
Sabtu~
Seperti yang aku, Arka dan Alea sepakati sewaktu makan siang disekolah beberapa hari yang lalu, hari ini kami akan menghabiskan waktu weekend kami untuk belajar bersama dirumahku. Lebih tepatnya hanya aku dan Arka yang akan belajar untuk mempersiapkan olimpiade sains yang semakin mendekati hari-H lomba, sementara Alea akan menjalankan misi pertamanya melakukan pendekatan pada Saemi sesuai dengan intruksi yang sebelumnya telah kuberikan. Semoga dengan sikap Alea yang ceria dan bersahabat, Saemi bisa dengan mudah menerima Alea dan perlahan bisa menghapus trauma yang ia miliki pada orang asing
Jam yang tergantung rapi pada dinding ruang tengah menunjukkan pukul 07.30 setelah aku dan Saemi selesai menjalankan tugas kami membantu mama untuk membereskan meja makan serta mencuci peralatan masak serta peralatan makan yang telah selesai digunakan
Masih ada waktu sekitar 90 menit sebelum Arka dan Alea memulai perjalanan mereka menuju rumahku. Aku memilih menghabiskan waktu untuk menunggu kedatangan Arka dan juga Alea dengan duduk bersantai di ruang tengah bersama Saemi sambil menonton tayangan kartun yang disuguhkan oleh salah satu stasiun televisi
Belum ada lima menit sejak aku dan Saemi menyalakan televisi berukuran 50 inch yang berada dihadapan kami saat ini, mama kembali memberikan kami sesuatu untuk dikerjakan. Satu keranjang buah besar berikan berbagai jenis seperti semangka, melon, pepaya, nanas hingga kiwi mama sodorkan tepat dihadapan kami. Tanpa kata, namun dengan tatapan yang sekan mewakili mulut mama untuk mengatakan “Daripada duduk nganggur begitu, mendingan bantuin mama kupas dan potongin buah”
Dan disinah kami saat ini, duduk diatas karpet berbulu yang ada diruang tengah dengan pandangan yang tidak lagi fokus menatap layar televisi. Melainkan berganti untuk menatap arah gerak pisau serta telenan plastik berwarna biru yang saat ini sedang kugunakan sebagai alas memotong buah melon madu agar tidak meleset dan malah memotong jari-jariku
Aku menghentikan aktivitas memotongku sebentar, menatap kearah Saemi yang entah sejak kapan juga telah menghentikan aktivitasnya untuk mengupas kulit buah semangka. Mulutnya sibuk mengunyah potongan melon madu yang beberapa saat lalu baru selesai aku potong sambil sesekali tertawa melihat adegan lucu yang ditampilkan pada layar televisi
“Saemi, mama nyuruh kita buat ngupas sama motong buah bukan nyuruh kita buat makan buah. Kamu kok malah berhenti kupasin buah dan malah abisin buah yang udah aku potong sih? Mana semangkanya juga baru kamu kupas setengah lagi” ucapku kesal pada Saemi yang malah memanyunkan bibirnya, turut kesal mendengar omelanku
“Serina, aku cuma nyicip dikit kok. Mau sekalian tes rasa aja, ini melon madunya beneran manis apa nggak? Masih banyak juga sisanya, nggak aku abisin semua” jawabnya sambil kembali mencomot satu potong buah melon dari piring menggunakan garpu
Akupun hanya mendecih menanggapi jawaban Saemi, melanjutkan aktivitasku menyelesaikan kupasan buah semangka yang belum dituntaskan Saemi. Karena merasa bosan, akupun kembali membuka suara. Mencoba mencari topik yang sekiranya dapat aku dan Saemi bahas
“Kamu beneran nggak mau ketemu dan ikut belajar bareng sama temen-temen aku nanti Saem?” ucapku tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari tangan kananku yang dengan luwes mengupas kulit semangka
Saemi hanya diam, tidak terlihat sedikitpun berniat membuka mulut untuk menanggapi pertanyaanku. Mungkin dia sudah jengah karena setiap hari aku terus menerus mendesaknya untuk sekedar menemui dan berkenalan dengan Alea juga Arka yang akan mengunjungi rumahku untuk belajar bersama pagi ini
Aku memang sudah berjanji pada mama maupun pada Saemi untuk tidak kembali mengungkit masalah sensitive seperti ini baik secara langsung dihadapan Saemi seperti saat ini ataupun dibelakang Saemi. Tapi aku juga sudah terlanjur meminta bantuan Alea dan Arka untuk membantuku menyembuhkan trauma Saemi juga untuk mengembalikan rasa percaya diri Saemi. Untuk itu, aku merasa sangat perlu mengatakan hal-hal yang dapat mendorong keinginan Saemi untuk tidak lagi berlari dan bersembunyi dari hal-hal yang membuatnya trauma “Iya, aku ngerti kalau kamu masih belum siap buat kembali menunjukkan diri ataupun ketemu sama orang asing. Kamu punya hak buat mutusin kapan kamu akan merasa siap, dan aku nggak bisa maksa buat kamu secepatnya kembali buka diri untuk menghadapi trauma kamu Saem. Tapi kamu juga harus tau, rasa takut nggak akan pernah bisa hilang kalau kamu terus-terusan sembunyi kaya sekarang Saem. Satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan trauma kamu adalah keberanian kamu sendiri, keberanian untuk menghadapi rasa takut yang akhirnya membuat kamu menjadi trauma”
