Shiena Story

Shiena Story
12. Papi.



"Hai kakak ipar!"


Shiena semakin terkejut kala orang yang di perhatikan sedari tadi menyapanya. Dan apa.


katanya tadi?


kakak ipar.


Apa maksudnya.


Pria itu terkekeh. Mendekat kearah Shiena. "Apa kau sangat terkejut karena aku ada disini kakak ipar?" Dan satu kedipan mata pria itu berikan yang alhasil mendapat satu jitakan.


"Aduhh! Sakit Na!"


"Makanya kak Krist jangan macam-macam dengan kakak ipar ku." Nana langsung menggamit lengan Shiena, cemberut menatap teman kakaknya yang tak lain adalah bosnya Shiena, Krist.


"Galak sekali. Lagian dia itu milik kakakmu."


"Nana tahu. Maka dari itu, Nana berkewajiban melindungi milik Keenan dari pria genit seperti kak Krist."


"Hei aku tidak genit bocah."


"Stop panggil Nana bocah kak. Nana sudah besar. Sudah belajar di universitas ya."


Uh.. Nana semakin cemberut dan semakin menggamit Shiena posesif.


"Tapi bagiku, kau tetap bocah kecilku." Usapan halus  mendarat di kepala Nana.


Krist tersenyum kearah Shiena. Pria itu yakin, jika Shiena heran melihat dirinya berada di sini.


"Ah... Lebih baik kita kenalan secara resmi." Krist membenarkan jasnya sebentar, lalu tangan kanannya terulur di depan Shiena. Jangan lupakan senyumannya yang sangat tampan terukir di bibir tipisnya.


"Hallo kakak ipar. Kenalkan. Aku Krist Albert Dominic sahabat suamimu. Keenan."


Dengan ragu Shiena menerima jabat tangan itu. Tersenyum meskipun merasa canggung.


"Hai kakak ipar. Aku Calvin Lyle Maitias, senang bisa menyapamu secara langsung. Saat pesta pernikahanmu aku ingin sekali menyapamu. Tapi tidak bisa karena kau sangat sibuk dengan tamu undangan yang seperti tawon itu. Haha..."


"Ishhh... Jaga tawamu itu Cal." Pria yang menggamit lengan Jinni, memukul kepala Calvin jengkel.


"Maaf."


"Ah ya. Kenalkan kakak ipar. Aku Regan David Imanuel. Sahabat suami dinginmu juga." Pria itu - Regan - tersenyum lembut serta jangan lupakan senyumannya yang bisa memperlihatkan lesung pipinya yang semakin terlihat. Sangat tampan.


"Dan aku Tommy Dino Kiandra. Senang bertemu denganmu kakak ipar." Sambung salah satu yang mengaku bernama Tommy.


"Ya. Salam kenal semua. Aku Shiena."


Shiena melirik suaminya yang berdiri tenang di sampingnya.


'Ternyata dia punya teman juga ya. Ku kira cuma berteman dengan robot atau tembok saja.'


"Sudah saatnya Tuan." Mean menginterupsi.


"Hm."


Biasa.


Tanpa kata, Keenan berjalan untuk segera sampai ke atas bukit. Tapi kali ini berbeda. Tangan kirinya menggenggam tangan kanan Shiena, menarik lembut tangan sang istri untuk berjalan menaiki tangga yang tertata rapi satu persatu. Shiena melepaskan tautan tangannya dengan Nana dan hanya berjalan di belakang suaminya. 


Mata Keenan tetap fokus ke depan, menapaki setiap tangga yang akan membawanya ke makam sang Ayah. Tak ada ekspresi apapun di wajahnya. Tapi Shiena dapat merasakan jika genggaman tangannya semakin mengerat.


Jinni berjalan di belakang putra juga menantunya, di gamit oleh Regan. Serta Nana yang berjalan dengan Tommy. Dan Calvin dengan Krist. Jangan lupakan Mean yang selalu terlihat tenang tanpa ada riak ekspresi seperti bosnya.


Sesampainya di atas bukit. Di ujung ada sebuah bangunan yang terlihat damai dan asri.


Semua melakukan doa masing-masing, lalu bergantian memberikan bunga lili putih ke depan makam yang tertulis 'Athaya Aydin' dan menyampaikan ucapan juga doa untuk Tuan Athaya Aydin itu.


Jinni meletakkan buket bunga lili yang di padukan dengan mawar merah yang sangat cantik. Mengelus nisan sang suami. Mencoba tetap tegar. Tak ingin menangis dan terlihat rapuh di depan putra juga putrinya.


'Aku datang sayang. Apa kabar ?'


Senyuman getir kembali terlihat di bibir tipis Jinni.


'Anak-anak kita sudah semakin tumbuh dewasa. Sekarang Nana sudah menjadi seorang gadis. Keenan juga semakin dewasa. Sekarang kita sudah mempunyai menantu sayang. Kau lihatkan? Dia gadis yang sangat cantik. Dia juga gadis yang sangat baik dan lembut.'


Jinni mengusap sudut matanya yang berair.


'Bahagia selalu disana sayang, dan tunggu aku menyusulmu.'


Sebuah senyuman tipis yang sangat tulus terukir di bibir Jinni. Barulah dirinya mundur dan bergantian dengan putrinya.


Saat giliran gadis kecil Athaya yang kini sudah tumbuh dewasa - Nana - dia meletakkan bunga miliknya. 


"Nana rindu Papi!"


