
Pagi ini pagi yang sangat indah menurut Shiena. Bangun dalam dekapan hangat sang suami yang semalaman memeluk dirinya sepanjang malam. Setelah banyak bercerita banyak di perpustakaan kemarin malam yang berlanjut mereka berbaring bersama dan saling memeluk dalam diam di atas ranjang mereka hingga kantuk datang. Dan pagi ini Shiena diberikan pemandangan yang sangat indah wajah teduh sang suami yang masih terlelap dalam tidur damainya.
"Morning." Bisiknya pelan. Takut membangunkan tidur nyenyak suaminya.
Jika ditanya, apakah pria yang dalam dekapan hangat suaminya itu telah jatuh cinta pada makhluk dingin tanpa ekspresi itu?
Jawabannya....
"Aku belum tahu, apakah aku mencintaimu atau tidak. Tapi, ada rasa nyaman juga aman saat berada di sisimu. Hm, biarkan waktu yang akan menjawabnya."
Setelah cukup lama terdiam dan memandang sepuasnya wajah yang masih terpejam itu, Shiena segera beranjak. Diangkatnya tangan kekar sang suami dari atas perutnya pelan-pelan. Menaruhnya kembali dengan guling yang berada di sisinya. Setelah memastikan suaminya tidak terusik, Shiena segera melesat ke kamar mandi. Membersihkan dirinya dan bersiap untuk bekerja.
Mata yang semula terpejam itu kini terbuka saat tubuh yang sedari semalam dirinya dekap telah digantikan dengan sebuah guling. Sorot matanya tak dapat terbaca. Hanya ada kekosongan yang semakin dalam dan menjerumuskan jika di tatap terlalu lama. Tak ada lagi sorot mata sendu seperti kemarin saat dirinya bercerita mengenai sang Ayah. Mata hitam itu kini sudah kembali seperti semula. Tenang dan menenggelamkan siapa saja yang menatapnya.
Entah apa yang dirasakan pria tangguh yang menyandang suami dari Shiena itu. Perasaannya tidak ada yang pernah mampu menebak. Pria berwajah datar itu hanya terus diam dengan pandangan yang terus menatap pintu kamar mandi yang kini sudah tertutup rapat. Hanya terdengar gemericik air yang menandakan di dalam tengah ada penghuninya.
Pikirannya kembali ke kejadian kemarin malam. Disaat dirinya menunjukkan sisi terlemahnya kepada sang istri.
Bukan.
Bukan menyesal karena sudah menunjukkan sisi lemahnya pada sang istri. Tetapi ada satu sorot mata kekhawatiran saat mengingat bagaimana keadaan sesungguhnya sang istri. Mampukah dia yang dingin bisa menggantikan ruang hati yang kosong di dalam diri sang istri setelah ibunya meninggal.
Tapi sebelum dirinya bertanya seperti itu, bukankah dirinya harus menanyakan dahulu kepada dirinya sendiri~
Mampukah dia membuka hati untuk sang istri?
"Biarkan Tuhan yang menjawab. Setidaknya, aku tidak pernah menyesal menikah denganmu."
Tubuh yang semula berbaring, kini duduk bersandar. Mengambil tablet yang berada di nakas sampingnya. Mengecek satu persatu email yang sudah dikirimkan sekretarisnya. Mengkonfirmasi beberapa email sebelum atensinya teralih oleh suara pintu yang terbuka, menampilkan sosok istrinya yang sudah rapi dengan kemeja putih juga celana bahan hitam. Terlihat sangat cocok di tubuh ramping sang istri.
Bolehkah Keenan bersyukur sudah diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk menjaga salah satu makhluk indahnya.
"Aao... Kau sudah bangun!"
"Hm." Kembali matanya fokus ke tablet yang sedari tadi masih dalam genggaman tangannya.
"Jika kau ingin segera mandi sudah aku siapkan semuanya."
"Ya. Terimakasih."
"Um. Baiklah. Aku akan turun untuk menyiapkan sarapan." Setelah memastikan penampilannya rapi, Shiena segera beranjak untuk ke bawah. Langkahnya terhenti kala ada satu suara berat yang meminta padanya sesuatu.
"Boleh nanti makan siang kau memasak untukku?" Mata Keenan menatap Shiena. Tenang, dan ekspresi datar tentunya.
"Um. Tapi, aku kan bekerja ." Shiena meringis tidak enak sebenarnya menolak permintaan sang suami. Padahal ini juga kesempatan untuknya bisa makan siang berdua dengan suaminya bukan. Mengingat selama mereka menikah, belum pernah ada kata makan siang bersama. Ah, kecuali kemarin siang karena mereka sama-sama tidak bekerja untuk memperingati meninggalnya Athaya.
"Tapi, apa Krist tidak masalah?"
"Tidak. Nanti jam sebelas kau dan Mike pulanglah. Dan masakkan aku untuk makan siang."
"Baiklah. Apa kau akan pulang ke rumah juga saat makan siang?"
"Tidak. Aku akan tetap di kantor."
"Oh baiklah. Jadi nanti aku akan minta Paman Rayyan atau pengawal lainnya untuk meng~"
"Kau yang akan mengantar makan siang ke kantor."
Shiena bengong di tempatnya berdiri. Serasa tidak percaya saja dengan perkataan sang suami.
'Aku! Mengantarkan makan siang ke kantornya? Yang benar saja!'
"Kau tidak salah dengar."
'Hah! Apa dia bisa membaca pikiranku?'
"Dari wajahmu terlihat jelas."
'Bagaimana kau bisa melihat ekspresi wajahku. Jika menatapku saat berbicara saja tidak.'
Shiena terus menggerutu dalam hati. Sedikit merasa kesal, tetapi juga senang.
"Jika kau tidak mau, tak apa. Biar nanti aku makan siang seperti biasanya dengan Mean."
"Ah! Tidak. Tentu aku mau. Nanti aku akan mengantarkan makan siang untuk ." Secepat kilat Shiena langsung menjawab. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk makan siang dengan suaminya yang memang terhitung sangat langka.
"Hm."
Dan setelah keduanya mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Keenan beranjak dari duduknya dan segera melesat ke kamar mandi. Sedangkan Shiena masih menatap punggung suaminya yang kini menghilang ditelan pintu kamar mandi.
"Baiklah Shiena ayo kita memasak untuk sarapan." Dengan semangat 45 tentunya, Shiena melesat ke bawah siap untuk memasak sarapan.
Dan pagi ini tetap dilalui seperti biasanya. Sarapan dalam diam tanpa ada yang berbicara, mengantarkan sang suami ke depan untuk segera berangkat bekerja. Setelah mobil yang ditumpangi Keenam menghilang barulah dirinya sendiri berangkat bekerja.
Sungguh pagi yang cerah untuk Shiena. Berharap, tak akan ada lagi rintangan yang akan menghadang jalannya.
^^^salam sayang,^^^
^^^lia_halmusd^^^