
“Ser, liat muka aku bentar deh. Bedak aku udah rata belum? Lipstik ku ada yang belepotan nggak?” tanya Alea dengan heboh entah sudah yang keberapa kalinya pagi ini
“Ngga ada Alea, udah bagus kok. Udah cantik kaya biasanya” jawabku malas dengan tidak mengalihkan pandangan dari bu Sarah yang saat ini sedang berdiri di depan kelas menjelaskan materi apa saja yang akan kita pelajari selama satu semester ke depan dengan serius
“Ihhh yang bener dong liatnya. Sekarang coba liat gigi aku Ser, ada cabe yang nyangkut nggak? Tadi pagi kan aku habis makan batagor mang Ayus, nanti ada cabe lagi yang nyangkut di behel aku” tanya Alea lagi dengan antusias yang membuatku sedikit kesal
“Oh iya Al, ada! itu di sela gigi depan kamu. Gede banget lagi” jawabku asal karena sudah merasa lelah dengan segala pertanyaan Alea yang seakan tidak akan ada habisnya
“What? Beneran ?” pekik Alea dengan suara nyaring ditengah penjelasan bu Sarah
Pletak!
Sebuah penghapus papan tulis terbuat dari kayu melayang tepat dimeja Alea.
Hening, Alea membutuhkan waktu sebelum ia dapat memahami situasi yang menimpanya saat ini.
Setelah beberapa saat terdiam, Alea kemudian membungkam mulutnya menggunakan kedua tangan dan menatap bu Sarah dengan tatapan takut . Saat ini ia telah sepenuhnya sadar dengan kesalahan yang telah ia perbuat
“Alea, ini masih jam pelajaran. Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu? Kamu pikir ini pasar? Kalau kamu mau bercanda silahkan keluar saja dari kelas saya!” murka bu Sarah dengan menatap tajam ke arah Alea yang saat ini hanya mampu memperlihatkan muka memelasnya
Bu Sarah memang bukankah guru killer yang hobinya marah-marah di kelas, tapi beliau sangat tidak suka jika ada suara gaduh di dalam kelas saat beliau sedang menerangkan sesuatu didepan kelas
“Maaf bu Sarah, Alea kelepasan. Alea janji tidak akan mengulanginya lagi” jawab Alea pasrah masih dengan muka memelas
Biar saja dia kena omel bu Sarah, memangnya enak? Dengan begitu dia akan membungkam mulutnya rapat-rapat dan tidak lagi menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting seperti tadi.
Kalian pasti bertanya-tanya kenapa dia bertingkah aneh seperti itu saat ini. Jawabannya adalah karena murid pindahan bernama Arka yang beberapa saat lalu bergabung untuk belajar dikelas ini duduk tepat dibelakang bangku kami.
Seperti yang telah kukatakan sebelumnya bahwa aku juga mengakui ketampanan Arka, bahkan aku juga mengakui bahwa dia laki-laki pertama yang berhasil mencuri perhatianku pada pertemuan pertama kami.
Entahlah, apa ini bisa disebut pertemuan pertama? Kita bahkan belum sempat berkenalan.
Meski begitu, aku mencoba untuk tetap terliat biasa saja dan tidak menunjukkan ketertarikanku dengan heboh seperti apa yang dilakukan Alea saat ini.
