Shiena Story

Shiena Story
04. Interview.



Shiena duduk di deretan kursi depan ruangan yang dikatakan resepsionis tempat untuk interview. Ada beberapa orang juga yang melamar bekerja. Meski gugup, Shiena mencoba tenang. Dalam hati Shiena juga terus menyemangati dirinya sendiri untuk optimis. Lagipula, dia lulus dengan nilai terbaik di universitasnya.


"Nona Shiena Aurel Azhary." Panggil salah satu karyawan menginterupsi Shiena untuk memasuki ruangan untuk interview.


"Saya."


Beberapa kali Shiena menarik nafas dan membuangnya. Mencoba mengatur rasa gugupnya yang masih terasa. Setelah membuang nafas beberapa kali, Shiena memasuki ruangan. Di depan sana ada seorang pria dengan badan tegap. Di sampingnya juga ada beberapa orang.


"Silahkan duduk Nona." Ucap salah seorang di hadapan yang Shiena kira salah satu petinggi di perusahaan tempatnya melamar pekerjaan.


"Terimakasih." Shiena duduk di kursi yang sudah di sediakan. Senyum ramah terpatri di bibir plum nya.


"Apakah anda sudah memiliki pasangan?" Tanya seorang pria berbadan tegap. Wajahnya menunjukan ketegasan namun dengan sorot mata terlihat ramah.


Shiena merasa bingung dengan yang di lontarkan oleh pria di hadapannya. Interview pekerjaan memangnya seperti ini kah? Meskipun merasa heran, Shiena tetap menjawab.


"Sudah Tuan."


Walaupun Shiena menyembunyikan pernikahannya, juga identitas jika kini namanya sudah menjadi Shiena Aurel Aydin, Shiena tak ingin menutupi jika dirinya sudah bersuami. Meski di lihat dari segi bagaimana pernikahannya terjadi, Shiena tetap menghargai pernikahannya dengan sang suami.


"Baiklah. Anda di terima bekerja disini."


"Ah... Benarkah? Apa ini serius?" Shiena terkejut. Hanya dengan satu pertanyaan dirinya sudah diterima bekerja? "Apa hanya itu saja yang ditanyakan?" Shiena masih ingin memastikannya. Takut jika dirinya salah dengar.


"Tentu. Dan selamat bergabung di perusahaan kami." Balas pria yang memberikan pertanyaan padanya barusan. Jangan lupakan senyum ramah yang tak pernah luntur dari bibirnya.


"Terimakasih Tuan. Saya akan bekerja dengan giat." Walaupun masih bingung, Shiena tak ambil pusing lagi. Yang penting dirinya di terima bekerja.


"Ya. Mohon kerjasamanya."


Setelah berjabat tangan Shiena keluar menuju parkiran dan segera pulang. Bibirnya terus melenggang indah sepanjang perjalanan. Ahhh... Ini sungguh sangat membahagiakan dirinya.


"Apakah semuanya sukses Nona?" Mike mencoba memecahkan keheningan di dalam mobil. Merasa heran dengan istri Tuannya ini yang terus tersenyum sedari tadi keluar perusahaan tempatnya melamar pekerjaan.


"Ya. Dan mulai besok aku akan mulai bekerja." Senyum bahagia tak mampu Shiena sembunyikan.


"Selamat Nona." Mike tersenyum tanpa mengalihkan fokusnya dari jalan.


"Terimakasih Mike." Senyum Shiena semakin lebar. Dia benar-benar bahagia hari ini.


Setelah sampai di kediaman Aydin, Shiena segera melesat masuk menuju kamarnya. Mengistirahatkan sedikit tubuhnya baru turun mempersiapkan makan malam untuk suaminya.


"Biarkan saya saja yang masak Nona." Koki di rumah itu bersuara meminta sang nyonya untuk tidak memasak.


"Tidak apa-apa. Biar aku saja yang masak."


"Tapi maaf Nona. Jika anda tetap memasak, maka saya akan kehilangan pekerjaan saya." Akhirnya koki itu mengeluarkan suaranya walaupun terdengar seperti berbisik. Tapi Shiena masih mendengar dengan jelas.


"Apa?" Shiena terkejut. 


Tentu pasti.


"Mmm... Anu... Itu..."


"Apa? Katakan saja. Apa karena tadi pagi aku masak kau diancam oleh suamiku?" Shiena sudah menatap koki di depannya tajam.


Pemuda yang masih di depannya itu tak menjawab, hanya menundukkan kepalanya takut.


Shiena menghela nafasnya, memijit kepalanya pusing.


"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan memasak."


"Terimakasih Nona." Koki rumahnya yang Shiena ketahui bernama Jordan itu mendongak, menatap Shiena penuh binar bahagia.


