
Aku dan Saemi sedang duduk bersantai diruang tengah yang berada di lantai dua. Sore ini aku memang sudah berniat menghabiskan waktu sore hariku untuk bersantai sambil menyelesaikan bacaan novelku yang belum tuntas karena kesibukanku belajar persiapan olimpiade sains selama beberapa hari terakhir ini
Aku menengkurapkan badanku pada sofa panjang yang ada di ruang tengah. Menumpukan daguku pada salah satu bantalan sofa dengan kedua tangan yang terulur kedepan memegang novel dengan sampul berwarna merah muda. Sementara Saemi memilih untuk duduk dilantai persis berada di samping sofa yang sedang aku gunakan untuk merebahkan diri
Pandangan mata Saemi sibuk mengamati setiap adegan yang ditampilkan pada layar tablet yang ada dihadapannya. Sementara kedua telinganya tertutup dengan airpod berwarna putih yang ia gunakan untuk mendengarkan setiap dialog yang diucapkan oleh setiap tokoh pemain drama yang saat ini sedang ia tonton
Sambil menyandarkan punggungnya pada dudukan sofa dan ditemani dengan sebungkus keripik kentang rasa rumput laut lengkap dengan sekaleng cola yang ada disamping kanannya, Saemi sangat fokus menyimak setiap scene yang disajikan dalam drama tersebut
Sesekali ia tertawa terbahak-bahak hingga berhasil membuatku melayangkan bantalan sofa yang sedang aku gunakan menopang dagu untuk menimpuk kepalanya, menegurnya untuk tidak terlalu keras tertawa karena sangat mengganggu konsentrasiku dalam membaca novel
Tak hanya itu, sesekali ia juga terlihat menangis tersedu-sedu entah karena adegan mengharukan ataupun sedih yang sedang ditampilkan oleh para pemeran drama tersebut sambil menghapus air mata juga ingus yang keluar dari lubang hidungnya menggunakan tisu yang dia ambil dari kotak tisu milikku yang entah sejak kapan sudah berada di dalam pangkuannya
Cukup lama kami bertahan pada posisi yang sama. Duduk ataupun merebahkan diri sambil bermalas-malasan diruang tengah memang telah menjadi hobi kami selama beberapa hari terakhir ini. Saling terdiam tidak bicara satu sama lain dan terlarut dalam dunia kita masing-masing untuk sedikit melepaskan penat setelah seharian belajar ataupun sekedar memberikan jeda pada otak kita yang selalu bekerja keras tanpa lelah untuk memikirkan hal yang selalu berhasil membuat kita frustasi
Saemi meregangkan tubuhnya, menggerakkan kepalanya kekiri dan kekanan untuk melepas penat karena terlalu lama bertahan dalam posisi yang sama. Melepas airpod yang sedari tadi terpasang pada kedua telinganya menggunakan sebelah tangan. Meletakkan tablet yang sedang ia pegang keatas meja yang ada dihadapannya. Satu episode drama bergenree slice of life berdurasi lebih dari enam puluh menit yang ia tonton telah selesai
Pandangan matanya menatap lurus kedepan, tidak lagi terpaku pada layar benda pipih berwarna putih yang baru saja ia letakkan diatas meja beberapa detik yang lalu. Sementara saat ini tangannya sudah beralih tugas dari menggenggam tablet menjadi memeluk satu bungkus besar keripik kentang yang sedari tadi tergeletak siatas lantai yang dilapisi dengan bulu-bulu tebal berwarna abu-abu
Saemi menghembuskan napasnya panjang. Saat ini perasaannya masih terlarut dalam setiap adegan drama yang ditampilkan dengan sangat nyata dan menyentuh oleh para aktor dan juga aktris yang memerankannya. Mulutnya yang saat ini sedang menganggur ia jejali dengan potongan kentang tipis dengan taburan bumbu halus rasa rumput laut. Aromanya yang menyeruak masuk kedalam lubang hidungku membuat salah satu tanganku yang masih sibuk memegang dengan reflek bergerak masuk kedalam bungkus plastik besar yang sedang Saemi peluk dan mengambil satu potong keripik kentang sebelum memasukkannya kedalam mulut
Setelah beberapa saat hanya menatap kosong ke arah depan, Saemi kemudian mengalihkan pandangannya untuk menatapku yang saat ini masih sibuk terlarut dalam setiap kata pada novel yang dirangkai sangat apik oleh penulisnya. Tanpa memperhatikan tatapan Saemi, aku terus meneruskan kegiatan membacaku dengan mulut penuh dengan keripik kentang yang baru saja aku comot dari Saemi
Saemi meletakkan kembali bungkus keripik kentang yang sedang ia pegang, mengambil kaleng cola yang ada disampingnya dan meneguknya hingga tandas. Setelahnya, ia melirik kearahku sebelum mulai membuka suara “Ser, pesen ice cream dari kedai depan kompleks yuk!”
