
“Oh iya Saem, eomma sama appa kamu besok mampir kesini dulu kan sebelum berangkat ke airport?” tanyaku pada Saemi sambil memasukkan potongan buah semangka yang dihidangkan oleh mamaku beberapa saat lalu kedalam mulut
Setelah sempat saling berpelukan melepas rindu di teras rumah, aku dan Saemi memutuskan untuk melanjutkan aktivitas kami di dalam rumah. Dan disinilah kami sekarang, duduk diatas karpet beludru ruang tengah dengan aneka potongan buah, kue kering serta beberapa macam keripik tersaji rapi diatas meja lengkap dengan satu kotak besar jus jambu yang tersaji rapi diatas meja. Siapa lagi yang menyiapkan ini semua kalau bukan mama?
“Iya Ser, nanti eomma sama appa bakal pamitan dulu kesini sebelum berangkat ke bandara” jawab Saemi sambil meraih kotak berisikan jus jambu yang ada diatas meja dan menuangkan isinya kedalam gelas. Setelah gelas itu penuh, ia mulai meneguk isinya hingga tersisa separuh
“Kamu pasti minta dianterin kesini duluan karena udah kangen banget sama aku kan….” godaku sambil mencubit gemas pipi tembam Saemi
Mendapat perlakuanku, Saemi tidak berontak. Ia hanya tertawa dan ikut mencubit keras pipiku menggunakan jari tangannya yang besar dan empuk
Setelah melepas cubitan tangan dari pipi kita masing-masing, Saemi membuang napas pelan sebelum akhirnya ia membuka suara sambil menatap dalam kearahku “Hahaha, kan emang sejak keluargaku pindah dua tahun lalu kita udah jarang banget ketemu Ser. Paling kita ketemu cuma pas lebaran aja”
Saemi memperlihatkan senyuman simpul diwajah tembamnya yang lucu. Senyuman simpul yang selalu berhasil membuat aku serta keluarga besarku menjadi sakit setiap melihatnya
Aku berniat untuk merespon kalimatnya, sebelum ia kembali membuka mulut saat aku belum sempat mengucapkan kalimat apapun dari mulutku
“Oh iya, aku ada sesuatu buat kamu Ser” ucapnya sambil memberikan paper bag berukuran sedang dengan motif bunga mawar kepadaku
“Apa ini Saem?” tanyaku penasaran saat menerima paper bag dari tangan Saemi. Dengan cepat akupun membuka paper bag itu dan mengintip sesuatu yang ada di dalamnya
“Bukan dari penulis terkenal sih, tapi aku lihat banyak yang ngasih review bagus. Jadi aku beliin satu buat kamu” ucap Saemi dengan tangan yang saat ini sedang sibuk meraih choco cookie yang ada dimeja
Saemi terseyum melihat antusiasku saat mengeluarkan benda dari dalam paper bag pemberiannya
Dengan mata berbinar aku menatap benda yang ada ditanganku saat ini. Sebuah novel romance yang tidak terlalu tebal, karya dari penulis pendatang baru yang akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan karena gaya tulisannya yang terkesan santai tapi menjadikan candu bagi pembacanya
“Wah, makasih banget Saem. Kamu masih inget kalo aku suka baca novel romance?” tanyaku dengan menatap Saemi tidak percaya
Tiga tahun lebih kita berpisah, tapi dia masih mengingat dengan jelas hal-hal yang aku sukai. Seperti novel ini contohnya
Tak tahan menahan haru, akupun berhambur memeluk tubuh gempal Saemi dari samping yang membuat dia terkekeh geli sambil berusaha melepas pelukanku
“Gimana aku bisa lupa? Kamu kan suka banget seharian ngurung diri di kamar buat baca novel pas masih SMP, sampai aku minta buat ditemenin beli es krim di kedai depan komplek aja kamu cuekin” ucap Saemi kembali terkekeh sambil memicingkan matanya kapadaku
