
Saat ini aku dan Arka sedang berada di dalam mobil yang dikendarai oleh pak Bagus. Dalam perjalanan menuju tempat dimana olimpiade sains akan dilaksanakan. Suasana di dalam mobil terasa sangat hening dan sepi, hanya beberapa kali terdengar suara klakson yang sengaja pak Bagus bunyikan saat ada kendaraan yang menyetir ugal-ugalan ataupun menyalip dengan tidak mematuhi aturan dijalanan
Aku dan Arka sibuk membaca ulang materi yang telah kami pelajari selama seminggu penuh kemarin, sementara pak Bagus fokus menatap jalanan kota yang sudah sangat padat meskipun matahari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya ke bumi. Menyetir dengan kecepatan sedang untuk memastikan agar dua penumpang yang beberapa saat lagi akan berjuang mengharumkan nama sekolah sampai dengan selamat ditempat tujuan
Sesekali aku menyenggol bahu Arka, menanyakan jawaban dari soal yang belum ku mengerti ataupun untuk sekedar memastikan jawaban dari soal yang telah aku kerjakan selama perjalanan di dalam mobil
Lokasinya tidak terlalu jauh dari bangunan sekolah kami, mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit hingga mobil yang pak Bagus kendarai berhasil melewati gerbang utama bangunan kampus dan terparkir rapi pada salah satu parkiran gedung yang akan digunakan sebagai tempat perlombaan nanti
Aku menutup bendel tebal yang sedari tadi tidak pernah lepas dari tanganku ataupun perhatianku selama perjalanan di dalam mobil. Memasukkannya kembali kedalam tas ransel berwarna biru kesayanganku sebelum hendak beranjak turun dari dalam mobil. Namun belum sempat aku membuka pintu mobil, Arka mencekal tanganku. Kulihat dia sedang membuka tas ransel hitam yang ada dipangkuannya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana
“Nih minum dulu biar nggak tegang. Kamu udah sarapan kan sebelum berangkat?” Arka bertanya dan menatapku dengan sangat lembut, sementara tangannya menyodorkan kotak susu rasa stroberi kesukaanku
Aku hanya mengangguk, mengambil kotak susu stoberi dari tangannya. Kemudian menusukkan sedotan kecil yang tertempel disalah satu sisi kotak susu tersebut pada lubang yang ada di bagian atasnya
Arka semakin melebarkan senyumannya ketika melihatku meminum susu stroberi pemberiannya, sementara tanganya dengan gesit kembali menutup resleting ranselnya. Mengalungkan ransel tersebut pada kedua tangannya sambil memberikan isyarat kepadaku untuk segera turun dan menyusul pak Bagus yang sudah terlebih dulu turun dari dalam mobil
“Arka, Serina, nanti waktu soalnya udah dibagikan dan waktu pengerjaan sudah dimulai, kalian langsung bagi tugas sesuai keahlian seperti yang telah kalian sepakati selama simulasi kemarin ya” ucap pak Bagus padaku dan Arka sambil berjalan masuk kedalam gedung tempat perlombaan akan dilaksanakan. Aku dan Arka mengangguk kompak merespon pesan dari guru pembimbing eksklusif kami selama seminggu terakhir ini
Melihatku dan Arka yang hanya mengangguk sebagai respon, pak Bagus kembali melanjutkan ucapannya “Jangan panik! Kerjakan soal yang kalian anggap paling mudah terlebih dahulu, jangan buang waktu karena terpaku pada satu soal yang sulit sehingga mengabaikan soal-soal yang lainnya”
“Kalian juga harus teliti waktu masukin rumus ataupun angka. Jangan buru-buru, pahami betul jenis soalnya baru kalian eksekusi buat masukin rumus”
“Inget! Ini perlombaan yang sesungguhnya, bukan simulasi. Sekali kalian jawab satu soal salah, kalian langsung akan dapat poin minus. Jadi lebih baik kalau kalian ragu dikosongin saja”
“Satu lagi pesen bapak, usahakan kalian luangin waktu sepuluh menit sebelum waktu pengerjaan berakhir untuk saling kroscek jawaban dari soal yang kalian jawab masing-masing”