Saemi masih diam, garpu yang sedari tadi ia gunakan untuk mencomot potongan buah melon madu yang telah ku potong ia letakkan begitu saja dimeja. Sepertinya setiap kalimat yang keluar dari mulutku membuat nafsu makannya menjadi buruk, sehingga potongan buah melon segar yang ada dipiring sudah tidak lagi terlihat menarik dimatanya untuk dimakan. Raut mukanya yang sedari tadi cerah telah berubah menjadi keruh. Pandangannya masih lurus kedepan, melihat ke arah layar telivisi yang masih menampilkan tayangan kartun. Namun tatapannya kosong, tak lagi menyimak setiap adegan lucu yang ditampilkan
Tak ingin menyerah begitu saja, aku kembali membuka suaraku. Siapa tau saja, dengan terus menerus mengatakan hal-hal seperti ini akan merangsang keberanian Saemi untuk menghadapi rasa traumanya “Mungkin sekarang kamu memang belum siap, tapi suatu saat nanti kalau kamu udah merasa siap dan merasa perlu bantuan untuk kembali bangkit kamu jangan pernah sekalipun merasa sungkan untuk bilang ya Saem. Aku, mama, papa juga temen-temenku bakalan selalu ada dan selalu siap buat bantuin kamu dengan senang hati”
Setelah menyelesaikan kalimatku, aku mendongakkan kepala, mengalihkan pandangan mataku yang sedaritadi fokus mengamati betapa lihainya pisau dalam genggamanku mengupas kulit semangka untuk menatap Saemi sambil tersenyum tipis
Aku hendak kembali melanjutkan aktivitasku untuk memotong semangka yang saat ini sudah berhasil terkupas dengan sempurna, saat tiba-tiba saja suara mama menginterupsiku dari arah dapur
“Serina…..Saemi…..Kalau sudah selesai dipotong, buahnya langsung dimasukin lagi ke kulkas ya. Jadi nanti pas temen-temen kamu dateng, buahnya udah dingin lagi biar seger pas dimakan sambil belajar”
***
Bel rumahku berbunyi tepat ketika jam yang tergantung pada dinding kamarku menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Mengetahui mungkin itu adalah salah satu dari dua temanku yang hari ini berencana datang kerumah, akupun bergegas menuruni tangga. Sedikit berlari menuju halaman rumah untuk menemui seseorang yang saat ini juga tengah berlari menghampiriku setelah dibukakan pintu pagar oleh pak Amir. Dengan senyuman lebar andalannya, ia tak henti-henti melambaikan tangannya kepadaku
“Serina…….” teriak seseorang itu sambil berhambur kedalam pelukanku. Aku hanya membalas pelukannya, sama sekali tidak berniat untuk membalas sapaan yang orang itu berikan. Benar, yang pertama datang sampai dirumah dengan senyuman merekah diwajahnya adalah Alea
Setelah bertahan selama beberapa detik pada posisi yang sama, Alea mulai melepas pelukannya. Menyerahkan bungkusan kotak karton yang dibungkus kresek berwarna putih kepadakku “Nih aku bawain kue balok coklat, buat Saemi”
“Kok kamu repot-repot bawain kue balok segala sih Al” ucapku sambil menerima bungkusan pemberian Alea. Sesekali aromanya tercium, membuat perutku mendadak kembali lapar meskipun baru beberapa jam yang lalu aku menghabiskan sepiring penuh nasi goreng telur saat sarapan
“Nggak repot kok, kebetulan tadi pas jalan kesini nemu outlet yang jual kue balok udah buka. Jadi yaudah aku beliin deh buat Saemi. Kata kamu Saemi suka banget makan makanan manis”
Aku hanya mengangguk untuk menanggapi ucapan Alea, kemudian aku menggandeng tangannya dan mengajaknya untuk segera masuk kedalam rumah “Yuk, langsung masuk kedalem”
“Pagi tante! Kenalin, Alea temen sebangkunya Serina disekolah” sapa Alea sopan sambil menyebutkan namanya pada mama yang sedang sibuk membaca majalah diruang tamu
Mama menoleh, melepas kacamata yang ia kenakan dan meletakkannya di meja “Oh ini yang namanya Alea, cantik ya. Kata Serina kamu cerewet banget kalau di kelas, bener?”