Mendengar protes Saemi, aku ikut terkekeh sambil kembali mengahambur memeluk tubuh Saemi yang memang terasa sangat nyaman untuk dipeluk
“Hahaha, iya juga ya. Meskipun udah dicuekin seharian, kamu bakal nungguin aku dipojok kamar sambil ngomel-ngomel sampai aku mau temenin kamu beli es krim” ucapku ikut terkekeh mengenang hari-hari kami dimasa lalu
Aku mendongakkan kepalaku, menatap Saemi yang masih sibuk mengunyah keripik kentang dimulutnya sebelum kembali mengatakan sesuatu dari mulutku
“Kalau boleh jujur, aku kangen dulu pas SMP Saem” entahlah, karena terbawa suasana secara tidak sadar mulutku malah mengeluarkan kalimat yang sama sekali tidak ingin Saemi dengar atau bahas karena dapat membawa kembali kenangan yang sangat ingin Saemi lupakan
Tapi aku juga tidak bisa menahan mulutku ini untuk tetap melanjutkan kalimatku. Karena saat ini aku benar-benar merindukan saat-saat itu, saat dimana Saemi selalu tersenyum ceria dengan wajah polosnya yang sangat menggemaskan
Saemi menghembuskan napas berat, ia menatapku sekilas sebelum mengalihkan pandangannya pada gelas kosong diatas meja
Sambil tersenyum kecut, Saemi mulai merespon kalimatku “Maksudnya Ser?”
Aku sangat paham bahwa saat ini Saemi hanya berlagak bodoh dengan berpura-pura tidak memahami ucapanku. Saemi jelas mengetahui dengan pasti apa arti dari setiap ucapanku tadi. Ia hanya sedang memberikan kode agar aku segera menghentikan obrolan ini dan mengganti topik lain yang lebih perlu untuk dibahas
Aku melepaskan pelukanku pada tubuh Saemi. Membalikkan tubuh gempal itu agar menatapku sehingga dapat memahami setiap kata yang akan kembali aku ucapkan
“Aku kangen Saemi yang dulu, Saemi siswa kelas satu SMP yang selalu merengek minta ditemani beli jajanan pinggir jalan sepulang sekolah meskipun tau akan dimarahi mama jika ketahuan beli jajan sembarangan" aku sedikit menjeda kalimatku sambil menghirup napas panjang
"Aku juga kangen sosok Saemi yang dulu. Saemi yang ceria dan selalu menghiburku setiap kali aku dapat nilai jelek disekolah” aku melanjutkan kalimatku sambil menatap dalam manik mata Sami. Saat ini aku sangat sadar jika kalimat yang baru saja aku lontarkan akan mengubah suasana hati Saemi menjadi buruk
Meskipun begitu, aku tetap tidak bisa mengehentikan mulutku begitu saja. Aku sudah lelah. Aku merasa sangat lelah melihat Saemi tiga tahun terakhir ini.
Tidak hanya kasihan, aku juga turut merasa sakit melihat Saemi yang selalu mengurung diri dirumah dan menyembunyikan diri dari dunia. Menghabiskan setiap harinya hanya untuk belajar, bermain dan berdiam diri dirumah
Aku sangat ingin melihat Saemi kembali menjadi sosok Saemi tiga tahun yang lalu. Saemi yang selalu tersenyum dan memberikan kebahagiaan bagi siapapun yang berada didekatnya hanya dengan melihat senyum manisnya
“………..” Saemi hanya bergeming mendengar perkataanku. Ia sama sekali tidak mengalihkan pendangannya dari mataku, tapi dia hanya diam dengan kantung mata yang terlihat sedikit bergetar
“Aku kangen hari-hari kita dulu Saem. Dulu kita sering banget nonton film di bioskop, pergi spa ke salon sampai dimarahin mama karena ngabisin duit, beli baju di mall, pergi ke kedai es krim, beli buku atau nongkrong seharian di café setelah ujian” ucapku lembut mencoba untuk dapat masuk dan menghapus luka dari dalam hati Saemi dengan menceritakan hal-hal bahagia yang pernah kita lalui di masa lalu