Aku mengganti posisiku yang tadinya tengkurap menjadi duduk dengan menyandarkan punggungku pada sandaran sofa. Pandanganku masih terfokus pada buku novel yang ada ditangaku. Tidak berniat untuk menjawab ajakan Saemi sambil menolehkan kepalaku padanya “Ini kan udah lewat jam empat sore Saem, pelayanan delivery di kedai ceria udah nggak beroperasi”
Saemi turut mengubah posisi duduknya yang tadinya membelakangiku menjadi menghadap kearahku. Menumpukan dagu tumpulnya pada dudukan sofa sebelum kembali membuka suara “Yaudah deh, kalau gitu kita minta tolong pak Amir aja beliin es krim di kedai depan buat kita”
Masih dengan tidak mengalihkan fokus pandanganku pada halaman novel yang terlalu menarik untuk dilewatkan, aku kembali merespon ajakan Saemi dengan malas “Kamu tadi nggak denger pas mama minta dianterin pergi arisan sama pak Amir?
Mendengar ucapanku, Saemi menghela napas berat. Mempoutkan bibirnya sebelum mengganti tatapan antusiasnya menjadi tatapan kecewa “Terus gimana dong? Aku sekarang lagi pengen banget makan es krim Ser”
Aku membalik halaman novel yang telah aku baca sebelum kembali membalas ucapan kekecewaan Saemi “Yaudah ambil aja di kulkas. Pas mama lagi belanja bulanan ke mini market kemarin kan kamu ada nitip banyak banget es krim sama mama, udah habis?”
Saemi menggeleng malas. Ia bangkit dari posisi duduknya untuk kemudian beralih duduk keatas sofa dengan tangannya yang ia gelayutkan manja pada lenganku “Aku bosen Ser tiap hari makan es krim mini market, lagian udah lama banget aku nggak makan es krim matcha di kedai ceria ”
Mendengar ucapan Saemi, tiba-tiba saja terlintas sebuah ide gila dalam kepalaku. Sebuah ide untuk menjadikan kesempatan ini menjadi peluang untuk kembali menjalankan misi baruku dalam membantu Saemi lepas dari rasa traumanya terhadap orang asing
Aku menarik kedua sudut bibirku keatas. Meletakkan novel yang sedari selalu menyita perhatianku agar tidak beralih darinya. Sedikit memutar tubuhku kesamping untuk dapat melihat wajah Saemi
“Yaudah kalau gitu sekarang ayo kita beli es krim kesana, sekalian makan disana” ucapku spontan yang langsung dibalas dengan gelengan cepat Saemi. Dia kembali mengambil tablet dari atas meja, menggerak-gerakkan jarinya diatas layar benda pipih itu berlagak menyibukkan diri
Aku mengembuskan napasku gemas melihat tingkah Saemi. Kembali memundurkan tubuhku dan menyandarkan punggungku pada sandaran sofa. Melipat kedua tanganku didepan dada sebelum kembali membuka suara untuk mengompori Saemi “Katanya kamu pengen banget makan es krim di kedai ceria?”
Saemi memutar bola matanya jengah, pandangannya tetap fokus menatap layar tablet yang sedari hanya menampilkan layar utama sambil mendengus sebal “Sekarang udah nggak pengen lagi!”
Masih dengan posisiku yang tidak berubah, aku kembali menanggapi ucapan Saemi dengan kalimat memprovokasi “Saem, kamu inget nggak tadi siang kamu bilang apa sama aku? Katanya kamu nggak pengen lagi lari dari hal-hal yang membuat kamu trauma dan mau mencoba berani untuk kembali membuka diri pada dunia?”
“Tapi aku nggak pernah bilang mau ngelakuin itu sekarang Serina!” ucap Saemi kesal. Tangannya dengan gesit menyambar bungkus keripik kentang yang tergeletak dilantai, mengambil isinya kemudian memasukkannya ke dalam mulut
Aku melirik kearah Saemi sekilas, menatap wajahnya yang terlihat kesal dengan mulut yang penuh dengan keripik kentang “Terus kapan? Rencana akan selamanya menjadi rencana kalau kamu nggak pernah memberanikan diri untuk mulai mewujudkannya Saem”
“Dan menurutku sekarang adalah waktu yang tepat. Sekarang kamu pengen makan es krim dan kita harus pergi keluar untuk bisa beli es krim”
Saemi mengedarkan pandangannya, terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu dalam pikirannya “Kamu pengen liat aku ngedrop kaya tadi lagi Ser?”