"Ya sudah, aku ke kamar dulu." Shiena berjalan keluar dapur.


"Dasar gak punya hati. Aku cuma mau masak aja ampek koki diancam mau di pecat. Dia itu punya hati gak sih sebenernya. Kok ada gitu orang kayak gitu. Ngeselin." Sepanjang perjalanannya dari dapur hingga kamarnya, Shiena terus saja menggerutu kesal.


"Ahhh..." Gadis yang menyandang istri Keenan Athaya Aydin itu merebahkan tubuhnya ke kasur empuk. "Sekarang aku harus ngapain coba... Bosan..." Keluhnya menendang-nendang udara yang tak bersalah.


Tsk.


Akhirnya pemilik mata indah itu tertidur dengan lelapnya, mungkin karena terus menggerutu jadi dirinya lelah.


"Nona... Nona Shiena." Sayup-sayup terdengar suara orang memanggil si empu yang tengah asyik mengarungi dunia mimpi.


"Nona Shiena. Sebentar lagi Tuan Keenan akan pulang. Anda harus bersiap untuk menyambutnya."


Dan... Ucapan dari luar yang sudah Shiena yakini itu suara Paman Rayyan pun mampu menariknya ke alam sadarnya.


"Ahhh... Ya Paman!" Shiena berteriak. Bergegas bangun berlari ke kamar mandi, cuci muka dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. Lalu keluar kamar.


"Ah, ayo Paman." Shiena berjalan yang diikuti Paman Rayyan yang sedari tadi menunggunya.


"Anda harus menyambut Tuan Keenan di pintu utama Nona." Ucapan paman Rayyan membuat Shiena menoleh heran.


"Kenapa gitu? Bukannya aku di sini saja sudah cukup ya Paman?"


"Tidak Nona. Tuan Keenan menginginkan anda menyambutnya di pintu utama."


Walaupun heran dan merasa aneh Shiena mengikuti saja. Malas berdebat lagi sih tepatnya. Toh disini dirinya hanya numpang.


Tak berapa lama Shiena menunggu, suami datarnya akhirnya pulang. Dengan senyum manis yang tentu saja dipaksakan Shiena menyambut suaminya.


"Kau mau makan dulu atau mandi dulu?" Shiena bertanya saat keduanya sudah memasuki kamar mereka.


"Mandi."


"Baiklah, akan aku siapkan." Shiena langsung melesat ke kamar mandi, menyiapkan segalanya, belajar menjadi istri yang berbakti.


Wahhh... Idaman sekali bukan.


"Semua sudah siap. Mandilah."


"Hm."


Hanya deheman yang keluar dari bibir tipis itu. Setelahnya tubuh tinggi itu menghilang di balik pintu kamar mandi. Menyisakan Shiena yang memilih memainkan ponselnya menunggu sang suami selesai mandi.


Ceklek.


"Ayo turun."


Shiena menurut saat mendengar suara datar itu.


"Jika tak ingat kau suamiku. Sudah ingin aku tempeleng kau." Gerutunya dalam hati.


Ahh... Sepertinya, setelah menikah Shiena sangat suka menggerutu dalam hati.


Sesampainya di ruang makan, semua sudah siap di meja makan. Hidangannya sangat banyak, dan ngomong-ngomong itu hanya di makan untuk dua orang saja.


"Buang-buang makanan aja." Begitulah kira-kira Shiena menggerutunya.


"Biar aku ambilkan."


Shiena melayani suaminya dengan telaten. Setelahnya hanya ada suara denting sendok yang beradu di ruangan luas itu.


"Paman Rayyan. Apa semua berjalan dengan semestinya?" Tanya sang penguasa rumah saat sudah selesai dengan acara makan malamnya yang hening.


"Iya Tuan."


"Baiklah. Aku akan ke ruang kerjaku, kau istirahatlah." Keenan pergi ke ruang kerjanya yang ada di lantai dua diikuti oleh Mean.


"Baik."


Ahh... Rasanya Shiena ingin mengeluh, suaminya itu adanya hanya kerja, kerja, kerja dan kerja. Semenjak kemarin mereka menikah, mereka sama sekali belum ada interaksi yang berarti. Hanya seperti basa-basi saja.


Shiena kan jadi kesepian.


Hei Bukan berarti dirinya ingin melakukan apapun ya dengan suaminya itu. Shiena hanya ingin mengobrol dan bisa lebih dekat saja dengan suami datarnya itu. Karena bagaimanapun, kini mereka adalah sepasang suami istri.


Mungkin lain kali Shiena bisa mengobrol dengan suaminya itu. Toh masih ada banyak waktu. Lebih baik sekarang dirinya istirahat untuk bekerja besok.


^^^^^^salam sayang^^^^^^


^^^lia_halmusd^^^