“Saem, nggak semua anak jahat kayak mereka---”
“Udah cukup Ser, kamu tau kan kalau aku nggak suka kamu bahas masalah ginian lagi” Saemi menyela kalimatku dengan suara bergetar. Air mata yang sedari tadi ia tahan sudah luruh membasahi pipinya
Aku menangkup pipinya dengan kedua tanganku. Entah sejak kapan, air mata juga sudah mengalir deras dari kedua bola mataku “Saem, aku kaya gini karena aku sayang sama kamu. Aku pengen liat Saemi yang ceria kayak dulu. Aku nggak mau lagi liat kamu yang cuma bisa ngurung diri seharian dirumah. Aku nggak mau liat Saemi yang terus-terusan sedih dan terpuruk gara-gara perbuatan para pecundang kayak mereka Saem. Aku mau liat senyuman bahagia yang terukir manis di wajahmu lagi Saem, bukan senyuman simpul atau senyuman kecut yang selalu kamu tunjukin dua tahun terkahir ini”
“Disini ada aku Saem. Disini ada aku, ada mama, ada papa yang bakal selalu ada disamping kamu dan siap bela kamu kapanpun kalau ada orang yang jahatin kamu” aku melanjutkan kalimatku dengan isak tangis yang tidak lagi dapat kutahan
“Lihat aku Saem---” ucapku masih dengan menangkup wajah Saemi yang saat ini mengalihkan pandangannya kearah lain
“Aku bilang cukup Ser. Satu hal yang perlu kamu inget sebelum kamu melanjutkan ucapanmu adalah kamu bukan aku Ser. Sekeras apapun kamu mencoba untuk menempatkan diri diposisiku kamu nggak akan pernah bisa bener-bener ngerasain apa yang aku rasain Ser, karena kamu bukan aku. Karena kamu bukan Saemi yang ngelewatin hari-hari mengerikan itu secara langsung!” bentak Saemi saat aku belum sempat menyelesaikan kalimatku
“Kalau kamu sengaja bahas masalah ini suapaya aku merubah keputusanku, kamu cuma buang waktu kamu Ser, karena sampai kapanpun keputusanku akan tetap sama. Aku lebih nyaman menjalani hidup seperti sekarang” tegasnya sembari berdiri dari posisi duduknya tanpa menatap mataku. Entahlah, mungkin saat ini dia benar-benar marah padaku
“Eomma udah cariin aku guru privat, dan aku akan sekolah disini mulai besok” ucapnya lagi sambil berlalu meninggalkanku yang masih menunduk menatap potongan buah semangka yang sudah tidak terlihat menggiurkan lagi dimataku
Aku hanya bisa terdiam hingga punggung Saemi sudah tidak lagi terlihat oleh pandangan mataku. Biar bagaimanapun apa yang dikatakan Saemi benar. Sekeras apapun aku mencoba memahami posisinya, aku tidak akan pernah benar-benar bisa merasakan kesulitan yang telah Saemi rasakan.
Aku tidak pernah berada pada posisinya, dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa memahami perasaan Saemi. Karena aku adalah Saerina, bukan Saemi.
Meskipun begitu, bukan berarti saat ini aku tidak peduli padanya. Justru karena aku sangat peduli pada Saemi, sehingga aku bersusah payah membujuknya untuk tidak larut dalam keterpurukan.
Hanya karena tindakan tak bertanggung jawab yang dilakukan oleh teman di sekolah barunya dulu, ia jadi kehilangan kepercayaan diri dan juga keberanian untuk meunjukkan dirinya pada dunia. Entahlah, kenapa aku malah menyebut makhluk seperti itu sebagai teman Saemi? Sebutan mahluk bahkan masih terlalu halus untuk menyebut manusia tak beretika yang telah merenggut senyuman manis dari Saemi.
...***...
