SERINA: I'M AN EXTRA

SERINA: I'M AN EXTRA
MISI GAGAL?



Dengan setengah berlari aku bergegas menuju kamar Saemi yang letaknya hanya berbatasan dinding dengan ruang belajar yang sedari tadi kutempati. Sebisa mungkin aku menahan diri untuk tidak berteriak memanggil nama Saemi agar tidak memancing kecurigaan mama yang saat ini masih terhanyut dalam cerita sinetron yang sedari ia tonton


Saat keluar dari ruangan, aku mendapati keberadaanAleai yang tengah berdiri tepat di depan pintu kamar Saemi dengan pandangan menunduk. Ponsel yang ia genggam pada tangan kirinya masih menyala, layarnya menampilkan nama kontak yang baru saja ia hubungi beberapa detik yang lalu


Aku sudah tidak lagi berniat untuk menanyakan siatuasi apa yang terjadi kepada Alea yang juga masih terdiam walaupun menyadari keberadaanku di dekatnya. Fokusku saat ini adalah segera menemui Saemi untuk mengetahui secara langsung bagaimana keadaan Saemi saat ini tanpa harus melalui perantara penjelasan Alea


Dengan tangan yang sedikit bergetar, aku membuka gagang pintu kamar Saemi. Mendapati gadis itu tengah duduk meringkuk dipojok ruangan. Kedua telingannya ia tutupi dengan telapak tangan, sementara mulutnya entah sibuk menggumamkan kalimat apa saja


Tubuhku mematung selama beberapa detik mengamati punggung Saemi yang terlihat sedikit bergetar. Memang aku tidak mendengar suara isakan, tapi dapat kupastikan saat ini ia sedang menangis karena merasa ketakutan akibat kehadiran Alea yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya


Aku kembali menutup pintu kamar Saemi. Melangkah pelan menghampiri keberadaan Saemi yang masih duduk meringkuk di pojok ruagan agar tidak semakin membuatnya terkejut apalagi ketakutan. Kurengkuh tubuhnya dalam pelukanku, dengan harapan cara ini akan mampu mengurangi perasaan takut ataupun gelisah yang tengah ia rasakan saat ini


Kuhirup napas panjang melalui kedua lubang hidungku lalu menghembuskannya secara perlahan melalui mulut. Menggerakkan jari-jari tangan kananku untuk merapikan setiap helai rambut Saemi yang terlihat berantakan sebelum mulai membuka suara


“Saem….ini aku, Serina” ucapku lirih tanpa berusaha menatap wajahnya yang saat ini ia sembunyikan di dalam pelukanku


Tanpa menunggu respon ataupun jawaban keluar dari mulut Saemi, aku kembali membuka suara “Kamu tadi kaget banget ya? Maafin aku ya, karena nggak bisa nepatin janji aku buat terus jagain kamu”


Saemi masih terdiam. Kurasakan tangannya yang mencengkeram erat bajuku sedikit bergetar “Tapi sekarang udah nggak apa-apa kok, dia udah keluar dari kamar kamu. Jadi kamu nggak usah takut lagi ya Saem….”


Dengan hati-hati, kuulurkan tangan kiriku untuk menggenggam tangannya yang masih saja bergetar, sementara tangan kananku masih kugunakan untuk membelai halus punggung Saemi “Oh iya, kamu inget nggak kalau selama disini aku selalu nyeritain satu temen yang deket banget sama aku disekolah? Yang namanya Alea itu loh, kamu inget kan?”


Aku sedikit memberikan jeda pada kalimatku, menyelingnya dengan pertanyaan yang aku sendiri sudah tau bahwa Saemi tidak akan menjawabnya “Nah, tadi yang nggak sengaja masuk kedalam kamar kamu itu namanya Alea Saem, temen baik yang selalu aku ceritain ke kamu itu. Karena dia anak yang baik, jadi kamu nggak perlu takut lagi ya….”