“Kalian udah pada sarapan kan tadi dirumah?” tanya pak Bagus setelah menyadari bahwa sepanjang perjalanan menuju gedung berlantai tingkat itu aku membawa sekotak susu stroberi pemberian Arka beberapa saat lalu yang sudah kuminum setengah ditangan kananku
Menanggapi pertanyaan pak Bagus yang ditujukan padaku dan Arka, aku hanya mengangguk sambil meremas pelan kotak susu yang berada ditanganku. Meluapkan rasa gugup yang sedari tadi tertahan malah semakin semakin bertambah kuat ketika melihat banyaknya peserta yang akan turut meramaikan kegiatan perlombaan nanti
Menyadari perubahan sikapku, pak Bagus kemudian mendekat kearahku. Beberapa kali menepuk bahuku sambil kembali memberikan wejangan yang bukannya membuatku membaik malah semakin membuatku tegang “Nggak usah gugup, yang penting kalian saling percaya dan kompak”
“Kalian adalah murid kebanggan almamater sekolah kita, kalian dipilih karena kalian mampu dan hebat. Jadi jangan khawatir, kalau kalian fokus dan teliti pasti nanti kita akan pulang bawa piala”
Arka mengangguk mantap, sementara aku hanya terdiam tidak menanggapi. Mataku terus berkeliling mengamati satu persatu siswa yang sedang berlalu lalang di dalam gedung. Semuanya memakai almamater berbeda. Membawa catatan kecil ditangannya sambil mulutnya berkomat-kamit entah mengucapkan mantra apa. Ada yang duduk sambil mendengarkan video penjelasan melalui ponsel yang tersambung dengan airpod yang mungkin mereka peroleh dari tempat bimbel, atau ada juga yang duduk lesehan dilantai sambil menyantap menu sarapan pagi. Kutebak mereka adalah peserta yang datang dari luar kota
Pak Bagus membuka tas slempang miliknya. Mengeluarkan dua botol mini air mineral yang beliau bawa dari rumah. Menyodorkan botol tersebut kepadaku dan Arka “Nih kalian minum air putih dulu biar nggak tegang”
Arka menerima kedua botol tersebut dari tangan pak Bagus, membuka salah satu tutup botol tersebut dan menyerahkannya kepadaku
Aku tersenyum menerima botol air mineral tersebut dari tangan Arka. Rasa cemas yang sedari tadi selalu memenuhi tubuhku sedikit memudar karena melihat senyuman serta perlakuan manis yang Arka berikan padaku. Tidak perlu berterimakasih, aku langsung meneguk air tersebut hingga tandas. Meremas botolnya dan melemparnya pada tempat sampah yang berada tak jauh dari tempatku berdiri saat ini
Melihatku dan Arka yang mungkin sudah terlihat sedikit tenang, pak Bagus kembali membuka suara “Kalian tunggu disini dulu ya, bapak mau nemuin panitia dulu buat ambil nomor peserta”
Setelah mendapat anggukan dari kami, pak Bagus mulai melangkahkan kakinya menuju salah satu ruangan yang ada di dalam gedung tersebut. Ruangan dengan daun pintu yang diberikan penanda dari selembar kertas putih bertuliskan registrasi peserta tertempel disana
Aku menghembuskan nafas berat. Membawa tubuhku untuk duduk pada salah satu bangku yang berada didepan sebuah ruangan tempatku dan Arka berdiri saat ini. Arka ikut duduk disampingku. Melepas ransel dari punggungnya untuk kemudian meletakkannya ke dalam pangkuannya
“Ser kamu jangan gugup ya. Kita bisa kok, kita kan udah sering belajar dan simulasi ngerjain soal selama seminggu terakhir ini” ucap Arka menenangkanku setelah ia berhasil mendudukkan tubuhnya pada bangku yang ada disampingku
Aku kembali menghembuskan napasku kasar, mengangkat kepalaku yang sedari tertunduk dan menoleh kearahnya “Ka, tapi aku beneran takut banget. Takut kalau nanti ada banyak soal jebakan. Kamu tau sendiri kan kalau aku sering banget kejebak di model soal begituan pas simulasi kemarin”
