SERINA: I'M AN EXTRA

SERINA: I'M AN EXTRA
PROLOG



Dengan menahan bendungan air mata yang tinggal menunggu waktu untuk keluar dan membanjiri pipi, kutatap nanar pemandangan tepat didepan mataku saat ini. Dua insan yang sedang berpelukan mesra meresmikan hubungan mereka.


Beberapa kali kupukul pelan dadaku untuk meredam rasa sakit yang semakin lama semakin membuatku kesulitan hanya untuk sekedar bernapas.


Air mata yang sedari tadi coba kutahan dengan sekuat tenaga pun mulai meleleh dengan tak tahu malu ketika kedua orang tadinya berpelukan itu mulai berjalan mendekat kearahku dengan tangan yang saling ditautkan satu sama lain.


Perempuan itu melepaskan tautan tangannya dari laki-laki yang sejak tadi berjalan beriringan dengannya


Kemudian tangan itu ia ulurkan untuk mengapus lelehan air mata yang mungkin saja saat ini sudah merusak riasan tipis pada wajahku


Perempuan itu tersenyum bahagia. Dan tentu saja, senyuman itu berhasil menambah berkali-kali lipat tingkat rasa sesak dalam dada yang sedari tadi kutahan dengan susah payah


Setelah dirasa berhasil menyingkirkan beberapa bulir air mata yang membuat pandanganku menjadi sedikit kabur, ia mulai membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu


“Serina, kok kamu nangis sih, ada apa?” perempuan itu bertanya kepadaku dengan suara lembutnya. Mungkin saat ini dia sedang keheranan melihat air mata yang tak henti-hentinya mengalir dari mata bengkakku. Padahal ini adalah momen bahagianya, tapi kenapa aku malah menangis dengan kacau seperti ini?


Aku hanya diam, memilih tidak menjawab pertanyaan perempuan itu. Pikiranku terlalu kalut, terlalu banyak hal yang berkeliaran di kepalaku. Lidahku terlalu kelu hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan yang perempuan itu lontarkan beberapa saat lalu


Aku terdiam cukup lama, membiarkan tangan lembut perempuan itu dengan telaten mengelus pelan punggungku berharap bahwa cara itu akan ampuh meredakan tangisanku yang semakin menjadi


Sesaat kulihat keduanya saling bertatapan, terlihat bingung bagaimana harus meladeniku yang malah semakin gencar mengeluarkan isakan


Aku menggigit bibir bawahku. Memaksa kedua mataku untuk tidak lagi mengeluarkan air mata yang akan membuatku terlihat semakin kacau dihadapan mereka. Memaksa pergi rasa sesak yang sedari tadi hinggap di dadaku hingga membuatku kesulitan hanya untuk sekedar bernapas


Kudongakkan kepalaku, menatap kedua manusia yang saat ini berdiri dihadapanku bergantian


Dengan susah payah aku menarik kedua sudut bibirku, menatap manik mata perempuan dihadapanku yang saat ini juga sedang menatapku sambil tersenyum tipis


“Nggak kok Saem aku nggak nangis, aku cuma bahagia aja akhirnya kamu bisa bertemu dengan pasangan yang baik dan tulus sayang sama kamu” setelah berhasil menuntaskan kalimatku, aku kembali menunduk, menatap sepasang sepatu baruku yang dibelikan papa beberapa hari lalu sebagai oleh-oleh saat pulang dari kunjungan bisnis diluar negri


Air mataku kembali pecah, tidak sanggup rasanya melihat laki-laki itu merangkul dan menatap Saemi dengan tatapan penuh kasih sayang yang selama ini tidak pernah ia berikan kepada siapapun


Laki-laki itu tersenyum, pandangannya ia alihkan untuk menatapku. Menatapku yang masih menangis sesenggukan dan terlihat sangat menyedihkan


Ia melangkahkan kakinya untuk mempersempit jarak antara aku dengannya. Tangannya terulur, memberikan sebuah sapu tangan yang beberapa saat lalu ia keluarkan dari saku celananya


“Makasih ya Ser, kalau bukan karena kamu kita nggak bakalan bisa sampai di titik ini" Laki-laki itu menjeda kalimatnya, ia kembali tersenyum memperlihatkan dua buah bulan sabit yang menjadi canduku selama ini


'"Makasih karena udah selalu ngedukung dan membantu hubungan kita"