Aku menggeleng cepat, menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Menatap serius Saemi sebelum mulai bicara “Kan ada aku Saem, ada aku disamping kamu. Kalau nanti kamu ngerasa takut, kamu bisa genggam tangan aku dan aku nggak bakal biarin kamu ngerasa ketakutan kaya tadi”
...***...
Saat ini aku dan Saemi sedang berjalan beriringan menyusuri jalanan komplek yang terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang terlihart sedang melintas, karena memang para penghuni komplek masih banyak yang berada dikantor pada jam segini. Selama beberapa menit berjalan, kami hanya beberapa kali berpapasan dengan tetangga komplek seumuran kami yang sedang jogging sore atau disapa oleh ibu-ibu yang sedang sibuk menyirami tanamannya dihalaman rumah
Aku membalas genggaman tangan saemi tak kalah erat. Mengusap pelan bahunya ketika sedang berpapasan dengan orang yang asing yang menyapa kita untuk sedikit memberikan rasa tenang dan mengurangi rasa tidak nyaman atau ketakutan yang sedang ia rasakan
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit hingga kita berada pada halaman kedai es krim yang dulu selalu aku dan Saemi kunjungi hampir setiap pulang sekolah. Saemi semakin mengeratkan genggaman tangannya padaku. Sementara saat ini pandangannya menunduk, menatap sepasang sepatu berwarna biru yang sedang ia kenakan
Aku menghirup napas panjang, mengalihkan pandanganku dari bangunan kedai es krim dengan dekorasi unik yang ada dihadapanku untuk menatap Saemi. Mengelus pelan bahu saemi yang terlihat tidak bertenaga untuk kembali memberikan keyakinan pada dirinya untuk menghadapi rasa takutnya
“Ayo Saem kita masuk” ajakku pada Saemi dengan menarik tangannya untuk measuk ke dalam kedai yang terlihat sepi
Saemi mengangguk, ia menatap dalam mataku selama beberapa saat sebelum mulai melangkahkan kakinya. Pandangannya kembali menunduk, menatap kakinya yang mulai melangkah memasuki kedai es krim favoritnya itu
Saat sudah berada di dalam kedai, aku tersenyum melihat dua orang yang saat ini tengah duduk pada salah satu bangku yang ada di dalam kedai. Aku berniat melambaikan tanganku untuk menyapa mereka yang saat ini belum menyadari kehadiranku dengan Saemi, namun dengan segera aku mengurungkan niatku. Takut kalau Saemi yang masih menggenggam erat tangan kiriku akan menyadari pergerakan yang kulakukan
Aku menarik tangan Saemi untuk menuju meja pemesanan. Melihat keberadaan penjaga kasir yang masih sama ketika terakhir kali kita berkunjung kesini sekitar tiga tahun yang lalu. Perempuan bernama kak Ranty itu menatap lekat ke arah Saemi selama beberapa saat setelah menyadari kedatangan kami
Kedua sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyuman manis nan ramah setelah menyadari bahwa perempuan yang datang dengan mengenakan jaket dihadapannya saat ini adalah Saemi, sang pelanggan setia kesayangannya
“Saemi? Ini beneran Saemi kan?” ucap kak Ranty girang yang hanya dibalas dengan anggukan kecil oleh Saemi
“Kamu apa kabar? Udah lama banget ya kamu nggak kesini sejak pindahan tiga tahun lalu”
“Jadi sombong ya kamu mentang-mentang udah nggak tinggal disini jadi nggak pernah mampir lagi” kak Ranty meneruskan kalimatnya dengan antusias yang tentu saja hanya dibalas dengan senyuman simpul Saemi yang tidak terlihat karena wajahnya tertutup masker
Aku yang merasa Saemi terlihat tidak nyaman dengan kalimat yang terus keluar dari mulut kak Ranty langsung berinisiatif untuk mengalihkan pembicaraan “Oh iya kak aku pesen kaya biasanya ya, kak Ranty masih inget kan?”
Kak Ranty mengangguk sambil tersenyum tulus kepadaku. Tangannya dengan gesit mengambil selembar kertas serta bolpoin dari atas meja dan menuliskan pesanan kami sebelum di berikan kepada pegawai lain yang bertugas untuk menyiapkan pesanan pelanggan
Setelah pesananku ditulis, aku menarik tangan Saemi. Mengajaknya untuk duduk pada salah satu bangku yang ada sambil menunggu pesanan kami selesai disiapkan. Aku kembali menarik kedua sudut bibirku, memberikan kode pada dua orang yang masih duduk dengan dua cup es krim dihadapannya yang saat ini juga tengah menatap kearah kami. Aku mengangguk kecil, dan kedua orang tersebut ikut mengangguk sambil mengacungkan jempolnya
“Serina…..” sapa salah satu dari dua orang yang sedang duduk itu kepadaku saat aku baru saja akan mendudukkan tubuhku pada salah satu kursi yang ada didepan meja pemesanan
Aku menatap kearah suara tersebut, berlagak terkejut dengan kahadiran Alea juga Arka yang sedang duduk memakan es krim sambil berjalan menarik tangan Saemi untuk menghampiri meja mereka “Alea, Arka kalian beli es krim disini juga?”
