
Terlalu fokus mengerjakan soal serta menyimak penjelasan yang diberikan oleh Pak Bagus membuat waktu cepat sekali berlalu. Tak terasa jam yang tergantung rapi pada dinding ruang perpustakaan telah menunjukkan pukul lima sore
Karena hari semakin beranjak gelap, pak Bagus pun memutuskan untuk mengakhiri kegiatan pembinaan eksklusif hari ini dan menyuruh kami untuk bergegas pulang sebelum hari bertambah gelap
Tentu saja setelah memberikan tumpukan kertas berisi materi dan latihan soal yang harus kami pelajari dan kerjakan secara mandiri di rumah
Jika kalian membayangkan terdapat romansa yang terjadi antara aku dan Arka selama kegiatan pembinaan ini berlangsung tentunya kalian salah besar. Karena pada kenyataannya selama pembinaan berlangsung, kami hanya terfokus untuk membaca dan menghafal materi juga sibuk mengerjakan kumpulan soal sampai tidak menyadari bahwa saat ini kami sedang berduaan dan duduk saling berhadapan di dalam perpustakaan
Malah sesekali aku dan Arka saling berdebat karena memiliki cara dan jawaban berbeda saat mengerjakan satu soal yang sama. Meskipun begitu, tetap saja aku merasa tersipu malu ketika mengingat kembali bagaimana suasana yang kita hadapi beberapa waktu lalu di perpustakaan selama kegiatan pembinaan berlangsung. Hingga tak sadar aku telah terlarut dalam imajinasiku ketika kurasakan tangan seseorang beberapa kali menepuk bahuku
“Serina” Arka memanggil namaku dengan suara yang sedikit lantang sambil beberapa kali menepukkan tanggannya pada bahuku
Saat ini aku dan Arka sedang berjalan menuruni tangga sekolah setelah beberapa detik lalu pak Bagus memerintahkan kami untuk segera pulang ke rumah masing-masing karena hari yang semakin beranjak gelap
Seperti terbangunkan dari dunia lain, akupun dengan reflek menoleh dan mendapati Arka yang saat ini tengah memandangiku dengan dahi berkerut “Eh, iya kenapa Ka?”
Mendengar kalimat yang akhirnya keluar dari mulutku membuat kerutan di dahi Arka bertambah semakin banyak, hingga kemudian dia mengibaskan tangannya tepat di mukaku dan bertanya dengan nada penuh curiga “Kamu kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri? Jangan bilang kamu kesambet hantu perpustakaan?”
Dengan cepat, akupun mengepalkan tangan kananku dan beberapa kali memukulkannya pelan pada ujung kepalaku “Ih amit-amit!”
“Kok kamu ngomongnya gitu sih?” ucapku lagi sambil melayangkan tatapan tajam pada Arka yang malah cengengesan menampilkan deretan gigi putihnya
“Lagian juga kamu kenapa sih Ser? Daritadi aku panggilin nggak nyaut malah senyam senyum sendiri” ucap Arka yang membuatku tersenyum kikuk. Arka tidak tau saja, alasan yang membuatku terlihat seperti orang kesambet hantu perpustakaan seperti yang ia sebutkan tadi adalah dirinya sendiri
“Nggak kenapa-kenapa kok, emangnya tadi kamu manggil? Nggak kedengeran tuh!” elakku cepat sambil sedikit mendongak agar dapat dengan jelas melihat ekspresi wajah Arka
Mendengar jawabanku, Arka mendengus sambil memutar bola matanya malas
“Emang nggak manggil sih, cuma nyebut nama kamu aja beberapa kali” ucapnya santai yang tentu saja langsung kubalas dengan memukul keras lengan kanannya
Ia hanya meringis sambil memperlihatkan tatapan memelasnya yang membuatku menjadi tidak tega dan mau tidak mau mengganti kepalan tanganku menjadi usapan lembut untuk menghilangkan rasa sakit akibat pukulanku pada lengan Arka
Setelah mendekati gerbang sekolah, Arka menghentikan langkahnya. Ia kembali membuka mulutnya sambil menunduk menatapku yang saat ini ikut berhenti dan berdiri tepat di sebelah kanannya “Kamu udah kabarin orang rumah minta dijemput?”
