
“Serina, besok jadi kan kita main ke rumah kamu?” ucap Alea dengan penuh antusias sambil memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Setelah mendapatkan izin dari Saemi, aku memang langsung memberikan kabar kepada Arka dan Alea untuk datang dan belajar dirumahku selama weekend ini. Sebenarnya hanya aku dan Arka yang akan belajar untuk mempersiapkan olimpiade minggu depan, hanya saja aku juga membutuhkan kehadiran Alea untuk mencairkan suasana agar aku tidak merasa canggung jika harus belajar berduaan dengan Arka dirumah
Saat ini aku, Arka dan Alea sedang duduk berhadapan pada salah satu bangku yang ada dikelas menyantap bekal makan siang yang kami bawa dari rumah karena memang bel istirahat telah berbunyi beberapa saat yang lalu
Benar, mulai dua hari kemarin Alea turut membawa bekal makan siang ke sekolah karena saat ini mamanya telah mempekerjakan asisten rumah tangga dirumahnya sehingga setiap pagi ada yang membuatkannya sarapan sekaligus bekal makan siang yang akan Alea bawa ke sekolah
“Belajar Alea, bukan main” Arka mengintrupsi perkataan Alea dengan fokus yang tidak teralihkan dari kotak bekal berisikan nasi dan ayam goreng bumbu rujak lengkap dengan sambal terasi dihadapannya
Alea menggeleng cepat dengan mulut yang masih sibuk mengunyah makanan. Butuh beberapa detik sampai makanan itu tertelan sempurna kedalam perutnya sebelum ia mulai berbicara “Yang mau lomba kan kalian berdua, jadi yang belajar ya cuma kalian berdua lah. Aku mau main sama Saemi, iya kan Ser?”
“Eh, kata kamu Saemi itu blesteran Korea kan ya? Pasti cantik deh, mirip idol-idol Kpop gitu. Jadi nggak sabar pengen ketemu Saemi” Alea menyambung kalimatnya, menatapku penuh antusias sambil kembali menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya
Aku menghentikan aktivitasku, mengalihkan pandangan dari kotak bekal menatap Alea yang saat ini masih menatapku penuh antusias menungguku membuka suara
“Alea…..” panggilku pada Alea dengan suara lirih. Tak hanya Alea, Arka yang sedari sibuk memakan bekal makan siangnya juga turut menoleh menatapku
Kuhirup napas panjang sebelum kembali menyambung kalimat yang sempat tertahan dari mulutuku “Sebelum ketemu Saemi, aku mau ngasih tau kamu sesuatu”
Alea hanya mengangkat kedua alisnya, memperlihatkan tatapan seolah olah menggantikan tugas mulutnya yang masih sibuk mengunyah makanan untuk bertanya “mau ngasih tau apa?"
Paham akan arti tatapan Alea, aku kembali membuka suara dengan ragu. Bingung harus menjelaskan kisah Saemi mulai darimana “Seperti yang kamu bilang, Saemi memang memiliki paras yang cantik, bagiku dia cantik banget malah”
Mendengar ucapanku, Alea membanting kasar sendok yang ia pegang ke atas meja. Menelan cepat sisa-sisa makanan yang masih ada di dalam mulutnya sebelum kembali membuka suara dengan antusias “Tuh kan bener tebakanku, kamu yang 100% lokal aja cantik gini apalagi Saemi yang ada darah Koreanya? Udah pasti lebih cantik lah. Kamu ngomong gitu mah mau nyombongin sepupu kamu aja Ser”
Aku menghembuskan napas jengah, lupa kalau saat ini aku sedang berbicara dengan Alea. Ia tidak akan pernah paham kalau saat ini aku akan memulai obrolan yang serius “Iya tunggu dulu, aku belum selesai ngomong Al”
Alea hanya mengangguk, sementara Arka sedari tadi hanya diam memperhatikan dengan mulut yang masih selalu sibuk mengunyah beberapa suap terakhir makanannya. Karena memang aku memang pernah menceritakan perihal kisah Saemi kepada Arkan sewaktu makan siang beberapa hari yang lalu, hanya sedikit