Dadaku semakin sesak, tapi aku tetap memaksakan diri untuk kembali mengangkat wajahku dan tersenyum. Kutatap lekat manik indah milik laki-laki dihadapanku. Manik mata yang membuatku luluh tak hanya pada pertemuan pertama kita disekolah, tapi juga tetap membuatku luluh bahkan setelah dia telah resmi menjadi milik orang lain


“Iya, aku juga ikut seneng kok kalau liat kalian bahagia. Tapi kamu harus janji untuk jaga Saemi baik-baik. Dia adalah sahabat sekaligus saudara terbaik aku, jangan sampai sekalipun kamu nyakitin perasaan dia. Apalagi sampai bikin dia nangis” ucapku dengan suara sedikit bergetar menahan isak tangis sambil mengahapus kasar air mata yang entah kenapa tidak ada habisnya


Laki-laki itu tersenyum semakin lebar yang tak hanya memperlihatkan dua buah bulan sabit diwajahnya, tetapi juga sebuah dimple manis yang bertengger dipipi kirinya


Sambil menggenggam erat tangan Saemi, ia kembali membuka mulutnya “Iya Ser, aku janji bakalan jaga Saemi dengan baik. Aku janji nggak akan membiarkan Saemi mengeluarkan setetes air matapun selain air mata bahagia”


Aku hanya mengangguk, tidak berniat membalas ucapan laki-laki dihadapanku itu dengan kata-kata


Kepalaku terasa berat, mataku terasa semakin panas. Ingin sekali aku berteriak dan berlari menjauh dari situasi ini. Tapi kakiku terasa lemas, hanya sanggup untuk menumpu beban tubuhku yang hancur agar tidak limbung ketanah


Perempuan itu kembali mendekat, merengkuh tubuh tak berdayaku dalam pelukannya yang selalu terasa nyaman. Ia mengelus lembut rambutku yang mulai memanjang “Duh Serina, udah dong jangan nangis terus. Aku do’ain kamu bisa cepet ketemu sama pangeran impian kamu. Aku yakin orang sebaik dan setulus kamu bakalan dipertemukan Tuhan dengan pasangan yang baik pula”


Iya, dan pangeran impian yang aku harapkan untuk bersamaku sebagai pasangan hidup adalah orang yang saat ini berada disampingmu sebagai kekasihmu


Laki-laki yang selama ini selalu kuceritakan kepadamu dengan penuh antusias adalah laki-laki yang beberapa saat lalu telah menyatakan cintanya dengan tulus kepadamu


Aku bukan orang baik Saem. Aku adalah orang jahat yang diam-diam pernah berniat untuk menggagalkan hubungan kalian. Aku adalah orang egois yang pernah berusaha untuk menjauhkanmu dari laki-laki yang saat ini tengah memandangimu dengan perasaan penuh kasih sayang.


Aku bukan orang sebaik itu yang dengan loyal selalu membantu dan mendukung hubungan kalian. Aku hanyalah orang tamak yang selalu merasa iri setiap kali laki-laki itu memperlakukanmu lebih baik dan lebih manis dibanding yang ia berikan padaku


Dan sekarang akupun bingung dengan diriku sendiri Saem, apa saat ini aku sedang menangis karena bahagia melihatmu akhirnya bisa bersama dengannya ataukah saat ini aku menangis karena masih belum bisa sepenuhnya merelakan dia menjadi pasanganmu


Dan saat ini hatiku juga bingung Saem, do’a apa yang seharusnya aku panjatkan pada tuhan tentang hubungan kalian? Benarkah jika aku meminta agar hubungan kalian terus berjalan langgeng? Atau seharusnya aku memohon kepada tuhan agar hubungan kalian bisa secepatnya berakhir?


Meskipun begitu, aku tetep bahagia melihat dirimu bisa tersenyum selebar itu malam ini. Aku bahagia karena satu-satunya sahabat sekaligus saudaraku yang selama bertahun-tahun harus menderita dan selalu menyembunyikan diri dari dunia, sekarang dipersatukan tuhan dengan seseorang yang luar biasa baik dan mampu mencintaimu dengan apa adanya


Aku akui, memang sulit bagiku memanjatkan doa kepada tuhan agar hubungan kalian tetap langgeng selamanya. Namun, tak sulit bagiku untuk mendo’akan agar senyuman lepas nan manis yang terukir diwajahmu malam ini bisa terus terlihat selamanya


Ternyata benar, ini bukanlah ceritaku. Peranku hanya menjadi pelengkap perjalanan cinta kalian. Semoga tuhan selalu memberkati kebahagiaan dalam hidupmu Saem, aku pamit!