SERINA: I'M AN EXTRA

SERINA: I'M AN EXTRA
MENGALAHKAN LAWAN / MENJADI JUARA?



Sudah dua puluh lima menit waktu berjalan semenjak bel tanda waktu pengerjaan soal dimulai berbunyi dengan nyaring melalui sebuah speaker mini yang terpasang dipojok atas ruangan. Sudah sejak dua puluh lima menit juga suasana dalam ruangan yang aku dan Arka tempati terasa hening, sangat hening


Tak ada suara yang terdengar selain bunyi pensil dan kertas yang saling bergesek terdengar memenuhi setiap penjuru ruangan. Para kakak panitia yang bertugas mengawasi ruangan terlihat sangat sibuk, tidak pernah kulihat sedetikpun mereka diam dan berdiri dengan nyaman atau bertahan pada satu posisi yang sama dalam waktu lebih dari lima detik


Mereka terus berputar mengelilingi ruangan dengan tatapan tajam dan raut muka datar. Menatap satu persatu peserta yang selama beberapa menit terakhir ini tengah fokus mengerjakan soal sambil sesekali mengintip kearah laci meja. Takut, jika mungkin saja ada satu diantara kami yang nekat berbuat curang demi bisa memenangkan lomba yang tengah diselenggarakan saat ini


Arka yang saat ini sedang duduk dengan cemas disampingku juga terdiam. Matanya sibuk memandangi coretan-coretan angka yang ia buat pada selembar kertas buram dihadaannya. Sementara tangan kanannya tak pernah berhenti menggoreskan ujung pensil mekanik untuk terus membentuk dan merangkai angka kedalam rumus pada sisi kertas yang hampir penuh dengan angka juga rumus-rumus lain


Sesekali matanya terlihat tepejam, berpikir keras dan berdiskusi dengan dirinya sendiri sebelum memasukkan rentetan angkat terse but kedalam rangkaian rumus-rumus agar dapat memperoleh jawaban benar dari soal yang sedang ia kerjakan. Setelahnya, ia akan menghembuskan napas kasar. Menulis dengan cepat dan tidak teratur pada selembar kertas berukuran tak lebih besar dari buku gambar a4 dihadapannya dengan terburu-buru, takut kalau angka juga rumus yang sudah tersusun rapi di dalam kepalanya akan lenyap begitu saja jika ia tak segera menyalinnya diatas kertas


Sementara aku hanya terus terdiam, menatap dalam lembaran kertas soal yang kupegang erat ditangan kiriku. Aku membalik setiap lembarnya dengan cepat, menghitung setidaknya ada sekitar sepuluh soal yang telah aku berhasil ku taklukkan jawabannya tanpa ragu. Hingga akhirnya disinilah aku saat ini, menatap satu soal yang selama seminggu terakhir ini terus menganggu malamku. Karena untuk dapat menemukan jawabannya aku harus rela bergadang semalaman dan melakukan sesi diskusi sengit dengan Arka


Mungkin saat ini aku bisa saja melewati soal menjebak dengan tingkat kesulitan paling tinggi diantara soal-soal lainnya itu dan mengerjakannya paling akhir jika masih ada waktu longgar. Karena aku sendiri tau dengan pasti bahwa mengerjakan jenis soal berjenis seperti itu akan memakan waktu hingga berkali-kali lipat daripada saat mengerjakan soal level medium lainnya


Sayangnya, rasa penasaran dalam diriku benar-benar tidak dapat diajak bekerjasam saat ini ketika mataku menangkap berapa point yang bisa saja aku dapat jika aku berhasil menghitung dan menjawab benar soal tersebut yang tertulis menggunakan tinta berwarna mencolok pada kotak kecil disamping nomor soal


Sepuluh point! hampir tiga kali lipat dari point yang aku dapatkan jika menjawab benar soal level medium lainnya. Aku menghirup napas panjang dan menghembuskannya perlahan ketika melihat point minus yang mungkin saja aku dapatkan jika menjawab salah soal dengan tingkat kesulitan paling tinggi dan penuh jebakan itu. Minus empat, empat kali lipat dari nilai minus yang akan aku dapatkan ketika menjawab salah soal level medium lainnya