Arka sedikit memutar tubuhnya untuk menghadapku “Nggak usah takut, kan kamu ngerjainnya bareng aku. Nanti pas sepuluh menit terakhir kita saling kroscek aja biar saling ngoreksi kalau masih ada jawaban yang salah”
“Lagian kita dipilih sekolah buat ikut lomba ini bukan tanpa alasan Ser, kita dipilih karena sekolah kita percaya bahwa kita bisa, kita mampu. Kalau sekolah aja percaya sama kemampuan kamu, masa kamu sendiri nggak percaya sih sama kemampuan kamu sendiri?” ucap Arka sambil menyunggingkan senyuman manis diwajahnya. Sebuah senyuman yang berhasil membuat satu lekukan kecil hadir pada pipi kirinya. Manis, sangat manis. Hanya dengan melihat senyuman manusia dihadapanku saat ini saja sudah membuat beberapa persen rasa cemasku lenyap seperti terkena sihir
Namun sayanganya, sihir itu hanya bertahan selama beberapa saat. Karena setelah kembali mengedarkan pandanganku dan melihat betapa banyak dan sibuknya lawan yang akan aku dan Arka hadapi beberapa saat lagi, rasa cemas yang sempat berkurang kembali bertambah hingga dua kali lipat “Tapi pesertanya banyak Ka, aku takut kalau kemampuanku nggak bisa ngalahin mereka”
Masih dengan posisi yang sama, Arka kembali membuka suaranya menanggapi kepanikanku “Ser, kita lomba buat jadi juara. Buat jadi yang terbaik, bukan buat ngalahin mereka”
Aku menggeleng, tidak setuju dengan ucapan Arka “Tapi untuk jadi juara kita juga harus ngalahin mereka Ka”
Arka menatap lekat manik mataku, salah satu tangannya ia ulurkan untuk menggenggam tanganku “Bener, tapi niat dan tujuan kita harus kita setting buat jadi nomor satu. Bukan untuk ngalahin ratusan peserta yang nanti bakal jadi rival kita. Dengan begitu beban kita akan terasa lebih ringan Ser, karena tujuan kita hanya kita setting buat harumin almamater sekolah”
Aku hendak kembali menanggapi ucapan Arka, hingga kulihat pak Bagus sedang berjalan mendekati kearah kami dengan dua id card yang berada digenggaman tangannya tepat setelah Arka berhasil menyelesaikan kalimatnya. Menyerahkan id card tersebut kepada kami dan menuntun kami menuju ruangan yang akan kami gunakan untuk bertempur melawan soal beberapa saat lagi
***
Setelah mencari dan menemukan ruang perlombaan kami, saat ini aku dan Arka sudah duduk berdampingan pada salah satu kursi yang ada di dalam ruangan. Terletak di barisan kedua deret ketiga dari depan ruangan. Aku menghirup napas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan melalui mulutku. Mengangkat kedua tanganku sebelum mengucapkan doa apa saja yang aku ingat agar diberikan kelancaran oleh tuhan selama mengerjakan soal yang diberikan nanti
Setelah selesai memanjatkan semua doa yang terlintas dalam kepalaku, aku menatap sekilas kearah Arka. Menatap Arka yang hanya memutar polpen hitam menggunakan jari-jarinya sejak ia sampai di dalam ruangan dan duduk pada bangku disampingku. Meskipun tidak ditunjukkan secara jelas dan gamblang, tapi aku sangat sadar bahwa saat ini Arka juga sedang merasa cemas juga gugup seperti yang tadi hingga saat ini aku rasakan
Merasa bahwa saat ini kita memiliki kekhawatiran yang sama, aku kemudian menepuk bahunya pelan hingga membuatnya menoleh karahku. Ia terseyum, senyum yang tentu saja ia paksakan untuk tidak terlihat cemas dihadapanku. Aku ikut tersenyum, mengangkuk pelan untuk memberikan dukungan serta kepercayaan pada Arka juga pada diriku sendiri bahwa kita dapat menaklukkan setiap soal yang akan dilombakan dan keluar dari ruangan ini sebagai juara