Hanya satu kata itu sudah mampu meruntuhkan semua pertahanan Nana sedari tadi. Tangisnya pecah dan terdengar begitu pilu.


Dengan sigap Jinni mendekap tubuh mungil putrinya. Mengelus punggungnya menenangkan gadis kecilnya yang kini sudah tumbuh besar tanpa sosok ayahnya. Memberikan kecupan kecupan untuk Nana. Berharap bisa menenangkan putrinya yang semakin sesenggukan menangis.


"Iya sayang iya. Mami tahu. Mami tahu sayang. Sudah ya, sudah jangan menangis lagi."


Bohong jika Jinni juga tak merasakan rindu pada suaminya. Tapi dia mencoba untuk kuat demi anak-anaknya. Terutama demi Nana yang memang sudah ditinggalkan oleh Ayahnya sejak masih kecil.


"Mi, bawa Nana ke mobil saja. Nanti aku akan segera menyusul." Keenan menginterupsi ibunya.


"Baiklah. Ayo Shiena."


"Biarkan Shiena disini bersamaku."


"Oh Baiklah. Mami turun dulu kalau begitu."


"Hati-hati Mi." Shiena menambahkan.


"Iya sayang."


"Kalau begitu, kami juga akan turun Ken."


"Hm. Terimakasih."


Regan hanya membalas menepuk pundak Keenan beberapa kali. Begitu pula dengan Krist, Calvin juga Tommy dan segera membantu Jinni menuntun Nana.


Mereka juga tahu, Keenan akan selalu membutuhkan waktu untuk berbicara dengan Ayahnya.


Setelah semuanya pergi, hanya ada keheningan di antara keduanya. Angin yang berhembus membelai wajah Keenan juga Shiena, seolah menyapa kedua makhluk tuhan itu.


Setelah cukup lama terdiam, Keenan melangkah maju. Memberikan sebuket bunga miliknya untuk sang ayah.


"Apa kabarmu Pi? Aku harap kau bahagia di sana."


Seperti biasa, tak ada ekspresi sedikitpun di wajah penguasa Asia itu.


Datar.


Tapi entah siapa yang akan tahu apa yang tengah dirasakan jauh di lubuk hati setiap orang bukan. Tak ada yang bisa tahu.


"Aku datang membawa menantumu Pi." Keenan mengulurkan tangannya kearah istrinya. Shiena bingung, tapi menerima uluran tangan suaminya. Menarik tangan Shiena agar berdiri sejajar dengannya.


"Namanya Shiena. Sesuai janjiku, aku sudah membawanya menemui Papi."


Keenan kembali diam, dan Shiena coba berinisiatif memperkenalkan dirinya pada mertuanya.


"Hallo Papi. Namaku Shiena. Senang bertemu dengan anda." Tubuhnya membungkuk memberikan hormat pada Ayah mertuanya. Tak lupa sebuket bunga lili putih, dirinya letakkan di depan nisan Athaya.


Angin kembali membelai wajah sepasang suami suami itu. Seolah Athaya lah yang menyapa kembali anak juga menantunya.


Rasanya tenang. Hati Shiena seolah menghangat saat merasakan belaian halus di wajahnya. Seolah Athaya juga semesta pun menerimanya menjadi salah satu bagian dari keluarga Aydin.


Cukup lama keduanya berdiri diam di depan makam Athaya. Tak ada percakapan lagi. Baik Keenan ataupun Shiena seolah asyik dengan pemikirannya sendiri.


Masih dalam diam, Keenan menarik tangan Shiena yang memang sedari tadi ada dalam genggaman tangannya yang besar untuk mengikutinya menuruni bukit kembali.


Mungkin sudah cukup bagi Keenan bertemu dan berkeluh kesah dengan Ayahnya. Tak ada yang tahu, apa yang dibicarakan Keenan pada sang Ayah. Biarkan menjadi rahasia Keenan, ayahnya, juga Tuhan.


Sepanjang perjalanan turun tangan istrinya tak pernah Keenan lepaskan. Seolah tangan Shiena adalah kekuatannya untuk bisa tetap berdiri dan berjalan menuju ke keluarga juga temannya yang sudah menunggunya di bawah.


Tak ada perbincangan hingga akhirnya keduanya sampai di bawah dan segera pulang setelah Keenan membawa Shiena masuk ke mobil.


Sepanjang perjalanan pulang, mata hitam segelap malam itu terus menatap keluar jendela mobil. Pikirannya terus berkelana tanpa ada kenal lelah.


Mean yang tengah mengendarai mobil, sesekali mencuri pandang pada atasannya itu. Begitu juga Shiena yang memperhatikan bagaimana keadaan suaminya.


Tak ada yang tahu, bagaimana beban yang di pikul seorang Keenan Athaya Aydin. Yang mereka tahu, Keenan Athaya Aydin adalah pembisnis berdarah dingin yang sukses merajai dunia bisnis Asia.


Tak pernah ada yang mampu menelisik hingga ke akarnya. Tertutup, pendiam, dingin, juga keangkuhan yang selalu di pertahankan Keenan mampu menjadi sebuah tembok yang melindunginya juga keluarganya.


Hanya ada satu sosok yang mengenal betul bagaimana sifat dan juga beban yang di pikul seorang Keenan Athaya Aydin.


Bukan ibunya.


Bukan adiknya.


Bukan mendiang Ayahnya.


Bukan pula salah satu temannya.


Melainkan ~


Sekretaris pribadinya.


Mean Danendra Antares.


^^^salam sayang,^^^


^^^lia_halmusd^^^