“Ser, kamu tadi ngomong apa aja sama Saemi? Kok dari tadi mama panggilin dia nggak mau keluar dari kamar?” tanya mama dengan tangan sibuk menata lauk kedalam piring saji
Sejenak aku mengehentikan aktivitasku menata piring beserta sendok diatas meja untuk menjawab pertanyaan mama “Serina nggak ngomong apa-apa kok ma”
“Serina cuma bilang sama Saemi kalo Serina kangen liat Saemi yang dulu” aku melanjutkan kalimatku menjawab pertanyaan mama sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil sup buntut kesukaan papa dan memindahkannya keatas meja makan
Mendengar jawabanku mama mengehentikan aktivitasnya. Menatapku sebentar sebelum memukulku pelan menggunakan centong nasi yang ada ditangannya “Serina! kan mama udah bilang kamu jangan ngomong yang aneh-aneh dulu sama Saemi”
“Serina juga nggak maksud buat ngomongin masalah itu sama Saemi ma, tadi Serina kebawa suasana aja jadinya kelepasan” elakku pada mama untuk membela diri. Tapi memang ucapanku tak sepenuhnya salah, karena aku memang sedang terbawa suasan sehingga tanpa sadar melontarkan kalimat sensitive seperti itu pada Saemi
“Pokoknya mulai sekarang kamu jangan bahas yang aneh-aneh dulu sama Saemi. Emangnya kamu nggak kasian? Dia bentar lagi mau ditinggal pindahan sama orang tuanya ke korea, masa kamu mau nambah pikiran dia si Ser” mama melanjutkan omelannya padaku, juga aktivitasnya memindahkan nasi dari rice cooker ke dalam bakul
“Iya ma, Serina minta maaf” ucapku menyesal sambil menunduk. Memangnya apalagi yang bisa ku katakana selain minta maaf disaat mamaku sedang mengomel?
“Yaudah kalo gitu cepet minta maaf sama Saemi dan suruh dia buat cepet-cepet turun buat makan malam” ucap mamaku yang saat ini telah sibuk dengan ponsel ditangannya. Mungkin mama ingin menelfon papa untuk bertanya berapa menit lagi papa akan sampai rumah
Akupun hanya mengangguk pasrah mendengar perintah mama dan bergegas menuju kamar Saemi yang letaknya bersebelahan dengan kamarku di lantai dua.
Sebenarnya aku juga merasa bersalah pada Saemi karena mengungkit masalah yang sangat sentitif baginya siang tadi. Aku juga bingung bagaimana meminta maaf padanya dan membujuknya untuk tidak marah lagi padaku.
“Saem, aku boleh masuk nggak?” tanyaku sambil mengetuk pelan pintu kamar tamu yang mulai hari ini telah berubah menjadi kamar Saemi
“Iya masuk aja, nggak aku kunci kok pintunya” jawab Saemi dari dalam kamar. Entahlah dari suaranya, sepertinya Saemi sudah tidak marah lagi padaku
Setelah mendapatkan izin dari Saemi, akupun mulai membuka pintu dan melangkah pelan masuk kedalam kamar. Kulihat Saemi sedang tidur dengan membungkus seluruh tubuhnya menggunakan selimut bergambar doraemon milikku.
“Saem kamu masih marah sama aku? maafin aku ya soal tadi siang, aku janji nggak bakal ngungkit masalah itu lagi di depan kamu” ucapku pelan sambil mendudukkan tubuhku diatas kasur
“Aku nggak marah Ser” gumam Saemi dengan tidak beralih dari posisinya
“Kalau kamu nggak marah, sekarang kamu bangun ya. Kita makan malam dibawah, mama udah masakin sop buntut buat kita” ucapku mencoba untuk membujuk Saemi. Asal kalian tau saja, semarah apapun Saemi dia tidak akan pernah bisa menolak makanan. Apalagi makanan buatan mama. Itulah yang membuat Saemi tumbuh menjadi gadis dengan tubuh berisi dan pipi tembam yang menggemaskan seperti sekarang ini
Benar saja saja yang aku katakan tadi. Tak selang beberapa detik setelah aku mengatakan sup buntut, Saemi langsung membuka selimutnya dan merapikan ikatan rambutnya sebelum akhirnya berjalan keluar kamar dan meninggalkanku yang saat ini sedang tertawa kecil melihat tingkahnya itu.
“Dasar anak-anak nggak punya hati, bagaimana bisa mereka menyakiti hati manusia sebaik dan semenggemaskan Saemi” ucapku dalam hati sebelum berdiri dari dudukku dan berjalan menyusul Saemi