Aku sudah sering mendapatkan perhatian serta perlakuan manis dari Arka selama seminggu terakhir di sekolah. Dan seharusnya waktu seminggu sudah lebih dari cukup untuk membuat diriku menjadi terbiasa dengan setiap sikap serta perilaku yang Arka tunjukkan kepadaku. Tetapi entah kenapa jantungku tetap saja berdebar dengan keras saat mendapati setiap tatapan, perlakuan serta sikap Arka kepadaku
Apalagi mengetahui perbedaan perlakuan yang diberikan oleh Arka kepadaku dan Alea saat di sekolah membuatku beberapa kali bertanya-tanya, apakah Arka juga seperti dirinya saat ini? Diam-diam memperhatikan dan menyimpan ketertarikan dalam hati?
Setelah beberapa saat bergumul dengan berbagai fantasi yang terlintas dalam kepalaku, dengan cepat aku menggelengkan kepalaku agar kembali tersadar pada situasi sekitarku saat ini “Udah kok, tadi sebelum beresin buku aku udah kirim pesan dulu ke papa minta di jemput”
Mendengar jawabanku, Arka hanya beroh ria sambil beberapa kali menganggukkan kepalanya “Kalau gitu aku temenin sampai papa kamu dateng ya di depan”
Baru saja aku akan mengiyakan tawaran Arka, hingga manik mataku menangkap mobil sedan yang sangat aku kenali bergerak pelan sebelum kemudian menepikannya tepat di depan gerbang sekolah
“Eh kayanya nggak usah deh Ka, itu mobil papa aku udah dateng” ucapku pada Arka sambil menunjuk mobil yang baru saja menepi dan bertengger manis di depan gerbang sekolah menggunakan daguku
Bolehkah jika saat ini aku merasa sangat kesal kepada papa yang berlagak menjadi papa siaga untuk anaknya seperti sekarang?
Jika bukan pada momen seperti ini, mungkin saja aku akan sangat bersyukur melihat papaku yang tidak sibuk dan bisa menjemputku dengan cepat setelah aku mengirimkan pesan kepadanya
Tapi untuk hari ini aku sungguh berharap papa akan menjadi orang yang super sibuk dan menjemputku telat agar aku memiliki waktu yang lebih panjang bersama Arka
“Oh, itu mobil papa kamu ya? Yaudah deh kalau gitu aku langsung pesen ojek online aja” ucapnya sambil melirik singkat mobil papa sebelum tangannya dengan gesit mengambil ponsel dari saku seragamnya dan fokus selama beberapa detik untuk memesan ojek online yang akan mengantarkannya pulang ke rumah
Aku hanya mengangguk sambil kembali melangkahkan kakiku menuju gerbang karena sedari tadi papa sudah melambai-lambaikan tangannya melalui kaca jendela mobil dan menyuruhku agar cepat masuk karena memang hari sudah semakin bertambah gelap
“Yaudah Ka, aku pulang dulu ya. Kata mama ojek online itu sedikit bahaya, jadi kamu hati-hati ya. Sebelum naik foto dulu plat nomornya, jadi kalau ada yang nggak beres kamu bisa langsung lapor polisi” ucapku panjang lebar sebelum kami benar-benar akan berpisah hari ini
Mendengar ucapanku yang mungkin saja terdengar berlebihan, Arka hanya tertawa lebar hingga kembali menampilkan dua buah bulan sabit kecil di wajahnya yang tentu saja membuatku semakin enggan untuk berpisah selama beberapa jam kedepan dengannya
...***...
Matahari yang tadinya masih malu-malu menampakkan sinarnya, saat ini sudah benar-benar tenggelam dimakan cakrawala saat mobil yang aku dan papaku tumpangi mendarat dengan selamat di teras rumah
Akupun langsung bergegas masuk kedalam kamarku yang ada dilantai dua. Meletakkan tas ransel serta buku yang tadinya kupegang pada meja belajar yang selalu setia menjadi tumpuanku untuk menyerap setiap ilmu yang ada dalam buku.