“Ser, kamu kok tega banget sih bohongin aku, padahal di gigi aku ngga ada cabenya. Kamu sengaja ya biar aku dimarahi bu Sarah” protesnya setelah bu Sarah kembali menerangkan sesuatu yang sempat terjeda akibat ulah Alea
“Makanya Al, kan udah aku bilang jangan banyak nanya pas jam pelajaran. Udah bagus aku jawab” ledekku penuh kemenangan pada Alea
“Jahat banget sih. Padahal aku kan ngga bermaksud ganggu konsentrasi kamu. Aku cuma mau nanya penampilanku udah oke apa belum? Pelajaran juga belum mulai, memangnya ada yang perlu dikonsentrasiin?” celoteh Alea lagi seperti tidak ada kapoknya setelah menerima hadiah penghapus papan tulis dari bu Sarah
Kembali mendengar celotehan yang keluar dari mulut Alea membuatku menghembuskan napas jengah sambil menatap malas ke arahnya
“Tuh kan udah mulai ngoceh lagi! Kamu nggak kapok diomelin sama bu Sarah kaya tadi? Kalo sekali lagi kamu nggak diem, aku bekap mulut kamu pakai kaos kaki Rafa, mau?” ancamku yang saat ini sudah sangat malas untuk kembali mendengarkan setiap celotehan yang akan keluar dari mulut Alea
“Kok kamu gitu banget sih Ser sama aku? Aku kan cuma pengen usaha untuk memberikan kesan yang baik di pertemuan pertamaku sama Arka” Aku ingin sekali benar-benar membungkam rapat-rapat mulut Alea sebelum kurasakan ada yang menepuk pelan bahuku dari belakang
Reflek, akupun menoleh dan mendapati siswa baru itu sedang menatapku sambil mengulurkan tangannya
“Hai! aku Arka, kamu?” ucap pemilik tangan yang menepuk bahuku beberapa detik lalu dengan senyuman manis yang mengembang diwajahnya
Entahlah, setelah mengakui bahwa dia memiliki wajah yang tampan, sekarang aku juga mengakui bahwa dia memiliki senyuman yang sangat menawan
Aku sempat terdiam beberapa saat untuk memandangi dimple yang terbentuk di pipi kirinya saat ia tengah terseyum.
Aku segera menggelengkan kepalaku untuk kembali fokus sebelum wajahku akan berubah menjadi kepiting merah karena terlalu lama memandangi senyuman Arka yang mampu membius siapun yang melihatnya. Termasuk diriku sendiri
“Eh, Hai! aku Serina” ucapku kikuk dengan menerima uluran tangan yang Arka berikan
“Salam kenal ya Serina, semoga kita bisa berteman baik kedepannya” jawabnya masih dengan senyuman manis diwajahnya. Ah bukan, melainkan dengan senyuman yang lebih manis dari sebelumnya
“Hai Arka! kamu dari SMA Nusa Bangsa ya? Aku ngga tau sih itu sekolahnya di kota mana, tapi salam kenal ya nama aku Alea” ucap Alea dengan penuh antusias sambil menarik tangan Arka untuk ia ajak berjabat tangan. Begitulah Alea, mungkin sejak lahir ia tidak diberkati tuhan dengan urat malu di tubuhnya
“Hai Alea! salam kenal juga ya. Semoga kita bisa jadi teman baik kedepannya” ucap Arka kepada Alea yang saat ini sedang tersenyum kegirangan
“Jangankan jadi temen baik, jadi temen hidup aku juga mau kok Ka” ucap Alea tak tahu malu. Kalau sudah seperti ini aku jadi tak hanya ingin membungkam mulutnya, tetapi juga ingin memasukkan tubuhnya kedalam karung lalu melemparnya ke rawa-rawa pinggir kota
“Alea..” ucapku sambil menyenggol siku Alea yang saat ini malah cengengesan
“Maaf ya Ka, Alea emang gitu anaknya. Jadi jangan kamu masukin hati ya kalo dia ngomong yang aneh-aneh” ucapku pada Arka sambil memutar tubuhku kembali menghadap ke depan kelas untuk kembali mendengarkan penjelasan bu Sarah
Aku bukannya cuek dan tidak mau mengobrol lebih dengan Arka, hanya saja jika terus-terusan memandang wajah Arka sesuatu yang aneh terus terasa dalam diriku. Bisa-bisa aku kehilangan kendali dan menunjukkan ekspresi yang tak ingin kuperlihatkan padanya
“Dih sirik aja sih kamu Ser” ucap Alea merespon kalimatku dengan memanyunkan bibirnya
“Hahaha, kalian lucu banget sih. Kalian temenan udah lama ya?” tanya Arka kepada Alea dengan setengah berbisik. Takut kalau suaranya akan terdengar bu Sarah dan mendapat hadiah penghapus papan tulis seperti yang dialami Alea beberapa saat lalu
“Iya, aku sama Serina udah temenan dari kelas 10. Tau nggak sih Alea itu anak populer lo disekolah, apalagi dikalangan guru dan anak laki-laki. Dari jaman kita baru masuk sekolah Serina tuh sering banget ditembak cowok. Tapi ya gitu, semuanya ditolak sama dia. Emang dasar si Serina punya wajah cantik tapi ngga bisa manfaatin dengan baik. Kalau aku jadi dia udah pasti aku pacarin semua cowok keren disekolah ini” ucapnya dengan penuh antusias
“Oh gitu, tapi kenapa semua cowok yang nembak dia ditolak semua?” tanya Arka masih dengan suara setengah berbisik
Pletak!