Setelah mendengar semua kalimat yang keluar dari mulutku, getaran pada tubuh Saemi sedikit berkurang. Mulutnya juga sudah tak sesibuk tadi saat mengeluarkan gumaman. Aku melepaskan genggamanku pada tangannya. Merubah tugasnya untuk mengelus pelan surai rambutnya sambil kembali berusaha mengajaknya berdialog dengan beberapa kali melempar pertanyaan “Kamu nggak mau bangun dan duduk di kasur aja Saem? Lantainya dingin loh, nanti kamu sakit”


“Kalau tau bakal gini aku nggak bakal nawarin ke temen-temen aku buat belajar dirumah, jadi maafin aku ya Saem. Kamu mau kan maafin aku?”


“Kalau emang kedatengan temen-temen aku malah bikin trauma kamu jadi kambuh lagi kaya gini, besok-besok aku nggak bakalan lagi deh ajakin temen aku buat main ataupun belajar kesini”


Saemi masih bergeming. Kedua tangannya masih setia memeluk tubuhku erat. Seakan-akan saat ini tubuhku adalah satu-satu tempat paling aman yang dapat meredakan rasa takutannya. Tanganku juga membalas pelukannya tak kalah erat, sementara pandangan mataku berkeliling menatap apapun yang berada disetiap sudut di ruangan ini. Menangkap keberadaan Arka juga Alea yang saat ini sedang berdiri kaku mengamati keberadaanku dan Saemi yang masik duduk dilantaidengan posisi saling berpelukan melaui celah pintu kamar yang sengaja mereka buka


Aku meletakkan jari telunjuk diatas bibirku, memberikan isyarat agar mereka tetap diam dan tidak membuat suara atau keributan apapun yang nantinya akan membuat Saemi yang sekarang sudah terlihat sedikit tenang menjadi kembali atau bahkan bertambah takut


Seakan mengerti dengan isyarat yang ku berikan, Arka dan Alea serempak menganggukan kepalanya. Dengan hati-hati mereka kembali menutup rapat pintu kamar Saemi sehingga tidak ada lagi celah yang dapat mereka gunakan untuk mengamati kegiatan kami


Setelah pintu kamar kembali tertutup rapat, aku semakin mengeratkan pelukanku pada Saemi. Menenggelamkan kepalaku pada ceruk leher Saemi sambil sesekali membisikkan sesuatu ditelingannya. Berharap dengan cara ini rasa takut serta trauma yang saat ini sedang ia rasakan dapat berkurang walau hanya sedikit


Bukan pertama kalinya bagiku melihat trauma Saemi yang tiba-tiba saja kambuh seperti sekarang ini. Dan berdasarkan pengalaman yang kuperoleh dari tante Lusi, satu-satunya yang Saemi butuhkan disaat traumanya kembali kambuh seperti sekarang ini hanyalah pelukan hangat yang menenangkan dari orang terdekatnya. Merangkul tubuhnya erat hingga ia merasa aman juga dilindungi sambil sesekali menepuk punggungnya ataupun mengusap tiap surai rambutnya. Membisikan pelan pada telinganya ‘tidak apa-apa, mereka sudah pergi’ hingga matanya terpejam dan mulutnya berhenti menggumamkan sesuatu karena kelelahan


Membutuhkan waktu yang tidak bisa dibilang singkat untuk dapat membuat Saemi kembali tenang dan tertidur pulas didalam pelukanku. Dengan mengumpulkan seluruh tenaga yang kumiliki, aku mengangkat tubuh Saemi yang hampir dua kali lebih berat dari tubuhku. Merangkulnya menuju kasur berukuran bedar yang berada ditengah ruang kamarnya sebelum merebahkan tubuhnya diatas sana dan menyelimutinya dengan selimut berbulu tebal kesayangannya


Beberapa kali aku kembali mengelus pucuk kepalanya. Membisikkan kata maaf karena sudah merencakan ide gila seperti ini yang tentu saja tidak akan ia dengar karena sudah tertidur pulas. Untuk yang terakhir kalinya, aku kembali membisikan kata maaf kepada Saemi. Maaf karena aku tidak berniat untuk menghentikan misi yang telah terlanjur aku susun meskipun tau kedepannya ia akan menderita seperti saat ini