Mungkin saat ini ia memilih diam untuk mendengarkan lebih lanjut ceritaku tentang Saemi yang saat ini ia ketahui sebagai sepupuku yang lebih memilih tinggal bersamaku dan kedua orangtuaku daripada harus mengikuti kedua orangtuanya yang saat ini sedang pindah ke Korea karena selalu merasa tidak nyaman ketika harus bertemu dengan orang asing. Serta mengenal Saemi sebagai sepupu dan sahabat terbaikku yang kehilangan rasa kepercayaan dirinya sehingga selalu menyembunyikan keberadaannya dari dunia dengan memilih untuk selalu menghabiskan setiap harinya di dalam rumah
“Dulu, Saemi itu anak yang menggemaskan. Dengan tubuhnya yang berisi, kulitnya yang putih, matanya yang sipit tanpa lipatan juga rambut hitam lurusnya yang tebal Saemi selalu bisa membuat siapapun yang melihatnya akan merasa gemas hingga ingin mencubit pipinya yang tembam. Aku, keluarga besarku dan teman-temanku dulu disekolah sangat menyayangi Saemi karena dia adalah tipe anak yang ramah, periang dan suka tersenyum” aku melanjutkan ceritaku sambil menatap bergantian kedua temanku yang saat ini sudah benar-benar menghentikan aktivitas makan siangnya dan fokus mendengarkan setiap kata yang terlontar dari mulutku
“Sayangnya semua itu udah berubah, Saemi yang periang dan ceria sudah hilang sejak tiga tahun yang lalu. Sejak appa-nya harus dipindah tugaskan keluar kota untuk mengurus cabang perusahaan baru papa, sosok Saemi telah berganti menjadi Saemi yang pemurung, pendiam dan selalu mengurung dirinya dikamar sambil menangis. Ia juga beberapa kali kepergok tante Lusi saat berniat untuk melukai dirinya sendiri menggukan benda-benda tajam yang ada dikamarnya”
Aku terdiam selama beberapa detik, menimang-nimang apakah benar jika aku menceritakan masa lalu kelam yang pernah dialami Saemi kepada kedua temanku seperti ini?
Setelah beberapa saat bergumul dengan pikiranku sendiri, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan ceritaku pada dua orang yang saat ini sedang terdiam sambil menatapku. Menungguku untuk kembali membuka suara dan menuntaskan kisah tragis Saemi “Aku masih ingat jelas, malam itu tepat tiga bulan setelah keluarga Saemi pindah keluar kota. Beberapa saat setelah jam makan malam, eomma-nya Saemi menelfon mamaku dengan suara yang bergetar karena menahan isak tangisnya”
Aku kembali terdiam, mengingat kejadian hari itu benar-benar sangat mengaduk emosi serta perasaanku. Arka dan Alea ikut terdiam, tetapi pandangan mata mereka masih fokus menatapku. Mungkin mereka tidak tau harus bereaksi seperti apa pada situasi seperti ini
Situasi masih hening ketika kurasakan tangan Arka mengusap lembut tanganku seperti tengah memberikan kekuatan untukku agar kembali menuntaskan ceritaku
Sambil menghirup napas panjang, aku kembali membuka suara. Menyambung cerita yang telah beberapa kali terputus “Saat itu tante Lusi bilang sama mama kalau Saemi sedang dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri setelah meminum sepuluh obat tidur dalam waktu yang bersamaan”
“Aku, mama sama papa yang saat itu sedang bersantai sambil menonton TV diruang keluarga langsung panik. Setelah tante Lusi memberikan alamat rumah sakitnya, kami langsung bergegas menyusul mereka untuk melihat kondisi Saemi”
“Butuh waktu setidaknya tiga puluh menit hingga dokter yang menangani Saemi akhirnya keluar dari UGD dan memberikan kabar yang membuat kami sedikit bisa menghembukan napas lega”