Setelahnya, aku langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi. Menyiram tubuhku dengan air dingin yang tak hanya menyejukkan tubuhku, tapi juga kepalaku yang terasa sangat panas karena dipaksa untuk terus berfikir seharian ini. Tentu saja tak hanya berfikir tentang materi dan latihan soal, tetapi juga arti dari setiap perlakuan manis yang selalu diberikan Arka kepadaku
Tak sampai lima belas menit aku keluar dari kamar mandi dengan badan yang terasa sangat segar dengan handuk yang masih kulilitkan diatas kepala untuk mencegah air bekas keramas dari rambutku jatuh berceceran dilantai. Pakaian seragam yang terasa lengket karena seharian melekat pada tubuhku sudah berganti dengan pakaian rumahan yang nyaman dan wangi
Masih ada waktu beberapa menit sebelum aku harus memenuhi kewajibanku untuk membantu mama menyiapkan makan malam di dapur. Aku memutuskan untuk merebahkan diri dengan santai diatas sofa yang ada di ruang tengah dengan sebuah buku kecil yang menemaniku waktu bersantaiku
Bukan, bukan buku catatan materi atau buku berisi latihan soal yang saat ini aku genggam dengan erat menggunakan kedua tanganku, melainkan sebuah novel romance yang Saemi berikan padaku beberapa hari lalu sebagai oleh-oleh saat ia datang kesini
Ditemani alunan musik yang menenangkan dari aipod yang terpasang dikedua telinga, aku mulai membaca kata demi kata yang dirangkai dengan apik oleh penulis hingga membua pembacanya menjadi seolah-olah turut berada disana dan menjadi saksi bisu dari perjalanan cinta sang tokoh utama
“Gimana? Ceritanya bagus nggak?” pertanyaan yang dilontarkan Saemi secara tiba-tiba membuatku terlonjak kaget hingga terbangun dari posisi tengkurapku sambil melepaskan airpod yang masih menyalurkan lagu yang kuputar dengan volume rendah dari ponselku
“Saem….. Kok kamu datengnya nggak pakai aba-aba sih? Kan aku jadi kaget” ucapku merasa kesal setelah berhasil menetralkan rasa terkejutku dengan melemparkan bantalan sofa ke arah Saemi. Bukannya merasa bersalah, Saemi malah terkekeh sambil menyuapkan satu sendok kecil ice cream kedalam mulutnya
Baru saja aku akan melanjutkan aktivitas membacaku yang sempat tertganggu dengan ulah usil Saemi sebelum terlintas dalam otak penatku suatu hal yang harus secepatnya aku diskusikan dengan Saemi
“Saem…..” panggilku pelan pada Saemi yang masih sibuk melahap ice cream rasa coklat ditangannya
Saemi menoleh, menatapku dengan tatapan curiga “Apa? Mau? Ambil sendiri sana di kulkas”
“Nggak, ada yang harus aku omongin sama kamu” ucapku hati-hati sambil menutup novel yang belum habis kubaca dan meletakkannya diatas meja
Mendengar nada bicaraku yang terdengar serius, Saemi menatapku penih selidik. Mungkin dia sedang waspada, takut kalau aku akan kembali mengungkit hal sensitive yang membuatnya sedikit marah padaku beberapa hari lalu. Mengerti dengan arti tatapan Saemi, aku dengan cepat menggelengkan kepalaku. Menyanggah hal apapun yang ada dipikiran Saemi saat ini
“Bukan! Bukan masalah itu kok…. Kan kemarin aku udah janji nggak akan bahas masalah itu lagi” jelasku cepat sebelum suasana hati Saemi berubah menjadi buruk
“Kalau bukan terus masalah apa?” tanya Saemi masih dengan tatapan curiga
“Jadi gini….” aku sengaja menjeda kalimatku utuk memilah kata sebaik mungkin sebelum mengeluarkannya melalui mulutku
“Kemarin aku kan udah cerita sama kamu kalau minggu depan aku bakal ada olimpiade” jelasku melanjutkan kalimatku yang sempat terpotong. Karena terlalu bahagia bisa mengikuti olimpiade bersama Arka, kemarin sepulang sekolah aku langsung berlari ke ruang belajar Saemi untuk menceritakan kabar bahagia itu walaupun kulihat disana masih ada guru privat Saemi tengah menerangkan rumus fisika
“Iya terus kenapa?” jawab Saemi lagi dengan nada bicara yang sedikit lebih santai
Merasa mendapatkan respon yang baik, akupun kembali melanjutkan kalimatku pada Saemi “Nah! Karena waktunya mepet, jadi aku sama temen aku udah sepakat untuk tetap belajar bareng pas weekend”
“Aku tadi udah diskusi sama dia buat nentuin tempat yang kira-kira cocok buat kita jadiin tempat belajar” aku kembali menjeda ucapanku untuk melihat reaksi Saemi
“Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya kita sepakat buat belajar di rumah ini” kali ini aku melanjutkan ucapanku dengan menatap dalam manik mata Saemi
“Gimana? Kamu nggak apa-apa kan Saem kalau aku pinjem ruangan yang kamu pakai homeschooling buat belajar bareng temenku?” tanyaku langsung pada intinya pada Saemi yang saat ini juga sedang menatap mataku
Saemi nampak berfikir keras selama beberapa saat dengan raut wajah yang sulit diartikan. Cup ice cream rasa coklat yang ia pegang kosong, karena isinya telah berpindah pada perut buncit Saemi.