Bisa dikatakan bahwa saat ini aku memang terlihat seperti orang jahat karena terkesan memaksa saudaranya untuk menghadapi sesuatu yang membuatnya trauma selama beberapa tahun terkahir ini. Tapi ini sebenarnya semua ini aku lakukan demi kebaikan Saemi sendiri. Memang dia akan merasa kesulitan karena harus kembali menghadapi hal-hal yang selama ini ia hindari karena dapat mengingatkannya pada ingatan kelam masa lalu. Tapi jika ia berhasil melewati dan menghadapinya dengan berani, rasa trauma yang selama ini membuatnya menderita tidak akan pernah kembali ia rasakan


Setelahnya merasa cukup, aku melangkahkan kakiku menuju pintu kamar Saemi. Menatap sekilas wajah Saemi yang tenang setelah tertidur pulas sebelum memutar gagang pintu dihadapanku dan berjalan keluar dari dalam kamarnya. Berjalan dengan langkah gontai menuju ruang belajar untuk menemui kedua temanku yang mungkin saja saat ini juga tengah ketakutan karena merasa khawatir dan bersalah dengan keadaan Saemi saat ini


***


Saat masuk ke dalam ruang belajar, aku mendapati keberadaan Arka juga Alea yang tengah duduk saling berhadapan sambil terdiam. Raut muka mereka terlihat sangat kalut ketika melihat kedatanganku dari kamar Saemi setelah berhasil menenangkan ketakutan Saemi akibat ulah Alea yang sengaja masuk ke dalam kamarnya atas ide juga intruksiku beberapa saat yang lalu


Aku ikut bergabung bersama mereka, mendudukkan tubuhku pada lantai ruangan berlapis karpet bulu tebal bewarna putih yang terasa hangat. Hening, tak ada satupun dari kami bertiga yang berniat untuk membuka suara. Pikiran kami terlalu sibuk tenggelam dalam rumitnya isi kepala kami saat ini


Alea kembali membuka suara, tangannya ia gunakan untuk meremas bulu-bulu pada karpet yang sedang ia duduki saat ini. Seakan memberitahukan bahwa saat ini ia tengah merasa gelisah “Gara-gara aku yang nggak hati-hati jalanin misi kita, trauma Saemi jadi kambuh lagi”


Aku menghembuskan napas berat, pandanganku tak pernah kualihkan dari manik mata Alea yang saat ini juga tengah menatapku


“Nggak apa-apa Alea, ini semua bukan salah kamu kok. Lagipula respon Saemi tadi nggak separah yang aku bayangin sebelumnya. Jadi nggak apa-apa, misi kita nggak gagal” ucapku sambil memegang tangan Alea


Mendengar ucapanku, Arka yang sedaritadi hanya diam dan menyimak turut membuka suara. Menepuk pelan bahu Alea untuk sedikit memberikan ketenangan “Iya Al kamu jangan ngerasa bersalah gitu. Lagian kan ini rencana yang kita bikin bareng-bareng, dan kita juga udah tau kan bakal kejadian kaya gini kalau kita maksain Saemi buat ketemu sama orang asing? Jadi udah jangan terlalu merasa bersalah ya Al, respon Saemi tadi juga nggak separah yang kita bayangin kok. Jadi bisa dibilang misi pertama kita berhasil sih”


Aku mengangguk, menyetujui setiap ucapan yang keluar dari mulut Arka. Sementara kedua tanganku masih sibuk menggenggam erat tangan Alea untuk mengurangi kecemasan yang dirasakannya saat ini


“Iya Alea, ini semua ide yang udah kita sepakati bareng-bareng. Jadi kamu jangan ngebebanin diri kamu sendiri dan merasa bersalah kaya gini ya?” ucapku dengan hati-hati yang dibalas dengan anggukan kecil Alea


Melihat keadaan Alea yang sudah jauh lebih tenang, aku kembali membuka suara. Memintanya untuk menceritakan dengan rinci apa saja yang tadi dia lakukan juga apa saja respon yang Saemi berikan “Lebih baik sekarang kamu ceritain ke kita, gimana kronologi lengkapnya sampai Saemi jadi gitu?”