Aku kembali melirik jam tangan berwarna putih yang melingkar rapi dipergelangan tangan kiriku. Hampir lima menit waktu yang aku habiskan dengan sia-sia hanya untuk menatap satu soal penuh jebakan yang ditulis rapi dengan iming-iming point tiga kali lipat pada kertas soal yang sedang aku pegang


Aku menggit kasar kuku yang membungkus ibu jariku, berpikir keras untuk melewatkan atau mengerjakan soal tersebut dengan bermodal tekat karena memikirkan peluang akan mendapatkan point paling besar jika berhasil menjawab benar dan resiko mendapatkan point minus paling tinggi jika aku ceroboh dan menjawab salah. Tentu saja aku tdak akan menghabiskan waktu berhargaku dengan percuma hanya untuk memandangi satu soal dihadapanku ini. Sementara pada lembar berikutnya masih ada setidaknya sebelas soal yang harus aku kerjakan dengan waktu yang tersisa


“Huh!” aku menghembuskan napas kasar, memutar pensil mekanik yang ada ditangan kananku sebelum menarik kembali kertas hitung yang selama beberapa saat sempat aku abaikan karena terlalu fokus menatap lembar soal yang aku cengkeram kuat ditangan kiriku. Meletakkan dengan kasar lembar soal yang selama beberapa menit terakhir telah berhasil mengalahkan rasa cemas dan menggantikannya dengan rasa kompetitif yang menyala-nyala dalam diriku untuk dapat mengalahkan setiap tingkat kesulitan yang ditawarkan disetiap butir soalnya


Dengan gesit, tangan kananku kembali bergerak. Menggerakkan pensil mekanik berwarna hitam diatas kertas kertas hitung buram yang sudah penuh terisi dengan puluhan rumus serta angka diatasnya. Mencari ruang kosong yang sekiranya masih bisa kugunakan untuk menggoreskan ujung pensilku agar dapat kembali menuliskan rumus serta angka untuk dapat menghitung dan mendapatkan jawaban dari soal dengan level paling sulit yang menawarkan point paling tinggi jika dapat menjawab benar tanpa terkecoh dengan jebakan yang diberikan


...***...


“Waktu mengerjakan tinggal lima belas menit lagi!” terdengar suara yang sedikit nyaring dari arah depan ruangan. Sayangnya, sekeras apapun suara yang dihasilkan tidak pernah berhasil membuat para peserta yang sedang terlarut dengan puluhan soal dihadapannya untuk mengalihkan perhatiannya barang sedetik dan menatap sumber suara tersebut


“Usahakan agar saat ini kalian telah menyelesaikan soal yang ada dihadapan kalian dan mempergunakan waktu yang tersisa untuk saling kroscek jawaban dengan teman satu tim kalian” karena tak ada yang mengangkat kepala ataupun menyahut, suara kembali terdengar. Kali ini dengan suara yang lebih pelan dan tenang, takut menganggu konsentrasi peserta yang mungkin saja masih sibuk menghitung jawaban “Kami memang menyuruh kalian untuk saling kroscek jawaban, namun tetap usahakan agar tenang dan tidak gaduh supaya tidak mengganggu konsentrasi tim lain yang saat ini masih fokus mengerjakan soal”


Aku melihat Arka sedang merapikan lembar soalnya yang berantakan dimeja, menumpuk dan mengurutkannya dari nomor terkecil sebelum mengalihkan fokusnya pada lembar jawaban yang separuhnya berhasil ia isi. Setelah beberapa saat memastikan bahwa sudah tidak ada jawaban yang salah ia isi, Arka melirik kearahku yang saat ini masih sibuk mencoret-coret kertas hitung dimeja


“Ser, gimana? Aman kan soalnya?” Arka bertanya kepadaku dengan setengah berbisik. Bukan, lebih tepatnya memastikan bahwa aku sedang tidak merasa kesulitan dalam mengerjakan soal yang menjadi bagianku