Sambil menunggu Saemi membuka suara, aku menautkan kedua tanganku dan meletakkannya didepan dada sambil mengerjap-kerjapkan mataku menatap manik mata Saemi penuh harap.
Bukannya membuka mulut untuk bicara dan menjawab permintaanku, Saemi malah mengangkat kedua sudut bibirnya keatas sambil menghembuskan napas gemas yang membuatku menjadi bingung. Apakah saat ini Saemi sedang bersikap sarkastik kepadaku sebelum menolak permintaanku hasib-habisan?
“Serina….” Saemi memanggilku, masih dengan senyuman diwajahnya yang entah kenapa malah membuatku menjadi semakin takut
“Kamu kan tau, ini rumah orang tua kamu. Aku cuma numpang disini, imo sama samchon nerima aku tinggal disini sampai ngasih aku kamar dan ruang buat sekolah aja aku udah seneng banget” Saemi menjeda kalimatnya, menatap sekilas dua pintu ruangan ada didepannya sebelum kembali menatap lekat manik mataku
“Dan lagi, mereka itu temen kamu. Aku nggak punya hak buat ngelarang mereka dateng kesini, apalagi mereka dateng untuk belajar persiapan olimpiade” Saemi mengakhiri kalimatnya dengan tersenyum tipis kepadaku
Mendengar penjelasan panjang Saemi tanpa sadar membuat kedua sudut bibirku terangkat keatas. Akupun mendekatkan diriku pada Saemi dan menghambur kedalam pelukannya. Saat ini aku hanya bisa berharap, semoga dengan kedatangan teman-temanku kerumah secara perlahan akan membuat kepercayaan diri Saemi kembali
“Oh iya Saem, aku kan sering nyeritain kamu ke temen-temen aku. Nah katanya mereka nanti sekalian minta dikenalin sama kamu, kamu mau kan kenalan sama mereka? mereka anaknya baik kok” ucapku sambil sedikit mendongak agar dapat menatap wajah Saemi
Tanpa perlu berpikir panjang, Saemi dengan tegas menolak permintaanku dengan melepaskan pelukanku dari tubuhnya “Nggak, aku nggak mau”
Aku menarik napas sejenak, sebelum kembali membujuk Saemi dengan nada menggemaskan yang ku buat-buat “Saem…..”
“Ser, aku percaya temen-temen kamu adalah anak baik. Tapi aku belum siap, jadi aku mohon kamu jangan paksa aku ya” ucap Saemi yang langsung aku jawab dengan gelengan cepat
“Cuma kenalan aja Saem, nanti kalau udah kamu bisa langsung masuk kamar lagi, ya? Aku udah janji sama mereka buat ngenalin kamu Saem, ya? plis.....” desakku lagi yang hanya dibalas dengan desahan frustasi yang keluar dari mulut Saemi
“Nggak! pokoknya nggak!” Saemi hendak bangkit dari duduknya ketika tanganku dengan gesit mencekal pergelangan tangannya
“Saem--” Belum sempat menyelesaikan kalimatku, terdengar suara teriakan dari lantai bawah yang memanggil namaku dan Saemi bergantian
“Serina....Saemi.....sini cepetan turun bantuin mama nyiapin makan malem!”
“Tuh, tante udah manggil kita buat ke bawah. Ayo cepetan turun” seperti mendapatkan celah untuk menghindari desakanku, Saemi kembali beranjak dari duduknya dan terkekeh melihat wajah kesalku
“Saemi....jawab dulu iya dong.....” mendengar rengekanku, Saemi hanya mengangkat bahunya malas sambil terus berjalan menuruni tangga
Karena tak kunjung turun, mama kembali berteriak dengan suara yang semakin memekakkan telinga
“Serina…..mama hitung sampai tiga kalau nggak turun---"
“Iya maaa ini Serina turun….” sahutku kesal sambil berlari menuruni anak tangga