Alea tersenyum, menatap sekilas pada Saemi yang sedang mencengkeram erat lengan bajuku “Iya nih, tadi Arka tiba-tiba minta ditemenin makan es krim karena suntuk habis belajar dirumah. Terus aku inget deh kalau kamu pernah bilang ada kedai es krim enak di depan komplek rumah kamu, yaudah aku ajak Arka makan es krim disini aja”
Aku hanya mengangguk, berpura-pura memahami alasan Alea yang sebenarnya adalah sebuah kebohongan. Karena saat berganti pakaian sebelum berangkat ke kedai es krim ini, aku sudah mengirimkan pesan kepada Arka juga Alea untuk turut datang kesini dan memulai misi baru kita untuk membantu Saemi keluar dari rasa traumanya
Alea kembali tersenyum, menatap Saemi yang masih setia menyembunyikan diri dibelakang tubuhku sebelum kembali berbicara“Halo Saem, maaf ya kalau tadi siang aku tiba-tiba masuk ke dalam kamar kamu dan bikin kamu jadi syok kaya tadi”
“Oh iya, kenalin nama aku Alea. Mungkin kamu udah beberapa kali denger cerita aku dari Serina dan aku juga sering denger cerita kamu dari Serina di sekolah, tapi kita belum pernah kenalan secara langsung kaya gini. Jadi salam kenal ya Saem, kalau kamu nggak keberatan aku pengen banget temenan sama kamu. Sekalian juga mau minta diajarin bahasa Korea sama kamu” ucap Alea sambil terkekeh yang hanya dibalas anggukan singkat oleh Saemi
Setelah selesai memperkenalkan diri, Alea menyenggol pelan lengan Arka yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. Membuatnya sedikit tersentak kaget sebelum akhirnya turut memperkenalkan dirinya pada Saemi “Oh iya, halo Saem. Entah Serina udah pernah cerita tentang aku atau belum sama kamu, tapi salam kenal ya. Nama aku Arka, temen baru Serina di sekolah yang tadi pagi juga ikut main ke rumah”
Saemi kembali mengangguk kecil yang tentunya tidak akan terlihat oleh kedua manusia yang sedang duduk dihadapanku saat ini karena ia masih menyembunyikan dirinya dibelakangku sambil meremas baju yang ku kenakan
Aku hanya tersenyum. Meskipun masih terlihat ketakutan, aku sangat bangga melihat Saemi yang tidak langsung kabur ketika aku membawanya untuk berkenalan dengan kedua temanku ini. Setidaknya, ini adalah awalan yang baik bagi Saemi untuk perlahan dapat terbebas dari hal yang membuatnya trauma
“Kalian udah lama disini?” tanyaku basa-basi karena memang sebenarnya aku sudah tahu dengan pasti kapan mereka datang dan sampai di kedai ini
“Belum lama sih, ini es krim nya juga baru aja sampai. Kalau kalian mau, gabung aja disini makan bareng kita. Nanti sekalian dibeliin waffle sama Arka” Alea kembali menjawab dengan memberikan sedikit pancingan untuk dapat menciptakan suasana dimana kita akan duduk satu meja dan mengobrol bersama Saemi
Namun baru saja aku ingin mengiyakan tawaran Alea, terdengar suara nyaring kak Ranty yang memanggil namaku juga Saemi untuk segera mengambil pesanan di meja kasir karena es krim yang kami pesan telah selesai disiapkan
Mendengar panggilan kak Ranty, Saemi langsung menarik tanganku sambil sedikit berlari menuju meja kasir. Mengambil bungkusan kresek dengan logo kedai ceria dihadapnnya, dan kembali menyeretku untuk segera keluar dari dalam kedai untuk kembali pulang ke rumah
Aku hanya tersenyum mengikuti langkah Saemi. Menyempatkan diri untuk melambaikan tangan kepada Arka dan Alea sebelum keluar dari pintu masuk kedai. Meskipun Saemi belum cukup berani untuk menunjukkan dirinya kepada teman-temanku, setidaknya hari ini dia telah menunjukkan tekad besarnya untuk melawan rasa takut dan traumanya
Aku sangat yakin, jika aku terus membantu dan mendampingi Saemi untuk melawan rasa traumanya, maka suatu hari nanti Saemi akan dapat kembali berjalan dengan percaya diri tanpa harus menyembunyikan dirinya lagi atau menundukkan pandangannya lagi seperti yang selalu dia lakukan selama tiga tahun terakhir ini