
Di ruang tamu mansion yang cukup besar terjadi ketegangan antara penghuni mansion. Anak pertama yang memohon pada ayahnya, sedangkan sang ayah yang tetap enggan berubah, dan anak kedua yang hanya duduk di sofa dengan acuh tak acuh menonton debat di depannya.
"Kenapa Papa tidak menikahkan Gina saja? Kenapa harus aku?" Si sulung terus berusaha berdebat dengan ayahnya. "Aku baru saja lulus dari universitas Pa."
"Lalu bagaimana jika kau baru saja lulus dari universitas dan menikah." Sang ayah terus mengikuti debat anaknya yang masih menolak lamaran nikah.
"Tapi aku masih ingin bekerja Pa. Aku masih ingin mencapai impianku." Si sulung terus berdebat. Dia terlalu muda untuk menikah.
Baru seminggu yang lalu dia lulus dari universitas bergengsi di kota B. Tapi sekarang dengan mudah, ayahnya memintanya untuk menikah. Shiena baru saja merajut mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang menjadi impiannya. Ingin menjadi arsitek terkenal dan mampu membangun rumah impian untuk mendiang ibunya. Tapi sekarang ayahnya.
"Kalau begitu kamu ingin menghancurkan masa depan adikmu!" Teriak ayahnya. Dia menatap putri sulungnya dengan marah.
"Bukankah itu lebih cocok untuknya? Gina akan mendapatkan pria mapan seperti yang selalu diinginkan Papa."
"Kamu tidak usah sok tahu."
"Papa benar-benar ingin mengorbankan aku untuk menyelamatkan perusahaan?" Seru Shiena tidak percaya pada Ayah yang begitu tidak berperasaan padanya.
"Lebih baik Papa mengorbankan kamu daripada Papa harus kehilangan perusahaan Papa."
Seperti disambar petir di siang bolong, tubuhnya membeku mendengar Ayahnya. Ayahnya, yang sangat dia cintai, yang dihormati, dengan lantang dan tanpa susah payah. Hatinya sesak mengetahui fakta itu.
"Kau tidak bisa menolak Shiena. Semuanya sudah disiapkan, dan lusa kau akan menikah dengan Tuan Keenan." Setelah mengatakan itu, Giovano pergi. Meninggalkan Shiena yang masih menatap punggung Ayahnya yang berjalan pergi dengan tak percaya.
"Sudahlah, menikah saja dengan Tuan Keenan. Setidaknya dia kaya, bukan?" Gina yang sudah lama terdiam, kini angkat bicara. Menatap adiknya dengan sinis.
"Kenapa tidak kau saja yang menikah dengannya."
“Aku tidak mau menikah dengan robot. Dingin, bicara irit, tidak ada ekspresi lagi. Datar seperti kayu lapis. Aku ingin menikah dengan seseorang yang sesuai dengan kriteriaku. Dan yang pasti aku suka. Udah... Gak usah banyak protes, ikuti saja kata Papa." Setelah itu Gina pun pergi meninggalkan Shiena yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya.
Apa yang dia lakukan salah pada Ayahnya, begitu keras padanya. Putrinya sendiri, darah dagingnya.
"Nona Shiena."
"Bibi Sherly." Shiena langsung menghambur ke pelukan pengasuhnya yang seperti ibunya sendiri. "Kenapa Papa tega padaku, Bu, aku juga anaknya. Aku masih ingin menggapai mimpiku dan mewujudkan impian Mama."
Pertahanan Shiena sudah runtuh sebelumnya. Sekarang dia menangis dalam pelukan hangat Bibi Sherly, yang sangat hangat. Elusan sayang di punggungnya Shiena terima. Rasanya sangat damai, sama seperti dalam dekapan hangat sang Ibu.
Bibi Sherly tak mampu berbicara, hanya elusan sayang yang bisa dirinya berikan untuk Nona pertama.
Sudah bukan rahasia lagi, jika sang Ayah selalu lebih mengutamakan Gina daripada Shiena yang juga putranya. Semua penghuni mansion itu selalu merasa iba pada Nona pertama, tapi mereka bisa apa. Semua ada di tangan sang kepala keluarga, Giovano Azhary.