Aku menggeleng lemah, menghembuskan napas kasar tanpa menatap Arka “Aman sih seharusnya, tapi ini aku masih harus ngerjain tiga soal lagi Ka. Mendingan sekarang kamu kroscek mandiri jawaban kamu ya, nanti kalau udah aku bilangin”


Arka menggeleng, sebelah tangannya ia ulurkan untuk merebut kertas soal yang berada disisi kiriku. Memberikan perintah kepadaku agar menyerahkan lembar soal itu padanya untuk dikerjakan melalui tatapan matanya tanpa menggunakan kata-kata


Aku kembali menghembuskan napas kasar, sedikit mengangkat kepalaku untuk dapat melihat wajahnya yang terlihat cemas “Udah nggak usah Arka! Ini soal bagian aku, jadi biar aku aja yang ngerjain. Mendingan sekarang kamu cek ulang lembar jawaban yang udah kamu isi, nanti kalau aku udah baru kita saling kroscek jawaban”


Mendengar jawabanku, Arka ikut menghela napas kasar. Tatapannya menatap lekat manik mataku yang saat ini masih mendongak menatapnya. Tangannya dengan gesit merebut paksa lembar soal dari tangan kiriku. Menghirup napas panjang seperti menahan kesal sebelum membuka suara “Serina, kamu lupa? Disini kita bekerja sebagai satu tim. Kamu nggak boleh egois dan ngotak-ngotakkin soal bahwa ini soal aku atau ini soal kamu. Kita disini tim, kita harus kompak dan saling bantu satu sama lain. Kamu masih inget kan pesan sari pak Bagus sebelum kita masuk ruangan ini tadi? Kita tim, kita harus selalu kompak dan selalu ngedepanin kerjasama!”


Aku hendak kembali membantah, namun suara detik jam yang terus berputar menghentikan paksa niatku. Dengan berat hati, aku membiarkan Arka mengambil lembar soal dari tanganku dan mengerjakan sisanya


“Saya harap dengan waktu yang tersisa ini kalian sudah melakukan kroscek jawaban dan siap mengumpulkan lembar jawaban kalian tanpa ada keraguan” masih oleh orang yang sama, suara itu kembali terdengar memenuhi ruangan, memperingati semua peserta yang ada didalamnya untuk kembali melakukan kroscek jawaban sebelum kemudian dikumpulkan lima menit lagi


Dengan buru-buru, aku menyambar lembar jawaban yang ada diatas meja. Melingkari pada beberapa soal yang selama menit-menit terakhir ini telah berhasil kutemukan jawabannya. Dengan napas yang memburu, aku melihat kearah Arka yang tengah merapikan lembar soal yang ada dihadapanku sebelum ia kembali membuka suara. Menanyakan hal sama seperti yang ia tanyakan kepadaku beberapa menit lalu “Gimana? Aman kan soalnya? Udah kan?”


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian mataku menatap cemas jarum jam yang terus berputar dipergelangan tanganku. Hanya lima menit waktu yang tersisa, sebelum kami harus mengumpulkan lembar jawaban yang hampir satu jam terakhir ini kami isi dengan susah payah


Setelah merapika semua lembar soal, Arka menghembuskan napas berat. Melirik sekilas jam tangan yang ada dipergelangan tangannya sebelum membuka mulutnya untuk memberikan intruksi “Oke, kurang lebih masih ada waktu sekitar lima menit untuk kita saling kroscek jawaban”


Aku mengangkat kepalaku, menatap ragu kearah Arka “Lima menit masih cukup kan Ka buat saling kroscek jawaban?”