Sebuah penghapus papan tulis mendarat sempurna diatas meja Alea untuk kedua kalinya sebelum ia sempat menuntaskan celotehannya kepada Arka.
Biar saja kali ini Alea benar-benar mendapatkan hukuman dari bu Sarah. Karena yang aku tau bu Sarah tidak akan mentoleransi kesalahan sama yang dilakukan oleh siswanya. Apalagi kesalahan itu dilakukan untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.
Siapa suruh dia membicarakanku didepan murid baru itu? Apalagi aku berada tepat disampingnya dan masih bisa mendengar apapun ucapannya.
“Alea, keluar dari kelas ibu sekarang juga!” murka bu Sarah kepada Alea untuk yang kedua kalinya pagi ini
“Bu maafin Alea, Alea kelepasan lagi. Alea janji nggak bakalan ngobrol dikelas lagi bu, maafin Alea ya” mohon Alea denan muka lebih melas dari sebelumnya. Tentu saja cara itu sudah tidak mempan bagi bu Sarah
“Alea, ibu hitung sampai 3! 1… 2… ” gertak bu Sarah yang mulai menghitung mundur
“Bu tapi tadi Arka sama Serina juga ngobrol kok tadi, kenapa cuma Alea yang disuruh keluar?” protes Alea dengan wajah yang semakin dibuat semelas mungkin untuk membuat bu Sarah iba
“Alea, mau ibu tambah hukumannya jadi hormat 20 menit dibawah tiang bendera?” Ancam bu Sarah yang membuat nyali Alea yang sudah ciut semakin menciut
“Hehehe nggak usah bu. Alea harus keluar kelas kan bu? Alea keluar sekarang ya bu, permisi ” ucap Alea pasrah sambil berdiri dari kursinya
“Dasar nggak setia kawan!” bisik Alea tepat ditelingaku sebelum ia benar-benar melangkah untuk keluar kelas. Akupun hanya tertawa kecil mendengar ucapan Alea. Entah kenapa Alea terlihat lucu dimataku kalau sedang ngambek seperti itu.
...***...
Karena hari ini adalah hari pertama masuk sekolah, maka kegiatan belajar mengajar belum dilaksanakan. Sehingga bel istirahat berbunyi 90 menit lebih awal dari biasanya. Setelah 90 menit duduk manis dikelas untuk mendengarkan pengantar dari wali kelas baru dan mendengarkan penjelasan bu Sarah mengenai materi yang akan dipelajari selama satu semester kedepan, akhirnya bel istirahat pun berbunyi.
Satu-persatu teman sekelasku mulai berjalan keluar dari kelas. Entahlah, mungkin mereka akan pergi ke kantin, toilet, ataupun pergi ke lapangan basket untuk sekedar mengobrol atau bermain.
Karena kelas sudah mulai sepi, akupun memutuskan untuk ikut keluar kelas dan berniat untuk menemui Alea yang sedang dihukum bu Sarah.
Namun setelah beberapa saat mengedarkan pandangan ke area depan kelas, aku tidak mendapati keberadaan Alea. Mungkin dia sudah pergi ke kantin bersama teman-teman yang lain setelah bu Sarah menghentikan hukumannya, dia kan sedang mengaktifkan mode ngambek denganku.
Kalian jangan khawatir soal Alea yang saat ini sedang ngambek padaku. Karena setelah berteman selama satu tahun, aku sudah sangat hafal sikap Alea. Dia hanya akan tahan paling lama satu jam untuk tidak mengoceh ataupun mengomel padaku.
Jadi, bisa saja saat bel masuk berbunyi nanti ia sudah akan kembali ke wujudnya semula. Dia akan mulai berceloteh mengenai segala sesuatu yang bahkan aku tidak pahami ataupun bertanya mengenai segala sesuatu hal yang tidak aku ketahui jawabannya.