Alea hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal. Ia tak menyangka akan diberikan pertanyaan seperti itu oleh mama. Aku yang melihat sikap Aleapun hanya terkekeh, sama sekali tidak berniat untuk mengiyakan ucapan mama apalagi membela Alea
Tanpa menunggu jawaban dari Alea, mama kembali membuka suara. Menyuruh kami agar segera naik keatas untuk belajar “Yudah kalian langsung naik keatas aja ya, belajar yang bener biar nanti bisa menang pas lomba ”
Setelah berhasil mendapatkan suhu ruangan yang diinginkan, Alea kembali meletakkan remot AC pada tempat asalnya. Fokusnya beralih untuk memandangi setiap jengkal ruangan yang beru beberapa detik dimasukinya itu “Ini ruang belajarnya Saemi Ser?”
Aku mengangguk, meskipun mungkin saja anggukanku tidak akan disadari oleh Alea yang saat ini masih sibuk mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan “Iya, ruangan yang Saemi pakai untuk homeschooling”
Alea bangun dari posisinya rebahannya, menggantinya menjadi duduk tegap sambil memandang wajahku lekat-lekat sebelum ia mulai bicara “Aku nggak bisa bayangin jadi Saemi Ser, gimana bosennya dia seharian cuma diem dirumah. Makan dirumah, sekolah dirumah, main dirumah, belajar dirumah”
“Oh iya, terus sekarang Saemi ada dimana Ser?” Alea kembali mengeluarkan suara, melayangkan tatapan penuh tanya kepadaku yang saat ini sedang sibuk menyiapkan meja yang nantinya akan aku dan Arka jadikan alas untuk menaruh buku dan belajar
“Ada dikamar, kamarnya tepat disebelah kanan ruangan ini” jawabku singkat dengan tidak menghentikan aktivitasku menata meja
Alea sedikit mencondongkan badannya, terkejut stelah mendengar jawaban yang baru saja aku lontarkan “Berarti dia bisa denger dong kalau kita lagi ngomongin dia sekarang?”
“Ruangan ini dikasih peredan suara Alea, biar pas belajar Saemi bisa fokus dan nggak ke ganggu sama suara berisik mama di dapur ataupun suara berisik pak Amir yang lagi motongin rumput di halaman” jalasku panjang lebar sambil mendorong dahi Alea agar kembali pada posisinya semula
Setelahnya Alea hanya diam, matanya fokus memperhatikan aktivitasku yang sibuk membereskan buku Saemi yang berserakan diatas meja untuk kemudian aku pindahkan pada yang yang ada di pojok ruangan agar nantinya tidak menganggu kegiatan belajarku dengan Arka. Hingga kemudian suara pintu ruangan yang dibuka dari luar berhasil mengalihkan perhatian Alea juga aktivitasku yang sedang menata tumpukan buku yang berada ditanganku pada rak
“Arka? Baru sampai?” tanyaku basa-basi pada Arka yang saat ini telah masuk dan duduk bersila disamping Alea
Seperti biasanya, dia tersenyum. Memperlihatkan dua buah bulan sabit yang selalu terlihat manis dan cocok diwajahnya sebelum membuka suara “Iya nih. Maaf banget ya jadi telat tiga puluh menit deh. Soalnya pas dijalan tadi, ban motor abangnya kempes”
“Kamu kesininya naik ojek?” tanyaku lagi yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Arka. Saat ini tangannya sibuk mengeluarkan beberapa buku tebal dari dalam tas ransel yang ia bawa
Alea mengembuskan napasnya kasar, menggeser sedikit tubuhnya untuk memberikan space kepada buku-buku tebal yang baru saja Arka keluarkan dari dalam tasnya “Kalau nggak ada yang nganter kenapa tadi kamu nggak ngechat aku aja sih? Kalau kamu bilang minta bareng kan bisa aku jemput sekalian”
“Emangnya kalau aku ngechat kamu bakal ngasih tumpangan? Kamu kan punya dendan kesumat sama aku” balas Arka yang langsung dihadiahi dengan bogeman kecil yang dilayangkan Alea pada lengannya
“Balas dendam juga kenal waktu kali!” Alea kembali mencondongkan badannya untuk menatapku sebelum kembali berbicara “Udah-udah, sekarang kita mau gimana dulu?”
