecak kagum dengan apa yang dirinya baca.


Melakukan hal yang kita sukai memanglah sangat menyenangkan. Hingga terkadang kita tidak sadar dengan sekeliling kita.


Seperti Shiena yang saat ini tidak sadar jika suami datarnya sudah duduk di sofa sebelah dirinya duduk. Duduk berdampingan dengan Shiena yang masih membaca buku dan sang suami yang terus menatap istrinya yang sering kali tersenyum dalam membaca.


Tidak terasa, buku tebal yang sudah tiga hari belakangan ini Shiena baca, kini selesai. Sudah sampai di lembar terakhir.


Tubuh ramping yang sudah ingin beranjak dari duduknya itu terlonjak kaget kala baru menyadari jika sang suami duduk di sampingnya.


Kini berbeda. Punggung Keenan bersandar ke sandaran sofa dengan kedua tangan yang terlipat di dada juga kedua matanya yang tertutup. Terlihat sangat tenang.


"Itu adalah buku favorit Ayahku." Tanpa diminta, dan tidak seperti biasanya, Keenan mulai membuka pembicaraan.


Matanya terbuka dan menampilkan bola mata sehitam malam yang sangat tajam itu. Pandangannya masih lurus tertuju ke depan di mana pohon-pohon sekitar rumahnya tertiup angin. Sangat damai.


"Setiap pulang bekerja, Papi juga akan ke perpustakaan dan duduk di sini dengan buku yang kau pegang." Lagi, Keenan berbicara. Dan kali ini panjang. Tidak singkat seperti biasanya.


Pria di sampingnya itu merasa aneh karena suaminya banyak bicara, tapi Shiena tetap diam di tempatnya, tidak beranjak sedikitpun. Seperti siap untuk mendengarkan kelanjutan cerita suaminya.


"Buku itu pemberian dari almarhum kakek dan sangat disukai oleh ayahku."


Tunggu tunggu!


Apa barusan Shiena tidak salah lihat?


Keenan.


Suaminya.


Iya! Benar.


Tadi suami datarnya itu tersenyum. Yah, walaupun tipis sih.


'Andai dia sering tersenyum, dia akan semakin terlihat tampan.'


Saat sadar akan pikirannya sendiri, Shiena memukul kepalanya.


'Isshhh... Mikir apa sih aku ini.'


Malu dengan pikirannya sendiri.


"Apa kau mau mendengar cerita tentang Ayahku?"


"Um, tentu saja." Shiena menjawab mantab. Sebenarnya dia juga penasaran dengan almarhum Ayah mertuanya.


Shiena sudah kembali duduk dengan nyaman. Entah keberanian dari mana, tapi Shiena menghadap suaminya yang sedari tadi terus menatap keluar balkon.


"Dia pria yang sangat baik yang aku kenal. Menyayangi seluruh keluarganya." Ada jeda sejenak sebelum Keenan melanjutkan ceritanya.


"Papi adalah pria yang hebat di segala bidang. Bisnis, akademis, masyarakat, juga keluarga. Sesibuk apapun Papi, dia akan menyempatkan waktunya untuk bermain dengan aku juga Nana setiap harinya."


"Menyempatkan untuk menghabiskan waktu berdua juga dengan Mami di sela kesibukannya mengurus bisnis keluarga."


"Beban di pundaknya terlalu berat. Hingga membuatnya lupa akan kesehatannya sendiri."


"Kata Paman Max (paman Max itu sekretaris pribadinya Papi Athaya) Papi sering telat makan, hanya sedikit istirahat. Jadwal periksa ke dokter pun sering Papi abaikan hanya untuk menemui klien ataupun menjalankan tugas lainnya."


Wajah Keenan terlihat sendu saat berbicara mengenai sang Ayah. Shiena terus diam, tak ingin menyela ataupun bertanya pada suaminya. Membiarkan sang suami untuk mengeluarkan seluruh keluh kesahnya. Shiena berjanji, akan siap menjadi bahu untuk suaminya bersandar kala sang suami membutuhkan. Shiena akan menjadi kekuatan untuk suaminya kala suaminya rapuh. Meskipun cinta di antara mereka belum tumbuh, tapi Shiena akan berusaha untuk mencintai pria disampingnya ini yang masih saja menatap sendu keluar balkon.


Jujur, baru kali ini Shiena melihat raut wajah suaminya selain datar. Tapi kenapa Shiena harus melihat suaminya bersedih. Ah... Hatinya sedikit ikut sesak melihat tatapan sendu si pemilik manik mata hitam itu.


^^^^^^salam sayang,^^^^^^


^^^lia_halmusd^^^