“Saemi selamat, tapi ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dirawat di rumah sakit mengingat kondisi overdosisnya yang lumayan parah”
“Dia tetap mengurung diri dikamar dan tidak mau membuka suaranya untuk berbicara, dia juga selalu ketakutan saat ada orang yang masuk ke dalam kamarnya atau mendekatinya”
“Saat itu kami benar-benar tidak paham kenapa Saemi bisa berubah menjadi seperti itu hanya dalam waktu yang singkat? hingga kemudian tante Lusi memutuskan untuk membawa Saemi ke psikolog agar mendapatkan terapi kejiwaan”
“Setelah hampir dua bulan mengamati sikap Saemi yang selalu mengurung dikamar, sikap saemi yang dulunya ceria menjadi mendadak pendiam, sikap Saemi yang merasa takut dan tidak nyaman saat didekati ataupun dipertemukan dengan orang asing serta tindakan Saemi yang beberapa kali tertangkap basah oleh tante Lusi saat akan melukai diri sendiri hingga yang paling parah percobaan bunuh diri yang dilakukan Saemi dengan meminum obat tidur hingga dirawat selama satu bulan di rumah sakit membuat psikolog yang merawat Saemi menduga bahwa Saemi telah mengalami hal yang tidak mengenakkan entah itu dilingkuan atau sekolah barunya sehingga megakibatkan Saemi menjadi trauma terhadap orang asing”
“Mengetahui fakta itu, mamaku langsung menyarankan agar orangtua Saemi segera mengunjungi wali kelas Saemi di sekolah barunya buat menggali informasi yang mungkin dapat menjelaskan perubahan sikap Saemi akhir-akhir itu”
“Orang tua Saemipun langsung menyetujui usulan mama dan mereka langsung mendatangi sekolah baru Saemi saat itu juga. Sayangnya setelah menceritakan segala sesuatu yang menimpa Saemi, wali kelas Saemi sama sekali tidak mengetahui informasi apapun dan malah terkejut mendengar bagaimana parahnya kondisi kesehatan Saemi saat itu”
“Akhirnya wali kelas Saemipun memanggil beberapa teman sekelas Saemi termasuk ketua kelas Saemi ke ruangguru untuk menceritakan bagaimana sikap Saemi disekolah dan bagaimana teman-teman baru Saemi memperlakukan Saemi di sekolah”
“Dan dari situlah akar permasalahan perubahan perilaku Saemi bisa terungkap, karena salah satu anak yang dipanggil oleh wali kelas itu berani meceritakan dengan detail setiap perlakuan yang diterima Saemi sejak ia pindah ke sekolah barunya”
“Anak itu mengatakan bahwa ada satu kelompok perisak disekolah yang selalu mengganggu Saemi setiap harinya. Mereka selalu menyerang Saemi dengan tindakan ataupun kata-kata kasar yang membuat Saemi ketakutan dan akhirnya menjadi trauma”
“Anak-anak perisak itu selalu mengatai tubuh berisi Saemi serta bersikap rasis kepada Saemi yang memang penampilan luarnya mirip seperti appa-nya yang orang Korea”
“Selain mengatai fisik Saemi yang memang berisi serta berlaku rasis dengan penampilan Saemi. Mereka juga sering mengganggu Saemi dengan menyebunyikan seragam sekolah Saemi, merobek buku tugas Saemi, mencoret bangku Saemi dengan kata-kata yang tidak pantas, mengunci Saemi dikamar mandi saat jam pelajaran masih berlangsung, hingga menukar bekal makan Saemi dengan makanan basi yang membuat Saemi pada akhirnya tidak makan selama disekolah” aku menghirup napas panjang dan mengehembuskannya perlahan setelah berhasil menyelesaikan kisah tragis Saemi yang selama ini selalu aku dan keluarga besarku simpan rapat-rapat serta tidak pernah kami bahas atau ceritakan dengan orang lain diluar keluarga