Alea menggigit bibir bawahnya, menarik napas panjang sebelum mulai berbicara “Sesuai arahan dari kamu kemarin Ser, tadi habis dari kamar mandi aku langsung naik keatas. Aku sempat diem dulu beberapa menit didepan kamar Saemi. Takut kalau aku masuk Saemi langsung teriak histeris seperti yang kamu ceritain ke kita”


Alea sedikit memberi jeda pada kalimatnya. Kembali menghirup napas panjang sebelum menyambungnya “Tapi karena aku inget tujuan dari misi kita yang pengen ngebebasin Saemi dari traumanya sama orang asing, aku beraniin diri buat buka pintu kamar Saemi”


“Pas aku buka pintunya, aku liat Saemi lagi santai baca buku sambil makan buah diatas kasur” Alea meneruskan ceritanya sambil menatap aku dan Arka yang saat ini fokus mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya secara bergantian


“Dan pas dia sadar pintunya kebuka, dia langsung noleh. Setelah sadar kalau yang buka kamarnya bukan kamu atau mama kamu dia diem aja selama beberapa detik sambil terus-terusan natap mata aku”


“Karena dia diem aja, jadi aku pikir dia nggak terlalu takut sama aku karena mungkin dia udah pernah denger cerita tentang aku dari kamu dan nggak menganggap aku sepenuhnya orang asing atau orang yang memahayakan bagi dia”


“Akhirnya aku beraniin diri buat masuk, minta maaf karena bukannya masuk ke sini aku malah masuk ke dalam kamarnya”


“Nah disitulah kesalahanku Ser, harusnya aku nggak sok-sokan masuk ke dalam karena merasa Saemi nggak takut sama aku” Alea kembali memberi jeda sambil mengacak pelan rambutnya


“Pas tau aku jalan masuk kedalam kamarnya, Saemi langsung membanting bukunya. Dia langsung lari ke pojok kamarnya. Dia jongkok disana sambil ngeringkuk meluk lututnya sendiri. Mulutnya terus-terusan gumam sesuatu yang aku sendiri juga nggak tau dia lagi ngomong apa”


“Sebenernya aku sedikit lega karena reaksi Saemi pas liat aku masuk ke dalam kamarnya nggak langsung teriak histeris gitu, tapi aku tetep takur Ser”


“Aku tetep takut kalau terjadi apa-apa sama Saemi gara-gara aku” Alea menatap mataku dalam setelah mengucapkan kalimat terakhirnya yang langsung aku belas dengan gelengan cepat. Tangan yang sedari tadi kugunakan untuk menggenggam tangannya, saat ini aku kuganakan untuk menangkup kedua pipinya agar pandangannya tetap fokus menatap mataku


“Kamu nggak salah dan Saemi sekarang udah nggak apa-apa. Itu respon normal yang biasa dia tunjukin kalau dia ketemu sama orang asing. Dan bahkan menurtuku respon Saemi saat ketemu sama kamu tadi adalah respon terbaik yang pernah dia tunjukkan selama beberapa tahun terakhir ini” ucapku tegas sambil menatap dalam matanya


“Aku malah mau ngucapin makasih banyak sama kamu karena udah mau susah-susah bantuin aku kaya gini” lanjutku lagi yang langsung disambut dengan naggukan Alea


Aku melepas tangkupan tanganku pada wajah Alea, mengalihkan pandan mataku untuk menatap Arka yang sedari tadi terus terdiam disampingku “Kamu juga Ka, makasih ya karena udah luangin waktu belajar kamu buat bantuin aku kaya gini”


“Aku juga minta maaf karena waktu belajar buat persiapan olimpiade kita jadi keganggu gara-gara aku” Arka langsung menggelengkan cepat kepalanya mendengar ucapanku


“Setelah aku pikir-pikir, misi yang kita buat saat ini terlalu mendadak dan kurang mateng” aku kembali melanjutkan kalimatku. Menatap Arka juga Alea bergantian


“Jadi menurutku lebih baik misi ini kita pending dulu buat sementara waktu”


“Untuk minggu-minggu ini aku pengen fokusin diri dulu buat belajar persiapan olimpiade yang pelaksanaannya udah tinggal menghitung hari. Aku nggak mau gara-gara misi ini malah bikin belajar kita jadi nggak maksimal dan malah negcewain pak Bagus juga sekolah yang udah ngasih kepercayaan ke kita”


“Setelah olimpiade selesai, baru kita pikirin dan rencanain lagi misi yang lebih mateng buat bantuin Saemi keluar dari kungkungan rasa traumanya. Nanti kalian masih mau kan bantuin aku?”