“Ya seperti yang aku bilang kemarin pas jam makan siang disekolah Al” Alea hanya mengangguk. Tangannya dengan gesit menyeret kembali tas yang beberapa saat lalu ia lemparkan dengan sembarangan ke lantai. Mengambil ponsel yang ada didalamnya, kemudian sibuk terlarut dengan dunia yang ada dalam ponselnya itu
Berbeda dengan Alea, aku dan Arka mulai membuka satu bendel tebal berisikan kumpulan latihan soal yang sengaja pak Bagus siapkan agar dapat kita pelajari secara mandiri di rumah selama weekend. Membuka paket soal pertama dan membagi tugas untuk mengerjakan sebagai latihan kekompakkan agar nantinya tidak terlalu kaget sewaktu hari-H perlombaan. Menge-set timer selama enam puluh menit sesuai dengan ketetapan waktu pengerjaan soal untuk melihat seberapa siap kami mengikuti perlombaan yang pelaksanaannya tinggal menghitung hari
Suasana terasa hening, karena tak ada satupun dari kita bertiga yang berniat membuka suara. Alea yang biasanya selalu membeo juga turut terdiam, seakan tak mau mengganggu kedua temannya yang sedang belajar untuk mewakili nama sekolah. Dia memilih asyik terlarut dengan dunia yang berada di dalam genggaman tangannya itu
Hanya suara goresan pensil pada kertas yang terus terdengar, hingga layar ponsel Arka yang sengaja diletakkan diatas meja menyala. Mengeluarkan bunyi sedikit nyaring yang memberikan instruksi kepadaku juga Arka untuk segera menyudahi kesibukan kami dalam menjawab soal yang tadi telah dibagi berdasarkan keahlian kami masing-masing
Arka segera mengambil ponselnya dari atas meja, mengetuk pelan layarnya hingga tak ada lagi suara yang keluar dari benda pipih berwarna hitam itu. Kemudian dia merapikan kertas soalnya, menumpukknya kembali bedasarkan urutan soal
“Kamu udah?” tanyanya padaku yang masih sibuk membereskan kertas soal dan mengurutkannya sesuai nomor terkecil
Aku menghela napas berat, menyerahkan tumpukan kertas soal yang telah berhasil aku rapikan untuk kembali digabung menjadi satu dengan tumpukan kertas soal yang berada ditangan Arka “Udah kok, tapi aku ada beberapa soal yang masih ragu. Takut salah masukin rumus”
“Kayanya kita masih belum efektif deh Ser ngerjain soalnya, harusnya lima belas menit sebelum waktu habis kita udah harus selesai buat saling kroscek” ucap Arka yang saat ini sudah mengalihkan fokusnya untuk mengoreksi setiap soal yang telah kami kerjakan dengan kunci yang diberikan Pak Bagus
Butuh beberapa menit sampai semua soal telah selesai kami koreksi bersama. Masih ada beberapa jawaban yang tidak tepat, tapi bukan karena salah menggunakan rumus. Melainkan karena kecerobahan yang aku dan Arka lakukan saat menghitung angka
Setelah berhasil mengoreksi semua soal dan mendiskusikan strategi baru yang akan kami gunakan untuk mengerjakan paket soal kedua, kami memilih untuk beristirahat sejenak
Memberikan waktu agar otak yang sedari tadi berpikir keras dapat beristirahat barang sejenak. Juga memberikan waktu bagi Alea menjalankan misi pertama kami untuk membantu menghilangkan trauma Saemi
Tepat! Sekaranglah saatnya bagi Alea untuk menjalankan misi pertama yang telah aku berikan
"Ini aku langsung gerak sekarang Ser?"