Dirinya selamat, walaupun koma selama tiga bulan. Tapi saat mata indah yang menyembunyikan bola mata kecoklatan itu terbuka, dirinya harus dihadapkan dengan kenyataan pahit tentang ibunya yang tidak selamat dari kecelakaan tragis itu. Dan kenyataan pahit lainnya semakin membuatnya terpuruk kala harus mendapat kebencian dari sang Ayah juga adiknya yang membenci dirinya yang mengatakan jika dirinyalah penyebab meninggalnya sang ibu. Saat itu Ayahnya mengatakan, jika saja dirinya tak meminta Sarah untuk mengantarnya membeli perlengkapan menggambar. Semua takkan pernah terjadi. Sarah takkan meninggal.
Ya. Andai saja Shiena bisa mengubah waktu kala itu. Pasti dirinya tidak akan meminta Ibunya untuk mengantarkannya membeli perlengkapan menggambar. Dengan begitu, dirinya masih bersama dengan Ibunya juga takkan menerima kebencian dari Ayah juga adiknya. Tapi semua itu hanya andai.
...oOo...
Pernikahan Shiena juga Keenan akhirnya terjadi. Pernikahan itu diselenggarakan di sebuah gereja yang berada di pusat kota B. Sedangkan untuk resepsinya diadakan di sebuah hotel bintang lima yang Shiena tau juga termasuk aset milik sang suami.
Meskipun pernikahannya hanya di hadiri keluarga dan beberapa orang penting saja, namun semua di persiapkan dengan begitu mewah dan meriah, mengingat jika Keenan adalah seorang Tuan muda dari keluarga Aydin yang terpandang di kota B.
Bukan rahasia lagi jika keluarga Aydin adalah keluarga terpandang dan terkaya se-Asia. Bisnis yang sukses dari berbagai aspek yang merajai di seluruh Asia karena tangan dingin mendiang Tuan Athaya Aydin, Ayah dari Keenan Athaya Aydin. Dan kini semakin sukses dan merambah ke negeri Paman Sam berkat tangan dingin seorang Keenan Athaya Aydin.
"Jangan pernah kau tampilkan kesedihan mu di hadapan orang-orang." Nada yang begitu datar terucap dari bibir tipis suami baru Shiena.
Shiena menggerutu, tapi juga menuruti apa kata suaminya. Bibirnya melengkung indah dan sangat mempesona hingga mampu membuat semua tamu yang hadir terpesona. Walaupun itu palsu, tapi begitu menyejukkan dilihat. Lalu bagaimana jika senyuman tulus terukir di bibir plum itu? Pasti akan semakin terlihat sangat menawan.
"Duh... Sampai kapan sih harus berdiri. Pegel nih kaki." Gerutu Shiena yang sedari tadi berdiri menyalami tamu undangan yang tidak ada hentinya.
"Kalau capek istirahat." Nada datar kembali terucap dari suami dinginnya.
"Memang boleh?" Pemuda yang baru menyandang sebagai istri dari pengusaha muda itu bertanya polos.
"Hm." Dan, suami dinginnya itu hanya berdehem atas jawaban yang diberikannya.
"Bilang iya aja apa susahnya sih. Cuma hm doang, emang ngomong bikin capek." Gerutu Shiena kesal, duduk di kursi pelaminan yang disediakan.
"Ucapan saya sangat berharga." Sahut nada dingin itu lagi.
"Eh, kok denger sih. Emang aku keras ya ngomongnya." Shiena heran, pasalnya sedari tadi dirinya berbicara itu seperti berbisik.
"Sekalipun kau berbisik saya bisa dengar."
"Woahhh!" Shiena berseru takjub. Suaminya ini sungguh memiliki pendengaran yang bagus rupanya.
"Tutup mulutmu, sebelum lalat masuk." Keenan terus berbicara dengan nada dinginnya, tanpa ekspresi juga tanpa menoleh ke arah Shiena sedikitpun.
Shiena langsung menutup mulutnya kala sadar jika mulutnya memang menganga lebar. Malu sekaligus kesal mendapat cemoohan dari suami barunya.
To be continued...