Arka mengangguk mantap, menatapku sambil menyunggingkan senyuman termanisnya “Pasti cukup kok! Nih lembar soal aku, kalau menurut kamu jawaban yang aku centang masih ada yang salah langsung kamu ganti aja dilembar jawabannya ya”


Suasana dalam ruangan masih terlihat sama sibuknya seperti ketika bel tanda waktu pengerjaan dimulai beberapa menit lalu. masing-masing tim yang turut berpartisipasi dalam perlombaan ini masih saling berdiskusi untuk memastikan bahwa jawaban yang mereka lingkari sudah benar dan tepat


Begitupun kau dan Arka saat ini. Duduk sambil saling terdiam dengan fokus pandangan menatap lembar soal yang ada ditangan kami masing-masing. Sibuk mengoreksi jika ada jawaban yang kurang tepat untuk langsung menghitung ulang dan kemudian menggantinya dengan jawaban yang lebih tepat


Hingga tak terasa, speaker yang terpasang dipojok atas ruangan kembali berbunyi nyaring. Berteriak seakan menyuruh siapapun yang berada di dalam ruangan untuk menghentikan aktivitasnya dan beralih fokus untuk memperhatikannya


Aku menggigit bibir bawahku, berusaha sebisa mungkin untuk tetap fokus mengoreksi pekerjaan Arka yang baru dapat aku koreksi setengahnya. Sementara didepan sana, kakak panitia sudah sibuk menepukkan tangannya beberapa kali sambil berterik memberikan perintah agar kami segera mengumpulkan lembar jawaban kami pada meja yang telah disiapkan


“Temen-temen, waktu pengerjaan sudah habis. Mohon untuk temen-temen agar segera membereskan meja kalian dan mengumpulkan lembar jawaban di meja depan ” salah satu dari mereka kembali berteriak dengan nada suara yang tak kalah nyaring


Mendengar teriakan kakak itu, beberapa anak yang berada pada barisan depan dan belakang dari tempatku satu persatu mulai beranjak dari posisi duduknya. Membawa lembar jawaban ditanannya kemudian meletakkan lembar jawaban berharga tersebut diatas meja yang telah disebutkan sebelum kembali mengambil tasnya yang masih berada didepan ruangan dan duduk pada posisi semula


Aku sempat mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan, melihat hampir separuh dari peserta telah mengumpulkan lembar jawaban mereka dan beberapa peserta masih sibuk mengoreksi bahkan ada juga yang masih sibuk menghitung. Mungkin ada satu jawaban yang salah ketika ia melakukan koreksi ulang terhadap jawabannya


Saat hendak menyambung kegiatanku, telingaku kembali mendengar suara nyaring dari salah satu kakak panitia. Kali ini suaranya terdengar jauh lebih galak daripada suara kakak panitia lain yang juga berteriak memberikan intruksi sebelumnya “Oke, karena masih ada beberapa peserta yang belum mengumpulkan lembar jawabannya meskipun waktu pengerjaan sudah habis sejak satu menit lalu maka kakak akan mulai menghitung mundur dari sepuluh”


“Bagi peserta yang masih tidak mengumpulkan lembar jawabannya pada hitungan kesepuluh maka akan kakak anggap diskualifikasi!”


Salah satu yang ada disampingnya mulai menghitung mundur, membuatku yang sedaritadi panik karena belum rampung melakukan koreksi ulang terhadap jawaban Arka menjadi bertambah semakin panik hanya dengan mendengar suaranya yang terkesan tegas dan galak “Sepuluh……..sembilan………..delapan………tujuh………enam………lima……….”


Pada hitungan kelima kurasakan Arka berdiri dari posisi duduknya sambil membawa lembar jawaban kami ditangan kanannya. Melangkahkan kakinya dengan sedikit berlari menuju meja tempat pengumpulan lembar jawaban tanpa sedikitpun menoleh dan berbicara kearahku. Setelahnya ia kembali duduk disampingku, menatapku dengan dua buah bulan sabit yang bertengger manis diwajahnya


"Kerja bagus Serina!" "Meskipun kita belum sempat mengoreksi ulang jawaban kita, tapi aku percaya kok sama kemampuan kamu. Kamu juga percaya kan sama kemampuan aku?" ucap Arka setelah kembali duduk disampingku dengan dua ransel yang berada diatangannya


Ia mengulurkan ransel berwarna biru itu kepadaku. Beberapa kali menepuk bahuku sebelum tangannya dengan gesit mengalungkan tali ransel itu pada kedua lenganku


“Abis ini kita langsung cari pak Bagus ya, kita makan siang dulu sambil nunggu hasil lombanya keluar”


"Tenang, nanti kita pasti pulang bawa piala kok!"