Suasana masih hening ketika aku sudah selesai menuntaskan ceritaku. Tak ada yang membuka suara baik Arka atau Alea yang sedari tadi fokus mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulutku tanpa sedikitpun menyela. Hingga tiba-tiba terdengar suara isakan tangis keluar dari mulut Alea yang membuatku menjadi bingung dan sedikit panik
“Kok kamu malah nangis sih Al?” tanyaku sambil mengeluarkan sebungkus tisu dari dalam tasku untuk kemudian kuserahkan pada Alea
Alea menerima tisu yang kuberikan, mengambilnya selembar dan menggunakannya untuk menghapus lelehan air mata yang perlahan telah membanjiri pipinya sebelum ia gunakan juga untuk menyeka ingus yang keluar dari kedua lubang hidungnya
Setelah tangisannya sedikit mereda, Alea mulai membuka suara yang membuatku dan Arka kembali fokus untuk mendengarkannya “Aku nggak bisa bayangin Ser, sekacau apa perasaan Saemi waktu itu. Berada ditempat dan lingkungan baru dengan orang-orang asing yang belum pernah ia temui, Saemi malah juga harus ngalamin pengalaman buruk kaya gitu”
“Aku jadi ngebayangin posisi Saemi, gimana ketika geng perisak itu lagi gangguin Saemi. Saemi pasti takut banget, pengen minta tolong pengen minta perlindungan tapi disana nggak ada teman yang dia kenal. Mau ngadu sama orangtuanya juga nggak enak karena pasti orangtuanya masih sibuk ngurusin ini itu setelah pindahan” aku menarik napas berat, mengangguk menyetujui setiap ucapan Alea
“Jadi itu alasan kenapa beberapa hari yang lalu kamu cerita kalau saudara kamu merasa nggak nyaman kalau ketemu sama orang asing? Itu karena dia trauma akibat aksi bullying?” setelah sekian lama hanya terdiam sambil mendengarkan ceritaku, Arka akhirnya mulai mengeluarkan suaranya untuk bertanya
“Iya Ka, waktu itu aku nggak cerita karena emang aku masih ragu. Apa bener kalau aku menceritakan hal yang selama ini menjadi topik yang sangat terlarang bagi keluarga besarku untuk kembali dibahas atau dibicarakan? Selain itu, aku juga belum begitu mempercayai kalian untuk mendengarkan cerita ini”
“Terus apa yang akhirnya membuat kamu yakin untuk menceritakan semua tentang Saemi pada kita hari ini Ser?” Arka kembali bertanya, kali ini dengan menopang dagunya menggunakan sebelah tangannya
“Karena aku mau minta tolong sama kalian” jawabku singkat sambil tersenyum tipis menatap Arka dan Alea secara bergantian
Arka dan Alea saling bertukar pandang selama beebrapa detik dengan kedua alis yang ditautkan dan dahi yang berkerut seakan mengisyaratkan bahwa saat ini mereka sedang bingung mencerna kalimatku yang hanya sepotong
Seakan mengerti dengan kebingungan kedua manusia dihadapanku ini, akupun kembali membuka suara untuk memperjelas maksud dari ucapanku sebelumnya “Aku mau minta bantuan kalian buat ngembaliin sifat Saemi yang dulu. Saemi yang ceria, ramah dan suka tersenyum bahkan pada orang yang tidak dia kenal sekalipun”
Alea mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kelas seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat didalam kepalanya. Sedetik kemudian ia menghembuskan napasnya pasrah, mengembalikan fokus pandangannya kearahku “Terus gimana caranya kita bisa bantuin kamu buat balikin sifat Saemi Ser?”
Aku sedikit mencondongkan badanku kedepan, agar kedua temanku bisa mendengar dengan jelas setiap kalimat yang akan aku ucapkan “Pertama, kalian harus bantu aku buat ngembaliin rasa percaya diri Saemi”
“Gimana caranya?” kali ini bukan Alea yang merespon, melainkan Arka