Karena tidak mendapati keberadaan Alea, akupun memutuskan untuk pergi keperpustakaan. Setelah hampir dua minggu lamanya tidak mengunjungi perpustakaan, aku jadi sedikit merindukan mbak Nadine.
Dengan airpod yang terpasang dikedua telingaku, aku mulai melangkahkan kakiku menuju perpustakaan yang terletak di lantai satu.
Namun, baru beberapa detik berjalan, aku terpaksa harus menghentikan langkahku terhenti ketika kurasakan ada seseorang yang menepuk bahuku dari belakang. Dan saat kutengok kebelakang, dia adalah Arka yang saat ini sedang tersenyum manis menatapku.
“Maaf ya Ser, tadi aku panggil-panggil kamu ga denger” ucapnya dengan suara yang lembut? Entahlah semakin aku berbicara dengannya selalu ketemukan pesona baru yang belum pernah kulihat sebelumnya
“Oh, aku yang maaf. Karena pake airpod jadi ga denger deh ada yang manggil” ucapku gugup sambil mengontrol jantungku yang entah kenapa saat ini malah berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya
“Kamu mau kemana? Mau kekantin?” tanyanya masih dengan suaranya yang lembut
“Oh, nggak. Aku mau ke perpustakaan. Semenjak liburan semester aku ngga pergi ke perpustakaan, jadi kangen sama mbak Nadine” kataku pada Arka dengan sedikit mendongak. Ini juga salah satu pesona yang dimiliki oleh seorang Arka. Selain memiliki wajah tampan, senyuman yang menawan serta suara yang lembut, ia juga memiliki bentuk badan yang bagus. Untuk ukuran laki-laki Indonesia, bisa dikatakan tingginya diatas rata-rata sehingga aku harus mendongak setiap harus berbicara kepadanya
“Mbak Nadine? Kakak kelas?” tanyanya kebingungan. tentu saja, dia kan murid baru di sekolah ini
“Bukan, mbak Nadine itu pegawai perpustakaan di sekolah kita” jelasku singkat pada Arka yang saat ini telah berada disampingku
“Oh iya! kamu mau ke kantin? Mau aku anter? Dikantin juga ada Alea kok” tambahku sambil menatap kedua matanya yang indah? Entahlah sepertinya makhluk didepanku ini adalah salah satu bentuk karya seni yang sempurna dan dipenuhi dengan keindahan. Sehingga siapapun yang melihatnya akan merasa terpesona terhadapnya.
Begitulah, untuk saat ini ku akui aku memang telah terpesona dengan Arka.
“Nggak usah Ser, aku juga mau ke perpustakaan aja” jawabnya sambil menyunggingkan senyum yang lagi-lagi membuatku harus mati-matian mengontrol ekspresi wajahku
Akhirnya aku dan Arkapun berjalan beriringan menuju perpustakaan yang berjarak tidak lebih dari seratus meter lagi. Entahlah, aku tak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini. Apakah saat ini aku sedang merasakan yang orang sebut dengan cinta pada pandangan pertama? Ataukah ini hanyalah sebatas kekaguman terhadap orang yang pertama kali kutemui?
...***...
Bel pulang sekolah telah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Dan saat ini aku sudah duduk manis di dalam mobil yang dikendarai dengan kecepatan sedang oleh pak Amir.
Mama memintaku untuk menelfon pak Amir saat pulang sekolah tadi pagi, mana bisa aku menolak permintaan mama?
Karena belum terlalu sore, jalanan kota masih sangat lenggang. Jika biasanya aku membutuhkan waktu 60 menit untuk sampai ke rumah, maka kali ini aku hanya membutuhkan waktu 45 menit untuk mobil yang aku dan pak Amir kendarai bisa memasuki gerbang perumahan.
Dengan tak mengurangi kecepatan, pak Amir terus mengemudikan mobil yang kita tumpangi hingga akhirnya bisa dengan mulus masuk kedalam garasi.
“Serina…..” betapa terkejutnya aku ketika membuka pintu mobil ada seseorang yang sedang menunggu serta menyapaku dengan sangat antusias.
“Saemi?”