Arka semakin melebarkan senyumannya, mengangguk sebelum menghembuskan napasnya kasar dan kembali menolehkan kepalanya untuk menatap ke arah depan. Menatap empat orang panitia yang mengenakan jas biru tua tengah sibuk melakukan presensi peserta dan mengecek keamanan segel soal yang akan diujikan
Setelah berhasil mengabsen seluruh peserta yang ada di dalam ruangan, salah satu dari panitia itu mengangkat amplop bersegel berisikan lembar soal dari atas meja. Menunjukkan kepada kami bahwa segel tersebut masih utuh dan belum rusak sebelum merobek dan mengeluarkan lembar soal yang ada didalamnya
Segel telah dibuka, dan lembar soal yang ada didalam amplop besar berwarna coklat muda tersebut juga telah dikeluarkan. Tiga panita yang sedari tadi hanya diam berdiri sambil memperhatikan temannya membuka segel amplop berisi soal tersebut mulai berpencar. Membagikan soal dan lembar jawaban masing-masing satu lembar di setiap mejanya dalam keadaan terbalik
“Untuk lembar soal yang saat ini sudah berada diatas meja kalian masing-masing masih belum boleh dibuka sampai ada intruksi mengerjakan soal dari bel yang akan berbunyi beberapa menit lagi. Sambil menunggu bel berbunyi, temen-temen bisa sterilisasi meja masing-masing dengan meletakkan tas yang temen-temen bawa di depan ruangan serta mengosongkan meja ataupun laci dari buku catatan atau barang apapun kecuali pensil, penghapus ataupun pulpen. Untuk ketas hitung nanti akan panitia bagikan, jadi bagi yang masih memegang kertas hitung yang dibawa dari rumah bisa langsung dimasukkan kembali kedalam tas” salah satu dari empat panitia yang bertugas menjaga ruangan yang saat ini aku dan Arka tempati kembali membuka suara, membuat rasa cemas yang sedari tadi aku tahan semakin bertambah berkali-kali lipat. Aku meraba lembar soal yang kini sudah berada dihadapanku, menerawang seperti apa kira-kira soal yang akan aku hadapi beberapa menit kedepan
Aku kembali menoleh menatap Arka yang saat ini tengah memejamkan matanya. Kedua tangannya ia kepalkan, mungkin rasa cemasnya saat ini sudah tidak dapat ia tahan sehingga ia memilih untuk berdoa dan meminta bantuan kepada tuhan seperti ini. sementara saat ini kurasakan kakiku tidak bisa berhenti bergetar melawan cemas dibawah meja sana
“Arka, kita bisa kan jadi nomor satu?”
Tidak memberikan jawaban, ia hanya menoleh sambil tersenyum. Tangan kanannya ia ulurkan untuk mengusap ujung kepalaku sambil menghembuskan napasnya pelan “Bisa, kita pasti bisa Ser! Meskipun persiapan kita cuma seminggu, tapi kita udah berusaha keras. Kita bahkan rela bergadang semalaman untuk baca materi dan ngerjain latihan soal”
“Kita bisa kan pulang dari sini sambil bawa piala?” tanyanku lagi sambil menggenggam tangan kanan Arka yang masih menepuk pelan ujung kepalaku. Entah jawaban apa yang ingin kudengar dari mulut Arka, yang pasti saat ini aku hanya ingin menggenggam tagannya erat. Menyalurkan rasa cemas yang sedaritadi berusaha kutahan dan memggantinya menjadi perasaan nyaman dan menenangkan
Arka kembali mengangguk. Tidak menanggapi pertanyaanku dengan kata-kata. Dia masih tersenyum, sambil menghembuskan napasnya kasar ia menatap tajam kearahku. Sekali lagi ia mengangguk, memberikan isyarat bahwa sudah bukan saatnya bagi kita untuk cemas dan saling menenangkan
Bel sudah berbunyi, kakak-kakak panitia yang sedaritadi hanya diam berdiri di depan ruangan mulai menyebar dan berkeliling ke seluruh penjuru ruangan. Dengan menggigit kuat bibir bawahku, aku mulai membuka lembar soal yang ada dihadapanku. Menatap butir-butir soal yang menunggu untuk dikerjakan. Membacanya sekilas sebelum membagi beberapa lembar soal tersebut kepada Arka untuk dikerjakan
“Kita bisa!”